
Kenapa itu si Witha?
Kemal sedikit kepo. Terlihat gestur Witha yang dari belakang terlihat seperti tengah menunduk dan terdengar suara isak tangis.
Kemal semakin kepo. Penasaran.
Pria yang bersama Witha membereskan bekas makan dan minumnya. Lalu berdiri perlahan. Kemudian meninggalkan Witha tanpa kata-kata.
Witha terlihat tergesa-gesa ikut bergegas keluar mengikuti 'pacar'nya itu.
Tapi nampak raut wajahnya yang merah karena menahan tangis.
Kemal pun segera memanggil pelayan resto. Meminta billnya.
Setelah memberikan sejumlah uang untuk segelas kopi pesanannya, Kemal bergegas keluar restoran.
Kemal masih melihat sosok Witha dan pacarnya dihalaman parkir resto ternama yang cukup luas.
Mereka sepertinya sedang bermasalah. Tampak roman wajah sang pria yang datar bahkan terkesan dingin.
Witha berteriak agak histeris. Cukup memancing perhatian beberapa orang yang baru parkir kendaraan maupun yang hendak keluar parkiran.
"Jadi selama ini hubungan kita ini tidak ada apa-apanya dimatamu, Hans? Hik hikhiks.... Kejam! Kejam kamu!"
"Memang kenyataannya seperti itu khan? Apa pernah aku bilang cinta padamu? Apa pernah? Tidak khan?"
"Jahat! Sangat jahat kamu! Selama setahun ini kedekatan kita ini apa? Aku.... telah banyak membantumu! Apapun yang kamu minta, selalu aku berikan!"
"Lho? Siapa suruh kau menurutiku? Aku khan tidak memaksamu!"
"Tapi kamu memohon bantuanku! Kamu cerita ibumu menangis sedih karena ingin punya panci Oxone satu set berikut panci travel! Diulang tahunnya aku membelikannya seharga 1 juta 400 ribu. Lalu kamu juga ngeluh sama aku, jam tangan Rolex-mu rusak. Butuh sekali jam tangan. Aku.... memberimu uang 1 juta 500 ribu ketika kamu menyodorkan brosur jam tangan Swiss Army Chronograph.
Jadi aku ini apa selama ini bagimu, Hans?.... Hik hik hiks...!"
"Aku tanya,... apa aku menembakmu?"
Witha menangis sesegukan.
Pertanyaan Hans (cowok itu) terlalu membuat dadanya sesak.
Kemal menghela nafas panjang mendengar semua kata yang terlontar dari mulut keduanya.
Ia bergegas menghampiri Witha yang terhuyung dan hampir terjatuh karena kegalauan hatinya.
"Witha?!?" katanya memanggil Witha. Pura-pura baru melihat gadis itu padahal sedari tadi mengintai menyelidik.
Witha menoleh kearah Kemal. Agak malu juga ia menyadari kondisi wajahnya yang basah, merah karena menangis.
Tangan kanannya sibuk membuka tas yang diselendangnya mencari tissue, sedang tangan kirinya menghapus lelehan-lelehan dipipinya.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, mas!" jawab Witha cepat.
__ADS_1
Pria yang bernama Hans itu hanya memandang ke arah Kemal dengan tatapan tajam seolah mencari sesuatu hal yang dapat menjawab keingintahuan pria tampan dihadapannya.
"Witha!.... Kamu selingkuh dari aku?" tanya Kemal membuat Hans membelalakan matanya tanpa sadar.
Witha juga terkejut mendengar ucapan Kemal.
"Hei, bung! Tolong diingat ya! Witha ini adalah gebetanku. Dia belum menjawab permintaanku, karena aku ini pria tampan menurutnya! Witha ini memang terobsesi pada pria-pria standar saja!"
"Uhuk!" tersedak batuk si Hans. Tertohok hatinya pas sekali kena mental.
"Jadi kumohon,... jangan dianggap perkataan calon pacarku ini! Dan untuk semua barang yang pernah dia beri padamu dulu, silakan dipergunakan dengan sebaik-baiknya!"
Hans melongo menatap wajah Kemal. Pucat pasi wajahnya mendengar semua perkataan Kemal yang santui tapi mengena' tepat dihatinya.
Kemal merangkul bahu Witha. Tersenyum manis pada wanita yang nampak diam seribu bahasa itu.
"Ayo Wit! O iya, bung! Terima kasih ya! Kamu akhirnya membuat Witha menyadari,... kalau akulah pria yang terbaik buatnya. Yang mencintainya tanpa meminta balasan apa-apa. Hanya imbalan kasih sayang, cinta dan juga kesetiaan. Itu saja! Aku tidak sepertimu bung! Jadi kita bukan satu server. Sorry!
