RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kalau Jodoh Tak Kan Kemana


__ADS_3


"Hai Witha! Ngerem terus dikamar, sudah bertelur berapa biji?"


"Haish! Datang-datang ngajak gelud!"


"Eh, aku dari tadi lho ngobrol disini! Iya khan ma, pa?"


"Ma? Pa? Sejak kapan mas Kemal panggil mama papaku "Ma Pa"?"


"Sejak tadi! Kenapa? Marah? Sirik? Tanda tak mampu itu!"


"Ya sudah, kalau kak Witha tak suka kedatangan mas Kemal... Kak Witha masuk kamar lagi aja! Gitu aja koq repot!"


Gibran, adik bungsunya nyeletuk. Terang saja Witha jadi kesal.


"Kenapa kalian jadi sekongkol gitu? Ada konspirasi apa ini?"


"Wow bahasanya! Ya sudah, ucapan Gibran ada benarnya, Witha!" kata Papanya ikut menyela.


Witha hanya memonyongkan bibirnya. Kesal.


Tadi dia begitu memikirkan Kemal. Tapi ketika Kemal ada dirumahnya, dan terlihat begitu akrab dengan kedua orangtua serta saudara-saudaranya... Entah kenapa kini ia terlihat keki.


Kenapa? Apa hatinya sedang sebel dan jengkel pada pria yang telah ia anggap Pemberi Harapan Palsu itu?


Atau karena ia kesal, Kemal datang kerumahnya tapi terkesan bukan untuk menemuinya?


Seharusnya khan pria itu bertamu kerumahnya untuk bertemu dengan dirinya?


Bukan hanya sibuk haha-hihi dengan Mama Papa dan adik-adiknya?


Dan lagi, harusnya keluarganya itu memanggil dirinya. Kalau ada pria, temannya datang bertamu. Bukankah harusnya seperti itu?


Hhhh.....


Witha menghela nafas, kesal.


Air putih segelas, habis diminumnya tak bersisa.


Ia sedih sekaligus marah, karena merasa tak dianggap dirumah ini. Tapi mau apalagi. Mau bagaimana lagi.


Sementara keluarganya sendiri asyik bercengkerama dengan 'tamu'nya. Yang seharusnya dia lah tujuannya. Padahal Kemal adalah pria yang baru mereka kenal.


Haish!!! Bisa-bisanya itu cowok membuatku tak enak hati dan tak betah tinggal dirumah sendiri. gerutu Witha dalam hati.


Keluarganya terlihat cuek pada dirinya. Begitu juga Kemal. Bahkan pria itu terkesan tak peduli padanya. Hanya sibuk bercerita ini itu pada papa dan mamanya. Walaupun Witha sendiri tak tahu apa yang mereka bicarakan.


Witha akhirnya memilih masuk kembali ke kamarnya.


Tapi....kenapa jantungnya jadi berdebar tak karuan? Kenapa perasaannya juga jadi ambyar bertebaran?


Kenapa?


Kenapa harus dia yang jadi merasa asing dirumahnya sendiri? Kenapa pula jadi dia yang tak enak hati hingga masuk kembali kekamar melihat keakraban Kemal dan keluarganya?


Witha memikirkan tingkahnya sendiri. Digaruk-garuknya kepalanya yang tak gatal.


Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya lagi.


"Eh, akhirnya tuan Putri keluar lagi!" goda Kemal membuat Witha kesal.

__ADS_1


Witha berani mengungkapkan kekesalannya karena ternyata kedua orangtuanya beserta adik-adiknya telah masuk ke kamar masing-masing.


"Iiiiiih.... Sudah bikin aku stres mikirin mas Kemal yang menghilang,.. eh sekalinya datang malah bikin aku kesel.... Keseeeel!!!!"


"Hahaha...... Maaf Witha! Aku harus fokus sampai tahlilan bapak tujuh hari baru bisa kembali ke ibukota!"


"Halaaah! Bilang saja, kalau mas Kemal dikampung punya cem-ceman lain! Takut pacarnya marah! Jadi hapenya mati tak bisa dihubungi!"


"Hahaha..... Bukan begitu! Aku juga sudah mengabari Affandi!"


"Ah... aku lupa! Naura juga sempat bilang, tapi waktu itu agak terpotong obrolan kami karena mama mas Affan menelpon."


"Hadeh!"


"Maaf!"


"Lantas kamu selama ini berfikir aku ini lelaki yang tidak punya tanggung jawab, begitu?"


"Bu bukan gitu juga.... Cuma, mmm cuma..."


"Cuma apa?"


"Cuma suka mempermainkan hati wanita gitu?"


"Bu bukan, mas!"


