RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Bersama Keluarga Affandi Yang Menyenangkan


__ADS_3

Naura akhirnya menurut juga pada ajakan Affandi untuk istirahat dirumah sang Pengacara itu.


Agak cemas dan gugup juga dirinya. Secara, ini kali pertama Naura berjalan berdua lawan jenis selain ojol (ojek pengkolan perumahannya pun jarang) setelah sekian lama hanya selalu mengintil suaminya.


Kemarin-kemarin, dirinya selalu diantar atau dijemput Fendy jika suaminya itu tidak sibuk. Tapi setelah ada Tita (istri mudanya), Fendy selalu terlihat lelah dan beralasan capek bila dirumah. Hingga tak jarang akhirnya Fendy memintanya untuk naik angkutan umum saja.


Sejak Naura mencium gelagat aneh dari diri suaminya itu, ia mulai memberanikan diri pergi kemanapun sendirian.


Bahkan sampai-sampai dirinya ikut perguruan bela diri karate yang tak jauh dari kompleks perumahannya.


"Buat apa sih ikut gitu-gituan?" tanya Fendy waktu itu ketika Naura meminta izinnya untuk ikut Bintang Karate Club.


"Hanya untuk olahraga dan bela diri, Kak! Akhir-akhir ini kakak sibuk sekali. Bahkan dalam seminggu, ada kadang sehari sampai dua hari lembur dipabrik sampai tak pulang."


"Aku ini lembur mencari uang, Nau!" ucap Fendy membela diri.


"Iya. Maaf, kak! Bukan maksudku menyinggung perasaanmu! Naura hanya ingin lebih nyaman jika bisa menjaga diri disaat sendirian tanpa kakak! Khawatir ada maling, atau..."


"Ya sudah! Berapa uang pangkalnya?"


Naura mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Affandi hanya meliriknya sesekali melihat gurat kecemasan diwajah wanita-nya itu.


Affandi seolah bisa membaca kecemasan hati Naura. Hatinya tergelitik untuk menggoda, tapi urung dilakukan karena khawatir Naura malah nantinya salah faham.


Mobil berhenti disebuah rumah cukup besar.


Affan mengklakson beberapa kali sampai terlihat seorang bapak separuh baya tergopoh-gopoh membukakan pintu pagar untuknya.


"Sore, mang!"


"So sore, Den!?"


Naura melihat wajah sang bapak yang terkejut melihat tuan mudanya itu datang membawa dirinya.


Mungkinkah bapak itu terkejut karena Affandi sering gonta-ganti membawa wanita kerumah ini?


Naura semakin terlihat gugup.


Affandi keluar dengan cepat. Dia segera membukakan pintu mobil disamping Naura, membuat Naura tambah malu berkali lipat.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, mas! Aku bisa buka sendiri!" ujar Naura tak enak hati.


"Hehehehe....! Kamu khan masih tamu disini. Belum jadi nyonya rumah!"


Memerah seketika wajah Naura mendengar gurauan Affandi yang terdengar semakin berani padanya.


"Assalamualaikum...!"


Naura diam tak berkutik. Agak bingung juga mendengar Affandi mengucapkan salam dirumahnya sendiri.


Bukannya dia tinggal sendiri, ya?!? hanya gumaman dihati kecilnya yang bertanya-tanya.


"Wellcome gadis manis!"


Naura kaget. Seorang bapak berumur sekitar 50 tahunan keluar dari dalam rumah sambil tersenyum lebar membentangkan tangan seolah menyambut senang kedatangannya.


"Papa,...apa-apaan sih? Jangan buat Naura shock dong pa!?!"


"Hahahaha....! Don Juannya takut pujaan hatinya lepas karena tergoda papanya yang lebih keren!"


Naura mengangguk pada papanya Affandi. Ia tersenyum kikuk sambil menyambut uluran tangan pria setengah abad yang masih terlihat gagah itu.


