RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kekuatan Doa Affandi


__ADS_3

Naura kaget, mendengar suara adzan Subuh dan disampingnya ada sesosok tubuh laki-laki tidur dengan tangan merangkul tubuhnya.


Pangkal lengan kiri bawahnya telah diperban. Pertanda ia telah mendapat pertolongan.


Naura bangkit dari tidurnya dan tersentak melihat wajah pria tampan yang tengah tertidur nyenyak.


Dialah sang Pengacara. Affandi Rajata S.H. Agak sungkan menjalari hatinya. Perlahan ia turun menggelosor kebawah ranjang. Duduk dikursi samping ranjang dengan mata menatap lekat lelaki seumurannya itu.


Kenapa pria itu tidur disampingku? Apakah semalaman ia menemaniku? Memelukku hingga nyenyak tidurku? Hhhh...... Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Tidakkah itu agak janggal bagi hubungan seorang pengacara dan kliennya?!


Naura sibuk dengan berbagai macam prasangkanya. Matanya yang sayu memandang terus wajah teduh milik Affandip.


Ia kembali teringat Fendy, sang suami. Perlahan airmatanya kembali merebak.


Tadi siang mbaknya datang mengunjunginya. Tapi bukan bermaksud memberinya kata penghiburan. Justru kata-kata penuh ancaman. Agar ia tetap konsisten pada pendirian awalnya.


Mbak Ayuni Kartika. Kakak satu-satunya yang begitu ia cintai. Yang selalu ada dan selalu menyayanginya ketika ia kecil. Tapi.......


Entah kenapa setelah menikah Ayuni menjadi berubah. Terlebih,...setelah menikah dengan Datuk Irhamsyah sang bandot tua.


Naura menangis terisak hingga lepas kontrol. Tangisnya membesar seiring adzan Subuh selesai. Kepiluan kembali melanda jiwanya.


Teringat kembali, semua masa-masa indahnya bersama Ayuni Kartika ketika masih sebagai anak bapak dan ibuk yang cantik manis.


Dulu,.... waktu itu, mbaknya itu begitu menjaganya. Lahir bathinnya. Bahkan tangisan Naura bagaikan penderitaan bagi Ayuni. Tawa riang Naura juga kebahagiaan yang hakiki untuknya.


Kini...., semua lenyap begitu saja. Entah kemana rasa cintanya pada adik semata wayangnya itu. Entah dimana lagi simpati dan empatinya pada Naura.


Naura benar-benar tertekan. Antara kesedihan dan rasa ingin melindungi, tapi benci juga dengan kelakuan kakaknya tercinta itu kini.


"Kenapa Naura? Kamu sakit? Bagian yang mana? Katakanlah padaku!" Naura melemahkan isakan tangisnya mendengar suara lembut Affandi.


Malu juga ia mendapati perhatian dari pria yang belum begitu ia kenal. Sedang tingkahnya saat ini terlihat bagai bocah ingusan yang manja.

__ADS_1


"Bo boleh aku meminta sesuatu?"


"Ya? Katakanlah Naura!"


"Tolong,.... Kumohon tolong hentikan penyelidikanmu! Aku tidak butuh pembelaanmu, pak Pengacara! Tolong fahami aku! Kumohon, mengertilah! Dan terimakasih untuk semua kerja kerasmu mencari bukti-bukti yang bisa meringankanku dari tuntutan hukuman.


Sudah seharusnya aku dihukum! Sudah sepantasnya aku dipenjara! Karena aku telah menghilangkan nyawa suamiku sendiri!"


"Naura! Aku mengerti sekali perasaanmu yang begitu tertekan dengan rasa bersalah. Tapi kau berhak mengajukan pledoi atau pembelaan dipersidangan. Kau punya hak meskipun kau berstatus tersangka dan terdakwa. Faham Naura? Dan aku percaya, kamu tak mungkin membunuh suamimu tanpa sebab. Kamu sehat wal'afiat dan segar waras!"


Naura kembali terisak. Kembali menghela nafas seolah begitu berat beban dibatinnya.


"Ceritakanlah beban bathin penderitaanmu padaku Naura! Aku adalah kuasa hukummu! Akulah yang bertanggung jawab atas kasusmu saat ini. Percayakanlah semuanya padaku! Ceritalah Naura! Ceritakan betapa suamimu itu telah menyakiti batinmu dengan berselingkuh dibelakangmu hingga kau berani menikam dadanya dengan 9 kali hujaman. Iya khan?"


