RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Penelusuran Sang Pengacara


__ADS_3

Affandi menghela nafas panjang dibelakang kemudinya. Hari ini dia membawa mobil pajero hadiah dari papanya tercinta ketika ia berhasil mempersembahkan sertifikat sarjana hukumnya dengan nilai cumlaude yakni 3,80.


Teringat kembali bagaimana dia yang malu sampai menolak hadiah dari papa dan mama. Harusnya Affandilah yang memberikan hadiah atas kebaikan serta kasih sayang mereka padanya.


Itu sebabnya, Affandi jarang sekali memakainya. Khawatir rusak dan tersenggol kendaraan lain dijalan raya. Karena ia begitu sayang, pada benda mahal yang sangat berharga dikehidupannya itu.


Dua orang yang menjadi target investigasinya hari ini telah selesai ia wawancarai. Dan keduanya semakin membawa titik terang pada fokus pencarian bukti-bukti yang bisa meringankan hukuman Naura Salsabila, kliennya.


Tapi anehnya juga, keduanya benar-benar agak membuatnya geleng-geleng kepala.


Soal cerita Lyora yang sering tidur seranjang bertiga dengan mama dan kakak tirinya. Entah benar, entah karangan belaka. Tapi Affandi melihat kejujuran dimata gadis belia itu ketika bercerita.


Apakah mungkin,.... mbak Ayuni memiliki alibi ketika peristiwa terjadi? Dan... Kalaupun mbak Ayuni berperan juga sebagai orang yang turut andil dalam pembunuhan Fendy, atas dasar apa? Apa dia ikut simpati pada Naura karena adiknya itu telah diselingkuhi oleh Fendy?


Dan Affan kembali mengingat tangan kanan mbak Ayuni yang terbalut kain kassa ketika pertama kali ia menemuinya dikampung tempatnya tinggal.


Mungkinkah?...... Apakah Ayuni yang menikam Fendy sebelum Naura sebanyak 8 kali, seperti yang pernah Naura cakap tanpa sengaja padaku?


Affandi mengetuk-ngetuk bibirnya yang terkatup rapat dengan jari telunjuknya.


Juga hari ini, ia sedikit kesal mendengar penuturan Tita, istri mudanya Fendy.


Dengan tidak tahu malunya, perempuan itu menyalahkan Naura yang telah membunuh suami mereka.


Bahkan dia hendak meminta ketegaran Naura untuk membagi harta gono-gininya padanya sebagai kompensasinya karena telah membunuh Fendy sedangkan dia kini tengah mengandung dan tak punya uang untuk persalinan.

__ADS_1


Alhasil dengan memberikan amplop berisi uang lima ratus ribu, Affandi bisa melihat senyum menyeringai wanita muda yang lebih pantas disebut singa betina olehnya itu. Hhhh....


Dunia ini sungguh kejam! Banyak model dan karakter penghuninya berbeda-beda pula.


Gadis cantik, tak selamanya hatinya baik. Pria tampan, tak selalu tampan pula jiwanya.


Hhhh.... Lagi-lagi Affandi menarik nafas dan menghelanya.


Dia sendiri,... kata orang tampan serta menarik. Sudah berapa perempuan juga beberapa kali hilir mudik mengisi kesendiriannya.


Dimulai sejak sekolah menengah atasnya ketika awal kelas dua. Dia mulai berani mengucapkan kata cinta pada lawan jenis yang mempesonakan hatinya.


Haissh!!! Untuk apa aku mengingat mantan-mantanku!? Ini bukan saatnya aku memikirkan diriku sendiri. Kasus Naura saat ini adalah yang terpenting dalam hidupku. Dasar kau Affandi, Affandi!!!! Hhhh..... Jodohmu pasti sedang Allah persiapkan untukmu, nanti. Jangan risau, tak perlu panik! Umurmu baru 31 mau 32 tahun, masih muda untuk ukuran pengacara. Fan, Fan!!!!


Kali ini tujuannya adalah kantor hukum advokat tempatnya bernaung dalam satu Firma.


"Hei, bro! What's up you look so sad?"


Baru saja membuka pintu kantor, pengacara Naura terdahulu mas Wildan S.H langsung menyapanya dengan kalimat sambutan yang bikin beberapa lawyer lainnya ikut menoleh kearahnya.


"Hehehe....! Tidak ada apa-apa, mas!" jawabnya singkat, lengkap sepaket senyuman manisnya. Terang saja membuat lawyer dan asisten-asisten perempuan ikut belingsatan menerima serangan senyum Affan yang tiba-tiba.


"Bagaimana kasus nona cantik yang jutek itu? Sampai mana penyelidikannya? Ada perkembangan?" tanyanya berkali-kali tanpa jeda memberikan Affan kesempatan menjawab.


"Hehehe.... masih proses mas! Alon-alon asal klakon! Aku juga ga bisa gegabah, karena terdakwa sangat sulit diajak kerja sama."

__ADS_1


"Kukira wajah tampan mudamu melumerkan kejutekannya! Hahaha.... ternyata sama saja ya!? Bersyukur aku 'lepas' kasusnya segera. Bisa berimbas juga soalnya untuk karierku kedepannya, Fan!"


Affandi tersenyum tipis. Dunia benar-benar gila! Orang-orang sudah tidak lagi memiliki empati apalagi simpati pada orang yang kesusahan.


Malah mungkin kalau perlu, libas habis sajalah orang-orang susah dan bermasalah. Masya Allah!


Affandi bergegas ke meja kerjanya. Duduk sebentar membuka laptop dan juga catatan-catatan pentingnya yang telah ia garis bawahi.


Waktu di jam tangannya menunjukkan pukul 03.15. Adzan Ashar sayup-sayup terdengar dimajid agak jauh dari kantor tempatnya beraliansi.


Satu persatu 'orang-orang sibuk' didalam Firma itu pergi. Semua mengurusi diri dan kasus yang mereka tangani saat ini.


Kantor firma mereka memang sedang naik daun. Banyak kasus terpecahkan oleh para pengacara yang bergabung di firma ini. Pasti itu menguntungkan semua fihak dalam hal finansial tentunya.


Bulan ini saja, Affandi mendapatkan bonus pendapatan dari Firmanya karena dedikasi dan kerja keras serta kerjasama antar para pengacara yang bernaung di Assegaf Hamid & Partner (AHP).


Alhamdulillah, bukan? Cukup untuk mengelembungkan tabungan Affan dimasa depan.


Affandi merapikan meja kerjanya. Memasukan semua catatan pentingnya kedalam lockernya. Lalu bergegas untuk pulang kerumah orangtuanya yang ada di wilayah Selatan Ibukota.


Abon ayam buatan mamanya yang super duper lezat, sudah terbayang dipelupuk matanya.


Mmmm....Laziz!


.............BERSAMBUNG..............

__ADS_1


__ADS_2