RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Cerita Masa Lalu Yang Ingin Naura Lupakan


__ADS_3

Affandi mengunjungi Naura pukul 7 pagi.


Seperti biasa, Naura tercengang dibuatnya. Mendapat hadiah sekotak perlengkapan alat make up berikut pencuci muka, pelembab berikut skincarenya. Bahkan sunblock pun ada juga.



"Ya ampun, mas!.... Ini pasti mahal sekali. Selengkap ini!" ujar Naura merasa tak enak hati.


"Hehehe... itu kebetulan ada diskon 60 persen! Jadi ya sekalian kubeli semuanya!"


"Padahal ini semua ga perlu-perlu amat! Apalagi alat make up ini juga, untuk apa coba! Aku ga bisa dandan, mas!"


"Hehehe...! Sekalian khan jadi belajar dandan!"


"Dandan untuk apa? Untuk siapa juga, mas!"


"Untuk aku juga boleh, Nau! Hehehe.... Meskipun kita sedang ada masalah, tapi....tak ada salahnya memanjakan diri sendiri untuk kebahagiaan hati. Iya khan?"


"Iya. Makasih ya mas, sudah begitu baik sama aku! Tapi sejujurnya, aku merasa ga enak hati menerima ini. Ini semua terlalu berlebihan! Maaf, kalau aku terkesan tidak respek dengan pemberianmu!"


Affandi termangu. Ternyata wajah Naura tak seindah ketika kemarin ia memberinya buku Teka Teki Silang.


Kemarin senyumnya mengembang, meskipun tipis segaris. Ada pendaran binar cahaya menyejukkan dibola matanya yang hitam pekat.


Tapi kini, ketika Affan memberinya sesuatu yang jauh 'lebih berharga' dan jelas lebih mahal. Justru mata Naura terlihat redup cenderung sedih.


Padahal, Affan susah payah mencari merk make up yang terbaik meskipun cukup menguras kantongnya. Dan dia bohong soal diskon yang tadi dia ucapkan. Tak ada diskon, karena produk itu semua seri keluaran terbaru.


Naura menyodorkan kembali kotak sedang berwarna hitam bagus itu.


"Ambil Naura! Kalau tidak, aku sedih. Aku tak punya saudara perempuan. Mamaku juga sudah cukup umur, pasti tak akan mau memakai ini juga! Kalau kamu tidak, ini mubazir! Dikembalikan pun pasti SPG cantiknya nolak. Dijual lagi, siapa yang mau beli!"


Affan berpura-pura sedih. Ia menundukkan kepalanya sambil mengetuk-ngetuk jemarinya keatas meja kayu bangsal pertemuan mereka.


Naura terlihat makin tak enak hati. Akhirnya ia menarik kembali kotak yang tadi disodorkan ke arah Affandi.


"Baiklah, moga bermanfaat untukku! Terima kasih ya pak Pengacara! Aku tak bisa membalas semua kebaikanmu!"


"Kamu bahagia, itu sudah suatu balasan yang nyata bagiku!"


Naura tertegun. Kembali ia teringat tulisan tangan Affan yang bagaikan 'pernyataan cinta' padanya itu dilembar pertama buku kosong yang Affan beri berikut buku TTS.


"Mari kita diskusi serius!" kata Affan membuat Naura menegang. Wajahnya kembali datar, agak terlihat penasaran.


"Kamu masih tetap pada pendirianmu, Naura?" tanya Affandi mendekatkan wajahnya pada wanita yang telah berhasil membuatnya 'susah tidur' itu.


Naura lagi-lagi melamun.

__ADS_1


"Jangan seret mbak Ayuni kedalam penjara juga mas!" katanya lirih, nyaris terdengar seperti bisikan.



"Kamu masih bersikukuh melindunginya?" tanya Affan. Juga setengah berbisik mengimbangi perkataan Naura.


Wanita itu menunduk. Butiran airmatanya jatuh perlahan. Lalu mengangguk meski terlihat samar.


"Kamu masih kekeuh menjadikan dirimu tameng dari perbuatan kakakmu yang sebenarnya juga sama sekali 'tidak berencana' itu. Oke! Mari kita buat skenario baru. Aku menuruti keinginanmu! Tapi, kamu juga harus mau bekerja sama denganku Naura!"


Wajah Naura lurus ke wajah Affandi. Menunggu setiap kata yang akan keluar dari bibir pria dihadapannya itu.



"Aku tidak akan menyeret kakakmu kedalam masalah ini. Tapi, kamu harus ikuti permainanku! Kamu harus jujur padaku, Okey?"


Naura mengangguk. Mengiyakan Affandi.


"Kamu harus mengatakan kalau kau membunuh Fendy karena kesal dia menikah lagi. Dan dia awalnyalah yang hendak membunuhmu! Tapi pisau itu malah berbalik kearahnya setelah kalian saling berebut pisau."


Naura menelan salivanya. Ucapan Affandi, menyiratkan kalau ia harus 'berbohong'.


"Untuk kebaikan kakakmu, terpaksa memakai bukti palsu. Apa kamu tidak mau?" bisik Affandi melihat raut wajah Naura yang berubah seketika.


Affandi semakin melihat pesona Naura. Kejujuran wanita itu, juga keteguhan hatinya. Sudah ia lihat dari ketegarannya menjalani hidup dimadu selama ini.


