RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Menikmati Keharmonisan Keluarga Orangtua Affandi


__ADS_3

"Wajahmu agak tirus, sayang! Pasti banyak kerjaan ya? Makanmu pasti tak teratur deh!" kata Mama ketika Affandi sedang me-mandori Mamanya bekerja, menyiapkan makan malam dimeja makan.


"Ah, masa' sih ma? Perasaan wajah Affan biasa saja! Masih super tampan dan keren karena kasih sayang mama papa!"


"Hilih! Paling bisa ngucapin rayuan gombal sama mama! Sama pacar gimana? Mau dong, mama dikenalkan gadis cantik pujaan hatimu, Fan!?"


"Mama.....! Affan masih junior jadi lawyer. Mana ada perempuan yang mau melirik Affan yang masih ingusan soal membabat habis hakim dipersidangan!"


"Eleuh-eleeeuh, masih ingusan ceunah! Puguh umurmu sudah cukup untuk menikah, Fan! Mama pingin cepet punya cucu!"


"Ya udah, mimi cucu aja dulu ya ma! Hahahaha.... Aduh, mama....! Masa' anak baik, anak ganteng ini masih mama empos pahanya!?"


"Abis gemes!!! Punya anak sebiji meuni hese' diajakin ngomong pernikahan! Mama mau kenalin kamu sama anak temen mama yang seorang arsitek! Mau ya?!? Harus mau!!"


"Ma, mama sayang! Khan mama sama papa yang sering bilang,...jodoh, rezeki, maut itu ditangan Allah. Kita manusia hanya berdoa dan berikhtiar! Iya khan? Terus kata papa,... selama kita selalu berdoa dan berusaha, pasti...akan ada jalannya. Tapi jangan ngotot juga untuk mendapatkannya! Karena hasil yang terlalu ngotot, juga belum tentu baik untuk kita. Berjuang itu perlu, tapi ikhlas yang utama!"


"Hayoooo, kalian ngomongin papa yaaaa!!!"


Affandi dan mama tertawa terbahak-bahak. Kaget kedua setelah tiba-tiba sang papa muncul diruang makan dan meng-gap mereka yang sedang berargumen.


Affandi mencium punggung jemari papanya. Menggandengnya seraya menarik kursi makan dan mengajaknya duduk disamping wanita yang juga ia cintai.


"Jaga kesehatan itu penting, Fan! Sesibuk apapun kamu dengan rutinitas pekerjaanmu, jangan lupa makan dan olahraga!"

__ADS_1


"Hehehe... papa benar! Affan belakangan ini jarang sekali olahraga, apalagi ke gym. Ada kasus cukup serius yang sedang Affan tangani pa!"


"Seserius apa itu? Semua kasus pasti serius khan? Atau ... Atau klien mu adalah nona manis dan cantik, sampai-sampai kamu bekerja gigih sekali dalam menangani kasusnya?"


"Eh? Lha? Koq Papa tahu? Hehehe...."


"Papa gitu loh!" Papanya menjentikkan jemarinya. Membuat istri tercintanya itu menepuk bahunya pelan.


"Idiiiih, si Papa mah! Punya cerita ga bagi-bagi Mama! Koq Mama engga' tahu ya?!?"


"Hahahaha.... Papa niiih! Hayooo tanggung jawaaab! Udah bikin mama ngambek tuuuh! Hehehe, sabar ya maa!"


"Tuh khan tuh....!!! Ini pengacara aslinya provokator ya? Bisa-bisanya dia ikutan manasin hati mamanya juga, padahal papanya lagi bahas permasalahannya ini!"


Affandi tertawa terbahak-bahak. Merangkul tubuh jangkung tipis tapi gesit milik papanya.


Papa dan mamanya ikut tertawa. Beginilah keluarga kecil mereka. Riuh dan ramai meski hanya bertiga saja.


Itu terjadi sejak dari dulu. Selalu dan selalu. Canda tawa mereka bertiga adalah ciri khas keluarga Affandi. Papanya seorang pensiunan karyawan swasta biasa. Mamanya hanya Ibu Rumah Tangga saja. Tapi, kerukunan dan keharmonisan keluarga begitu terjaga dengan sangat apiknya.


Pukul 7 malam, sudah menjadi kebiasaan mereka makan bersama diruang tengah. Seperti saat ini.


"Nih....! Makan yang banyak!"

__ADS_1


"Makasih Ma!" Affan tersenyum sembari mengecup pipi mama angkatnya yang memberikannya sendokan nasi putih pertama padanya.


"Eit! Kalau sudah beristri, ga boleh cium-cium pipi mama sembarang nanti! Ingat itu ya? Mama ga mau nanti istrimu cemburu sama mama!" tukas mamanya dengan bibir manyun ciri khas ibu-ibu pada umumnya.


"Ya, masa' istri Affan cemburu sama mama?! Pasti Affan yang balik marahi dia, kalau berani cemburu sama mama!"


"Tetap harus hargai pasangan, Nak! Karena setelah menikah, kamu dan dia sudah bukan lagi putra-putri kesayangan orangtua! Tapi..... sudah jadi separuh hatinya pasangan halalmu! Faham??"


"Faham, Ma! Hehehe.... Peaceeee!!!"


Affandi tersenyum. Entah mengapa wajah Naura terbayang difikirannya.


Khayalan tingkat tinggi menghantuinya. Andaikan saja Tuhan mengijabahnya, Naura ikut duduk manis disampingnya. Bercanda dan bercengkerama akrab dengan Papa Mama. Alangkah bahagia hatinya!


"Hei, melamun disaat makan! Setan yang habisin makanmu, Fan!"


Affan tersentak kaget. Papa menggodanya dengan senyum dikulum.


Ufffh! Papa pasti bisa baca jalan fikiranku nih!


Affandi tersenyum kecut. Lalu berdoa dalam hati melanjutkan makannya.


............BERSAMBUNG...............

__ADS_1


__ADS_2