RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Pertemuan Kembali Dua Pria Tampan Pemuja Naura


__ADS_3

Kini Affandi telah bersiap memulai kembali langkahnya dipagi hari. Menginap dirumah orangtua adalah hal terbaik yang ia lakukan minggu ini.


Sudah sebulan lebih, Affan memang tak tidur dikamar pribadinya sendiri dirumah Papa Mama. Dan semalam adalah malam temu kangennya berbincang-bincang dengan orang-orang kesayangan.


"Doakan Affan, kasus yang Affan pegang kali ini berhasil ya, Pa Ma!"


"Pasti dong! Setiap orangtua pasti mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya." Jawaban Papa menyejukkan hatinya.


Mamanya hanya mengelus-elus kepalanya yang sengaja ia baringkan dipangkuan wanita berbudi luhur itu.


"Selama niatmu tulus membantu, pasti Allah permudahkan jalanmu, sayang!"


Bermanja-manja dengan Papa dan Mama bukanlah suatu hal yang aneh bagi Affan. Ia mungkin berbalik 180 derajat tingkah laku dan sikapnya bila dihadapan mereka.


Manis manja, ciri khas anak mama jika ia berada diantara keduanya. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang cool, kalem dewasa. Dan Affan tak peduli omongan orang!


Yang pasti, ia ingin sekali membahagiakan kedua orangtuanya yang telah begitu berjasa mengangkat derajatnya menjadi orang yang berguna, dari lumpur kotor penderitaan masa kecilnya yang mungkin pahit tapi telah terlupa dari memori ingatannya.


"Affan pamit ya, Pa, Ma?" ujarnya setelah selesai sarapan bersama. Pamit hendak pergi berangkat kerja.


"Jangan lupa bawa ini, Nak! Kalau ada nasi putih dirumah saja, kamu tetap bisa makan sama abon ayam buatan Mama!"


Affan memeluk erat tubuh Mamanya. Mencium pipi kiri lalu kanannya. Kemudian beralih ke Papa. Mencium punggung lengannya dengan santun dan mencium pipinya juga kiri serta kanan.


"Papa Mama jangan lupa minum vitaminnya setiap hari. Ingat, jangan terlalu capek ikut kegiatan sosial! Ya? Affan tetap pantau kalian meskipun dari jarak jauh!"


"Hehehe... Iya! Kamu juga ya? Jangan lupa ibadahmu lima waktu! Sempatkan segera sebelum lewat waktunya! Papa Mama selalu mendoakanmu, Affan sayang!"


Begitulah. Seperti upacara yang wajib setiap hari Senin, pasti Affan berangkat kerja dari rumah orangtuanya dipenuhi wejangan-wejangan yang bermanfaat untuk hidupnya.


Affandi menerima semua perkataan Papa dan Mama dengan sukacita. Karena baginya, mereka berdua adalah malaikat tak bersayap. Yang setiap saat setiap waktu mengisi hari-harinya dengan doa dan pengharapan.


"Hati-hati bawa kendaraan, Fan!"


"Iya, Pa! Bye...Affan berangkat ya?! Assalamualaikum!"


"Alaikumsalam....."


.............


Mobil putihnya meluncur kearah perumahan XXX.


Ia kembali ingin menyambangi Kemal Pasha. Ingin meyakinkan kembali, firasat hatinya tentang anak pertama dari suami mbaknya Naura. Mbak Ayuni Kartika.


Ting tong......


Ting tong..........


Lyora berjingkrak senang melihat siapa sosok yang menjadi tamu rumah keluarganya.


"Mas Affan!! Masuk mas!"


Ia dengan cekatan membukakan pintu pagar rumahnya seraya mempersilakan Affandi masuk.


"Lyora masih disini?"


"Iya. Besok baru pulang! Nunggu jemputan mang Rudi dari kampung!"

__ADS_1


"Oh,... begitu!... Oiya, mas Kemal ada ga ya? Mas Affan ada perlu sama mas Kemal!"


"Ada! Masuk mas, silakan duduk! Lyora panggil dulu mas Kemalnya dikamar!"


"Terima kasih ya, Lyora!"


"Sama-sama, mas!"


Affandi memandangi punggung Lyora hingga menghilang dibalik pintu ruang tamu ke arah ruang dalam rumah keluarga Kemal Pasha.


Semula Affan mengira gadis muda itu adalah gadis yang agak liar dan sedikit manja juga genit. Tapi ternyata cover tak selamanya mencerminkan isinya.


Lyora cukup manis juga anaknya. Sopan jika dibimbing ke arah yang benar, meskipun dandanannya sedikit membuat Affan miris.


Ya. Seperti saat ini. Lyora hanya mengenakan tank top putih tipis, membuat dalemannya tercetak jelas dan celana blue jeans super pendek. Hhhh.....


Dia juga lelaki normal. Wajar saja bila matanya menjadi gahar disuguhi pemandangan indah luar biasa. Ibarat kata, dipandang dosa tak dipandang sayang rasanya.


Ya namanya juga mata. Fungsinya tentu saja untuk melihat. Bagaimana mungkin Affandi harus memejamkan matanya setiap Lyora berada disekitarnya.


Kemal keluar dari ruang tengah dengan wajah datar tanpa senyuman. Mengingat terakhir mereka jumpa, ada sedikit ketegangan diantara mereka.


"Masih hendak menyelidikiku, pak Pengacara?" tanyanya dengan suara khasnya yang dalam.


Lyora keluar dengan membawa baki berisi tiga gelas minuman sirup berwarna merah.


