
Naura hanya memijat pelipisnya karena lupa memberitahukan Affandi atas kepulangannya ke kampung hari itu juga.
Secara ia juga tidak bisa mengabari Affandi karena tidak punya aksesnya.
Matahari sudah berada tepat diatas kepala, ketika bis besar yang membawa Naura sampai ke terminal dikota yang akan menuju kampungnya.
Terminal ramai seperti biasa. Dan Naura kembali melanjutkan perjalanannya dengan angkutan umum yang akan membawanya ke kampung halamannya.
Setelah dua kali berganti kendaraan, akhirnya Naura berhenti tepat dipersimpangan jalan arah rumah orangtuanya yang hanya berjarak bebeberapa meter saja.
Pembangunan kampungnya cukup pesat. Jalanan menuju rumahnya pun telah dibeton aspal hitam.
Bahkan beberapa rumah dikiri kanannya telah berganti dari rumah yang dahulunya bilik, kini menjadi tembok batako.
Naura berdiri sesaat memandangi rumah penuh kenangan masa kecilnya yang indah.
Airmatanya mengalir deras seketika. Melihat rumah sederhana orangtuanya masih sama seperti yang terakhir ia kunjungi. Setengah badan tembok setengah badannya bilik.
Ia fikir selama ini mbak nya telah merenovasi rumah bapak ibuk. Karena pernah beberapa kali telepon kalau mbak ingin membangun rumah kedua orangtuanya itu.
Makanya Naura selalu meminta maaf karena tidak bisa ikut udunan. Tapi....
Mungkinkah mbak Ayuni terkendala karena Datuk Irhamsyah tidak memberinya uang untuk merenov rumah ibuk?
Naura memandang sekeliling. Suasana sepi sekali. Sepertinya Ibuknya juga tak ada dirumah.
Naura melipir sedikit kesamping rumahnya yang tak lain adalah rumah keluarganya Ismail, teman kecilnya itu.
Seorang bocah perempuan manis berlarian kesana kemari bertelanjang dada hanya mengenakan celana dal*m saja.
Mungkinkah itu putrinya Ismail? Kalau tak salah kata Mbak Yu Ismail sudah menikah dan punya dua anak perempuan. Lucunya!
Naura tersenyum memandangi anak kecil berusia kurang dari 3 tahun itu.
__ADS_1
"Naura?"
"Ismail?"
"Nauraaaaaa.....!!!!"
Ismail berteriak berlari menghampiri teman kecilnya itu. Tangannya direntangkan hendak memeluk tubuh Naura.
Tapi Naura menepis sambil tertawa jenaka.
"Awas kowe wani ngrangkul, sirahe dakgepuk! Hahahaha...."
"Hahaha... Kau nih, Nau! Masih saja jutek bin judes tak ketulungan!"
"Hahaha...iyalah! Sampeyan yen aku menehi ati njaluk ati!"
"Aku mung pengin ati lan katresnanmu!"
"Preet! Hahaha.... Istrimu mana, Il? Pasti cantik, putrimu soalnya cantik sekali itu!"
"Kabur!" kata Ismail berdusta.
"Eh? Main tak umpet kah?"
"Kabur beneran, Nau!"
Naura hanya menatap wajah Ismail dengan tatapan polos.
"Masuk sini Nau, Ibukmu sedang diladang. Orangtuaku juga masih disawah! Aku,... ya sehari-hari mengasuh dua putriku ini!"
Naura mengikuti langkah Ismail. Bocah kecil itu memeluk erat kaki bapaknya. Membuat Naura tertawa melihatnya.
"Sini, Nduk! Sama Bibu!" ajak Naura pada bocah imut itu.
__ADS_1
"Hehehe.... Bibu' ya?!?" Ismail terkekeh senang sekali.
"Iyalah. Anakmu itu juga anakku khan!?"
"Kau tahu, Nau? Kedua putriku kuberi nama NAURA. Sebagai tanda cintaku padamu!"
"Hah???!? Ismail, Ismail...hahahaha.....! Kukira gilamu sudah sembuh setelah menikah. Ternyata masih toh! Hahaha.... Apa istrimu tidak cemburu dan menolak kalau anak kalian keduanya kamu beri nama Naura juga?"
"Ini khan anakku! Aku bapaknya. Bebas dong aku mau kasih nama apapun juga!"
"Ya. Tapi anak kalian berdua. Hasil kerjasama kalian, Il! Bukan cuma kerjamu sendiri. Ish, kau nih! Masih keras kepalamu seperti dulu! Untung istrimu bukan aku. Kalau aku, sudah ku kemplang kepalamu yang mbatu itu! Hehehe..."
Ismail menatap wajah Naura lekat.
Wajah yang begitu dirindukannya itu kini ada tepat didepan matanya. Sangat bahagia hatinya.
Sampai tak sadar airmatanya menetes satu persatu dipipi legamnya.
"Naura! Kabarnya,... suamimu meninggal dunia dibunuh mbak Ayuni. Aku... turut prihatin atas dukamu, Nau!"
Naura menunduk. Tersenyum kecut tak berani memandang wajah Ismail dengan guratan kesedihannya.
Ia sudah berjanji dalam hati. Akan selalu tegar dan tak ingin menangis lagi dihadapan orang-orang yang menyayanginya.
Ismail adalah salah satu orang terdekatnya yang setahunya tulus menyayanginya sedari kecil.
Padahal Naura tidak tahu, jika Ismail tak sepolos dan tak setulus dulu lagi cintanya pada Naura.
Diam-diam pria beranak dua itu mendawamkan jampi-jampi pengasihannya dalam hati dan meniupkannya perlahan kewajah Naura tanpa Naura sadari.
Jampi-jampi pelet itu kini berproses lagi dijiwa Naura yang masih kosong karena hatinya yang rapuh dan terluka.
Ismail tersenyum dalam hati. Puas sekali dirinya setelah melihat Naura kini akan selalu berada disisinya.
__ADS_1
Bagaimanapun caranya, ia bertekad akan mendapatkan Naura. Apalagi status Naura yang kini hanya dipandang sebelah mata oleh para tetangga dan warga sekitar yang mengetahui kisah dibalik 'bunuh diri'nya Ayuni Kartika. Kakak satu-satunya Naura.
...........BERSAMBUNG............