
"Aaaa...hantuuuuuuuu!!!"
"Tita, Tita, oi Tita!!!"
"Aaaaa....!!!!"
Wanita yang tengah hamil tua itu berlari pontang-panting tak tentu arah. Blank fikirannya karena rasa takut yang luar biasa.
Apalagi dimatanya sepasang tangan berwarna kuning pucat dengan kuku-kukunya seolah terlihat hendak mencekik lehernya.
"Titaaa...Tita eling Titaaaa! Maghrib-maghrib main hape terus! Malah lari-larian ditengah lampu gelap begini!!"
Tak dihiraukan ocehan mertuanya yang bersungut kesal melihat tingkah laku menantunya itu.
Gubrag. Bruk!
"Aaaauw!!!"
Sesuatu yang ditabrak Tita membuatnya terpental cukup jauh hingga tubuhnya terbentur meja makan dengan sangat kencang.
"Aduuuh!! Aduuuh, perutku sakiiiiiit!!!"
"Tita! Tita kamu kenapa? Pak, pak!!! Ini lihat ini si Tita!"
"Apa sih, berisik sekali dari tadi kalian ini?!"
"Aduuuuh!!!"
"Tita, pak! Cepet corongin lampunya kearah sini!"
"Makanya, jangan kebanyakan gaya! Jadinya khan ketulah sendiri itu!"
Bapak mertuanya sepertinya sudah tidak tahan menahan emosi didalam hatinya untuk melontarkan kalimat kesal pada menantunya itu.
"A apa inii? Ini basah, bu! Basah a apa ini?" pekik Tita setelah meraba bagian depan dan belakang area tengah tubuhnya.
"Kenapa?"
"Ga tau!!! Sakit yang pasti! Kalian bukannya bantu malah nambah susah aku!" maki Tita kesal sambil meringis menahan sakit perutnya.
"Kamu belum masuk bulannya. Tak mungkin akan melahirkan sekarang!"
"Ini sakiiiiiit!!!!! Sakit gobl*oooook!!!"
Wanita itu semakin tak kuat menahan sakit hingga hanya cacian kotor dari mulutnya yang indah itu membuat kedua pasutri setengah baya itu mendengus kesal juga bingung karena posisi mereka yang tidak tahu serta keadaan yang gelap hanya penerangan seadanya.
"Jangan diam saja!!!!!" bentak Tita lagi sambil menarik kasar tangan ibu mertuanya.
"Aduh! Ya udah, ayo keluar! Kita kedokter! Pak, cari taksi pak!"
"Dimana carinya?"
"Nih disini, nih!!! (istrinya menunjukkan telunjuknya kearah mata kirinya, kesal) Ya cari diluar sana! Bawa masuk kedepan sini, biar bisa cepat kita bawa si Tita kerumah sakit!"
__ADS_1
"Halah, paling hanya akal-akalan menantu kesayanganmu yang kurang ajar ini!"
"Sakiiiiit! Ini beneran sakiiiit! Buat apa aku akal-akalaaaan!!!! Kalian ini benar-benar mertua tidak tahu diriiii!!! Aduuuuuh!!!"
"A apa??? Andai saja tak kuingat kau istrinya anakku, sudah kuusir kamu dari rumah ini!"
"Hihihihihihiiiiiiiiiiii....... Hihihihiiiiiiiii..... Hiiihihiiiii......"
"Su su su suara apa itu?"
"Ap p pa, bu?"
"Se se set setaaaaaaan....!!!!!!"
Kedua pasangan suami istri itu lari belingsatan lari terbirit-birit keluar rumah meninggalkan Tita sendirian yang terkencing-kencing melihat sosok putih tak jelas melayang digelapnya malam dengan suara tawa cekikikan yang khas.
"Ii i ibuuuuuuuu!!!! Tung tung tung guuuu!!!!"
Wanita muda itu perlahan menyeret kakinya kearah pintu depan. Tapi kemudian dia memekik sambil menutup wajahnya karena tiba-tiba saja ada satu wajah rata tepat didepan mukanya. Membuat jantungnya nyaris berhenti.
"Aaaaaaaaaaaaa..........!!!!!!!"
..................
Dilain tempat, sosok Ismail yang tengah fokus didepan meja kayunya sambil komat-kamit membaca mantera apa, entah.
Matanya merah. Melotot tak berkedip kearah wadah bara api yang biasa ia gunakan untuk membakar dupa kemenyan.
Asal tebal mengepul membuat wajahnya timbul tenggelam diantaranya.
Ismail benar-benar kacau dengan 'cinta gila'nya. Sungguh diluar nalar kini setiap perbuatan dan doa-doanya.
Cinta yang berlebihan terkadang memang memusingkan. Terlebih jikalau cinta itu bertepuk sebelah tangan. Sangat menyakitkan.
Tapi sejatinya cinta didapat dengan pengorbanan dan ketulusan hatilah yang akan mendapatkan kebaikan.
