
"Maafkan aku.......maafkan semua tindakanku! Aku telah jauh sekali melangkah. Aku telah menjadi orang yang sangat jahat!
Semoga semua anggota keluargaku dan orang-orang yang sangat kucintai mau memaafkan kesalahanku!
Aku, Ayuni Kartika-lah yang TELAH MEMBUNUH ADIK IPARKU SENDIRI, yaitu FENDY MARTIN.
Adikku Naura Salsabila sama sekali tidak bersalah. Justru dialah korban dari semua cinta palsu Fendy padanya. Fendy menduakan cintanya dengan menikah lagi. Dan kini gundik keduanya itu sedang hamil 7 bulan.
Aku sudah memutuskan mengambil tindakan ini, karena aku selalu dihantui ketakutan yang teramat dalam. Takut sekali kalau perbuatanku pada akhirnya diketahui semua orang. Meskipun adikku Naura bersedia pasang badan dan kini tengah menjalani hukuman yang seharusnya aku dapatkan.
Aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada ibundaku tercinta, pada anakku Lyora sayang.
Sayang, jadilah anak yang baik dan penurut pada mas mu mas Kemal! Karena kini hanya mas Kemal lah yang bisa kamu andalkan!
Aku juga minta maaf pada Naura Salsabila adikku satu-satunya. Naura, maafkan mbak ya? Karena selalu menyalahkan dirimu dari setiap keadaan yang menyiksa mbak! Semoga kamu selalu bahagia, Naura!
Kemal..... Aku titip Lyora. Kumohon jaga anakku satu-satunya. Lyora-lah permata hatiku yang paling kusayang.
Maafkan aku, yang selama ini selalu menyusahkanmu.
Maaf..... Jika tindakanku ini mengecewakanmu. Tapi aku sudah tekad bulat, daripada harus masuk penjara untuk menanggung semua akibat perbuatanku.
AYUNI KARTIKA
Selembar surat yang ditulis Ayuni dengan tinta hitam menjadi saksi bisu tergeletak disamping tubuh Datuk Irhamsyah.
Lyora yang tadinya hendak menginap dirumah temannya juga di japri Ayuni sebelum melakukan tindakan yang tidak terpuji itu.
"Lyora, pulang segera sayang! Mama akan pergi untuk selamanya. Mama sudah lelah dengan semua kepahitan dan juga cobaan yang mama alami. Mama ingin Lyora yang pertama menemukan mama!
Maafkan mama jika tindakan mama ini mengecewakanmu, anakku sayang!
Tolong maafkan mama! Doakan mama semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa mama selama ini!
Kamu harus menuruti perkataan masmu ya, Nak! Mas Kemal kini yang menjadi tempatmu berlindung!
Mama pergi sayang, maafkan mama!"
Ayuni benar-benar telah gelap mata.
Seutas tali rafia yang teronggok dipojokan kamar Datuk menjadi terakhir tujuan hidupnya.
Padahal, andai Ayuni lebih bersabar diri....mencoba terbuka dengan Affandi juga Naura, pasti persoalannya tidak akan bertambah serumit ini.
__ADS_1
Ditambah bila ia bisa sedikit menyadari kekeliruannya mencintai anak tirinya sendiri, sebenarnya bahagia bisa ia jelang nantinya.
Seperti yang Kemal kata diterakhir kali. Andai Ayuni bisa sedikit mengerti kata-kata Kemal itu. Bukan dengan mengambil jalan pintas seperti ini.
Memang, tak bisa disalahkan jika orang sedang dalam beban masalah yang teramat berat bisa nekad melakukan hal-hal diluar batas.
Karena memang orang-orang bermasalah itu butuh tempat curhat dan mengadu. Butuh penyemangat agar bersinergi kembali jiwa raganya hingga saluran otaknya kembali berfungsi dan berfikir normal.
Dan bagi orang-orang yang merasa memiliki masalah berat, sebaiknya segera mencari seseorang yang bisa dipercaya, agar tidak berfikir dangkal hingga mengambil tindakan yang justru merugikan dirinya sendiri.
Serahkanlah kesedihanmu pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena pada-Nya lah semua bermula dan kembali. Tuhan Maha Baik. Berkhusnudzonlah kepada si Empunya Pemilik Jiwa dan Raga ini.
..............
Pagi hari di kampung Kemal, matahari seolah ikut merasakan duka kesedihan Kemal dan Lyora.
Pemakaman Ayuni dilaksanakan pukul 8 pagi.
Ayuni dikuburkan disamping makam bapak kandungnya, dikampung sebelah.
Ibuk dan Lyora beberapa kali pingsan. Mereka tak kuat dan tak bisa menerima kepergian Ayuni dengan jalan yang sadis seperti ini.
Sedangkan Kemal berusaha kuat dan tegar meskipun airmatanya menetes tanpa henti.
