RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Menuju Kebahagiaan


__ADS_3


"Kasus kami bisa diselesaikan!"


Affan tersenyum lega pada Naura. Wanita yang diajaknya bicara itu membalas senyumannya dengan manis. Ikut senang atas keberhasilan calon suaminya di panggung arena persidangannya.


Keduanya memang sepakat, akan melangsungkan pernikahan secepatnya jika persidangan besar Affan dan kawan-kawan lawyer nya beres.


Cukup lama dan awalnya cukup alot. Mengingat itu bukan kasus sembarangan karena melibatkan banyak orang penting didalamnya.


Sudah pasti Affan beserta 14 pengacara lainnya dituntut ekstra kerja keras demi mencari bukti-bukti serta alibi guna mendapatkan kepastian hukum yang jelas dalam persidangan nanti.


Waktu kebersamaan Affandi bersama Naura sudah pasti harus terbagi dahulu.


Itulah konsekuensi hubungan dewasa mereka dengan kesibukan pekerjaan masing-masing.


Nau juga kini semakin dipercaya calon ibu mertuanya. Ia dan Witha kini diserahkan sepenuhnya toko bunga itu hingga harus wara-wiri bolak-balik Jakarta-Bandung Bandung-Jakarta guna mengambil dan memilih langsung bunga-bunga berkualitas dari kebunnya langsung.


Affandi kini lebih tenang menjalankan tugas lebih serius dipekerjaannya, karena ia telah memiliki hati Naura.


Tinggal selangkah lagi. Yakni ijab kabul didepan penghulu. Itu impian terbesarnya kini.


"Mari jemput Ibuk, Nau! Biar kita segera menghalalkan hubungan kita segera. Aku.....kangen kamu!"


Dada Naura berdebar kencang mendengar perkataan Affan yang lirih setengah berbisik itu.


Setiap kali Affan bilang 'kangen', fikirannya langsung melayang pada 'perbuatan' mereka yang sebelumnya.


Perbuatan yang seharusnya dilakukan bagi pasangan halal. Yang selayaknya pasangan suami istri intens dengan bahasa diperhalus malam sunnah.

__ADS_1


Naura menolehkan wajahnya yang merah ke arah lain. Tindakannya justru memancing keisengan Affan yang telah tahu hati dan perasaan calon istrinya itu.


"Nau....! Wajah kamu merah sekali. Apa kurang enak badan?"


"I iya nih,... agak..agak sedikit mmm!"


Naura gelagapan. Hendak berbohong tapi bibirnya sulit diajak kompromi. Membuatnya merasa semakin tersudut jika saja ketahuan Affan kalau dirinya malu memikirkan kata 'kangen' yang Affan ucap tadi.


Affan meraba dahi Naura. Berpura-pura memastikan kalau Naura demam.


"Kamu demam karena kangen juga sama aku!" bisik Affan ditelinga Nau membuat wanita itu semakin merah wajahnya karena malu.


"Mas Affan! Iiiish, iseng banget sih!"


"Hahahaha...... Maaf sayang! Sejujurnya aku selalu memimpikan pertemuan kita kembali nanti diranjang. Tapi aku sebagai seorang lelaki dewasa, harus bisa menahan diri dan nafs*ku hingga para wali mengucapkan kata 'sah' dihadapan penghulu!"


Naura tersenyum. Lega serta bersyukur.


Tuhan Maha Baik, Tuhan Maha Pengasih.


Setelah sekian lamanya ia hidup berumah tangga dengan Fendy, hingga dirinya selalu sakit dan sakit pendarahan setiap kali mereka berhubungan.


Entah mengapa,... siang itu.... dimana ketika Ismail memberinya suatu obat yang sangat berbahaya membuat Naura menjadi orang yang berbeda.


Hingga, ditengah kesadarannya memancing ***** Affandi hingga mereka melakukan hal yang dilarang berkali-kali.


Tapi.... Naura tidak mengalami yang namanya pendarahan lagi. Justru dirinya diibaratkan perawan suci yang pertama kali mengenal kenikmatan sensasi bercinta layaknya suami istri.


Naura bingung tidak mengerti.

__ADS_1


Naura tidak tahu. Kalau semua itu adalah perbuatan jahat Ismail atas bantuan mbah Kliwon yang mengunci pintu vagin*nya agar tidak bisa dijebol suaminya.


Gunanya ya sudah pasti ingin menghancurkan rumah tangga Naura.


Berharap Naura cerai, lalu pulang ke kampung hingga akhirnya berhasil dipersunting Ismail. Itu tujuan Ismail.


Kini Ismail resmi menyandang status sebagai 'orang gila'.


Karena terlalu terobsesi hingga melupakan semua kenikmatan lain yang telah Tuhan beri, Ismail menjadi sakit jiwanya.


Ia dipulangkan ke kampung halamannya setelah sebulan mendekam disel tahanan penjara ibukota.


"Orang gila! Orang gila! Orang gila!"


Anak-anak kecil bersorak meledek Ismail yang kini tidak karuan. Berjalan kesana kemari sesuka hati tak tentu arah.


Itulah, akibat perbuatan buruknya sendiri. Berakhir menjadi sebuah karma.


Padahal Tuhan Maha Baik. Dikirimkannya seorang perempuan baik hati bernama Solihati. Berbahagia karena diberikan dua buah amanat yang cantik-cantik dari hasil pernikahan mereka.


Namun Ismail masih tetap pada keinginannya yang terlalu tinggi.


Rasa syukurnya ia hapus dari hatinya. Tujuan utamanya hanyalah mendapatkan Naura. Padahal Naura bukanlah jodoh dan takdirnya.


Hhh.....


Begitu banyak manusia didunia ini yang memiliki ***** teramat tinggi. Hingga lupakan Tuhan Yang Maha Kasih.


Tak pernah bersyukur dan selalu merasa kurang dan kurang.

__ADS_1


(Moga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur🙏termasuk author dan para reader🙏😘)


............BERSAMBUNG.............


__ADS_2