RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Selamat Menikmati


__ADS_3

Tita tidak menyangka kalau Naura akan mudah menyerah secepat itu.


"Hehehe.... Kupikir wanita itu akan histeris mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melawanku! Ternyata, wanita yang sangat lemah. Pantas saja mas Fendy lebih suka denganku yang full up goyangannya! Hahaha...!" ujar Tita pada dirinya sendiri ketika mendapat kabar dari pengacara Naura kalau Naura sudah meninggalkan rumahnya hari itu juga disore hari.


Tita kesal sekali mendapati mertua lelakinya tengah tidur pulas didepan pintu kamarnya meskipun tanpa mengenakan alas juga bantal.


Sementara ibu mertuanya sedang mengobrol diwarung depan gang kontrakannya.


Rupanya wanita setengah baya itu adalah penyuka ghibah.


Baru sehari ikut tinggal bersamanya ternyata teman-teman sesama emak rempongnya dengan cepat bertambah.


Bahkan nama menantunya sendiri tak luput dari ghibahannya juga. Begitulah, jika terlalu merasa diri sempurna dan cepat mengambil keputusan mencap orang lain 'bersalah'.


Tita pusing kepalanya.


Mereka berdua tak peduli, meski dirinya sama sekali tak memiliki uang.


Tabungannya telah habis, hutangnya pun menumpuk dimana-mana selama dirinya menjadi janda.


Bahkan uang dari dana kematian Fendy Martin yang diambil Naura dan diberikan semua padanya melalui pengacaranya telah habis tak bersisa. Menambah beban dikepalanya.


Kini, harus juga menanggung biaya hidup kedua orangtua Fendy. Berikut rokok Bapak mertuanya dan juga jatah jajan Ibu mertuanya.


Tita berharap, ia bisa segera menjual rumah Fendy dan Naura. Dan bisa melenggang bebas setelah menerima uangnya.


"Pak Bu, Mbak Naura sudah meninggalkan rumahnya tadi sore! Bagaimana kalau malam ini kalian menginap dirumah itu? Sayang sekali kalau dibiarkan kosong terlalu lama!"


Tita merayu kedua mertuanya untuk pergi segera dari kontrakannya.


"Ya sudah! Mari kita pindah hari ini juga, Ta! Daripada kamu harus terus-terusan ditagih kontrakan si ibu judes itu! Mending kita pindah kesana sama-sama!"


Tita hanya melongo. Tapi hatinya juga mengiyakan juga. Toh tak ada salahnya ia dan orangtua Fendy merasakan dahulu bagaimana tinggal dirumah yang kini jadi miliknya sebelum dijual dan jatuh kepemilikannya ketangan orang lain.


"Iya juga ya bu? Hm.... Baiklah, kita pindah sekarang juga! Tita mau cari mobil truk besar dulu. Untuk angkut barang-barang kesana!"


...........


"Lha! Ini listriknya koq padam!"


Bapak mertuanya yang baru masuk kedalam rumah berseru karena gelap.


"Hhh... Iya! Bagaimana sih perempuan itu mengurus rumah? Dasar....Istri yang tak bisa diandalkan! Pantas saja anakku sampai melirik ke perempuan lain!"


Terdengar suara makian dari ibu mertuanya mengumpat Naura. Membuat Tita tersenyum puas sekali.


Tita mencoba menaikkan sekring aliran listrik rumah Naura.


"Auuwww!!!!"


Tubuhnya nyaris terpental seiring wajahnya memucat pias nyaris kehabisan darah. Rupanya Tita tersetrum.


"Kamu ga apa-apa, Ta?"


"Haduuuh.... pant*tku sakit buuu! Hampir saja aku mati kena setrum! Pantas saja perempuan itu segera pergi meninggalkan rumah ini, rupanya aliran listriknya koslet! Tidak bisa dinyalakan pak, bu!"


"Langsung lapor ke PLN saja!"


"Ini sudah sore. Pasti sudah tutup kantornya juga!"


"Lha bisa koq khan ada layanan keluhan 24 jam! Masa' gak bisa buat laporan!"


Tita cemberut kesal mendengar bapak mertuanya menyepelekan ucapannya.

__ADS_1


"Kalau tidak segera mendapatkan penanganan, berarti malam ini kita tidur gelap-gelapan dong!" tutur Tita merengut sebal.


Ia semakin tak peduli untuk jaga imej dihadapan kedua orangtuanya Fendy lagi. Kadung jengkel dengan kelakuan keduanya yang bikin ia makin pusing kepala.


"Untung aku punya 2 lampu emergency besar! Semoga bisa untuk menjadi penerang selama semalaman!"


Jam didinding rumah Naura menunjukkan pukul 5 lebih beberapa menit.


Mereka akhirnya menyerah juga setelah Tita menelpon pihak PLN sekitar dan jawabannya akan diperbaiki esok hari.


Keduanya cukup senang meskipun jengkel karena aliran listrik yang mati tapi dua kamar dan keadaan rumah dalam keadaan bersih dan masih bau harum pewangi ruangan.


Meskipun bunga-bunga di vas sudah layu dan tak segar lagi, tapi cukup membuat mereka bertiga puas.


"Tak sangka si Naura itu. Baru pulang dari penjara masih sempat-sempatnya membersihkan seisi rumah dan membeli bunga." Kata ibu mertuanya.


"Itu pertanda Naura sudah bersiap membuka lembaran baru! Secara dia kini sudah janda statusnya! Itu pengacaranya saja sampai segitunya membela dia. Pasti sudah kena jampi-jampi peletnya!" sungut Tita dengan nyinyirnya.


