
"Perkenalkan.... saya Tita! Saya,"
"Saya sudah tahu! Mari silakan masuk, mbak Tita!"
Wanita yang usianya lebih muda darinya beberapa tahun itu terlihat kikuk mendapati perlakuan baik Naura.
Naura menyuguhkan Tita segelas air putih.
"Maaf, hanya ada air putih saja. Saya baru pulang dari kampung! Tapi jangan khawatir, air putih ini dari galon yang baru koq! Beberapa hari yang lalu telah diganti isi ulangnya."
Tita mengangguk pelan sambil menatap Naura. Agak sedikit iri dirinya melihat langsung wajah istri tua suaminya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu.
Tak seperti dirinya. Yang justru wajahnya dipenuhi jerawat-jerawat besar terlebih disaat perutnya semakin membesar.
Sungguh membuat hatinya diliputi rasa iri karena tak percaya diri.
"Kamu tahu saya sudah keluar dari tahanan dari siapa?"
"Pak Pengacara Affandi. Beliau menanyakan saya beberapa hari lalu, apa mbak Naura datang mengunjungi saya. Saya akhirnya berinisiatif mengunjungi mbak Naura terlebih dahulu. Karena saya fikir, saya juga punya hak. Sebab saya juga istri sah mas Fendy. Meskipun hanya nikah siri!"
Naura hanya memandangi Tita dan salut pada keberanian wanita dihadapannya ini.
Pelakor yang punya keberanian untuk menyambangi madunya meskipun suami mereka itu kini telah tiada.
"Saya ingin meminta hak saya, mbak! Juga hak calon anak kami ini!"
Tita makin berani menyuarakan maksud hatinya mendatangi Naura.
"Apa maumu, Tita?"
"Aku ingin meminta separuh harta mas Fendy untuk kelangsungan hidup kami kedepannya!"
"Maksud Tita? Separuh harta kak Fendy yang mana?"
"Semuanya. Termasuk rumah ini!"
Naura menghela nafasnya yang terasa sesak. Adzan maghrib berkumandang. Terdengar jelas lantunannya dari speaker masjid yang ada didepan kompleks perumahan.
"Tita mau sholat dulu disini?" kata Naura, berusaha tenang dengan membelokkan arah pembicaraan yang mulai sedikit memanas.
Tita seperti mengerti pada alur yang Naura tawarkan.
"Silakan mbak sholat dahulu! Saya menunggu disini!" katanya dengan suara lebih kalem kini.
__ADS_1
Naura tersenyum, mengangguk mengiyakan.
Ia berjalan masuk kedalam ruangan tengah yang hanya tertutup tirai tipis sehingga Tita bisa melihat kedalamnya.
Tita berdiri setelah Naura menghilang dari pandangannya. Ia melihat sekeliling.
Rumah yang sederhana tapi terlihat elegan tanpa banyak perabotan. Bahkan televisi Naura masihlah berupa televisi tabung berukuran 14 inc saja.
Tidak seperti dirinya, yang telah memiliki televisi LED ukuran 32 inc hadiah dari Fendy Martin suaminya ketika ia menyerahkan testpack dua garis biru pada pria yang menikahinya itu.
Seketika Tita tersenyum tipis. Tapi ia masih mengontrak. Meskipun perabot rumahnya adalah perabot masa kini dan sudah cukup lengkap.
Bahkan kini ia sudah dua bulan belum bayar kontrakan rumah yang ia tempati dulu bersama Fendy.
Ia kesusahan kini tanpa suami disisi. Satu persatu tas mewah pemberian Fendy sampai berpindah tangan demi untuk mengisi perut melanjutkan hidup.
Jauh berbeda dengan Naura. Yang terlihat nyantai saja karena punya asset berharga berupa bangunan rumah yang cukup luas bahkan berada dipusat kota.
Pasti harga pasaran rumah ini diatas rata-rata karena posisinya yang strategis dan ditengah kota.
Begitu fikir Tita.
