
Affandi akhirnya melanjutkan penyelidikannya mencari tahu lebih banyak lagi 'misteri' tentang Naura.
Dia berjalan menyusuri perumahan XXX yang Lyora berikan alamat rumah milik papanya yang diwilayah Jakarta Timur.
Termasuk perumahan kelas menengah keatas. Pagar-pagar besi kokoh tinggi menjulang.
Dingin dan angkuh. Seperti pribadi-pribadi para penghuninya yang rata-rata individualis.
Kapling Diamond nomor 79. Angka itu tertera jelas karena besar dan bercat warna emas.
Affandi menekan belnya beberapa kali.
Seorang pria tampan menyembul dari balik pintu rumah itu. Affandi sengaja memukul pintu pagar besinya dengan kunci mobilnya. Sedikit membuat gaduh.
Kencreng kencreng....
"Ya, sebentar!" teriaknya bergegas meski ogah-ogahan.
"Anda siapa? Cari siapa?" tanyanya setelah berhadapan dengan Affandi. Masih diantara lapisan pintu pagarnya yang digembok.
Arogan sekali pria ini! gumam batin Affandi.
"Saya Affandi S.H. Ada perlu penting dengan pemilik rumah ini!"
"Papa saya? Dia tidak sedang dirumah. Sebaiknya hubungi saja pengacaranya, atau istrinya! Saya tidak tahu dan tidak bisa membantu."
Pria itu lalu membalikkan tubuhnya. Hendak pergi berlalu kembali masuk rumah besarnya.
"Mas Kemal! Anda mas Kemal bukan?"
Dia kembali menoleh. Mengangguk dan menatap tajam Affandi.
"Saya adalah kuasa hukumnya Naura Salsabila. Saya rasa, anda punya sedikit empati pada adik dari ibu tiri anda sendiri bukan? Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan!"
Lama juga Kemal termenung menimbang permintaan Affandi.
Akhirnya ia mengalah. Membukakan gembok pagar rumahnya yang sebesar Gaban.
__ADS_1
Kemal menyuguhkan segelas kopi putih pada Affandi. Mengepul masih panas. Hingga menebarkan harum aroma kopi yang menggoda.
"Terima kasih!"
Keduanya duduk berhadapan. Saling memegang cangkir kopi masing-masing dan menikmatinya perlahan.
"Bagaimana kabar Naura?"
"Dia cukup tertekan. Tapi tetap bungkam tak mau membuka 'suara' nya kenapa ia sampai membunuh suaminya." Affandi menjawabnya dengan nada santai. Seperti orang biasa yang sedang mengobrol saja.
Hhhh.... Terdengar suara helaan nafas Kemal.
"Mas sudah berkeluarga?"
"Belum! Dan aku tak berminat membangun rumah tangga!" jawaban yang spontanitas, santai, tapi mengejutkan.
"Kenapa?"
"Untuk apa?" Ternyata Kemal justru balik bertanya. Jelas saja Affan menatap penuh wajah pria sekitar berusia 37 tahunan itu.
"Perkiraanku mas Kemal sudah berumur 37 tahun bukan?" tanya Affandi lagi. Kali ini ia duduk lebih tegak sehingga terlihat keseriusannya.
"Ya. Dua bulan lagi aku 37 tahun. Sudah terlihat tua ya?"
"Oh!"
Jawaban yang singkat. Makin membuat Affandi penasaran.
"Apakah hubungan mas Kemal dan mbak Ayuni baik-baik saja?" Kemal mendelikkan matanya. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan Affandi.
"Bukankah kau ingin menanyakan tentang Naura? Kenapa justru pertanyaanmu menjurus kearah lain?" jawabnya agak ketus.
"Kenapa marah? Bukankah kalian masih saling bertalian bukan? Naura adiknya mbak Ayuni. Dan mas adalah anaknya Datuk Irhamsyah. Satu lagi, mas juga pernah membawa kabur Naura sewaktu ia akan dinikahkan oleh ayah mas bukan?"
Kemal menelan ludahnya. Agak tertohok ia mendengar perkataan Affandi yang tanpa tedeng aling-aling itu.
"Kamu terlalu cepat membombardirku dengan pertanyaan!"
"Karena aku harus gerak cepat mencari bukti yang bisa meringankan hukuman Naura, mas!"
__ADS_1
Kemal menundukkan kepalanya. Dia terlihat lebih tenang.
"Semoga kasus Naura cepat selesai. Aku juga tak percaya kalau Naura sanggup berbuat begitu pada suami yang begitu ia cintai itu!"
"Mas cukup mengenal Naura rupanya!"
"Aku..... sejujurnya menyukai Naura! Tapi kami terhalang semua hubungan yang rumit ini! Haish....!!!!" Kemal sendiri tampak kaget dengan ucapannya yang blak-blakan itu.
Affandi berusaha menekan rasa keingintahuannya yang teramat besar setelah Kemal melontarkan kalimat frontal.
Ia tidak segera bertanya seolah menyelidik. Tapi perlahan menyusup kedalam hati pria dewasa namun masih terlihat muda belia itu.
Sebagai seorang pengacara, ia cukup tahu psikologis orang-orang yang bersinggungan dengannya. Semakin didesak pertanyaan yang memojokkan, semakin dalam orang itu akan menyembunyikan jawabannya.
"Naura memang cantik. Dia memiliki aura seorang Diva atau Lady. Aku sendiri baru seminggu lebih dekat dengannya langsung merasakan keinginan untuk selalu dekat dengannya. Sayangnya dia seperti memasang tembok tinggi nan kokoh hingga aku kesulitan memasuki hatinya!"
Kemal kini yang kaget mendengar penuturan polos dan jujur dari bibir lawyer Naura yang padahal belum ia kenal. Dan baru kali ini mereka mengobrol panjang lebar.
"Kamu,.. merasakan hal seperti itu juga? Hei.... berapa usiamu, pak pengacara? Sepertinya usiamu lebih muda dariku!" tutur Kemal bertanya pada Affandi.
"Aku seusia dengan Naura. Kami berbeda sepuluh hari saja. Untungnya aku yang lebih tua umurnya dari Naura. Jadi aku sedikit bisa mengaturnya!"
Terlihat diwajah Kemal aura ketidaksukaannya mendengar celoteh Affandi yang padahal ngasal hanya untuk menjebak saja.
"Kau jatuh cinta pada client mu sendiri?"
"Tak salah bukan, karena status kami sama-sama tidak terikat! Kini statusnya adalah seorang janda."
"Hhhh....."
"Apaaaa....kau sedang cemburu padaku mas Kemal?"
"Ah, ti tidak juga. Itu hak mu! Untuk apa aku cemburu!"
"Kau akhir-akhir ini bukankah lebih dekat dengan Naura? Bahkan kau sampai sembunyi-sembunyi beberapa kali mengunjungi rumahnya khan? Meskipun sikap dan respon Naura tidak seperti yang kau harapkan!"
"Eh? Kau tahu itu, pak pengacara? Apa Naura sendiri yang memberitahumu?"
Skak mat! Ikan mulai termakan umpan!
__ADS_1
Affandi tersenyum dalam hati. Kini ia mulai mendapat sedikit pencerahan. Benar bahwa Kemal-lah yang sering mendatangi rumah Naura akhir-akhir ini.
...........BERSAMBUNG............