RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Duka Kemal dan Lyora Tanpa Diketahui Naura Juga Ibuknya


__ADS_3

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.


Baru saja hendak membawa Witha pulang kerumahnya, tiba-tiba handphone Kemal berdering beberapa kali.


"Ya, hallo! Iya suster Anti? Hah? Apa??... Bapak meninggal? ...... Innalillahi wa inna illaihi rojiuun!"


Klik.


Suster perawat Datuk Irhamsyah mengabarinya berita duka.


"Mas? Mas? Mas Kemal?"


"Ah iya Witha! Mohon maaf, .... aku tak jadi mengantarmu sampai rumah. Bapak kandungku,... meninggal dunia! Maaf!"


"Iya mas, tidak apa-apa! Aku turut berduka cita atas wafatnya bapaknya mas Kemal. Yang sabar ya mas!? Sekarang dimana beliau posisinya?"


"Dikampung! Aku harus pulang secepatnya. Oiya, aku juga harus kembali ke tempat resepsinya Affan dan Naura. Aku harus membawa pulang Lyora!"


"Hati-hati ya mas, bawa kendaraannya! Jangan ngebut!"


"Iya. Maaf ya Witha, bukan maksudku untuk menurunkanmu ditengah jalan seperti ini! Aku...harus segera ke kampung mengurus pemakaman bapakku!"


"Aku mengerti koq mas! Jangan khawatir!"


"Aku akan segera mengabarimu setelah urusan almarhum bapak selesai!"


"Iya. Tak perlu mas fikirkan!"


"Oke. Aku pergi ya Wit? Kamu hati-hati juga naik kendaraan umumnya! Assalamualaikum!"


"Alaikumsalam!"


Witha melihat Kemal sampai hilang dari pandangan. Ia sedih. Kebahagiaannya hanya sebentar. Berganti lagi dengan kesedihan.


Apakah aku ini perempuan yang memiliki tanda sial? Kenapa setiap kali aku ingin mendapat kebahagiaan, selalu berakhir kesedihan.


Selalu, seperti itu. Sedari dulu.


Tuhan! Apakah aku punya sesuatu yang menghalangi kebahagiaanku? Aku takut. Aku takut sekali.


Ya Allah! Padahal tadi semua begitu indah. Apalagi setelah melihat keseriusan Mas Kemal yang akan memintaku pada papaku.


Tapi kini..... aku jadi tidak yakin pada diriku sendiri. Pada mas Kemal. Pada jodoh yang selama ini kutunggu-tunggu.


Hhhh.......


Witha segera menghentikan taksi kosong yang lewat didepannya.


Dan akhirnya ia pulang sendiri kerumah orangtuanya. Kembali tanpa hasil. Gagal membawa calon nya untuk datang meminta dan meminangnya menjadi seorang pengantin.


..............


"Yo, Yo!"

__ADS_1


"Kenapa mas?"


Lyora yang tengah asyik bercanda dan bercengkerama dengan para bridesmaid terkejut melihat wajah pucat kakak tirinya itu.


"Kita harus pulang segera! Papa meninggal dunia!"


"Hah?!? Apa kita harus kabari dulu bibi Naura juga Simbah?"


"Tak usah, mereka sedang berbahagia. Mereka jangan dulu dikasih tahu. Biar kita saja yang pulang ke kampung!"


"I iya. Yo terserah mas Kemal saja!"


"Affan!"


"Hei mas! Mau kemana terburu-buru begitu?"


"Tolong sampaikan pada istrimu dan juga Ibuk. Aku dan Lyora harus pulang kampung segera! Ada keperluan penting yang mendesak. Maaf ya?!?"


"Urusan apa mas? Apa ada masalah?"


"Tidak seserius itu! Tolong sampaikan saja pada mereka ya? Kami pulang dulu!"


"Okay. Aku sampaikan pesanmu segera. Setelah Naura keluar dari kamar ganti, mas!"


"Sip. Terima kasih, ya! Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Aku titip Naura dan juga Ibuk."


"Baik, mas! Salam juga pada semua saudara dikampung!"


"Waalaikumsalam!"


"Yap. Aku pamit bro!"


"Siap mas bro!"


Kemal mengebut kendaraannya agar bisa segera tiba ke kampungnya.


