RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Naura Dan Semua Ketakutannya


__ADS_3

"Terimakasih ya, Naura sudah memberikan kebahagiaan pada Mama juga Papa! Sering-seringlah main kesini! Kami pasti senang sekali!"


"Iya, Ma! Terimakasih, sudah menerima Naura bermalam dirumah Mama Papa! Mohon maaf kalau Naura ada salah kata dan perbuatan yang kurang berkenan!"


Pagi itu Naura pulang kembali ke rumahnya dengan diantar Affandi setelah sarapan bersama orangtua Pengacaranya itu.


"Terima kasih ya mas! Kamu sangat baik, mau membantuku disetiap saat. Bahkan sampai sejauh ini. Padahal kasusku tidak menguntungkan sama sekali bagimu!"


Affandi hanya tersenyum tipis. Matanya fokus ke jalan raya karena ia sedang berada dibalik kemudi.


Sebenarnya Affandi sedikit kesal pada Naura. Cintanya belum mendapatkan 'jawaban' dari wanita yang kini duduk disampingnya ini.


Affan mengerti isi hati Naura. Tapi ia juga ingin mendapatkan sedikit hawa segar kalau Naura juga sebenarnya memiliki perasaan lebih padanya.


Tapi nyatanya, hingga detik ini, jawaban Naura masih ambigu baginya. Hanya sikap baik Naura saja yang ia terima.


Sedangkan untuk perhatian dan kasih sayang, dia belum mendapatkannya dari Naura. Padahal, Affan begitu mendamba kasih sayang, perhatian juga Naura.


Hhhh.... Affan hanya menghela nafas pendeknya.


Rumah Naura telah berubah dalam semalam. Tentu saja Naura senang sekali.


Senyumnya mengembang. Halaman rumahnya telah berubah dengan banyaknya tanaman hias yang baru. Bunga-bunga mawar aneka warna, menjadi penyemangatnya kembali kerumah ini.


Affandi membukakan pintu rumah Naura. Harum pewangi ruangan menyambut kedatangannya.


"Wah, mas! Berapa besar mas mengeluarkan dana untuk biaya semua ini?" tanya Naura setelah cukup lama ia terpukau dengan keadaan rumahnya sendiri.


Naura kembali mengernyitkan dahinya.


"Hhhh.... Mas! Ini terlalu berlebihan!"


"Kenapa? Apa Naura tidak suka?"


"Bukan! Hanya,... aku takut tidak bisa membalas kebaikan mas!"


Affandi tersenyum tipis. Tapi kemudian senyum itu menghilang berganti dengan perkataannya yang membuat Naura terdiam.


"Bisakah kamu membayar kebaikanku dengan cintaku?"



Naura menunduk. Ia takut sekali jika Affan kembali mendesaknya dengan pertanyaan ini.


"Aku tidak akan memintamu menikah denganku secepatnya. Aku juga akan memberimu waktu, Naura. Berapapun waktu itu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, setengah tahun... bahkan setahun pun aku sanggup menunggumu! Asal kamu membalas cintaku!"

__ADS_1


"Mas!"


"Kamu masih mau menolakku khan? Hhhh..."


Affandi masuk kedalam ruang tengah. Ia juga memeriksa dua kamar tidur yang ada dirumah itu. Kemudian bergegas kearah dapur.


Affan puas dengan hasil kerja Romy dan kawan-kawannya. Mereka bahkan menambahkan vas bunga penuh bunga krisan warna-warni disetiap sudut ruangan. Semakin mempercantik juga menambah harum alami seluruh ruangan.


"Aku harus ke kantor sekarang. Ada rapat penting nanti jam 9. Semoga istirahat siang nanti aku bisa kesini lagi!"


Affandi keluar dengan agak tergesa-gesa.


"Mas Affan!"


"Iya?"


"Maafkan aku,.... maaf kalau aku membuatmu agak kesal!"


Pria itu memang agak kesal. Tapi dia tak bisa marah pada wanita yang telah membuatnya gelindingan jatuh cinta.


Affandi hanya gereget dengan jalan pemikiran Naura yang terlalu lambat. Walaupun jauh dilubuk hatinya yang terdalam, ia memahami isi hati Naura.


Naura ragu padanya. Naura takut pada dirinya serta keluarganya. Naura juga sangat takut pada pandangan orang tentang perbuatannya dan juga lain-lainnya.


Tapi apakah perlu, kita harus selalu mengikuti asumsi orang? Apakah orang-orang juga tahu isi hati dan kegundahan kita yang sebenarnya?


Naura hanya mampu memandangi pria gagah itu hingga menghilang masuk mobilnya dan melaju perlahan.


