
"Naura! Dari mana kamu, Nduk? Suamimu sudah pulang sejak satu jam yang lalu!" kata Ibuknya setengah menegur.
Pucat pasi wajah Naura. Kaget sekaligus takut. Ini adalah kesalahannya. Pergi lama tanpa memberitahukannya.
Apalagi disaat suaminya pulang kerumah setelah dinas kerjanya diluar kota. Sedangkan dia sedang keluar rumah dalam jangka waktu yang cukup lama.
Hhhh.....
Naura masuk ke kamarnya.
Dilihatnya Affan tengah tertelungkup dengan wajah tenggelam diatas bantal.
Naura mengusap rambut suaminya.
Affan menggeliat, mengganti posisinya kini terlentangkan tubuhnya sehingga wajah tampannya terlihat jelas oleh Naura.
Tampannya kamu mas! Andai aku tidak bisa menjaga dirimu, kuyakin wanita-wanita lain yang penasaran diluar sana pada dirimu menjadi gahar!
Naura membetulkan kaos t-shirt Affan yang tersingkap.
Tapi tiba-tiba......
"Darimana saja? Aku menunggumu lama sekali! Satu jam Naura, satu jam!"
Naura tersentak kaget. Jemari kuat Affan mencengkeram tangannya. Tapi kemudian dia perlembut pegangannya setelah sadar kalau ia nyaris menyakiti Naura.
Netra Naura yang hitam pekat menatapnya. Lama sekali. Namun bibirnya tetap bungkam.
Cukup lama diam membisu tak memberi Affan jawaban, akhirnya Naura membuka tas kecil yang di sorennya.
Ada sebuah amplop putih ditangannya.
Perlahan Naura memberikan amplop itu pada suami tercintanya.
"Apa ini isinya?" tanya Affan dengan suara ditekan. Ia memang marah sekali pada Naura. Tapi bukan bermaksud marah yang hendak menyakitinya.
Naura masih saja bungkam. Tak menjawab pertanyaannya.
"Ini.... Ini benar Nau???"
Bola mata Affan membulat tak percaya. Ada sebuah benda plastik berbentuk pipih panjang. Yang terdapat tanda seperti........
"Dua garis biru????"
Naura tersenyum.
"Ini dapat darimana Nau?" Affandi bertanya sekali lagi.
"Dari Dokter Kandungan, mas! Maaf.... Naura salah, pergi tanpa izin mas Affan kesana! Sudah beberapa hari ini keadaan diri Nau kurang baik. Sakit perut, mual, pusing juga!"
"Naura! Ini artinya..... kamu....positif hamil?"
Mata Affan berbinar cerah. Istrinya itu mengangguk mengiyakan.
"Sudah delapan minggu mas!"
"Ya Allaaaah! Alhamdulillaaaaah! Terimakasih ya Allah, terima kasih Naura-ku sayang!"
Affan memeluk tubuh Naura. Tapi segera ia longgarkan pelukannya khawatir perut istrinya tertekan oleh tubuhnya.
Ia mengelus-elus perut Naura yang masih rata.
"Disini ada buah cinta kita, Naura!"
"Iya, mas!"
"Alhamdulillah....!"
__ADS_1
Mereka kembali berpelukan. Saling membagi kebahagiaan satu sama lain.
Affan mencium kening Naura, lembut sekali. Bersyukur berkali-kali pada nikmat Tuhan yang bertubi-tubi.
Padahal bila mengingat kesepiannya beberapa tahun terakhir, sungguh ia merasa kehampaan jiwa yang sangat dalam.
Hidup membujang selama 32 tahun. Tak memiliki kekasih apalagi istri. Tapi Allah memberinya banyak kebahagiaan di tujuh bulan terakhir ini.
Lebih tepatnya, setelah ia mengenal seorang wanita manis dan baik budi bernama Naura Salsabila. Kini wanita itu telah menjadi istrinya dan saat ini sedang mengandung janin calon anaknya.
Affan kembali memeluk tubuh Naura.
"Kamu mau makan apa, sayang?"
"Ga mau apa-apa mas!"
"Bilang sama mas, kalau Nau mau makan sesuatu ya? Selama itu masih bisa mas lakukan, akan mas kabulkan!"
"Hehehe.... Nau tak inginkan apa-apa! Cukup cinta kasih mas saja!"
"Muacht... ! Terima kasih sayangku!"
Sementara itu pasangan Kemal dan Witha sudah menyebarkan kartu undangan pernikahan mereka.
Tinggal menunggu hari H dan mereka siap menjadi pasutri pasangan suami istri seperti Affandi-Naura.
Witha kini sedang ada disalon. Tengah melakukan perawatan untuk hari pernikahannya.
Seorang capster yang menangani wajahnya terlihat kurang baik responnya.
Bahkan Witha mendengar sendiri, perempuan berumur sekitar 25 tahunan itu kasak-kusuk dengan capster lainnya.
"Calon mempelai wanitanya wajahnya standar saja! Tapi pengantin prianya seperti ini (sambil mengacungkan dua ibu jarinya)! Kurang masuk akal!"
"Pasti itu ceweknya pakai guna-guna ya, bisa bikin cowok tampan itu mau menikahi sampai semua biaya perawatan dan pernikahan ditanggung si cowoknya lho?!"
"Dia pikir dia bisa jadi seperti Cinderella yang mendapatkan pangeran tampan kaya raya! Harusnya sering-sering ngaca tuh ceweknya! Hihihi....!"
"Hihihihi.....!"
