
"Sudah aku bilang, jangan berduaan dengan si Ismail!"
Naura bingung mendengar gerutuan Kemal yang sedikit nyelekit dihatinya.
"Apa....ada yang salah?"
Cekiiiiit.
Kemal menghentikan mobilnya dengan rem mendadak.
"Kau fikir aku ini menasehatimu tanpa alasan? Kau fikir aku ini segitu bodohnya marah tanpa alasan? Keluar! Keluar kataku!!!"
Naura kaget menatap wajah kesal Kemal. Ia hanya bingung saja, kenapa Kemal semarah itu padanya. Sedangkan Ismail menurutnya tidak melakukan tindakan jahat padanya.
Dan Naura lebih kaget lagi, ketika Kemal menyuruhnya keluar dari mobil segera.
Ia kembali terkenang belasan tahun silam. Dimana ia juga diperlakukan kasar oleh Kemal untuk yang pertama kalinya. Ketika Kemal membawanya kabur melarikan diri dari pernikahannya dengan Datuk Irhamsyah. Bahkan setelah bibir mungilnya ini dilum*t habis oleh putra pertama suami almarhumah kakaknya.
Hhhhh..... Pantas mas, kamu sampai saat ini belum juga menikah. Ternyata temperamenmu itu diluar nalar kami, para wanita. Hhhh!!!
Naura keluar dari mobil Kemal tanpa banyak bicara. Hanya berusaha tenang, karena kini dia bukanlah gadis remaja seperti dulu yang menangis saat Kemal turunkan ditepi jalan raya.
"A ****! Naura!!! Naura, masuk!"
Entah kenapa Kemal jadi belingsatan kini.
Naura berusaha berjalan cepat. Tak menghiraukan panggilan Kemal yang menyesal telah marah-marah dan menyuruh Naura turun.
"Naura!!!! Masuk Naura! Please!!!"
Naura hanya menoleh kearah mobil Kemal. Lalu berdiri menatap 'sopir'nya yang memandang dengan tatapan seolah mengiba perhatiannya.
"Aku pulang naik kendaraan umum saja, mas! Terimakasih, mohon maaf kalau aku sudah terlalu sering menyusahkanmu!"
"Naura! Ayo masuk, kita ke kota sama-sama! Maafkan aku yang tidak bisa mengontrol kemarahanku tadi!"
"Aku rasa mas wajar saja melakukan itu. Mas pasti sedang pusing, Datuk masih sakit. Lyora juga butuh banyak perhatian dari mas! Naura bisa pulang sendiri, mas! Titip Lyora ya mas?"
Wanita itu kembali berjalan dengan tanpa rasa bersalah. Membuat Kemal gemas juga jadinya.
Kemal menghentikan laju kendaraannya mengikuti Naura.
Ia keluar dari mobil. Berjalan ke arah pintu mobil yang sebelahnya dan membukanya lebar.
Kemal lalu berjalan cepat menghampiri Naura yang tampak acuh tak acuh masih berjalan menyusuri trotoar.
Hap.
Tangan kuat Kemal menangkap pinggang Naura, dan....mengangkatnya hingga tubuh Naura terpelanting langsung memeluk erat leher jenjang Kemal yang dipenuhi bulu-bulu halus.
"Aaaah!!!" Naura hanya bisa terpekik kaget.
Tubuhnya kini dibopong Kemal yang berjalan kearah mobil.
__ADS_1
Wajah Naura merah seketika, terlebih ketika menyadari dua buah d*danya menempel erat dipunggung Kemal Pasha.
"Mas, turunkan aku!!!" Naura menahan suaranya. Agak gemetar seraya memukul bahu pria itu tapi tak berani dengan keras.
"Diam! Nanti orang yang lihat menyangka aku sedang berusaha menculikmu!"
Kini Naura sudah duduk di jok mobil samping tempat duduk Kemal.
Masih merah padam wajah Naura. Begitu juga Kemal, tak kalah pucat pias dia.
Keduanya hanya diam tanpa suara. Sibuk bergelut dengan fikiran dan perasaan masing-masing.
Baik Naura maupun Kemal tak ada yang berani untuk memulai percakapan hingga tanpa terasa perjalanan 4 jam menuju ibukota telah mereka capai.
"Naura!"
Naura termangu, menatap wajah tampan Affandi yang berdiri menyambut kepulangannya diteras depan rumahnya.
"Haish! Lepas mulut buaya, kini masuk ke mulut harimau!"
Naura tak mempedulikan ucapan sinis Kemal. Begitu juga Affan. Pengacara itu justru mendekati Naura dan mengambil kantong bagpaper yang dibawa wanita itu.
Kemal langsung menarik bagpaper yang ada ditangan Affan lalu menuntun cepat Naura menuju pintu rumah.
"Saya mohon pak Pengacara pulang saja! Hari sudah mau menjelang maghrib! Sebaiknya besok saja pertemuannya. Lagipula ini sudah lewat dari jam kerja toh? Jadi, biarkan Naura istirahat dulu!"