Bapaknya telah tiada. Telah berpulang ke Rahmatullah mengikuti almarhumah ibuknya.


Airmatanya perlahan merembes tanpa sadar. Mengingat masa-masa kecilnya yang sebenarnya cukup menyenangkan.


Sebenarnya Datuk sangat menyayangi Kemal sedari kecil.


Kemal Pasha, putra pertama kebanggaannya.


Seingat Kemal, Datuk dimasa muda dulu adalah pribadi yang hangat dan penuh cinta padanya.


Hampir setiap minggu mereka memiliki waktu untuk mempererat tali kasih antara bapak dan anak.


Walaupun Datuk sibuk, ia selalu menyempatkan waktunya setiap minggu untuk membawa Kemal kecil bermain bola dilapangan taman tak jauh dari rumah mereka.


Ibuk biasanya menyusul membawa bekal setelah selesai memasak.


Selepas itu, mereka bertiga makan bersama di taman. Dialam terbuka yang asri dan masih hijau.

__ADS_1


Itu terjadi ketika Kemal masih berusia 5-6 tahun. Sampai adik-adiknya satu persatu lahir. Dan Datuk perlahan berubah menjadi pria gahar pada setiap wanita cantik yang ditemuinya.


Hhhh....


Wallahu, kenapa bapaknya berubah menjadi orang yang lain setelah itu.


Mulai doyan perempuan. Minta izin poligami dan nikah sana-sini.


Sejak saat itu, ibunya seringkali menangis sendirian dipojokan kamar. Dengan lampu yang dimatikan. Agar tidak terlihat tetesan airmata yang jatuh dari pelupuk mata oleh putra putrinya.


Tapi Kemal melihat semuanya.


Selalu melihat tangisan ibunya itu.


Tangisan kesedihan, tangisan kekecewaan, dan tangisan penderitaan dari setiap tingkah laku serta perbuatan buruk bapaknya.


Hingga ia bertekad pada dirinya sendiri. Untuk tidak mengikuti jejak bapaknya, yang suka mempermainkan perempuan. Dan tekad itu masih ia pegang teguh sampai saat ini.


Lyora yang duduk disamping Kemal juga nampak terdiam.


Tak ada kata sepatah pun keluar dari bibir mungilnya.


Pakaian dres batik seragaman bridesmaid masih melekat ditubuhnya tanpa sempat ganti baju.


Airmatanya juga ikut meleleh meski tanpa isak tangis kesedihan.


Kini dirinya lengkap menyandang status anak yatim piatu. Itu yang membuat Lyora merasa sangat sedih.


Ia tak lagi berayah dan juga beribu.


Lengkap sudah penderitaan.


Saudara tirinya banyak. Ada 18 orang dari beberapa bibit. Alias dari beberapa ibu yang berbeda-beda.


Namun hanya Kemal sajalah yang paling ia sayang dan paling bisa ia andalkan.


Untuk itu, harapan dan doanya moga Kemal selalu sehat. Agar ia bisa tenang meskipun kini tak ada lagi papa dan mamanya.


Seperti pesan almarhumah mama tempo hari, ia harus selalu nurut dan patuh pada Kemal kakaknya.


Walau hanya kakak tiri, tapi Kemal sangat baik dan bertanggung jawab pada semua adik-adiknya. Terlebih pada dirinya.


Sudah pasti ia akan berusaha menjadi adik yang baik bagi Kemal sampai kapanpun. Bahkan sampai nafasnya berhenti jika Tuhan mengizinkan.


Kemal memegang jemarinya yang dingin.


"Doakan papa dan mama yang terbaik Lyora! Jangan khawatir! Allah bersama kita!" tutir Kemal membuat pecah pertahanan Lyora.


Menangis ia sejadi-jadinya disepanjang perjalanan. Menangis dirangkulan Kemal, kakak tirinya yang sangat ia sayangi itu.


Tuhan Maha Pengasih. Tuhan Maha Kuasa.


Hanya atas izin-Nya lah kita semua 'kan berpulang Keharibaan-Nya. Hanya waktu jualah yang menentukan. Kapan kita kembali.

__ADS_1


..........BERSAMBUNG..........


__ADS_2