"Aku....a aku tidak menikamnya sebanyak itu!"


Deg.


Feelingnya tepat. Mengatakan kalau Naura tidak seorang diri melakukan penyerangan kepada suaminya itu. Ada orang lain disana, ketika peristiwa itu terjadi.


"Siapa? Siapa Naura yang menikam Fendy 8 kalinya?"


"Ma maksudku, a aku menikam Fendy sekali dalam keadaan sadar. Dan delapan kalinya tidak dalam keadaan sadar!" ralat Naura tergagap.


Tapi Affandi sudah lebih mengenal Naura. Semua kejujurannya terbaca dari gugupnya ia meralat ucapan pertamanya.


Sang pengacara itu diam, tak melanjutkan pertanyaan. Apalagi mendesak Naura untuk buka suara.


"Mbak Ayuni tadi datang menyambangimu Naura! Apa yang ia ucapkan padamu? Apa dia menekanmu lagi? Setelah kakakmu pergi, setengah jam kemudian kamu melakukan tindakan bodoh percobaan bunuh diri. Kenapa? Kenapa Naura?"


"Hik hik hiks... aku.., aku tidak mendapat tekanan dari mbak Ayuni! Sungguh!.. Aku, aku justru sedih, mendengar ibuk sakit dikampung karena mendengar aku telah membunuh suamiku!"


"Ibumu baik-baik saja dikampung! Justru ibumu memberikan doa dan dorongan semangat agar kau kuat menjalani cobaan ini! Aku sudah ke kampung halamanmu dua hari yang lalu. Berbincang-bincang dengan ibukmu yang menangisi kisah hidupmu yang kelam. Dia kirim salam untukmu Naura!"

__ADS_1


Airmata Naura mengalir dengan begitu derasnya. Merasa begitu amat bersalah ketika nama ibu disebut Affandi.


Ia sadar. Selama ini belum pernah memberikan kebahagiaan pada kedua orangtuanya. Ia belum bisa membuat bapak ibunya bangga padanya.


Justru selama ini ia merasa, ialah anak ibu dan bapak yang paling menyusahkan. Ia suka membangkang. Suka melawan. Berbeda dengan Ayuni Kartika kakaknya. Yang menurutnya lebih legowo menerima nasib dengan mengikuti titah kedua orangtuanya meskipun itu perbuatan yang begitu Ayuni tidak ingin lakukan.


Affandi merangkul bahunya. Berusaha menguatkan Naura, tapi dengan lembut ia berusaha menampik rangkulan tangan pria yang sudah seminggu ini menjadi lawyernya.


"Maaf,.... maafkan aku! Aku tidak ingin kamu bela, dengan banyak alasan!"


"Apa Datuk Irhamsyah, kakak iparmu itu yang mengancammu? Atau anaknya, si Kemal Pasha yang telah menggodamu dengan berbagai cara?"


Mata Maura nampak membulat menatap Affandi.


"Aku sudah menemui Kemal Pasha dirumah besarnya di perumahan XXX. Dan dia tidak terlihat peduli meskipun ia mengatakan cinta padamu, Naura!"


Naura menunduk. Tetesan airmatanya jatuh dipangkuannya.


"Dia tidak benar-benar mencintaimu. Kalaupun benar, dia pasti sudah memasang badan membelamu mati-matian! Sadarlah Naura! Cintamu terlalu berharga jika kau persembahkan hanya untuknya. Kau bisa mendapatkan hukuman berat jika sengaja membelanya dan mempertaruhkan masa depanku sendiri!"


"Bukan dia pelakunya! Bukan mas Kemal!"


"Lalu siapa, Naura? Katakan sejujurnya padaku!"


"Aaaaaaah.... Aku sendiri! Tidak ada tersangka lain! Hanya aku sendiri! Hik hik hiks!"


Begitu sulitnya membuka mata hati wanita ini. Apakah cinta telah begitu membutakan hatinya? Hhhh.... Entahlah! Yang jelas, lama-lama aku bisa gila jika terus menerus berada dalam pusaran benang kusut ini.


Ya Tuhan! Tolong bukakan pintu hati Naura. Please!!!!


Hanya doa dalam hati yang bisa Affandi panjatkan. Selebihnya, ia akan terus berusaha membuat Naura mau terbuka padanya. Meski dengan berbagai cara dan upaya.


............BERSAMBUNG.............

__ADS_1


__ADS_2