Dan satu hal yang perlu kau ingat. Kau itu kurang tampan. Jadi tolong sedikit sadar diri! Tak punya rasa syukur kau telah disukai wanita yang kukasihi ini! Tapi terima kasih. Akhirnya Witha mau juga kurangkul begini! Dan semoga Witha mau menerima lamaranku. Setelah itu, siap-siap saja datang surat undangan dari kami!
Eh maaf! Tidak jadi deh! Aku tidak jadi mengundangmu yang kurang tampan tapi belagu!"
Kemal membawa Witha meninggalkan Hans yang masih kaku membatu.
Wajahnya pucat pasi, merah padam, gelap gulita. Hatinya sedikit mencuat melihat Witha dirangkul pria tinggi semampai berpostur tubuh tegap gagah serta tampan rupawan.
Tanpa sadar Hans memegang wajahnya. Lalu hidungnya. Yang memang standar. Cukup jauh jika dibandingkan pria tadi.
............
Mereka mencari coffe shop yang jauh sekali dari resto tadi.
Kemal masih diam. Hanya memandangi Witha sesekali. Ikut sedih dan juga prihatin. Tapi ia sengaja memberikan waktu untuk Witha menguras semua airmata kesedihannya agar menjadi lega.
"Sudah nangisnya?...."
Witha menyingsringkan kotoran dari hidungnya yang basah berlendir akibat dari airmatanya yang terus mengalir.
"Apa menurutmu pria itu sangat tampan? Apa dia layak mendapatkan perlakuan istimewamu sampai seperti ini?"
Witha diam. Meski sesekali masih menahan isaknya yang telah terhenti.
"Sudahi kesedihanmu itu Witha! Apalagi rasa penyesalanmu yang mendalam karena cinta yang berbalas!"
"Hik hik hiks.... bukan begitu mas! Dia ternyata mempermainkan aku selama setahun ini! Huaaaa huhuhu!"
Pecah lagi tangis Witha. Bahkan sedikit lebih keras membuat Kemal gemas dan mencubit urat nadi dipergelangan gadis dewasa itu.
"Aduh!"
"Nah! Sadar khan karena sakit?"
"Hik hik hik maaf mas!"
__ADS_1
"Aku ini tampan lho! Dia?.... 'B' aja! Tak ada bagus-bagusnya menurutku! Kamu menangisi pria seperti itu? Atau...jangan-jangan kamu juga sudah menariknya ke atas ranjang?"
"Mas Kemal!?!"
Plak.
Tangan Witha mengeplak tengan pria tampan dihadapannya dengan sebal.
"Aku bukan perempuan murahan ya! Aku memang sudah lewat jauh dari usiaku yang seharusnya sudah menikah! Tapi bukan berarti aku sembarangan memberikan keperawananku begitu saja!"
"Jadi kamu masih perawan?" bisik Kemal sambil menyodorkan wajahnya mendekat ke arah Witha.
"Iiiiiiish, ini mulut yaaaa.....! Lemes nyaaaa!!!!"
Witha mencocol moncong bibir Kemal. Kesal tapi gemas.
Kemal gelagapan juga mencoba melepaskan jemari Witha dari bibirnya yang terasa pedas.
Terang saja. Tadi diresto Witha makan malam bersama Hans dengan menu ayam geprek.
"Witha!.... Harusnya itu yang kamu cocol cungurnya si Hans mu itu pakai tangan pedasmu ini! Bukan bibir sensasionalku!" sungut Kemal marah seraya mengambil lembaran tissue dimeja mereka.
Witha tergagap, sadar dan malu tapi juga menahan tawa karena ucapan Kemal.
"Maaf, maaf.... maaf mas! Aku gak sadar tarik bibir mas Kemal! Aku minta maaf! Hihihi... Untung bibir mas gak Bimoli!"
"Bimoli? Eh? Minyak goreng kemasan?"
"Bukan bimoli itu. Tapi 'bimoli' bibir monyong lima senti!"
"Hah?!? Aseeeeeem!"
"Hahahahahaha...... Paiiiit!"
"Hahahaha...! Awas ya kau ya, Wit! Liat aja tuh nanti lidah pedasmu kuhisap jadi manis!"
"Aih? Atuuuut....!"
"Hahahaha...."
Kemal senang. Witha terlupa akan masalahnya yang tadi dengan pria tak bermutu.
"Kau tahu wit?"
"Apa?"
"Senyummu itu manis sekali. Tanpa senyum kamu hambar! Makanya, sering-seringlah kamu tersenyum. Terutama sering senyum dihadapanku, jangan dihadapan pria-pria standar tak berbobot itu!"
"Hahahaha..... Gombaaaal!"
............BERSAMBUNG.............
__ADS_1