RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Affandi dan Kemal


__ADS_3


Affan tanpa sengaja melihat Kemal disebuah toko buku ketika ia juga tengah mencari sebuah buku Kitab Undang-Undang KUHP terbitan baru.



"Bro, sedang apa kau dimari?"


"Hei,.... sedang cari lalapan! Haish,.... kau nih bikin bete' aja! Ya cari buku lah!"


Keduanya saling mendekat dan berjabat tangan satu sama lain dengan senyuman tipis dibibir masing-masing.


"Bagaimana kasus Naura? Sudah ada kabar gembira kapan akan sidang?" tanya Kemal membuat Kemal mengangkat bahunya.


"Team Jaksa Penuntut Umum belum siap bahan katanya! Hhh.... Ya, masih mencari bukti-bukti yang menguatkan Naura tentunya! Tapi mulai ada titik terang!"


"Hhhh....."


"Oiya. Aku juga akan membawa Ibu serta sahabat lelaki Naura dari kampung nanti. Kuminta kesediaanmu untuk beberapa malam agar mereka bisa tinggal sementara sampai saat pemanggilan saksi berakhir. Oke?"


"Oke, siap! Aku sudah dengar dari mbak Yun!"


"Kamu memanggil mama tirimu dengan sebutan 'mbak Yun'?"


"Iya. Dia yang maksa. Awalnya ya sungkan! Tapi....., lama-lama jadi kebiasaan juga walau masih sering canggung!"


"Hahaha.... eheem...!!! Hati-hati jatuh cinta pada ibu tiri!" goda Affandi ingin tahu reaksi Kemal.


"Hahahaha, asem! Gila saja aku jika sampai punya perasaan seperti itu pada mbak Yun! Mereka sudah kuanggap saudaraku sendiri. Apalagi, Lyora itu adikku, kuat darahnya dari bapakku. Kami ini sudah saling mengerti satu sama lain, Pak Pengacara!"


"Maaf, hehehe gurau ja!"


"Guraumu menyakitkan! Kalau sampai ibu tiriku dengar, bahaya mas bro!"


"Siapa tahu ibu tirimu justru senang mendengar kau suka sama dia! Hahahaha...."


"Haish, sialan kau kuny*k pintar! Dia itu ibu tiriku, meskipun umurku hanya dua tahun dibawah dia!"


"Maaf, maaf! Tapi,.... bukankah cinta datang karena terbiasa?"


"Hei, kalau kau mau ngajak duel jangan disini! Orang-orang memperhatikan gaya senga'mu tau!!!"


"Kuy, kutraktir makan bakmi ayam di Gajah Mada berikut es telernya!"


"Kuy lah! Siapa takut!"


Keduanya tertawa kecil setelah mengobrol agak panjang lebar.


Mereka pun keluar dari toko buku dengan berjalan kaki melipir ke arah basement yang disampingnya ada kantin food court berbagai macam makanan.


Kini keduanya telah duduk di kursi meja pelanggan outlet Bakmi Gajah Mada di sebuah food court yang ada disekitar toko buku itu.


Sambil menunggu pesanan, keduanya kembali memulai percakapan ringan.


"Ibumu istri pertama Datuk Irhamsyah, bro?"


"Ya."


"Hebat, bapakmu!"


"Nyindir kau?!?"


"Hahaha..... maaf! Kau pemarah, mungkin miripnya tuh disitu! Hahaha..."


"Siapa bilang? Bapakku itu sweet kalau sama perempuan!"

__ADS_1


"Hahaha....! Kenapa tak belajar dari bapakmu, soal percintaan mas bro?!"


Kemal terlihat tidak senang dengan candaan Affan yang dianggapnya semakin kebablasan. Membuat Affan menyatukan telapak tangannya meminta maaf.


"Aku tidak ingin seperti bapakku! Kelakuannya seperti setan dakjal!"


Affandi tak memberikan komentar. Hanya helaan nafasnya yang agak panjang.