Bukan dengan jalan pintas yang salah dan menyesatkan.
Karena jika kita menyadari, cinta yang datang dari hati dan tumbuh perlahan ditebar untuk orang yang kita sayang,... andai tak mendapat gayung yang bersambutpun kita bisa ikhlas menerima. Memahami, kalau memang Tuhan tidak menjodohkan dia dengan kita.
Karena yakinilah. Tuhan lebih tahu jodoh yang terbaik untuk kita.
Baik menurut kita, belum tentu baik menurut Tuhan. Cocok kata kita, belum tentu cocok kata Tuhan.
Hanya pasrah dan ikhlas pada setiap peristiwa serta cobaan yang datang. Percayalah, semua itu adalah ujian yang mampu mendewasakan dan menguatkan pribadi kita kedepannya.
..................
Naura merasa senang sekali karena kini ia tinggal disebuah toko bunga didaerah selatan Ibukota.
Toko bunga milik ibundanya Affandi. Dan kini ia mendapatkan kepercayaan penuh dari sang pemilik sebagai seorang kasir.
Naura juga memiliki seorang teman bernama Witha. Wanita berumur 34 tahun, tapi masih single alias belum menikah.
__ADS_1
Witha tidak tinggal bersama Naura ditoko bunga. Ia pulang kerumah orangtuanya tak jauh dari toko bunga itu.
Awalnya mama Affan memintanya untuk tinggal dirumah mereka. Tapi Naura dengan halus menjelaskan pada beliau, kalau ia tidak ingin memanfaatkan kebaikan mereka dengan mengambil kesempatan yang terlalu banyak ini.
Naura ingin semua berjalan apa adanya.
Ia ingin hidupnya mengalir seperti air yang tenang. Tak ingin begitu banyak arus apalagi gelombang.
Untuk itu, ia memohon agar mama Affandi memperlakukan dirinya biasa saja. Tidak ada keistimewaan diantara dirinya dan Witha.
Naura tak ingin membuat gep dengan Witha yang sudah bekerja lebih lama darinya.
Tentu saja sikap Naura ini semakin membuat mama Affan jatuh cinta padanya serta Witha juga menjadi begitu respek karena ketulusannya.
Hal ini tentu membuat Naura bahagia.
Ia juga meminta Affan untuk tetap memprioritaskan pekerjaannya yang membutuhkan tenaga, otak dan juga waktu ketimbang hanya berkutat dengan memikirkan hubungan keduanya yang masih samar dan belum bisa Naura fikirkan secara serius.
Affandi menerima pemikiran Naura meski dengan hati sedih. Tapi dia cukup senang, karena wanita idamannya itu kini berada didekatnya. Setidaknya, ia masih bisa menyambangi Naura setiap harinya jikalau hatinya dilanda rindu.
Naura sendiri sebenarnya menginginkan sekali sosok Affan. Bukan karena ia terpesona pada penampilan fisik serta kecerdasan dan pekerjaan pria itu yang sudah mapan.
Tapi karena ketulusan dan kebaikan Affanlah yang telah menawannya.
Naura hanya takut tuk melangkah. Takut gagal. Takut kisahnya dengan Fendy terulang lagi ketika ia memulai dengan Affandi.
Dilema memang.
Mungkin orang lain akan memaki dan mencerca dirinya sebagai wanita yang bodoh.
Orang akan kesal dan geram dengan kelambatan dirinya dalam berfikir.
Tapi dirinya memerlukan proses. Dan setiap orang memiliki jeda waktu berbeda untuk move on.
Tidak bisa menyama-ratakan setiap orang. Karena setiap insan itu berbeda sifat, karakter serta kepribadian.
Juga jiwa yang rapuh, menunggu luka sembuh. Baru bisa kembali memulai kehidupan yang baru.
Terlebih Naura khawatir. Dirinya akan kembali mendapatkan kesulitan karena memiliki 'penyakit aneh' yang selalu menyerangnya ketika tengah melakukan hubungan intim.
Dan Naura takut sekali akan mengecewakan Affandi nantinya jika ia menerima lamaran pria itu dan menikah nanti.
Kini dirinya hanya berfokus untuk bekerja dengan baik. Berharap bisa mengumpulkan sen demi sen agar bisa pulang segera menemui ibuknya yang tinggal seorang diri.
Ia merasa sedih bila mengingat nasib dirinya yang buruk. Dirinya yang didzolimi almarhum suami dan juga keluarganya.
Bahkan hingga harus pergi dari rumahnya sendiri tanpa sepeser uangpun ditangan.
Entah bagaimana dirinya jika tanpa bantuan Affandi.
Sungguh bagi Naura, Affan adalah malaikat tak bersayapnya. Doanya selalu disetiap sujudnya, moga Tuhan memberikan Affandi kebahagiaan.
__ADS_1
............BERSAMBUNG.............