Affandi diam memandang Kemal Pasha lalu menatap ke arah Naura.
Makan apa ini orang? Segitu sensinya tiba-tiba melihat aku! Seharusnya aku yang marah, karena dia seenaknya memepet Naura dikampung dan memanas-manasi aku dengan kiriman foto juga chat nya! Hhh....
Naura masuk kedalam rumahnya. Dan terdengar suara anak kunci menutup rapat pintu rumah Naura.
Hhhhhh........
"Kenapa sih kau mas? Kau ditolak Naura kah sampai seperti ini tingkahmu?" ujar Affandi dengan senyum menyeringai.
Yang diledek hanya mendengus sambil menarik kasar tangan Affandi.
"Biasa aja dong!"
"Keluar, keluar!!! Gak kau dengar itu tuan Putri Naura mengusir kita dari istananya? Ayo, sportif!"
"Hahaha.... Kasihan! Pangeran Kemal ternyata tak digubris tuan Putri Naura rupanya."
"Tenang saja! Aku lah nanti yang jadi juaranya!"
"Hahahaha..... dasar kau mas!"
Affandi tertawa-tawa kecil melihat tingkah Kemal yang terlihat kekanak-kanakkan.
Kedua pria itu berjalan masuk kearah kendaraannya masing-masing. Lalu perlahan meluncur pergi dari halaman depan rumah Naura.
"Hhhhh.....!!! Mereka sudah pergi, syukurlah!"
__ADS_1
Naura yang sedari tadi mengintip dibalik gorden jendelanya hanya bisa menghela nafas, lega.
Sejujurnya dirinya merasa bahagia. Ada tiga pria yang begitu intens memperlihatkan perhatiannya padanya tanpa tedeng aling-aling.
Tapi,.... hhhhh..... Naura sendiri belum siap untuk menyambut cinta baru dihatinya.
Apalagi, untuk kembali membina rumah tangga. Rasanya belum terfikirkan olehnya.
Besok ia harus ke Lapas untuk absensi wajib lapor-nya. Baru seminggu saja dari hari kebebasannya. Dan ia tak ingin neko-neko berfikir macam-macam yang tak seharusnya.
Naura masuk kedalam kamarnya. Membuka laci lemari kayunya dan mengambil figura kecil yang ada dibawahnya.
Foto dirinya dan Fendy Martin terlihat begitu manisnya. Usia mudanya membuat aura cantik polosnya begitu mempesona. Begitu juga dengan Fendy yang sangat berkharisma.
"Kak Fendy! Dulu kau sangat manis dan baik padaku! Bahkan....cintamu itu sampai kini masih kuingat dan kukenang selalu!"
Menetes jatuh perlahan airmata Naura. Kini hatinya sakit dan perih bagai tertusuk duri.
"Cintaku hanya kupersembahkan padamu, Naura! Tidak ada perempuan lain yang bisa membuatku sebahagia ini selain kamu! Kamu lah istriku yang paling segala-galanya didunia ini!"
Kata-kata Fendy masih terngiang ditelinganya. Mereka masih begitu mesranya ditahun kedua anniversary pernikahan.
Naura dan Fendy mandi bersama didalam bak kamar mandi yang cukup besar untuk mereka berdua.
Berendam air hangat yang sengaja Naura masak sebanyak 2 panci besar.
Lalu Naura taburi kelopak bunga mawar merah dan juga melati menambah keromantisan antara mereka berdua.
Tak lupa ia beri essensial wewangian rempah-rempah penambah cita rasa rendamannya. Untuk menyenangkan hati suaminya kala itu.
Sungguh terlihat lebih wah dari sebuah bathtub mahal di hotel bintang lima.
Malam pergantian tahun menuju 3 tahun rumah tangga mereka. Begitu indahnya dunia terasa.
Dan sebulan kemudian, Naura dinyatakan positif oleh dokter yang memeriksa karena Naura yang sering pusing dan mual-mual.
Naura makin meleleh airmatanya. Kesedihan menyiksa batinnya kini. Menyesal karena tak sempat memberikan Fendy keturunan.
Walaupun kini pada kenyataannya, ada seorang janin yang masih berkembang dirahim wanita lain. Wanita Idaman Lain yang ada dihati Fendy Martin.
Tok tok tok....
Naura mengerjap. Menghapus segera airmata dipipinya.
Pintu rumahnya diketuk seseorang.
Ia berjalan keluar menuju pintu rumah setelah menengok kearah jam dinding. Pukul 15.32 WIB. Adzan maghrib tinggal beberapa menit lagi.
"Mbak Naura!!!"
Naura menelan salivanya. Melihat seorang wanita mungil berdiri dihadapannya dengan jemari mengusap-usap perut buncitnya.
__ADS_1
.............BERSAMBUNG..............