
Naura bangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Terkejut ketika mendapati tangan Kemal sebelah berada diatas kepalanya. Dan tubuh pemuda itu menghadap kearahnya.
Langsung semburat merah merona dipipinya. Hembusan nafas Kemal terasa diwajahnya. Begitu hangat dan menenangkan.
Naura memperhatikan wajah putra sulung Datuk Irhamsyah. Pria yang tengah tidur pulas dihadapannya ini adalah darah daging lelaki setengah baya yang sangat ingin mmempersuntingnya. Sedangkan pria itu adalah suami dari kakak kandungnya sendiri. Alangkah rumitnya kehidupannya.
Wajah Kemal begitu tampan dan manis. Kulitnya juga bersih. Tidak hitam juga tidak putih. Tubuhnya tinggi tegap. Sangat pas dan termasuk tipe pria idaman Naura.
Naura memperhatikan bulu mata Kemal yang cukup panjang meskipun tidak lentik. Hidung Kemal bangirnya begitu pas. Sangat indah dipandang mata. Membuat jantung Naura makin berdebar semakin diperhatikan.
Usia muda membuatnya muda tergoda dan terpesona pada wajah-wajah pria tampan diluaran sana. Sudah pasti wajah Kemal termasuk kategorinya. Apalagi ia merasakan kenyamanan dari perlakuan Kemal yang dingin tapi melindungi itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Kaget sekali Naura mendengar suara bariton milik Kemal.
"A u tidak!" jawabnya grogi.
Naura segera bangkit dari tidurnya. Duduk dipinggiran ranjang dan sibuk menepuk-nepuk kaos atasannya seolah ada kotoran yang menempel.
Kemal bangkit juga. Tapi langsung bergegas ke kamar mandi.
Suara air mengucur di dalam closet portable terdengar dari balik pintu kamar mandi. Membuat Naura hanya bisa menelan salivanya saja. Membayangkan tubuh atletis Kemal tanpa selembar pakaian.
Uppsss!!! Naura menutup bibirnya yang tadi nyaris ternganga. Sebelah tangannya mengetuk-ketuk isi kepalanya hingga berbunyi cukup nyaring.
Ia berjalan ke arah jendela. Memandang keluar dan nampak jalan raya yang masih lengang.
Ditolehnya jam di dinding. Pukul 5.40 WIB. Adzan Subuh rupanya telah lewat berkumandang sedari tadi.
Kemal keluar dari kamar mandi. Bertelanjang dada dan masih terlihat basah sekujur tubuhnya. Membuat Naura segera menunduk mengamati jemari kaki dan tumitnya juga. Malu sendiri hingga kedua belah pipinya merah merona.
"Mandi cepat! Kita harus segera cek out jam 8 nanti." Katanya membuat Naura tersedak air ludahnya sendiri.
"Uhuk, uhuk....!"
Kemal hanya menoleh kearahnya sesaat. Lalu seolah kembali cuek setelah Naura kembali biasa lagi. Dan Naura tergesa-gesa masuk kamar mandi. Bergegas mandi seperti yang diperintahkan Kemal.
Kemal menitipkan Naura di sebuah kontrakan khusus putri milik temannya. Dan ia meninggalkan Naura disana untuk jangka yang lama.
Karena setelah kejadian perkasanya Kemal menolong Naura, tak pernah sekalipun lelaki itu datang kembali menemui Naura.
.............
__ADS_1
Affandi bergerak cepat. Sudah lepas adzan Ashar. Ia melanjutkan investigasinya ketempat Datuk Irhamsyah. Kerumah kediaman mbak Ayuni Kartika.
Setelah bertanya beberapa kali kepada warga setempat, akhirnya ia dapat menemukan rumah mantan kepala dusun kampung itu.
Rumah mewah itu terlihat sepi. Pagar hitam menjulang menutupi pemandangan area dalamnya. Bahkan, terkesan angker dan suram dengan cat tembok yang berwarna abu-abu.
Affandi mengetuk gerbangnya beberapa kali setelah celingak-celingu**k mencari bel untuk dia tekan.
"Cari siapa mas?" seorang perempuan muda menjulurkan kepalanya dari balik pagar.
