
Kesal berdebat dengan Ayuni, Affandi meluncur mengunjungi Lapas tempat Naura ditahan.
Kaget sekali Affan melihat dahi Naura yang terlihat lebam tatkala ia melihat wanita itu datang menghampirinya dibangsal kursi khusus pertemuan mereka.
"Kenapa dahimu, Naura!"
"Hehehe... tadi pagi jatuh dikamar mandi! Untung hanya benjol kecil saja. Tak apa-apa koq!"
"Untung? Jatuh koq untung! Apa, teman-teman se-sel mu memperlakukanmu dengan keji?" sungut Affandi segera mengambil plester handyplash yang selalu ada didalam tas yang dibawanya. Untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu seperti sekarang ini.
"Tidak. Diawal memang aku agak kesulitan berteman. Tapi syukurnya sekarang semua baik-baik saja dan bisa teratasi dengan baik!"
Affandi menatap netra Naura. Seolah mencari kejujuran disana.
Tangannya dengan cekatan mengoleskan dahi Naura pakai minyak zaitun yang selalu ia bawa. Lalu memasangkan plester diatasnya secara lembut sekali.
"Lain kali hati-hati! Jangan sampai kamu terluka lagi."
Naura termangu mendapati perlakuan manis padanya. Ia teringat Fendy suaminya.
Dulu.... Fendy juga semanis Affan tingkahnya. Selalu menjaga dan merawatnya dari musibah.
Naura menunduk seraya menghela nafas.
"Sudah makan siang?" tanya Affan pada Naura.
"Sudah. Baru saja selesai!"
"Oh, syukurlah! Soalnya aku juga tidak membawa makanan dari luar. Hanya.... ini saja!"
Dua cup besar juice alpukat keluar dari paperbag yang tadi Affandi taruh dibawah. Ia juga mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Tasnya itu mirip kantong doraemon! Bermacam peralatan menyenangkan keluar dari sana! gumam hati kecil Naura.
Dan benar saja. Naura menyunggingkan senyum manisnya melihat Affandi menyodorkan dua buku TTS tebal berikut ballpoin dan juga buku tulis kosong.
"Terimakasih!" ucapnya dengan sumringah menerima pemberian pengacaranya itu.
Affandi ikut tersenyum senang. Hatinya tersentuh melihat senyum manis Naura yang begitu tulus dimatanya. Hanya dengan buku Teka Teki Silang saja sudah bisa membuatnya begitu gembira.
Wanita yang sederhana!
Affandi menyodorkan cup juice minuman pada Naura yang sudah duduk dihadapannya.
"Terima kasih banyak, mas Affan!"
"Sama-sama, Naura!"
__ADS_1
Mereka berdua sibuk menyeruput minuman juice alpukat kesukaan Naura.
Bola mata Affandi tak bisa lepas dari wajah Naura yang cantik sederhana meskipun tanpa polesan make up sedikitpun.
"Naura mau kubelikan skin care?"
"Apa?" Naura terkejut mendengar pertanyaan Affandi yang baru sekali ini ia dengar dari bibir seorang pria dewasa.
Bahkan Fendy pun belum pernah menanyakan itu. Justru seringnya ia protes tatkala ia menceritakan akan membeli alas bedak dan juga pelembab untuk wajahnya.
Pemborosan katanya!
"Naura pakai produk apa?"
Naura hanya membisu termangu. Ia sendiri bingung hendak menjawab apa. Karena selama ini wajahnya memang polos alami saja. Hanya bedak tabur merk Viv* yang senantiasa setia menempel dikulit wajahnya yang memang normal-normal saja.
"Tidak usah, terima kasih mas! Selama ini saya jarang memakai perawatan wajah seperti para wanita pada umumnya!"
"Kenapa? Fendy tidak pernah membelikanmu? Atau, uang gajinya harus dibagi dua untuk istri sirinya? Itu sudah pasti bukan?"
Naura menelan ludahnya. Kelu. Ingin mengiyakan tapi malu.
Memang sudah setengah tahun belakangan ini tingkah Fendy memang sedikit diluar batas padanya.
Gajinya yang biasanya ia berikan pada Naura dua juta setengah setiap bulannya, hanya masuk kekantong manajemen rumah tangga mereka sebesar satu juta saja.
Belum lagi kebohongan-kebohongan lainnya yang suaminya itu lontarkan demi menutupi pengeluaran yang besar guna menunjang poligaminya.