Perih sekali hati Witha mendengar bisik-bisik yang mengghibah dirinya. Terlebih wajahnya yang biasa saja.
Merah padam mukanya seketika. Hancur perasaannya mendengar celotehan ngasal para capster itu.
Hhhhh.... Jahatnya mulut pedas mereka!
"Hei, nona yang merasa cantik! Bilang pada nyonya besarku! Aku menarik kerjasamaku dengannya! Aku juga membatalkan perjanjianku padanya yang mengurus pernikahan kami!"
"Ma ma maaf, tuan! Maaf!"
"Maaf, maaf! Enak saja itu cungur mu kau buka cuap-cuap seenak jidatmu! Kamu yang harusnya ngaca! Bukan calon istriku!...
Tolong dengar ya, nona yang merasa cantik jelita! Calon istriku memang parasnya biasa saja. Tapi hatinya, cantik luar biasa! Sorry, nona! Jangan samakan dirinya dengan dirimu!"
Deg.
Witha sangat bersyukur, tiba-tiba Kemal datang. Dan kata-kata Kemal membuat airmatanya tumpah ruah saking terharunya.
"Ayo Witha! Kita pergi dari sini! Tempat ini tidak cukup layak untuk kita!"
"Tuan....maaf! Nona, maafkan saya! Maaf!... Kalau tuan dan nona membatalkan semuanya, saya bisa dipecat majikan saya! Tolong maafkan saya!"
Gadis itu mengejar Witha dan Kemal hingga keluar dari salon tempatnya bekerja.
Matanya basah. Bibirnya bergetar karena merasa menyesal.
"Maaf juga, nona! Itu bukan urusan kami!"
__ADS_1
Bruk.
Kemal menutup pintu mobilnya setelah melihat Witha sudah duduk manis disampingnya. Ia langsung cuss tancap gas.
Witha yang hanya diam dengan pandangan kosong kedepan membuat Kemal khawatir.
Cekiiiiiiiit!!!!
Mobil Honda Jazz putihnya langsung berhenti disamping sebuah taman perumahan yang sepi.
Dipeluknya tubuh mungil calon istrinya itu. Hingga pecah seketika tangis Witha didadanya.
"Huaaaaahaaaaaaa hik hik hiks!"
Kemal mengelus-elus punggung Witha. Membiarkan kesedihan gadis itu keluar semua dari jiwanya.
"Menangislah sayang! Keluarkan semuanya. Biar lega rasa dijiwamu!"
"Haaaaa haaaaa huaaaaa, maaaaas! Aku ini perempuan jeleeeek! Tak pantas bersanding denganmuuuuuu!"
Treeeeet.....treeeeeet.....treeeeet...
Handphone Kemal berdering.
"Ya hallo, selamat siang! Oh oke.... saya putuskan untuk tidak jadi memakai jasa wedding organizer Anda, bu Shinta! Maaf! Karyawan-karyawan anda begitu kurang ajar memperlakukan calon istri saya!"
[Tolong mas Kemal! Tolong jangan gagalkan mas! Saya mohon maaf dengan sangat! Tolong mas! Mohoooon maafkan kelalaian saya! Saya akan pecat dua karyawan saya yang telah berani menghina calon istri mas! Saya pecat mereka sekarang juga! Tolong dipertimbangkan lagi!]
"Oke! Sesuai komitmen ibu Shinta! Kedua karyawan itu tolong di keluarkan sekarang juga. Dan saya akan kembali melanjutkan kerjasama kita!"
"Maaas!... Jangan pecat mereka! Mereka tidak menyakitiku seperti memukul. Mereka butuh pekerjaan itu sepertinya!"
"Sssst!.... Ayo, kita kembali ke salon itu!"
Kemal mengusap airmata dipipi Witha. Tersenyum mengangguk sambil memegang jemarinya dengan sangat erat.
"Tuan! Tolong maafkan saya tuan!"
Dua perempuan muda tadi berjalan membuntuti Kemal dan Witha yang kembali ke salon tempat kerja mereka sambil membungkuk.
Mereka menangis memohon ampunan kedua calon pengantin itu.
"Mas! Maafkan mereka mas! Please, kumohon mas!"
"Hhhhh..... Witha! Mereka itu sudah seenaknya berkata buruk tentang kamu, Witha!"
"Mereka hanya berkata yang sebenarnya. Fakta memang aku yang berwajah biasa tapi mendapatkan pria tampan seperti dirimu!"
"Itu perkataan yang sangat pedas! Sudah sepantasnya mereka mendapat hukuman, Witha!"
"Maaas! Kumohon mas! Ampuni mereka! Sudahlah, jangan memperpanjang masalah ini!"
"Hhhhh.... Ya sudah! Aku mengalah! Terserah katamu saja, sayang!"
"Aku memaafkan kalian! Tapi lain kali jangan berkata seperti itu. Apalagi sampai didengar oleh orang yang kalian gosipkan! Itu menyakitkan!"
"Terima kasih nona! Terima kasih banyak! Hik hik hiks....hati nona luar biasa! Pantas tuan tampan mencintai nona setulus hati!"
"Lihat sendiri khan, kecantikan hati calon istriku? Kalian yang harus sering-sering ngaca ya!"
Janganlah berkata-kata yang bisa menyakiti hati orang lain!
Jangan menilai orang lain dari sampulnya saja.
Penampilan luar bisa menipu.
Tapi kebaikan hati terpancar lewat perbuatan, bukan dari kata-kata yang keluar begitu saja dibibir manis penuh dusta.
Karena kata bisa dirancang sedemikian rupa.
__ADS_1
..........BERSAMBUNG............