RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Hari Yang Panjang


__ADS_3

Naura merasakan harinya semakin sepi. Affandi hari ini tidak menyambanginya. Kalau tak salah, ia memang memberitahu Naura kalau lusa baru akan kembali mengunjunginya.


Tapi ternyata dua hari kenal, akrab dan berteman dekat dengan pengacara itu, cukup mmembuat hatinya diliputi rasa gegana juga.


Wajah tampan lawyer muda dan senyum manisnya yang tak terlalu diumbarnya pun menjadi salah satu alasan rindunya.


Seorang pengacara, sudah pasti orang yang cerdas. Pintar mengolah kata dan rasa. Apalagi jika tengah dimuka sidang. Otomatis pengacara pasti akan tampil layaknya pahlawan yang berjuang hingga tetes darah penghabisan.


Naura mengalami titik kejenuhan. Andai saja teman-teman se-sel nya tidak merusak buku TTS-nya, mungkin harinya tak se-boring ini.


Kelima temannya sudah jatuh ketuk palu hukuman. Jadi mereka bisa keluar dari sel untuk mengikuti kegiatan-kegiatan wajib diruangan lain.


Sedangkan Naura belum mendapatkan hukuman pasti, jadi ia hanya duduk-duduk seharian didalam sel tahanan. Untuk makannya pun Naura masih diantar kedalam sel oleh sipir penjara.


Detik demi detik bergerak terasa sangat lambat. Membuat Naura kembali melamun mengenang semua masa lalunya.


"Kemana kita?" katanya kepada Kemal setelah berganti pakaian pengantinnya.


"Kita? Kamulah yang harus menentukan langkahmu sendiri!" ucapan Kemal yang ketus mematahkan semangat Naura.


Ia kembali ciut. Mengingat setelah ini ia akan sendirian mengatur jalan hidupnya. Tanpa Bapak dan Ibuknya. Tanpa mbak Ayuni kakaknya. Bahkan tanpa Kemal juga, yang telah menyelamatkannya dari pernikahan dengan ayah kandung Kemal sendiri.


"Pergilah! Belajar mandiri!" ujar Kemal lagi. Nadanya halus padahal itu, tapi seperti usiran bagi Naura.


Naura terisak sendiri. Membuat Kemal menghentakkan sebelah kakinya karena kesal.


"Hadeh!"


Lagi-lagi ia melemah melihat Naura yang rapuh dengan lelehan airmatanya. Gadis itu teramat polos meskipun sudah tamat SMU dan berusia 18 tahun.


Khawatir juga Kemal jika ia meninggalkan Naura sendirian. Beberapa jam yang lalu bahkan ia lihat sendiri bagaimana pria-pria bajingan yang hampir saja merusak Naura.


"Sekarang apa rencanamu?" tanya Kemal pada Naura.


Gadis itu hanya terpaku, lalu menggeleng pelan.

__ADS_1


"Jika kau tak punya rencana, untuk apa kau memintaku membawa ketempat lain selain rumah orangtuamu!?" hardiknya lagi.


Naura menunduk malu. Ia benar-benar tidak tahu harus pergi kemana. Itu ia minta pada Kemal hanya karena tak ingin kembali berurusan dengan Datuk Irhamsyah. Sebab jika ia pulang kerumahnya, pasti besok atau lusa ajudan Datuk akan datang lagi membawanya. Dan pernikahan bisa jadi kenyataan.


Naura melihat sekitar. Suasana sore menjelang maghrib membuat cuaca terlihat semakin gelap.


"Mas Kemal, sepertinya sebentar lagi maghrib!"


Kemal hanya mendengus. Lalu masuk kembali kedalam mobil bak yang dibawanya. Naura hanya bisa mengekor dan ikut masuk kemobil lewat pintu disebelahnya.


Losmen kecil dipinggir jalan menjadi pilihan mereka.


"Maaf mas, tinggal ada satu kamar saja!" kata si penjaga losmen kepada Kemal.


Mau tak mau akhirnya Kemal menerima juga. Ia memberikan sejumlah uang untuk menyewa kamar semalam saja.