"Ganti pakaianmu yang sopan, Lyora!" hardik Kemal setelah melihat penampilan adik tirinya yang seksi itu.


"Ish, mas nih! Gerah. Lagian khan aku pakainya didalam rumah! Kalau diluar rumah, baru itu ga sopan!"


"Haish.... selalu bantah! Cepat masuk, ganti baju! Atau kulapor mamamu!"


Dan Kemal juga terlihat biasa. Hanya rasa sayang sebagai kakak terhadap adiknya.


Lyora masuk setelah bersungut-sungut dan kesal melihat Kemal hampir memukulnya dengan bantal kursi ruang tamu.


Tak lama mbak Ayuni muncul dan terpaku menatap wajah Affandi. Terlihat jelas raut wajahnya menampakkan ketidaksukaannya akan kedatangannya.


Sungguh jauh berbeda penerimaannya ketika Affandi mengunjunginya di rumahnya yang dikampung.


"Mbak Ayuni, apa kabar?" tanya Affan berdiri memberi salam, sekedar berbasa-basi pada kakak kliennya itu.


"Baik!" Jawaban yang sangat singkat.


Kemudian ia masuk kembali kedalam. Tentu saja membuat Affandi bertanya-tanya dalam hati.


Ada apa dengan mbak Ayuni? Kenapa ia terlihat tidak suka melihat kedatanganku dirumah ini? Apa.... apa dia takut, aku semakin membuka tabir kasus adik kesayangannya? Hmmmm..... menarik juga!


"Bagaimana kabar Naura?"tanya Kemal.



"Naura baik. Aku sendiri belum mengunjunginya lagi sejak kemarin. Semoga saja dia semakin kuat menghadapi kepahitan hidupnya! Terlebih untuk menjalaninya didalam sel penjara. Bukanlah hal yang mudah tentunya!"


"Hhhh....."


Kemal menarik nafasnya dalam-dalam. Matanya terlihat meredup. Seolah ikut terhanyut dalam ucapan Affandi yang cukup dalam.

__ADS_1



"Tak ada niatkah untuk menyambanginya? Sekedar memberinya kata semangat atau support dan dukungan?"


"Aku.....sudah tahu wataknya seperti apa! Naura pasti tidak akan suka jika aku menjenguknya disaat ia sedang berada ditempat yang buruk menurutnya! Ia tidak suka berbagi kesedihan. Ia hanya senang berbagi kebahagiaan! Itu sebabnya aku selalu menahan diri untuk tidak mendatanginya di sel tahanan!"


Affan mengangguk-angguk meng-iyakan. Ia juga telah faham watak dan sifat kliennya itu. Apa yang Kemal kata memang benar.


"Tapi beberapa hari lalu, Naura sempat depresi sampai memotong urat nadi ditangannya."


"Apa?!?!?" Kemal terkejut. Matanya membulat kaget, tak percaya pada pendengarannya perihal ucapan Affandi.


"Iya. Sepertinya ia mengalami stres berat setelah hampir sebulan menjadi penguni rutan! Untungnya kejadian itu diketahui sipir penjaga dan langsung mengeksekusinya keruang pengobatan!"


"Uuuufffffh, syukurlah! Bagaimana keadaannya kini?"


"Sudah lebih baik! Meski tetap menolakku untuk membelanya dipersidangan nanti!"


"Hhhh..... Apa yang bisa kubantu?"


"Jadilah saksi yang dapat meringankannya disidang nanti! Kumohon!.... Karena kau saksi kunci dari perbuatan Fendy yang telah menyelingkuhi Naura! Fendy juga menikahi kekasih gelapnya yang kini tengah mengandung 7 bulan!"


"Hah? Jadi mereka sudah menikah? Woow, amaging!" Kemal menatap wajah Affandi.


Ia menelan salivanya membayangkan Naura yang pasti sedih sekali jika mengetahui kabar itu.


"Naura....sudah tahu kenyataannya?" tanya Kemal pelan pada Affandi.


Sang Pengacara itu mengangguk.


"Justru dari Naura lah aku tahu mereka telah menikah!"


"What?? Are you seriously?"


"Hm....."


Kemal menundukkan wajahnya. Mengusap tengkuknya merinding merasakan ketegaran Naura yang membuatnya semakin tergila-gila.


"Apa Naura..... membunuh Kemal karena mengetahui suaminya itu menikah lagi? Kurasa sepertinya iya. Mungkin saja mereka ribut, cekcok mulut....hingga tanpa sadar diluar kendali Naura menancapkan pisau dapur kedada Fendy!?"


"Kurasa kau bisa juga menjadi pengacara! Kau sangat menggebu-gebu mengungkapkan argumentasimu, bro!"


"Hilih! Meledek kau, bocah! Aku cuma tamatan STM saja. Malah nyangkut diperusahaan material dibagian pembukuan! Sungguh diluar jalur bukan?"


"Hebat kau, tamatan STM tapi bisa pegang pembukuan perusahaan! Keren itu!"


"Hehehe....karena pemiliknya adalah om-ku sendiri!"


"E busyet..... Nepotisme itu namanya! Hehehe...!"


"Hahaha.... asem juga kau, pak Pengacara!"


"Hehehe..., canda bro!"


Affandi dan Kemal semakin terlihat akrab. Keduanya larut dalam keseruan percakapan mereka yang kadang serius kadang canda tak jelas.


Tak sadar jika ada sepasang mata jeli indah mengawasi mereka dari balik tirai ruang tengah.

__ADS_1


Mbak Ayuni Kartika!


...........BERSAMBUNG............


__ADS_2