"Ah, saya Affandi dari Jakarta. Saya ingin bertemu dengan ibu mbak Ayuni Kartika!"
"Sebentar ya mas?"
"Baik."
Cukup lama menunggu. Akhirnya perempuan itu kembali dengan kunci gembok pagar ditangan.
"Silakan masuk mas!"
"Terima kasih!"
Rumah yang sangat bagus. Bangunannya dibangun dengan model gaya Victoria. Sepertinya Datuk Irhamsyah memiliki pandangan cukup luas juga wawasannya. Cuma sayangnya, pagar besi warna hitam didepan yang tinggi menjulang membuat rumah ini tidak terlihat dari luar keindahannya.
"Saya Ayuni. Silahkan duduk!"
Affandi kembali duduk setelah memperkenalkan diri.
"Saya adalah lawyer Naura Salsabila. Adik satu-satunya mbak yang kini ada sedang terjerat kasus tuduhan pembunuhan suaminya sendiri."
Ayuni diam. Tapi terlihat dari bola matanya, ada kecemasan disana.
"Mama? Ada tamu?"
Seorang gadis muda sangat cantik keluar dari dalam ruang tengahnya. Sekitar 15 tahun usianya, kurang lebih.
Gadis itu terkejut melihat Affandi. Mata indahnya mengerjap melihat sosok pria tampan yang sedang duduk berbincang dengan ibunya.
"Hai, mas... Saya Lyora, putrinya mama Ayuni!" sapanya seraya mengulurkan jemari lentiknya pada Affandi.
"Affandi!"
__ADS_1
"Mas Affan temannya mama? Masih muda sekali. Kenapa Lyora baru pertama kali lihat mas?"
"Lyora! Jaga sikapmu!! Masuk!!!"
Affandi kaget. Mendengar suara hardikan Ayuni pada putrinya. Ia salah fokus pada tangan kanan Ayuni yang terbalut kain kassa.
"Bye mas! Eh betewe aku minta nomor What'App mas boleh?" kata Lyora, seolah tak mengindahkan perintah mamanya.
"Boleh!" Affandi menerima handphone yang disodorkan Lyora. Menekan tombol angka di keypad HP gadis muda yang sedang mengalami pubertas remaja itu.
"Terima kasih mas! Tar aku chat ya?"
Affandi mengangguk lengkap dengan senyum manisnya.
"Ya Tuhaaan...., gantengnya kak Kemal punya saingan nih!" kata Lyora setengah berteriak tak jelas.
"Maaf, mas! Putri saya sedikit kebablasan pergaulannya!"
"Itu biasa diusia pra remaja mbak! Berapa usia Lyora?"
"15 tahun bulan lalu. Dia anak saya satu-satunya. Jadi agak manja dan kadang sifatnya yang kekanakan itu membuat saya sering kewalahan juga!"
Ayuni seolah sedang mencari celah untuk dekat dengan Affandi melalui cerita curhatnya itu. Bahkan Affandi menilai, Ayuni juga terlihat mulai agak genit dengan mengumbar senyum manisnya yang ia anggap sedikit berlebihan.
"Suami mbak kemana?"
"Ada. Dia sudah setengah tahun stroke tak bisa apa-apa!"
Deg.
Datuk Irhamsyah stroke? Berarti satu orang yang kucurigai dekat dengan Naura 'ceklis' masuk daftarnya.
Affandi menatap wajah Ayuni. Wajah wanita berusia 39 tahun itu masih menampakkan kecantikannya. Walau memang garis rahangnya karena berat badannya yang menurun drastis membuatnya agak sedikit 'mengkhawatirkan' kesannya.
"Mbak cantik! Andaikan tidak terlalu kurus!"
Affandi seperti tersentak kaget dengan ucapannya sendiri. Tak menyangka ia memainkan sikap Don Yuan nya guna mengorek keterangan lebih lanjut.
Sikap Ayuni membuat Affandi tambah semangat ingin lebih lanjut menginterogasinya secara halus. Demi Naura.
Glek.
Affandi menelan salivanya mengingat Naura. Lagi-lagi wajah perempuan yang kini adalah kliennya berkelebat dipikirannya.
__ADS_1
Jantungnya berdebur keras. Rasa kangen menggelitiknya.
............BERSAMBUNG.............