"Kemal! Aku boleh berdiri ya, aku ingin berteriak dibonceng duduk dibelakang motor seperti di film-film!"
"Mbak! Jangan macem-macem! Nanti kamu jatuh!"
"Ndak lah! Pelankan saja motormu, Mal! Hahaha..... Aaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!! Hahaha ternyata menyenangkan yo, Mal!?!"
"Hadeeeuh, mbaaaak! Dasar kamu ini persis bocil umuran Lyora!"
"Hahahaha....mamaaa, hati-hatiiii!"
"Hahaha....iya sayang! Ada mas mu yang menjaga kita!"
Saat itu baik dirinya, Ayuni juga Lyora kecil tertawa terbahak-bahak sepanjang perjalanan menuju ke tempat wisata taman bunga yang cukup terkenal dikota mereka tinggal.
Kemal hanya bisa menyusut airmatanya. Kembali wajah dan senyum Ayuni terkenang diingatannya.
Saat itu dirinya yang baru saja terpuruk karena putus cinta dengan anak gadis Lurah kampung sebelah bernama Diana.
"Kemal! Idih? Ngapain ngurung diri, tak mau makan tak enak tidur hanya karena frustasi patah hati? Mendingan kita makan puding coklat buatan mbak! Enak lho!? Dijamin Kemal suka!
__ADS_1
Lagipula, si Diana itu tidak terlalu cantik menurut mbak! Masih lebih cantik mbak kemana-mana khan?"
"Haish, narsis sekali kamu mbak!" saat itu Kemal menjawab dengan bibir mengerucut, protes tapi sedikit tersenyum kecut.
"Hahaha.... nah tuh? Kamu mengakui kecantikan mbak pada akhirnya! Ayo, turun! Lyora sudah menunggu dimeja makan. Khawatir kelamaan pudingnya dihabiskan Lyora semuanya!"
"Waaah, iya juga ya!? Ayo, ayo cepat, mbak!!"
Kemal dan Lyora balap lomba lari dari kamarnya dilantai atas, turun hingga bawah menyusuri anak tangga sambil tertawa-tawa.
Kemal sedih sekali. Kini semua kenangan manis saat itu benar-benar hanya tinggal kenangan.
Ayuni telah memutuskan sesuatu yang sangat Allah dan ia benci.
"Mbak! Kenapa harus mengambil jalan seperti ini, mbak?! Padahal...kalau kamu bersabar sedikit lagi. Sedikiiiiit lagi. Kebahagiaan pasti kan kau jelang mbak! Hik hik hiks....."
Kemal terus menerus merutuki diri Ayuni dan dirinya sendiri.
"Andai malam itu aku tidak pergi keluar meninggalkanmu! Andaikan saja aku tetap bertahan menahan amarahku didalam rumah itu,....mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Mbak!!! Kenapa kamu membuat diriku sangat menyesaaaaal sekali!? Mbak!!!! Aku menyayangimu mbak! Bahkan denganmu, aku lebih dekat daripada dengan ibu kandungku sendiri, Mbak! Hik hik hiks....
Kini pada siapa lagi aku harus mengadu jika sedang ada masalah, Mbak?! Hik hik hiks..."
Kemal meratap. Menepuk-nepuk tanah pusara ibu tirinya yang masih basah disirami air doa.
Lyora juga melakukan hal yang sama disebelahnya. Bahkan gadis muda itu meraung-raung menangisi makam ibunya.
Kemal bangkit dan berjalan menuju adiknya yang baru akan berumur 16 tahun itu.
"Mari Lyora! Kita pulang. Semua sudah suratan Takdir Gusti Allah! Mamamu sudah memilih jalannya sendiri. Mari kita doakan, mama bahagia diharibaan Yang Maha Kuasa!" katanya menggandeng tubuh mungil adiknya itu.
Dia telah bersiap, menjadi pelindung dan penjaga Lyora sampai dewasa hingga menikah nanti.
Kemal mengingat, kini bebannya memang bertambah berat. Belum lagi urusannya selesai, karena Datuk yang kini terbaring sakit tanpa daya upaya. Juga kini ia harus mengurusi semua urusan Lyora.
Ia menghela nafasnya. Mengusap airmatanya. Dan Lyora menuruti ajakannya.
Mereka bersiap menjelang masa depan meskipun tak tentu....akankah bahagia, atau masih akan terus mendapatkan coba dan derita.
Tapi Kemal tidak ingin dirinya rapuh dan terjatuh. Menjadi orang yang putus harapan seperti Ayuni.
Justru Kemal semakin condong pada ketegaran Naura. Adik kandung dari Ayuni yang justru begitu tegar dan kuatnya menerima cobaan yang Tuhan beri selama ini.
Kemal lebih respek pada Naura.
__ADS_1
..........BERSAMBUNG...........