RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Cinta dan Harapan Kemal Pasha


__ADS_3

Affan hanya bisa memandangi gambar foto kiriman Kemal Pasha.


Disana ada Naura yang tengah duduk didepan makam kakak tercintanya. Disamping kiri Lyora dan dikanannya ada ibunda Naura.


Ternyata mereka tengah berada dipekuburan, menyambangi keluarga yang telah tiada.


Lalu foto kedua yang Kemal kirim, adalah foto dirinya dengan Naura.



Sekilas foto itu nampak biasa saja. Tidak ada yang istimewa.


Namun melihat rona merona dan senyum manis Kemal jelas terpampang disitu, tak urung membuat Affandi terbakar cemburu.


🎶


Harusnya aku yang disana.


Dampingimu...dan bukan dia.


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia.


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya.


Harusnya yang kau pilih, bukan dia...


🎶


Lantunan lagu Armada "Harusnya Aku" yang mengalun lembut dari radio mobil miliknya sangat mewakili perasaannya saat ini.


Membuat Affan garuk-garuk kepala sambil memekikkan kata, "Haiiiisssshh!!!!!"


Naura! Aku rindu ingin melihat wajahmu. Dua hari kita tak bertemu, sungguh membuat perih hatiku. Tolong ingat kata-kataku! Bahwa aku sudah mengutarakan niatku untuk meminangmu! Tunggu aku, Naura!


Jangan serahkan hatimu pada orang lain, kecuali hanya padaku!


Please ya Allah ya Tuhanku! Jadikanlah Naura jodohku. Yang menjadi pelengkap hidupku. Dan menjadi ibu dari anak-anakku! Aamiin....


Cinta yang belum terbalas itu menyebabkan sedikit luka dihati Affandi.


Tapi dia bertekad akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Sebelum janur kuning melengkung, pantang baginya patah semangat apalagi putus asa.


Toh Naura masihlah kliennya dalam urusan hukum. Dia masih akan terus memepet wanita sederhana yang cantik wajah serta hatinya itu.


Semangat Affan! Ayo, kumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar kau bisa segera melamar Naura!


Tuhan, tolong bukakan pintu hati Naura untukku, yaTuhan!


Affandi tersenyum dan mengangguk. Berjanji pada dirinya sendiri untuk terus berjuang demi kebahagiaannya.


...............


"Sebaiknya ibu, Naura dan juga Lyora pulang kerumah Datuk bersama almarhumah. Nanti malam acara tahlilan tujuh hari mbak Yun! Jadi gak harus bolak-balik juga!"


Naura mengangguk setuju.


Setelah menyambangi makam Ayuni Kartika serta bapak, mereka bertiga diantar Kemal kerumah besar Ayuni dikampung sebelah.


Kemal lebih tenang jika Naura disana. Feelingnya Ismail akan terus mengganggu Naura selama yang ia inginkan.


Melihat kondisi fisik dan jiwa Naura yang masih rapuh, Kemal khawatir kalau wanita yang pernah diincarnya itu terkena jampi pelet dari Ismail.

__ADS_1


Sejujurnya Kemal pun punya semua itu. Bahkan diusianya yang baru menginjak umur 14 tahun kala itu, Bapaknya telah membawanya kesalahsatu paranormal kepercayaannya. Dan menanamkan susuk intan dipunggung serta telapak tangan kirinya itu.


Meskipun pada saat itu Kemal marah besar dan berontak pada kemauan bapaknya itu. Tapi akhirnya ia pasrah dan menurut jua.


Alasannya, karena Kemal anak pertama Datuk dan laki-laki pula. Kemal harus kuat jasmani serta rohaninya.


Harus bisa melindungi keluarga termasuk bapaknya sendiri nanti setelah dewasa. Itu pesan Datuk Irhamsyah padanya.


Makanya. Sekeras apapun sikap, tindakan dan perilaku Datuk, bapaknya. Dihadapan Kemal, Datuk tunduk dan tak berani menentang terlalu frontal.


Datuk sangat berharap, penerusnya itu akan sehebat dirinya nanti dalam segala hal. Baik itu dalam kejayaan dan kekuasaan, juga dalam hal kehebatan menakhlukan hati wanita.


Tapi sayangnya Kemal sama sekali tak tertarik untuk menjadi duplikat fotokopi Datuk Irhamsyah.


Kemal tahu, setiap perbuatan pasti ada karmanya. Entah itu perbuatan baik apalagi perbuatan buruk.


Contohnya sekarang ini, Datuk Irhamsyah sendiri. Dicoba Allah Ta'ala dengan penyakit luar biasa. Seolah mati tapi hidup. Didera siksaan yang Maha Dahsyat.


Masih untung karena harta tujuh turunannya belum habis dan masih berlimpah ruah. Entah bagaimana jadinya jika Tuhan sudah berkata 'Kun Fayakun'..... habis semua tak bersisa, harta, tahta dan wanita. Bahkan semua anak yang dihasilkannya tiada makna.


Hhhh.... Menyeramkan sekali hidup seperti itu diakhir usia.


