RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Masih Menyusuri Isi Hati Naura


__ADS_3

Affandi merangkul bahu Naura. Tapi tetap saja kebaikannya masih dipandang sebelah mata. Affandi hanya berusaha faham dan mengerti kesakitan hati Naura.



"Aku tahu kesedihan hatimu, Naura! Suamimu tercinta ternyata main gila dibelakangmu. Dia memiliki Wanita Idaman Lain dibelakangmu. Wajar saja jika kamu merasakan kesedihan dan keperihan hati yang besar! Dan kamu,... tanpa sadar telah menikam dada Fendy suamimu! Begitu khan?"


Affandi berusaha menjabarkan isi hati Naura.


Tapi Naura menggeleng. Lagi-lagi menggeleng meskipun semakin lemah gelengannya.


"Aku sudah tahu, suamiku menikah lagi setahun sebelum aku membunuhnya." Katanya membuat Affan melotot kaget.


"Fendy telah menikah?"


"Ya. Dia sudah menikahi wanita itu. Dan kini sedang hamil 6 bulan, kalau aku tak salah menghitung!"


Affandi mengusap wajahnya. Ikut prihatin mendengar penuturan clientnya. Tragisnya nasib wanita cantik dihadapannya ini!


"Apa dia meminta izin menikah lagi padamu, Naura?"


"Tidak. Mana berani dia meminta izin padaku? Dia pasti malu mengungkapkannya. Karena dia selalu bilang, hanya akulah satu-satunya wanita yang mampu meluluhkan hatinya yang beku!"


Naura kembali menangis. Betapa cinta menghempaskan dirinya kelembah terdalam kolam yang bernama penghianatan.


"Kamu tidak menegurnya? Atau,...berusaha menarik hatinya kembali padamu?"

__ADS_1


Naura menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Affandi.


"Aku yang salah! Aku yang punya kelemahan! Aku tidak bisa menjadi istri yang melayaninya dengan baik sebagaimana para istri diluar sana!"


"Kenapa? Bukankah kamu mencintainya? Bukankah pernikahan kalian didasari cinta sama cinta?"


"Iya. Kami saling mencintai. Tapi apakah cinta saja cukup untuk mengokohkan bangunan rumah tangga? Lantas bagaimana dengan hak dan kewajiban yang harus kedua belah pihak lakukan? Apakah bisa satu sama lain saling mengerti, saling dukung dan support tapi kenyataannya salah satu pihak tidak mampu melaksanakan kewajibannya?"


Affandi terpekur menela'ah ucapan Naura. Ucapan seorang wanita dewasa yang berfikir sangat matang dan tak pernah Affandi fikir akan bisa berkata-kata seperti itu.


"Kamu belum menikah, pak Pengacara! Kamu pasti,....tidak faham apa yang aku ucapkan!" Affandi terkejut dengan lanjutan ucapan Naura.


Dia tersenyum menanggapi itu. Sejujurnya dia mengerti, tapi berusaha menenangkan hatinya saja agar tak terkesan mendesak Naura untuk terus bercerita yang sebenarnya.


Toh ia sudah dapat sedikit celah, setidaknya.. hukuman Naura bisa lebih berkurang meskipun sedikit. Karena Fendy telah menjadi suami yang dingin pada cliennya itu. Bahkan sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan istrinya.


Naura diam cukup lama. Mengusap butiran airmatanya dengan tangan kanannya.


"Aku melihat kotak emas warna merah didalam tas kecilnya ketika ia sedang mandi. Aku penasaran, agak kurang ajar karena berani membongkar tas suami tanpa sepengetahuan memang! Aku buka. Dan ada sepucuk surat kecil disana. Kata-katanya, "Untuk Istriku Tita". Disitu aku sadari, aku istrinya....tapi namaku bukan Tita!"


"Itu kejadiannya kapan?"


"Empat bulan sebelum peristiwa naas itu!"


"Lalu? Kamu marah dan kalian bertengkar?"

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak berani memarahinya. Karena aku sadar diri, aku yang salah! Aku dingin padanya. Aku tidak mau melayaninya karena suatu alasan kejiwaan dan juga rasa sakit yang selalu mendera jikalau kami berhubungan badan!"


"Kenapa kalian tidak konsultasikan keluh kesah kalian ke dokter spesial?"


Naura terdiam. Ia tak berani berkata, kalau ia pernah meminta Fendy untuk berobat. Tapi Fendy selalu berdalih sibuk dan sibuk.


"Daripada dia pergi bermain dengan wanita lain, kenapa tidak ia obati istrinya agar kembali pulih seperti sedia kala?"


Naura menatap tajam tepat dibola mata Affandi yang tegas, hitam berbinar.


Jantung Affandi seolah berhenti berdetak. Tatapan Naura yang tajam membuat hatinya kebat-kebit juga pada akhirnya. Dan ia menyerah kalah. Hanya menunduk lalu duduk perlahan dikursi samping Naura.


"Apa....kamu menyukai Kemal Pasha?"


"Pertanyaanmu selalu sama seperti pertanyaan mbak Ayuni!!!" Naura menjawab kesal. Jawaban yang tak ia fikirkan keluar begitu saja.


"Mbak Ayuni? Kenapa mbak Ayuni selalu menanyakan itu? Apa dia tahu, kalau..."


"Affandi!!!! Tolong, hentikan proses penyelidikan ini! Aku pasrah dengan hukuman yang hakim berikan nanti. Meskipun tiang gantungan ataupun hukum tembak mati, aku ikhlas Lillahi Ta'ala! Jangan bantu aku! Aku tidak ingin mempunyai beban hutang jika mati nanti!"


"Naura! Aku dibayar Pemerintah untuk menjadi kuasa hukummu! Jadi kamu tidak akan mempunyai beban hutang padaku. Marilah, kita kerjasama untuk hasil yang terbaik! Kamu tidak sepenuhnya salah. Kamu membunuh suamimu karena kamu kecewa dengan tingkahnya dibelakangmu. Iya khan?"


"Tidak juga. Aku membunuhnya karena memang aku ingin membunuhnya! Dia tidak salah. Aku yang salah, aku yang punya kekurangan. Wajarlah kalau dia menginginkan kasih sayang dan juga belaian kasih sayang seorang istri. Justru....tadinya aku ingin menghadiahkannya kado 'perceraian' di anniversary kami yang ke-11 akhir bulan ini. Dan berharap ia bahagia dengan istrinya tanpa terbebani diriku!"


Affandi menatap lembut Naura. Hingga tanpa sadar, dia menitikkan airmata untuk ketabahan dan ketegaran wanita disampingnya itu.

__ADS_1



............BERSAMBUNG.............


__ADS_2