RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Fendy Martin, Sang Suami


__ADS_3


Fendy Martin.......


Setelah satu minggu pertemuan pertama Naura dengan pria itu, ia tergelitik juga untuk mencoba menghubungi nomor yang tertera dikartu nama Fendy. Mencoba menghubungi via hp temannya.


Naura saat itu hanyalah seorang pekerja di agen toko makanan ringan disebuah pasar tradisional.


Sang pemilik cukup baik mempekerjakan dia dan juga menampungnya tinggal dibelakang toko. Meskipun hanya berukuran 2 x 3 meter saja untuknya tidur, Naura sangat bersyukur.


Makan sehari-harinya ditanggung pemilik toko. Kadang bahkan kalau sedang baik, koko dan cici memberinya uang jajan diluar gaji pokoknya perbulan yang 800 ribu rupiah itu.


Otomatis Naura tidak harus terbebani memikirkan biaya sewa tempat tinggalnya.


Cuma konsekuensinya, ia jadi bekerja 24 jam lamanya. Tanpa libur apalagi dihari minggu.


Itu yang membuatnya tidak bisa berbuat sesuka hati walaupun sekedar untuk dirinya sendiri.


Hiburannya hanyalah candaan para pelanggan yang kebanyakan para wanita yang membuka warung dirumah mereka. Dan para kendaraan serta pejalan kaki yang hilir mudik melewati toko tempatnya kerja.


Ia memang cukup supel dan mudah bergaul. Hingga bisa kenal kiri kanan sesama para pekerja toko.


Bahkan karena kecantikannya juga, Naura cukup terkenal diantara para pemilik toko dan pekerja disekitar pasar.


Naura menghela nafasnya sesaat.


Setelah makan, penyakit kantuk pasti datang menyerang. Ada enaknya juga hidup seperti dirinya saat ini. Hanya rebahan dan rebahan saja disaat-saat seperti ini.


Ia memang belum bisa mengikuti kegiatan seperti tahanan yang lainnya.


Kasusnya masih on going. Masih dalam proses penyidikan dan penyelidikan pihak kepolisian. Jadi Naura paling hanya keluar jika pihak kepolisian melakukan investigasi dan tanya jawab padanya. Atau pihak lawyernya yang bolak-balik menemui dirinya.


Naura menggelosorkan tubuhnya dilantai keramik tahanan yang berwarna putih polos itu.


Matanya terkatub meski ia tak tidur. Cuaca panas diluar bisa ia rasakan lewat dinding tembok yang terasa hangat ketika diraba.


Meski Naura tak bisa melihat matahari, tapi ia bisa merasakan panasnya dari keringat yang kadang mengucur dari dahi serta tubuhnya.


............

__ADS_1


"Hallo? Bisa bicara dengan Fendy Martin?"


[Hallo, ya saya sendiri. Maaf ini siapa ya?]


"Saya, Naura!"


[Naura? Yang waktu itu saya senggol dijalan raya ya?]


"I iya. Maaf...."


[Naura... Apa ini nomor handphonemu?]


"Bukan. Saya pinjam hape teman! Saya baru hubungi kakak hanya untuk mengabari kalau saya baik-baik saja!"


[Saya menunggu panggilanmu setiap waktu, Naura! Bisa tidak kita ketemuan?]


Naura berdebar dalam hati. Jantungnya bagaikan beduk yang ditabuh.


Mirna temannya yang memang me-load speaker hapenya mendengarkan percakapan antara Fendy dan Naura langsung memberikan kode dengan mengangguk-angguk senang.


[Naura! Hallo?....]


[Saya juga bekerja. Dihari libur bisa khan Naura?]


"Nanti saya tanya majikan saya dulu ya kak!?"


[Naura kerja apa memangnya? Kerja dimana?]


"Saya kerja diagen toko makanan, kak! Dipasar Kramat Jati."


[Nama tokonya apa?]


"Rangkuti toko."


[Oh iya. Naura!? Maaf, saya masih ada sedikit kerjaan. Obrolan kita sampai disini dulu ya? Nanti kita sambung lagi.]


"Iya."


Klik.

__ADS_1


Naura dan Mirna tertawa terbahak-bahak. Seolah mereka sedang menaiki wahana taman hiburan yang menyenangkan.


"Orangnya ganteng gak , Naur?"


"Ganteng banget!"


"Aiiii.... Mau dong kenalan! Beruntungnya kamu!"


"Hahaha...masa' disenggol motor beruntung! Tapi iya juga sih,.... setelah itu aku jadi punya uang 300 ribu!"


"Hahaha.... mau dong disenggol!"


Mirna dan Naura kembali tertawa-tawa. Jika malam hari, toko tempat mereka kerja memang tidak terlalu ramai. Bahkan cenderung sepi hingga bisa untuk mereka bercengkerama.


Mirna adalah penjaga toko agen sembako disebelah kirinya. Dia juga tinggal didalam ruko agennya. Sama seperti Naura juga. Anak perantauan dari pulau sebrang.


"Kapan-kapan kita telepon lagi ya Naur? Kalau aku punya pulsa! Ternyata kartu SIM HPnya berbeda. Lumayan bikin jebol pulsaku nih!"


"Nanti sebelum telepon, aku isi dulu deh yang sepuluh ribu!"


"Kalo cowoknya ganteng sih ga rugi, Naur! Tapi kalo jelek.... ruginya berlipat-lipat!"


"Ish kau nih! Ga boleh menilai pria hanya dari covernya saja. Cowok ganteng kebanyakan buaya!"


"Kata siapa? Cowok jelek jaman sekarang lebih bertingkah! Tuh, buktinya si Marwan! Istrinya mau tambah lagi dia katanya! Sudah jelek, belagu pula! Bikin eneg khan cowok model begitu!"


"Hahaha....."


Naura menelan salivanya.


Bagaimana kabar Mirna sekarang ya? Pasti Mirna sudah menikah dan mungkin punya dua anak. Hhhh.... Semoga kamu bahagia, Mirna! Aku kangen masa-masa kita remaja dulu.


Airmata Naura merembes tanpa ia sadari.


Begitu banyak orang yang telah lewat dikehidupannya. Orang jahat, orang baik,.. bahkan orang yang menjadi sahabat dan kerabat.


Tapi lebih banyak semuanya hanya numpang lewat dan tak lagi bertemu Naura hingga saat ini.


...........BERSAMBUNG............

__ADS_1


__ADS_2