"Berbohong demi kebaikan!" gumamnya setengah melamun.


"Kalau aku bilang, memang aku membunuhnya."


"Dasarnya kamu membunuh? Apa kamu lebih suka hukuman seumur hidup Naura? Sedangkan kau tidak sepenuhnya bersalah?"


Naura diam menunduk. Belum mengiyakan perkataan Affandi juga tidak menolak dengan tegas.


Sepertinya batinnya sedang bergelut dalam hati. Antara kejujuran dan juga keinginannya melepas semua beban.


"Ingat nasibmu sendiri juga bersangkutan dengan nasib banyak orang, Naura!"


Naura masih bungkam.


"Nasib ibumu juga ditanganmu. Apa kamu tidak ingin mengurusnya? Menjaganya dihari tuanya, yang tinggal seorang saja. Sementara kamu juga punya rasa penyesalan karena tak bisa mengurus bapakmu hingga hari terakhirnya karena takut melawan suamimu bukan?"


Lagi-lagi butiran airmata itu meleleh. Terisak akhirnya Naura. Runtuh ketegarannya.


Memori ingatannya kembali kepada 7 tahun silam.


Masa dimana awal pertengkarannya dengan Fendy. Berdebat cukup alot karena suaminya itu melarangnya untuk tinggal lebih lama dikampung dengan alasan, belum begitu lama Naura tinggal hampir sebulan dikampung ketika tetirah sehabis keguguran tempo hari.

__ADS_1


"Tapi ini masih minggu duka Ibukku, kak! Bapak meninggal dunia. Ibuk tinggal sendirian, mengurus semua tahlilan seorang diri! Aku ingin disamping ibuk sampai 40 hari kedepan kak!"


"Ada mbak Yu mu, Nau!"


"Tapi berbeda rasanya. Kalau anak ibuk kumpul semua, ibuk tidak akan merasakan kesepian!"


"Lantas aku?"


"Kumohon pengertianmu, kak!"


"Kau yang harus mengerti aku juga, Naura!"


"Kakak!"


"Aku hanya memberimu izin 3 hari dikampung! Lepas itu, jika kau membangkang....kau sendiri yang tanggung dosanya!"


Dan Naura, melawan perkataan suaminya kala itu.


Ia pulang kembali ke Ibukota setelah 7 hari kepergian bapak. Karena dirinya yang tak tega meninggalkan Ibuknya.


Sedangkan kakaknya sendiri juga hanya sekali-sekali mendatangi rumah ibuknya, meskipun untuk urusan keuangan semua yang handle adalah mbak Ayuni.


Dan mereka akhirnya ribut cukup besar untuk pertama kalinya setelah 3 tahun berumah tangga.


"Fikir pakai otak warasmu! Perempuan yang sudah menikah itu, wajib menuruti setiap perkataan suaminya. Orangtua sudah menjadi posisi kedua dibawah suami! Kau tanya pada semua ustad ustadzah diseluruh Indonesia bahkan dunia sekalipun. Bahwa suami itu nomor satu!"


"Tapi kak, masalahnya aku tidak tega meninggalkan ibuk mengurus sendirian. Wajar saja kalau aku menemani sampai tahlilan hari ketujuh! Hik hik hiks..."


"Kau memang tidak lagi punya kesopanan pada suami! Mbak Yu mu khan ada disana, kamu bisa bilang...kalau suamimu juga sendirian di kota. Suamimu tidak ada yang mengurus keperluannya setiap harinya. Makannya, pakaiannya.... apa kamu tidak memikirkan itu?"


"Aku khan tak setiap waktu bisa pulang juga kak! Selain jarak yang jauh, juga aku tak setiap tahun dihari Raya pulang ke kampung!"


"Hei, kau fikir aku ini mudik setiap tahunnya? Aku selalu berfikir panjang untuk setiap langkah yang kuayunkan, Nau! Pulang ke kampung membutuhkan banyak uang! Kalau aku turuti emosi rasa rinduku pada orangtua dan keluarga, tak mungkin aku bisa membeli semua ini!?!"


Naura hanya bisa menangis tengkurap diatas ranjang tidurnya. Lemas tubuh dan jiwanya karena suaminya kini tak lagi sefaham dengan dirinya.


Bagaimana tidak sedih, Bapaknya meninggal dunia. Ibuknya kini seorang diri dikampung.


Bahkan dimenit-menit terakhir Bapak menghembuskan nafasnya, Naura tidak berada disisinya. Membantunya melafazkan asma Allah mengantarkan kepergiannya ke Pangkuan Sang Pemilik Segalanya.


Apa salah jika ia pulang ke kampung, untuk penghormatan terakhirnya pada Bapak. Sebagai seorang anak yang banyak menyusahkan dan belum bisa menbahagiakan orangtua.


Naura fikir, semua orang pasti akan berfikir hal yang sama dengannya.


Tapi Fendy justru berfikir Naura selalu ingin sering pulang ke kampung. Karena baru beberapa minggu lalu dia dikampung bahkan nyaris sebulan lamanya ketika dalam keadaan sedih dan habis sakit keguguran.


Naura menangis sesegukan mengingat keributan antara dirinya dan Fendy di malam itu.

__ADS_1


Tinggal Affandi yang mengusap-usap pelan bahu Naura. Berusaha mengerti Naura lewat tangisan pilunya.


..............BERSAMBUNG.............


__ADS_2