"Kau sendiri? Kenapa belum menikah? Padahal, status pengacara itu terkenal flamboyan dan mudah mencari pasangan bahkan bisa menikah beberapa kali juga karena 'hukum hatam dibabatnya'!"


"Hehehe....apalah aku ini mas bro! Masih anak bawang pula, aku ini!" Affan merendah.


"Berarti ini kasus perdanamu ya?"


"Sebenarnya tidak juga. Sudah ada beberapa kasus sebelumnya yang berhasil kutangani. Justru sebenarnya kalau merujuk dari para pengacara yang sohor, kasus ini kasus biasa karena sang terdakwa sendirilah yang mengakui bahkan menolak tegas pembelaan. Apalagi kasus ini dibiayai Pemerintah. Otomatis rata-rata para lawyer biasanya santai dalam menangani kasus model begini!"


"Tapi kau bekerja sangat keras sekali dalam menangani kasus Naura!"


"Selain aku simpati dan empati pada Naura, aku juga sedang berusaha menaikkan level track record ku tentunya diantara para lawyer!"


"Berapa kau digaji pemerintah sampai kasus sidang?"


"Hehehe.... lima juta maksimal!"


"Wah, tekor dong kau Fan?!"


"Hahahaha...kalau menghitung untung rugi ya begitulah! Tapi orangtuaku menginginkan anaknya menjadi penolong berbudi luhur!"


"Preeet lah! Kau ada hati juga pada Naura! Apanya yang 'Penolong Berbudi Luhur'!"


"Hahahaha....bisa saja mas nih!"


"Berapa bersaudara kau bro!"


"Maksudmu?"


"Hehehe..... harus ya, aku cerita juga jati diriku padamu mas?"


"Terserah kau! Aku sih tidak dalam penyelidikan riwayat hidupmu!"


"Hehehe....! Aku ini sejak kecil sudah dibuang. Tinggal dipanti asuhan tanpa tahu siapa ibu bapakku. Sampai papa dan mamaku datang mengadopsiku! Mengangkatku sebagai anak kandung sendiri!"


"Hm...... Turut prihatin!"


"It's okay, no problemmo mas bro!"


"Aku kira, hidupmu masih lebih baik dibanding aku. Anak lelaki pertama dari istri pertama seorang bapak yang terkenal kemahirannya memainkan 'cinta'! Hhhh....."


"Kau punya ibu kandung yang mengasihimu sampai akhir! Itu suatu anugerah!"


"Ya. Betul. Itu satu-satunya yang paling kusyukuri dalam hidupku!"


"Berapa kali bapakmu menikah?"


"Entah! Tanyakan saja padanya kalau kau kepo!"


"Hahaha.... suwe'! Aku sebenarnya ingin menemuinya. Tapi mengingat keadaannya yang sekarang, dan mbak Ayuni melarangku juga. Akhirnya aku tidak jadi mengorek-ngorek keterangan apapun dari beliau!"


"Dia mendapat hukuman juga dari Allah. Untung mbak Ayuni masih mau bertahan tak mengajukan cerai. Kalau sampai itu terjadi, aku bersorak atas semua penderitaannya!"


"Tak baik berkata seperti itu mas bro! Biar bagaimana pun, dia bapak kandungmu! Setidaknya, semua kisah hidupnya bisa kita ambil sebagai bahan pelajaran!"


"Hahaha.... Sok bijak sekali kau nih!!"


"Papa mamaku yang mengajarkanku arti kehidupan yang sesungguhnya. Kata mereka, amarah yang dibalas amarah hanya akan memperpanjang karma hidup kita. Semua itu akan terus dan terus menyakiti diri kita sendiri pada akhirnya. Beda jika kita melepaskan semua kesakitan itu, berniat memulai lembaran baru tanpa menoleh kebelakang yang penuh dendam kesakit-hatian!"

__ADS_1


"Ucapanmu seperti bocah baik hati, tapi memang ada benarnya!"


"Hehehe.... berkata-kata itu mudah ya?! Tapi pelaksanaannya hahaha perlu perjuangan!"