Mereka menikmati fasilitas rumah Naura tapi masih menjelek-jelekkan mantan menantunya itu. Sungguh tidak punya rasa malu sedikitpun.


Tita mencari-cari makanan didapur. Ia membuka satu persatu kitchen set dapur.


Terang saja wajahnya merona bahagia melihat banyak sembako berjejer rapi didalamnya.


Mulai dari beras ukuran 10 kilogram, gula pasir, susu kental manis dengan 3 variant rasa, kacang hijau, bahkan sarden serta kornet dan mie instant berbagai rasa, juga banyak pilihan aneka minuman siap saji baik kopi, coklat sachet serta minuman berenergi.


Itu semua ternyata dari Affandi yang meminta tolong Romy, seorang pekerja jasa pembersih rumah tempo hari untuk membelikan bahan sembilan bahan pokok dirumah Naura.


Tita memekik kesenangan. Malam ini mereka bisa merayakan kemenangannya dirumah Naura tentunya dengan modal dari Naura juga.


Ibu mertuanya juga meloncat-loncat kegirangan ketika membuka lemari es Naura yang sudah sehari semalam itu tanpa aliran listrik.


Ada telur ayam dan banyak buah-buahan serta sayur mayur didalamnya.


Tita memasak segera mie goreng kegemarannya. Tak lupa ia membuat susu coklat untuk asupan bayi yang dikandungnya.


"Kenapa hanya masak untuk sendiri?" tegur bapak mertuanya.


"Kalau mau, ya masak sendiri! Itu dilemari tinggal ambil. Jangan rewel dan minta pelayanan khusus! Tita sedang hamil, pak!"


Mertuanya langsung terkejut mendengar kata pedas Tita. Sangat berbeda tutur bahasanya dengan Naura, menantu terdahulunya.


Ia hanya bisa mengelus dada seraya menyuruh istrinya yang tengah asyik mengunyah buah pear.


Brug.....Klontrang!!!


Suara keras terdengar dari dalam kamar tempat Naura dan Fendy dulu.


"Apa itu? Apa ada kucing jatuh dari atas flavon ya?" kata ibu mertuanya.


"Tapi rumah ini belum terlihat rapuh koq flavonnya, bu! Mana hari sudah mau maghrib ya?!"


"Ya sudah, nanti saja kita periksa sama-sama setelah makan dan ngopi!" balas bapak mertuanya terlihat santai saja dan sedikit mager karena sedang asyik menyeruput kopi susunya.


Ketiganya kembali asyik duduk bersama dimeja makan yang diterangi cahaya lampu handphone Tita.


"Lampu emergencynya mana Tita?" tanya ibu Fendy.


"Itu didalam tas besar itu! Ambilkan bu!"


Agak kesal dirinya mendapat perintah dari menantu yang baru dikenalnya. Tapi apa daya,... itu semua karena pilihannya juga kini.


"Ini?"

__ADS_1


"Hati-hati ambilnya, Bu! Kalau sampai rusak dan tak bisa kita pakai malam ini bakalan amsyong gelap-gelapan kita!"


"Dimana ini tombol on off nya?"


"Coba sini! Gitu aja koq gak bisa!" hardik bapak mertua kepada istrinya.


Namun...


Byurrrr........


"Bapak!!!!!" Tita kesal dan berteriak keras.


Basah sudah lampu itu sampai kedalam mesin baterainya. Dan benar-benar tidak bisa digunakan karena terguyur kopi susu bapak mertuanya.


"Namanya juga ga sengaja! Jangan berani memarahi bapak mertua! Dosa!!"


"Ya itu karena bapak ceroboh! Coba kalau tidak, tak mungkin Tita marah!" kata Tita dengan suara masih keras karena kesal.


"Awas, biar Tita yang ambil satunya lagi!" kata Tita lagi kepada ibu mertuanya yang masih duduk dihadapan tas besarnya hingga bergeser posisinya.


Untung, ada lampu emergency lebih terang yang satunya lagi.


Maghrib telah lewat seiring adzan berkumandang dipengeras suara mesjid didepan kompleks perumahan.


"Kamu tidak sholat, Ta?" tegur ibu mertuanya.


"Malas ah! Gelap-gelapan ke kamar mandinya. Lagipula perut Tita sudah makin besar. Susah untuk ruku' dan sujudnya!"


Kedua mertuanya itu berjalan beriringan menuju kamar mandi dengan bantuan hape mereka masing-masing.


"Aaa....Haish!!!! Sial*n! Hape bapak kecemplung bak mandi!"


"Kenapa juga bapak tidak hati-hati!!"


Keributan kedua pasutri itu terdengar sampai ruang tengah dimana Tita asyik dengan gadgetnya.


Perempuan yang tengah hamil besar itu hanya geleng-geleng kepala.


Pluk.


Tita meloncat kaget. Bahunya ditepak seseorang. Ketika ia menengok kebelakang, tapi tak ada orang.


Merinding bulu kuduknya seketika.


Jangan-jangan, mbah Sroso lupa membawa kembali jin peliharaannya itu dari rumah ini!


Tita langsung menelpon seseorang.


"Mbah! Tolong cepat suruh pulang peliharaanmu dari rumah Naura! Mbah!... Haish...."


Tririring......


Hapenya tiba-tiba mati karena kehabisan baterei.


"Siaaaal!!! Padahal baterenya masih 78 persen tadi. Kenapa tiba-tiba mati!?!"


"Titaaaa.... Titaaaaa.......!!!"


Tita melotot kaget. Sepasang jemari dengan kuku-kuku jari panjang hitam menjulur tepat kearahnya.


"A a aàaa.... aaa aaaaa!!!!!"


...........BERSAMBUNG............

__ADS_1


__ADS_2