RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Cinta, Kecewa dan Benci..... Semuanya Beda Tipis Sekali


__ADS_3

"Naura!"


Naura tersadar dari lamunan panjangnya.


Ia menarik kertas segel yang sedari tadi disodorkan pihak keluarga Fendy padanya.


Dengan menghela nafas dan mengucap kalimat basmalah, Naura membubuhkan tandatangannya.


"Naura! Fikirkan apa yang kau lakukan!!"


Affan kembali menyadarkan dirinya lagi. Tapi kali ini Naura sudah bertekad. Tak ingin lagi berurusan dengan keluarga Fendy.


Ini adalah perjanjian yang hanya menguntungkan sepihak saja menurut Affandi. Tapi buat Naura, ia ingin menuntaskan semua masalah ini. Cukup sampai disini.


Rumah dan seluruh isinya kini dalam kuasa keluarga Fendy Martin. Naura tidak punya sedikitpun hak lagi disana.


Dalam waktu 7x24 jam Naura diminta meninggalkan rumah itu. Dan keluarga Fendy menarik semua tuntutan atas nama Naura. Mereka juga bersedia membayar denda hukuman Naura kepihak Kejaksaan.


Tentu saja Affandi menolak tegas. Dalam hal ini jelas Naura menjadi korban.


Selain tak memiliki harta gono-gini, Naura juga masih ternoda dengan adanya tanda hitam diidentitasnya sebagai seseorang yang cacat hukum jika sidang pembunuhan ini tidak dilanjutkan.


Apalagi mereka seperti sengaja membuang bukti-bukti yang jelas-jelas mendzolimi Naura seperti bukti pernikahan Fendy dan Tita tanpa sepengetahuan Naura.


Naura hanya bisa memohon Affan untuk tidak melanjutkan kasus ini kembali keranah hukum.


Semua telah terjawab.


Bagi Naura semua telah terselesaikan.


Entah Fendy yang mendapatkan hukuman dari Tuhan, atau mungkin dirinya yang telah mendapat teguran langsung akibat ketidakmampuannya membawa bahtera rumah tangganya kedalam lautan kebahagiaannya.


Naura hanya bisa meresapi makna hidup ini.


Usianya, sebentar lagi 32 tahun. Tapi telah banyak lika liku dalam kehidupannya. Kini Naura hanya berpasrah pada takdir Tuhan saja.


"Naura!"


"Tolonglah mas! Tolong mengerti aku!... Aku ingin berjalan sendirian pulang kerumah kami!"


"Jangan bertindak gegabah, Naura! Istighfarlah! Masih banyak yang sayang padamu! Ada aku, ada Ibumu. Ada Lyora, Mas Kemal juga kedua orangtuaku!

__ADS_1


Kumohon..... kumohon tegarkan hatimu, Nau!"


"Aku tegar mas! Aku tidak akan berbuat hal-hal yang dilaknat Allah! Aku hanya ingin sendiri saja. Aku ingin berjalan menyusuri trotoar jalan raya. Tidak ingin melakukan apa-apa, hanya berjalan saja!"


Affan tak mampu berkata apa-apa lagi.


"Aku temani!"


"Tidak! Aku ingin sendiri, mas!"


Naura pergi berjalan menelusuri trotoar jalan raya seperti keinginannya.


Sementara Affandi hanya mengikutinya dari jauh tanpa sepengetahuan Naura.


Naura terlihat berjalan gontai ditengah trotoar yang sepi pejalan kaki karena masih dijam kerja.


Suara kendaraan yang lalu lalang baik roda dua maupun roda empat hilir mudik menjadi penghiburannya.


Sesekali bis besar melintas disamping kanannya dengan suara deru dan juga klaksonnya yang terkadang mengagetkan.


Semua tak Naura hiraukan. Dirinya duduk sebentar, sendirian dihalte bis yang juga lengang. Hanya satu-dua orang saja yang duduk menunggu buskota yang mereka nanti sedari tadi.


Hingga perlahan mereka pun pergi satu persatu menaiki bis yang datang yang mereka tunggu. Hanya dirinya sendirilah kini.