"Yap. Apalagi kalau untuk menasehati orang! Sudah merasa bagaikan 'orang suci' kita. Hahaha...."


"Kau hebat mas! Bisa menyayangi semua saudara-saudaramu meskipun berbeda ibu!"


"Sebenarnya tidak semua! Karena ada juga ibu tiriku yang nyebelin dan aku benci setengah mati!"


"Mbak Ayuni?"


"Dia ibu tiri paling berbeda!"


Terang saja, mas bro! Dia memanjakanmu karena jatuh cinta padamu! Hehehe....apa kau tak pernah menyadari itu!? bisik hati kecil Affan.


"Mbak Yun sangat polos diawal pernikahannya dengan bapak. Bahkan, Mbak Yun juga yang membantu Ibukku melahirkan adik bungsuku, Selomitha. Hhhh.... Hatinya baik, lembut juga orangnya!"


"Kalau saja, mbak Yun bukan ibu tirimu. Apakah ada kemungkinan kau jatuh cinta padanya?"


"Hahaha..... Setan alas! Kau sedang menginterogasi perasaanku rupanya!"


"Kalau keberatan cerita, ga papa mas tak mau cerita! Aku hanya kepo berlebihan saja. Hehehe, maaf!"


"Hei,.... dulu mbak Yun cantik parah!"


"Hahaha iya kah?"


"Aku sendiri sempat kaget diawal melihat dia pertama kali. Batinku, pantas saja bapakku bernafsu nikahin dia! Dia paling cantik diantara istri-istrinya. Dan paling penurut juga sepertinya!"


"Oh begitu rupanya!"


"Dia sangat takut dibentak bapak. Dia sering menangis dibalkon atas rumahnya. Duduk berselonjor dibawah tiang jemuran. Tak peduli panas matahari menyengat. Dia menangis sesegukan sendirian, jika sudah mendapatkan siksaan bathin bapakku!"


"Bukannya kalian beda rumah ya?"


"Iya. Bapakku punya banyak asset rumah. Tapi aku selalu mendapat prioritas juga dimatanya, hingga aku bebas wara-wiri masuk dan tinggal juga kadang-kadang dirumah istri-istri mereka. Hahaha...."


"Hehehe dasar kau mas! Ternyata ada juga tabiat buruknya yang menurun padamu!"


"Hahaha.... kata-katamu ngeselin tapi benar!"


"Kamu sering menginap dirumah mbak Ayuni juga katanya ya? Bahkan sering tidur bareng."


"Iya. Kadang aku suka ga tega melihat wanita menangis. Apalagi ditambah bocak cilik juga yang ikut menangis. Hei, awas kalau kau berfikir kejauhan pak Pengacara!!"


"Maksud mas?"


"Ya, tadi kau bilang tidur bareng!"


"Hahaha.... Upsss, aku tak bilang apa-apa!"


"Iya, tapi intonasi suaramu menyiratkan seolah kami ada main diatas ranjang. Tidak! Tidak ada itu!"


"Hahahaha... kenapa kau belingsatan sendiri mas bro!? Sedangkan aku justru tak berkata apa-apa!"


"Aku tak ingin jadi bahan gunjingan orang. Sudahlah bapakku orang aneh, keluargaku juga masih harus menanggung aib perkataan orang nantinya."


Affandi tertawa dan mengangguk tanda mengerti.


"Kami memang sering tidur bareng, tapi..... ranjangnya dan ranjang Lyora itu disatukan. Jadi besar sekali itu kasur ranjangnya. Dan aku tidak pernah menyentuh mbak Yun! Mungkin hanya sedikit bersentuhan dengan Lyora. Itupun waktu Lyora masih SD!"


Affandi tertawa. Lucu juga melihat pria dewasa berumur 37 tahun didepannya itu bertingkah seperti anak lelaki baru gede. Merengut bibirnya mengerucut manyun mencoba menjelaskan sesuatu padanya, yang sebenarnya sudah Affandi ketahui sendiri dari Lyora.


...........BERSAMBUNG.............

__ADS_1


__ADS_2