"I iya. Tidak pak! Hehehe... maaf, kalau kedatangan saya mengganggu istirahatnya!" jawab Naura agak terbata-bata.


Sejujurnya ia sangat kikuk dan gugup sekali. Karena ternyata Affandi membawanya kerumah orangtuanya.


"Sama sekali tidak. Justru kedatanganmu sangat kami nanti dirumah ini!"


Seorang wanita paruh baya dengan daster yang terlihat elegan keluar dari pintu kamar.


Mamanya Affandi langsung menarik jemari Naura dan mengajaknya cipika-cipiki.


"Ini Papa dan Mamaku, Naura! Pa, Ma... perkenalkan...ini Naura. (Affan mendekat dan setengah berbisik) Calon Menantu!" katanya membuat Papa dan Mamanya kompak ber'ooo' ria.


Naura pucat pasi. Merah, kuning, hijau warna diwajahnya. Sudah bagaikan lampu rambu lalu lintas saja.


Ia seperti gadis belasan tahun yang pertama kali bertemu muka sang calon mertua idaman. Bingung hendak berkata apa.


"Mari, mari Naura! Ayo duduk!"

__ADS_1


"Ma, please.... Jangan tatar Naura! Dia Affan bawa kesini untuk silaturahmi ya!? Bukan untuk ikut ujian pembuatan SIM dikantor Polisi!"


"Tenang aja! Surat Izin Menikah dari mama, langsung di acc! Pacarmu manis cantik. (mama berbisik pada Affandi) Mama suka!"


Entah Naura semakin bingung harus berkata apa. Berbuat apa.


Yang jelas keluarga Affandi sangat kocak hingga ia hanya senyam-senyum saja menanggapinya.


Seorang ibu membawakan nampan berisi minuman dan camilan. Mengingatkan Naura pada ibuknya karena perawakan mereka nyaris sama.


"Bi, makasih ya?" ucap Affan pada pembantu rumah tangga Papa Mamanya itu. Naura ikut menganggukan kepala sambil tersenyum pada bibi itu.


"Sama-sama, Den! Hehehe..." Bibi tersenyum lebar sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Affandi.


"Walah, kalian ini se-engko' ya buat godain Affan!"


"Hilih! Rek naon kitu' kudu sa'engko'. Itu pertanda kami setuju, Fan! Jadi...lampu hijau. Sok atuh jalan terus! Gaskeun lah!" tukas Mama dengan campuran bahasa Sundanya yang kental.


Naura hanya menunduk malu-malu. Meski kurang faham pada ucapan mamanya Affan, tapi dari rona wajah dan auranya, Naura bisa menilai kalau mereka 'menerima' kehadiran Naura ditengah-tengah mereka.


Tapi seketika ia menyadari. Siapa 'dirinya' ini.


Mama yang melihat raut wajah Naura menjadi agak suram, langsung memegang jemari tangannya.


"Jangan diambil hati ya, Nak! Kami ini memang seperti ini. Keluarga rusuh! Mama dan Papa senang sekali dengan kedatangan Naura dirumah ini! Kami berharap, Affandi benar-benar berjodoh dengan Naura yang cantik jelita!"


"Saya.....saya....mmm...saya ini, tidak...sebanding dengan ibu bapak. Saya hanya, perempuan kampung yang... mmm... status saya juga,..."


"Naura! Please.... Jangan bahas itu sekarang! Tolong jangan buat Papa Mamaku sedih! Biarkan mereka bahagia dengan kedatanganmu dirumah ini! Hehehe...walaupun hanya sebentar! Karena ini kali pertama aku membawa perempuan kerumah ini!"


Deg.


Antara senang, sedih, terharu juga takut. Hati Naura berwarna seketika mendengar penuturan Affandi.


Mama dan Papanya juga sekompak itu, hingga menganggukkan kepalanya secara bersamaan.


Naura hanya bisa menelan saliva.


............BERSAMBUNG.............

__ADS_1


__ADS_2