Seiring cintanya yang menguap pada suaminya Fendy Martin.


Kak..... Sejujurnya aku masih tak percaya kamu setega itu padaku. Tapi aku juga tidak menyalahkanmu 100 persen.


Karena ini semua adalah awalnya dari kesalahanku. Dari kekuranganku. Juga dari kelalaianku menjagamu seutuhnya.


Aku tidak akan pernah membencimu kak!


Aku hanya shock, kamu ternyata telah mengirimkan sertifikat rumah kita ke kedua orangtuamu jauh-jauh hari tanpa sepengetahuanku.


Sebegitu inginnya kah kamu menyingkirkanku, Kak?


Andai saja kita bisa berkomunikasi dengan baik disaat itu, mungkin kamu akan lebih bahagia kak! Mungkin mbak Yu ku tidak akan mengotori tangannya menusuk dadamu tepat dijantungmu, kak!


Kak...... Aku selalu mengingat semua kebaikanmu. Kamulah yang membuat diriku menjadi perempuan kota meskipun tetap ndeso' dan tetap norak. Tapi kamu jugalah yang selalu menjagaku selama ini.


Aku tahu, sebenarnya hatimu baik.

__ADS_1


Kamu bukanlah lelaki yang jahat dan kejam.


Aku mengenalmu bukan sehari dua hari, sebulan dua bulan. Dan kamu bukanlah pria yang pandai bersandiwara.


Kalau memang kau seperti itu, tak mungkin aku mengetahui kesalahanmu karena telah membohongiku dengan bermain api dibelakangku.


Kamu pria baik, kak! Dan aku menyayangimu. Meskipun pada akhirnya sangat kecewa karena tindakanmu yang sembrono melukai hatiku.


Andai kamu meminta cerai dariku secara baik-baik, andai kau memberiku alasan kau melakukan poligami dibelakangku,... akan kuturuti semua keinginanmu, Kak!


Bahkan aku akan dengan senang hati memberimu hak itu sepenuhnya. Juga rumah kita, rumah hasil selama kita bersama,... aku pasti mengalah. Karena akulah yang bersalah.


Aku memahamimu kak!


Sangat memahamimu!


Dan benar kata Ibuk. Rumah tangga itu perlu pelayanan yang memuaskan dalam hal dapur, sumur dan kasur!


Aku mengerti. Memahami, juga menyadari. Aku tidak bisa melayanimu dikasur.


Meskipun didapur aku mengisi perutmu dengan berbagai macam kesukaanmu, meskipun disumur aku juga mencucikan pakaian serta menyetrikanya dengan begitu licin dan harum pewangi pakaian, tapi aku gagal dikasur.


Kamu butuh seseorang yang mengerti dirimu dikasur.


Dan Tita lah wanita pilihanmu untuk memberikan itu.


Aku menerima kekalahanku kak!


Yang aku sedihkan hanyalah kenapa sampai harus kau libatkan juga keluargamu? Kau bawa serta kedua orangtuamu? Kau beberkan semua kegagalan rumah tangga kita dengan 'menunjuk' kelemahanku didepan mereka terlebih di depan istri barumu?


Kenapa kak?


Sebegitu bencinya kah dirimu padaku?


Naura menelungkupkan wajah mungilnya dengan kedua telapak tangannya.


Cinta, kecewa dan benci.... semuanya terasa beda tipis sekali. Cinta yang mendapatkan kekecewaan, berakhir menjadi suatu kebencian. Benarkah begitu?


Naura terkejut bukan kepalang, ketika tiba-tiba seseorang memeluk kepalanya dan merangkulnya rapat hingga terdengar isak tangisnya yang sesegukan.


"Aku mengerti perasaanmu, Nau! Marilah berbagi kesedihanmu padaku! Jangan kau telan sendirian! Karena aku juga ingin menjadi bagian hidupmu! Karena aku juga bukan orang yang sempurna!"

__ADS_1


Ternyata Pengacara Affandi yang tengah memeluknya. Dengan suara serak menahan isak.


............BERSAMBUNG............


__ADS_2