"Jangan capek-capek masak ya bu? Saya sudah memesan semuanya! Tinggal kita menunggu waktu ba'da Maghrib untuk memulai tahlilan!"


"Iya, Den!"


"Tolong jangan panggil saya Aden! Panggil saja nama saya, Kemal! Saya ini adalah anak Ibu juga!"


Naura tersenyum mendengar permintaan Kemal pada ibunya.


Pria yang notabene berumur 5 tahun lebih tua dari dirinya itu terkadang sikapnya tak lebih dewasa.


Berbeda sekali dengan Affandi.


Hati Naura terenyuh mengingat nama Affandi. Ia segera tersadar kalau kepulangannya ke kampung tanpa sepengetahuan Pengacaranya itu.


Sungguh bagaikan kacang lupa kulitnya. Dirinya seolah telah melupakan jasa serta kebaikan pria tampan yang selalu menjaga dan melindunginya beberapa bulan belakangan ini.


"Mas Kemal!"


"Iya, Naura?"


"Bolehkah....aku pinjam hapemu sebentar saja?"


"Kamu mau apa?"


"Aku...ingin menelpon mas Affan!"


"Jangan khawatir! Affan sudah kuberitahu kalau kamu ada dikampung, Nau!"


"Tapi.... Aku ingin menelponnya sebentar saja! Boleh ya?"


"Hhhhhh..... Ck! Ya sudah. Nih, biar kusambungkan dulu!"


Treeeet.....treeeet......treeeeet


Affandi menengok hapenya. Ada panggilan telepon dari Kemal Pasha.


Malas aku mengangkatnya! Pasti orang itu ingin memanas-manasiku karena dua hari ini terus-terusan bersama Naura! Dasar, bujang lapuk!


Affan tak mengangkatnya.


Treeeet.....treeeet.....treeeeet

__ADS_1


Panggilan itu lagi. Dan Affan masih mengacuhkannya.


"Sepertinya mas Affan sedang sibuk ya mas? Panggilan teleponnya tidak diangkat!" kata Naura sambil memberikan handphone Kemal kepada si empunya.


Kemal tersenyum penuh kemenangan.


Pasti bocah itu terbakar cemburu setelah aku mengiriminya beberapa foto. Hehehe.... dasar! Cemen juga, dia!


"Ya sudah! Aku pergi dulu ya ke Rumah Sakit. Aku akan pulang setelah Ashar, mungkin! Oh iya Lyora! Nanti bukde Vina akan mengantarkan besek-besek sekitar jam 4 katanya!"


"Iya mas!" jawab Lyora.


"Aku pamit ya? Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam!"


Ibuk, Naura juga Lyora serempak menjawab salam Kemal.


Kini Kemal kembali berada dibelakang kemudi kendaraan roda empatnya.


Ia ingin bermain-main dulu dengan Affan.


Dikiriminya Pengacara muda itu pesan singkat.


Kenapa tak kau angkat panggilan telepon dari HP ku? Itu tadi Naura yang ingin bicara!


Tak butuh waktu lama, setelah itu hapenya langsung berdering. Terang saja Kemal terkekeh senang.


Dasar bocah! Walaupun kau pintar dibidang hukum, tapi dibidang percintaan ternyata kau lebih bodoh dari aku, hai pak Pengacara! gumam hati Kemal.


"Hallo, ya!?"


[Hallo, mas? Mana Naura?]


"Dirumah Lyora! Kenapa?"


[Katanya tadi Naura ingin bicara denganku!]


"Ya khan itu tadi! Sekarang aku sedang otewe ke Rumah Sakit! Makanya, kalau ada telepon segera angkat. Jangan dulu su'udzon!"


[Aku tadi sedang diruang meeting, mas! Tak enak angkat telepon diantara para lawyer senior!]


"Ya. Terserah kau lah! Aku lagi nyetir nih, nanti saja telepon lagi! Semangat, brow! Assalamualaikum!"


[Waalaikumsalam.]


Kemal tertawa terbahak-bahak. Puas sekali rasa hatinya telah mempermainkan perasaan rivalnya itu.


Meski terkesan jahat, tapi ia ingin mengetahui kedalaman cinta sang Pengacara itu.


"Enak saja dia datang-datang, inginkan cinta Naura tanpa pembuktian! Aku sudah bertahun-tahun memendam rasa ini bro! Main tikung, salip mentang-mentang kau pengacaranya! Hahaha.... emang enak terbakar api cemburu! Rasain luuuu!!! Hahaha...." katanya berbicara sendiri.


Kemal bisa saja main halus seperti Ismail. Tapi ia tak ingin 'cinta yang semu' yang ia dapatkan.


Ia inginkan cinta tulus dari dasar hati Naura sendiri. Bukan lewat jampi-jampi. Karena cinta yang hadir bukan cinta murni.


Kemal maunya Naura sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta yang asli akan lebih bertahan lama ketimbang cinta palsu terlebih dengan 'pemanis buatan'.


Kemal berharap, Naura benar-benar akan menaruh hati dan perasaannya pada dirinya. Dan mereka melangkah bersama membangun mahligai rumah tangga.


Itu harapannya.


..........BERSAMBUNG...........

__ADS_1


__ADS_2