"Aku sudah memintamu pada kedua orangtuamu tadi! Dan respon mereka baik-baik semua. Sekiranya kamu tidak suka padaku, berarti ucapanku tadi sia-sia belaka! Jadi.... ya sudah! Aku akan pulang segera, jika kamu memang tidak menyukai kedatanganku! Aku pamit!"


"Mas! Tunggu mas!"


"Tolong sampaikan pada kedua orangtuamu! Aku minta maaf atas semuanya! Juga atas sikapku selama ini padamu!"


Witha menahan lengan Kemal Pasha.


Berharap sekali pria itu memberinya kesempatan sekali lagi.


Bisakah dirinya meminta kesediaan Kemal untuk menerima dirinya lengkap dengan sikap dan sifat buruknya?


Hampir jatuh airmata dari netranya.


"Mas! Hik hik hiks.....jangan pergi! Maafkan aku! Please..... maaf!" Pecah juga pertahanan dirinya.


"Kenapa kamu menangis? Kenapa?"


"Jangan pergi lagi! Jangan pernah meninggalkanku lagi tanpa kepastian!"


Upss....!!!!!


Witha menutup mulutnya. Ia keceplosan. Hingga bablas mengakui kalau dirinya menunggu kepastian dari Kemal Pasha.


Ah...! Kemal tertawa dengan indahnya. Tentu saja Witha semakin terpana melihatnya.


Senyum Kemal menggetarkan jiwanya. Seperti mimpi takut terbangun, karena dirinya yang biasa saja begitu berharap lebih pada Kemal Pasha yang gagah tampan rupawan.


"Boleh aku bertanya mas?"


"Tanya saja, Wit! Asal jangan yang susah-susah pertanyaannya ya!"


"Mas Kemal tampan, tapi kenapa masih membujang sampai sekarang? Padahal usia mas sudah 37 tahun!"


__ADS_1


"Boleh pertanyaan itu kukembalikan padamu? Lantas kalau kau yang ditanya seperti itu, apa jawabmu?"


Witha bingung. Pertanyaannya justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


"Maaf mas!"


"Apa jawabanmu, Witha?"


"Aku tidak punya jawabannya. Hanya Allah-lah yang tahu pasti jawaban dari pertanyaan itu!"


"Nah itu! Jawabanku sudah kamu jawab dengan benar."


Witha tersenyum malu. Ia menundukkan kepalanya.


"Kau tahu Witha? Aku juga mendamba memiliki pasangan seperti orang lain diluaran sana. Aku ingin memiliki istri yang manis rupa juga hati. Yang mau menerima semua kekuranganku, bukan hanya kelebihanku saja. Aku ingin istriku setia, jiwa dan raga. Terlalu banyak inginku, tapi belum ada yang bisa mengerti aku!"


"Mas tampan. Pasti banyak perempuan yang mengejar-ngejar mas!"


"Mengejar-ngejar karena aku berhutang?"


"Hehehe...bukan begitu mas! Biasanya cowok tampan mudah mendapatkan pasangan!"


"Kata siapa?"


"Kata aku lah!"


"Contohnya aku, koq sampai sekarang gak laku-laku!"


"Hahahaha..... sesama orang kurang laku jangan saling menyindir dong! Senggol hati kena mental niiih!"


"Hahahaha....! Iya ya, sesama jomblo dilarang menyakiti! Harus se-iya se-kata. Kalau sudah begitu, bisa jadi sehidup semati dong!"


"Ih aku mah ogah banget sehidup semati, mas!"


"Hahaha... Ya iya aku juga ogah, sehidup semati!"


"Aku inginnya kita hidup bersama dan hanya kematianlah yang memisahkan kita didunia. Hingga nanti dipertemukan lagi di syurganya Allah Ta'ala!"


Kemal tertegun mendengar penuturan Witha.


Gadis ini luar biasa. Penampilannya memang sederhana dan tak terlihat oleh orang lain. Tapi sekalinya dia bicara, kata-katanya selalu tepat sasaran. Gadis ini cerdas sekali pemikirannya.


Kemal tersenyum seraya mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.


"Will you marry me, Witha?"


Sebuah cincin emas putih dengan batu permata biru safir yang begitu indah berada didalam kotaknya, Kemal sodorkan pada Witha.


"Mas Kemal?"


"Maukah kamu menikah denganku, Witha? Aku sudah meminangmu pada Papa Mamaku! Semuanya kini tergantung pada jawabanmu!"


"Mauuuu.... Aku mau menikah denganmu mas!"


Kemal memeluk erat tubuh mungil Witha. Mengangkatnya kearah udara hingga gadis itu terpekik antara kaget serta bahagia.


Kalau jodoh, memang tak kan kemana.


Semua adalah takdir Yang Maha Kuasa.


...........BERSAMBUNG...........

__ADS_1


__ADS_2