
"Hallo, Assalamualaikum!"
[Walaikumsalam.....siapa ini?]
"Saya Affandi, pengacaranya bibi Naura. Lyora sudah lupa sama saya?"
[Mas Affaaaaan.....!!! Maaf, hape Lyora baru saja kena virus jadinya hilang semua kontak termasuk nomor kontak mas Affan! Makanya Lyora ga bisa hubungi mas! Maaf!]
"Hehehe.... Saya kira Lyora lupa sama saya!"
[Engga'lah! Justru Lyora nunggu mas Affan hubungin Lyora! Oiya,... mas..... aku lagi ada di Jakarta. Ketemuan yuk?]
"Boleh. Dimana?"
Lyora menjawab dengan memberikan alamat lengkap cafe yang ingin ia kunjungi dan jadi tempat pertemuan kopi darat mereka.
Affandi tersenyum puas setelah menutup sambungan teleponnya dengan Lyora.
Gadis remaja berumur 15 tahun itu putri dari kakaknya Naura Salsabila. Klien-nya yang kini tengah mendekam dipenjara.
Dengan sedikit taktik mengorek keterangan dari bibir polos Lyora, Affandi berharap bisa menemukan 'kunci jawaban' yang selama ini ia cari.
Dan satu lagi, seseorang yang sangat ingin ia temui.
Tita. Istri kedua dari almarhum Fendy. Yang kata Naura tengah berbadan dua sekitar 6 bulan kandungannya.
Dengan sedikit penelusuran, Fendy berharap perlahan rahasia Naura mulai tersibak. Dan sidang Naura bisa berjalan mulus dengan jerat hukum seminimal mungkin untuk Naura, kliennya itu.
"Maaas, disiniiii!"
Lyora melambaikan tangannya pada Affandi yang baru terlihat masuk kedalam ruangan cafe yang cozy itu.
Affandi sengaja berdandan sesporty dan sekeren mungkin. Demi untuk 'memanjakan' mata targetnya dalam investigasi.
Celana jeans biru belel kebanggaannya, dengan T-Shirt berwarna putih polos ditambah sepatu kets warna putih juga.
__ADS_1
Wajahnya baby face. Innocent. Semakin kiyut terlihat dengan gaya mudanya. Tentu saja Lyora makin semangat juga menyambut kedatangannya yang bak pangeran negeri Antah Berantah.
"Mas Affan ganteng maksimal!" kata Lyora jujur sekali.
Terang saja, bersemu merah jambu wajah tampan Affandi.
"Lyora juga cantik sekali hari ini!" pujinya seraya menatap tampilan Lyora.
Gadis itu memakai rok span jeans diatas lutut. Atasannya denim warna biru muda senada dan bahan jeans pula. Ditambah sepatu kets juga tapi berwarna pink. Agak tabrakan, tapi buat Lyora yang ABG justru semakin mempermanis gayanya.
"Jadi kemaren-kemaren Lyora kurang cantik gitu ya mas ya?"
"Hahahaha...bukan gitu juga."
"Ih, mas Affan....ternyata orangnya iseng juga!"
Lyora menggandeng lengan Affan. Mengajaknya naik ketingkat 2 bangunan cafe tersebut.
"Lyora ternyata suka kopi Americano ya?"
"Hehehe.... bergaya aja mas biar ga dikatain norak!"
Affandi tersenyum kecil. Begitulah anak muda jaman sekarang. Tak apa terlihat aneh dan nyeleneh. Asalkan bisa disebut satu server. Tidak terlihat norak dan kampungan karena bisa bergaul sesama teman.
Istilah lazimnya, anak gaul. Nongkrong-nongkrong di kafe bersama teman sudah menjadi ciri khas pergaulan. Perpustakaan dan belajar bersama bukan lagi tugas utama mereka sebagai seorang pelajar.
Mirisnya, pergaulan bebas yang kebablasan cenderung lebih mereka sukai ketimbang mengejar cita-cita demi bahagiakan orangtua dan harum nama bangsa Negara.
Hhhh..... Seperti itu!
"Mas Kemal tadinya mau ikut! Tapi mama minta tolong antar ke swalayan belanja keperluan dapur katanya. Terpaksa deh, Lyora hanya sendiri menemui mas Affan!"
"Jadi Lyora ke Jakarta sama mama?"
__ADS_1
"Iya. Kata mama kangen mas Kemal juga. Sudah lama mas Kemal ga pulang ke C menengok papa dan mama juga aku!"
"Papa Lyora? Apa ikut juga?"
"Engga lah! Papa dikampung. Diurus perawat. Mama cuma seminggu saja katanya. Nanti balik lagi setelah ketemu mas Kemal!"
"Kamu sayang sekali kelihatannya sama mas mu itu ya Lyora?"
"Iya dong! Mas Kemal juga sayang aku soalnya. Dia selalu menuruti semua keinginanku dan mama! Biarpun kami berbeda ibu, tapi mas Kemal sangat menyayangiku! Dia juga tidak pernah menolak apalagi membantah permintaan mama! Kadang kami sering tidur bertiga sekamar dulu. Waktu aku masih kecil! Alasannya, karena mama takut..... sedang papa ga pulang kerumah."
Cerita polos Lyora mengalir deras begitu saja tanpa harus Affandi pinta.
Usia mudanya benar-benar murni, walau penampilan dewasa seolah berusaha menutupinya.
Affandi mulai melihat gelagat yang tidak umum dimatanya.
"Tidur bersama? Satu kamar?"
"Iya. Satu ranjang malahan! Aku ditengah, diapit mama juga mas Kemal! Tapi dulu ya, sewaktu aku masih kecil sampai usia SD kelas 6."
"Setelah SMP ga lagi tidur sekamar?"
"Mas Kemal menolak. Alasannya tubuhku sudah berubah. Hihihi.... dulu aku suka wara-wiri sehabis mandi tanpa handukan! Makanya setelah SMP, mas sering marahin tingkahku yang seperti bocil katanya!
Mas menolak ajakan mama tidur bersama, katanya tidak baik dipandang orang!"
"Hmmmm.....! Jadi mama yang mengajak mas Kemal? Bukannya Lyora?"
"Ya mama khan awalnya. Kadang mama suruh aku yang ngomong langsung ke mas Kemal! Karena kalau aku yang minta, mas Kemal pasti nurut! Hehehe.... Iiiih, koq jadi ngomongin mas Kemal terus sih, mas?"
Affandi tertawa mendengar suara Lyora yang merajuk manja padanya.
Gadis remaja itu terlihat menggemaskan tingkah polosnya yang kekanak-kanakan. Apalagi ketika bibir mungilnya merengut. Terlihat sekilas mirip Naura.
Affandi langsung ingat Naura dan kesedihannya seketika.
__ADS_1
...........BERSAMBUNG...........