Naura tidak pernah marah. Apalagi komplain pada Fendy. Meski wajahnya terlihat masam menerima uang belanja bulanannya yang nyaris tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi apa boleh buat!
Naura memahami kondisi Fendy. Syukurlah mereka tidak memiliki anak. Sehingga ia masih bisa menekan pengeluaran sebisa mungkin.
Bahkan Naura usahakan makan hanya dua kali setiap hari. Namun lebih seringnya ia menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis.
"Naura.....!"
Naura kaget mendengar suara lembut Affandi menyadarkannya dari lamunan.
"Ya?"
"Aku sudah menemui Kemal dan juga Ayuni. Kamu tahu, apa yang sudah aku temukan dari penyelidikanku selama ini? Aku yakin, kamu juga sudah tahu!"
Deg.
Jantung Naura berdentum keras. Seperti detik bom yang siap meledak. Membuat Naura merasakan dadanya sesak.
"Mas Affan! Kumohon...... Jangan teruskan penyelidikanmu!"
__ADS_1
Naura tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya kelantai. Berlutut menyentuh kaki Affandi yang tersentak kaget.
"Naura, bangun!"
"Kumohon padamu! Tolong...., tolong hentikan semuanya!"
Affandi mengangkat tubuh Naura, berdiri kembali seperti posisi semula.
"Aku akan menghentikan semuanya, Naura! Semua penderitaanmu. Semua kesedihan dan kegetiran hidupmu! Kurasa hukumanmu bisa kuperkecil semaksimal mungkin. Karena, kau tidak sendiri melakukan itu!"
Naura memeluk pinggang Affan erat.
"Tolong! Jangan libatkan kakakku juga, mas! Kumohon padamu! Aku sangat memohon...."
"Kenapa Naura? Kenapa kamu begitu menjaga kakakmu itu? Meskipun tindakannya salah dan diluar batas. Tapi kamu mati-matian menutupinya!"
"Aku menyayanginya, seperti halnya mbak Ayuni menyayangiku sedari kecil."
"Begitukah pandanganmu?"
"Dia selalu menjadi ban serepku dalam segala hal. Dia rela membelaku! Dia rela menukar dirinya sendiri demi kebahagiaanku. Aku tidak pernah membalas budi baiknya. Justru akulah yang selalu menyusahkan mbak Ayuni!"
"Kenapa kamu justru menyalahkan dirimu sendiri, Naura!?"
"Iya. Andaikan saja, aku tidak terlalu dekat berteman dengan mas Kemal. Semua ini tidak akan terjadi! Aku tidak akan menyeretnya pada kejadian pelik yang menyeramkan ini!"
"Huh!" Affandi mendengus kesal.
"Mbak Ayuni terlalu lama menderita. Aku ingin ia mendapatkan kebahagiaan yang sangat ia dambakan."
"Kebahagiaan hidup bersama anak tirinya? Begitu? Memendam cinta terlarang, cinta yang bertepuk sebelah tangan? Dan apa yang akan Kemal lakukan jika mengetahui bahwa ibu tirinya mencintai dirinya diam-diam?
Apa itu pantas bagi masyarakat umum dinegeri kita ini? Apa kau tidak memikirkan dampak sosial lainnya yang justru akan mereka berdua dapatkan dari masyarakat sekitar. Hah?!?!"
Naura diam. Termangu mencerna setiap kalimat yang Affandi lontarkan.
Kisah cinta yang tidak pada tempatnya pastinya. Dan dia sendiri sebenarnya tidak menyukai 'rasa' yang ada dihati kakaknya itu.
Naura tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mbak Ayuni jatuh cinta pada Kemal Pasha, anak tirinya sendiri.
Meskipun usia mereka berdua hanya terpaut dua tahun. Dan usia Kemal lebih muda dari kakaknya, toh 'cinta' tidak bisa dipersalahkan juga.
Cinta itu Anugerah. Suatu keajaiban dari Yang Maha Kuasa. Tapi,... bagaimana jika cinta jatuh ditempat yang salah? Haruskah memupuskan rasa cinta itu menjadi rasa sakit yang luar biasa dan berkepanjangan seumur hidupnya?
Hhhhh..... Naura memijit pelipisnya. Pusing dan lelah.
...............BERSAMBUNG...............
__ADS_1