Naura menyukai Affan. Cukup besar rasa sukanya. Pria itu sempurna dimatanya. Buta saja mata dan hatinya jika sampai tidak 'tergoda' oleh keseluruhan diri dan perilaku Affandi.


Tapi,... Naura juga memiliki rasa takut yang tak kalah besar dari rasa suka itu. Hingga ia tak berani mengubah hatinya menjadi CINTA.


Bukan TIDAK CINTA, tapi TAKUT JATUH CINTA.


Cinta hanya akan membutakan hati dan jiwanya. Juga bisa menghilangkan fikiran normalnya untuk melihat kenyataan yang ada.


Siapa dirinya, siapa Affandi. Serasa timpang jika ia benar-benar berdiri mendampingi bujang keren itu.


Naura menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha menghapus fikirannya selalu tentang Affandi.


Kini ia melangkah memasuki kamar pribadinya. Kamar yang begitu bersejarah dalam rumah tangganya dengan Fendy Martin.


Rumah tangga yang dibangunnya dengan dasar CINTA. Suka sama suka. Hingga Takdir Tuhan menyatukan mereka meskipun dengan 'jalan' yang tak disangka-sangka.


Ya. Fendy dan Naura memang menikah atas desakan bapak yang terbaring sakit. Bapak menyangka putri bungsunya itu berperilaku buruk di Ibukota.

__ADS_1


Bapak mengira Naura tinggal bersama satu atap dengan Fendy tanpa ikatan apa-apa karena Naura pulang ke kampung dengan ditemani Fendy.


Padahal, Naura tidak seburuk itu. Naura juga tidak pernah melakukan hal-hal yang selama ini selalu bapak dan ibuknya larang.


Tinggal dikota bukan berarti Naura menanggalkan jati dirinya yang orang bilang 'kampungan'.


Baginya, biarlah orang mengatainya dan memberinya lebel itu. Tapi ia tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang hidup serba kesulitan dikampung, harus ditambah lagi jika ia berkelakuan minus.


Bisa menstransfer 100-300 ribu perbulan lewat rekening mbak Ayuni saja baginya sudah sangat malu untuk membalas budi Ibuk juga Bapak.


Bagaimana mungkin ia ingin mencoreng muka orangtuanya yang sehari-harinya sudah sering tercoreng lumpur sawah dan ladang.


Tidak.


Hhhh....


Naura ingin pulang kampung. Naura ingat Ibuk. Naura juga terkenang almarhumah mbak Yu nya itu.


Siapa kini yang akan memberi Ibuknya uang saku guna memenuhi kebutuhan hidupnya? Merembes airmata Naura.


Naura mencari-cari sesuatu disetiap laci nakas yang ada disamping ranjang tidurnya.


Lalu berjalan membuka lemari pakaiannya. Anak kuncinya masih tergantung dilubangnya. Memudahkan Naura membuka dan memeriksa setiap bagiannya.


Naura mencari uang.


Ia terbiasa menyimpan beberapa lembaran uang kertas sebagai tabungan disetiap kantong saku pakaiannya.


Itu adalah triknya dalam mengakali pengeluarannya, agar bisa menahan keinginannya untuk menghabiskan meskipun untuk keperluan dapur saja.


Bayangkan, uang satu juta. Walaupun kadang Kemal datang memberinya titipan amplop dari Fendy suaminya sebesar 200-300 ribu rupiah. Itu total untuk semua pengeluaran perbulannya.


Bayar listrik, PAM, makan sehari-hari. Makanya kadang Naura lebih sering curhat pada Ayuni kakaknya untuk meminta maaf karena tak bisa mentransfer uang untuk Ibuk dikampung


Bahkan kadang untuk sekedar membeli pulsa handphone hibahannya bekas suaminya pun Naura selalu berfikir dua kali.


Ah, ada!


Naura senang. Ternyata perilakunya menyembunyikan uang disaku dengan harapan lupa jika ia punya uang, lumayan membantunya.


Ada sebelas lembar uang sepuluh ribuan dan empat lembar uang dua puluh ribuan. Total menjadi seratus lima puluh ribu.


Sepertinya cukup untuk ongkos pulang kampungku!


Naura senang sekali. Ia merapikan beberapa lembar pakaiannya untuk pulang kampung hari itu juga. Sampai ia lupa untuk mengabari Affandi. Sedangkan saat ini ia tidak memiliki hape setelah menjadi napi dan handphonenya disita pihak kepolisian sebagai barang bukti.

__ADS_1


...........BERSAMBUNG............


__ADS_2