Naura keluar setelah 25 menit kemudian. Sedikit lebih lama, karena ia menghadiahkan Fendy sebuah Qur'an Surat Yassin satu balik saja.
"Maaf agak lama!"
"Tidak apa, mbak!"
"Tita bisa lanjutkan maksud ucapan Tita tadi!" kata Naura berusaha bijaksana.
"Saya,... inginkan hak saya pada rumah ini!"
"Tita!..... Ini memang rumah kak Fendy, bersama saya. Kami membelinya diusia pernikahan kami yang baru satu tahun. Masih rumah yang sangat sederhana sekali ketika kami beli dulu."
Naura menjelaskan pada Tita. Tapi tiada tanggapan hingga ia melanjutkan perkataannya.
"Berapa usia pernikahanmu dengan kak Fendy, Tita?"
"Harusnya dua bulan lagi lima tahun kami menikah."
"Aku..kami, mau menginjak waktu sebelas tahun jika saja kak Fendy berumur panjang!"
"Itu, karena kerjasama mbak dan kakak mbak yang menghabisi nyawa suamiku!"
__ADS_1
"Suami kita, Tita! Jangan lupa.....aku juga masih istrinya! Bahkan istri yang pertama!"
"Mbak! Saya tidak akan menyusahkan hidupmu! Saya sudah membuat perjanjian dengan pengacaramu untuk bersaksi nanti dipersidangan. Dan dia sudah memberikan saya jaminan untuk biaya persalinan saya nanti! Tapi untuk hidup saya sehari-hari bagaimana, mbak? Saya tidak bekerja sekarang karena sedang mengandung putranya mas Fendy! Saya juga butuh sandang, pangan untuk melanjutkan hidup! Saya minta pertanggung jawaban mbak!"
"Kenapa kamu berani sekali bicara seperti itu pada saya, Tita? Tidakkah kamu takut saya berbuat lebih kejam dari apa yang kamu lakukan sama saya?"
"Silakan mbak! Kalau perlu, bunuh saya dan bayi yang ada dalam kandungan ini! Hidup saya sudah kadung hancur tanpa mas Fendy!"
"Tita!...."
"Saya jadi begini karena mbak dan kakak mbak yang membunuh mas Fendy!"
"Astaghfirullah!... Hahaha..., apa saya boleh tertawa sebentar? Berapa usiamu Tita?"
"Kenapa? Kamu puas melihat saya menderita? Kamu senang membuat saya menjadi istri yang ditinggal suami? Atau kamu begitu irinya pada saya karena sayalah yang pada akhirnya yang berhasil memberikan anak pada mas Fendy?"
Deg.
Hantaman palu tak terlihat itu membuat Naura melotot tajam. Hancur sudah pertahanannya yang sedari tadi ia jaga.
Pecah seketika tangisnya mendengar ocehan Tita yang tak biasa bagi seorang madu.
Bagaimana tidak,... seorang pelakor mencak-mencak memarahi istri tua yang seolah sudah hilang harga dirinya itu.
Tita semakin merasa kuat. Meskipun kondisinya sedang hamil besar. Tapi Tita punya senjata kartu merah Naura yang mampu mengalahkan dirinya dari sisi manapun.
"Kamu ingin rumah ini Tita?"
"Iya."
"Tidak bisa! Secara hukum kau tidak berhak atas rumah ini!"
Seorang pria tinggi semampai berdiri tepat didepan pintu rumah. Rupanya sedari tadi ia mendengarkan pembicaraan Tita dan Naura.
"Pak Pengacara!"
"Pergilah Tita! Atau kau akan mendapatkan karma buruk karena telah menyakiti Naura!"
Tanpa banyak bicara Tita langsung pergi setelah mengambil tasnya itu.
Naura yang merapuh, jatuh seketika kelantai. Menangis ia sejadi-jadinya. Meratapi nasib sedihnya tanpa peduli ada Affandi.
Affandi hanya bisa ikutan duduk lesehan dilantai menemani Naura dengan menangis sesegukan.
__ADS_1
...........BERSAMBUNG............