Maghrib telah lewat sedari tadi. Kalau ia pergi dan mencari losmen atau penginapan lain, dikhawatirkan akan semakin malam. Dan belum tentu juga ada losmen lain yang masih ada dua kamar kosong.


Ini malam minggu. Banyak muda-mudi pasangan yang mencari tempat hiburan termasuk tempat penginapan.


Kemal membuka pintu kamarnya. Terlihat hanya ada satu ranjang saja. Itupun ranjang ukuran nomor dua.


"Mas, ikut!" Naura langsung menyela. Ia termasuk perempuan penakut. Apalagi ditempat-tempat baru yang lampunya temaran dan dimalam hari pula.


Rasa malu yang sedari tadi ada, terpaksa Naura singkirkan demi untuk tidak ditinggal Kemal sendirian di kamar losmen yang terlihat cukup tua bangunannya itu.


Kemal berjalan menyusuri trotoar pinggir jalan raya yang masih lalu lalang berbagai kendaraan. Seperti tadi, Naura berjalan dibelakangnya.



Dua piring nasi lengkap lauk pauk ya mbak!" pesan Kemal pada sipenjaga warung nasi yang ia masuki bersama Naura.


"Apa lagi, mas? Minumnya?"


"Air teh tawar hangat saja."

__ADS_1


"Baik. Ditunggu ya mas!?"


Kemal dan Naura duduk dikursi panjang yang disediakan.


Tak lama kemudian mbak penjaga warung datang dengan dua piring nasi pesanan Kemal. Lalu kembali lagi dengan dua gelas air teh berukuran sedang.


"Terima kasih mbak!" kata Naura mengangguk hormat.


"Sama-sama mbak!"


Nasi ditambah ayam goreng dan telur balado serta orek tempe begitu menggugah selera.


Naura menelan air liurnya. Perutnya baru terasa sangat lapar setelah melihat penampakan dihadapannya.


Ia memang belum makan sejak dari pagi tadi. Jangankan memikirkan makanan, fokusnya hanyalah pada kejadian yang akan membawa dirinya kedalam kenistaan.


Terlebih kakaknya sendiri sudah dua hari tak tahu kabar beritanya, sejak memberitahukan kalau Naura akan segera dinikahkan Datuk dua hari lagi.


Entah sekarangpun bagaimana keadaan kakak dan juga bapaknya dirumah besar itu. Pasti Datuk sedang marah besar karena tindakan putra sulungnya yang kini duduk disamping Naura tanpa rasa berdosa dan makan dengan lahapnya.


Naura menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menepis rasa khawatirnya pada bapak dan kakaknya. Biarlah, untuk sejenak ia ingin lupa dan makan selahap Kemal.


Seporsi nasi lengkap telah bersih, habis tak bersisa. Rasa lapar yang tadi menderanya hilang sudah. Segelas teh hangat pun kini tersisa seperempatnya saja.


"Terima kasih mas!" tutur Naura pada Kemal. Tapi perkataannya benar-benar dianggap angin lalu oleh putra kakak iparnya itu.


Lagi-lagi Naura hanya bisa membuntuti Kemal saja. Mereka kembali masuk kamar losmen yang telah disewanya.


Pukul 9 malam lebih. Mata Naura mulai mengantuk. Ia memang terbiasa tidur cepat sejak masih sekolah.


Kemal masih duduk dikursi rotan menghadap jendela yang terbuka sambil merokok sendirian.


Perlahan Naura naik keatas ranjang. Melipat kakinya lalu tidur menyerong miring.


Hari ini bagaikan mimpi buruk yang panjang baginya. Rasanya seperti menaiki wahana ekstrim di taman hiburan. Menegangkan sekaligus mendebarkan. Tapi lebih banyak rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam yang ia rasakan.

__ADS_1


Linangan airmata menjadi penutup harinya dimalam ini. Doa tidur yang berulang-ulang, berharap esok pagi ia bangun dengan harapan kebahagiaan.


...........BERSAMBUNG...........


__ADS_2