RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Persatuan Jiwa Naura Dan Affandi


__ADS_3

"Mas Affan!"


"Iya, Nau?"


"Tubuhku terasa panas mas!... Mas....!"


Affandi tersekat. Melihat Naura membuka kancing kemejanya perlahan satu persatu.


Wajah sang pengacara itu memerah. Kini ia faham, obat apa yang Ismail taruh dalam minuman Naura. Yakni cairan per*ngsang wanita.


Sialan bajing*n itu! Untung saja Naura bisa merasakan dan akhirnya mengabari Kemal! Hhhh.... Nauraaaa!!! Hampir saja bajing*n tengik itu memakanmu, Nau!


Affandi merasa tidak enak hati melihat d*da putih Naura yang terbuka. Satu kancing lagi Naura lepaskan perlahan dengan bibir mend*sah.


"Aduuuh, mas Affaaan...! Panas badanku maaas!"


Affandi segera menelpon Kemal karena semakin bingung melihat Naura.


"Mas Kemal! Maaf, aku meninggalkanmu ya mas! Naura dalam keadaan dipengaruhi minuman!"


[Ya sudah, amankan saja dulu Naura! Aku akan membereskan dulu cecunguk ini!]


Suara Kemal terdengar keras karena masih dalam suasana ribut didalam sana.


Affandi menancap gas kendaraan roda empatnya. Ia membawa Naura kerumah pribadinya sendiri.


Tadinya ia ingin membawa Naura kerumah orangtuanya, tapi pasti mereka akan terkejut dan kaget melihat tingkah Naura yang aneh karena pengaruh obat perangs*ng.


Naura semakin berani karena effek panas yang merasuk tubuh dan jiwanya. Ia membuka semua kancing kemejanya hingga belahan payuda*anya yang tertutup br* berwarna biru muda berenda itu terlihat mata Affan.


Perut ramping Naura juga memperlihatkan keindahannya. Affan hanya bisa sesekali curi pandang.


Untungnya Naura memakai celana panjang jeans. Sehingga auratnya tidak terbuka lebih banyak. Tapi lama-kelamaan gerakan tubuh Naura membuat Affan gerah juga.


Mobilnya meluncur dengan cepat memasuki perumahannya. Ia membuka pintu pagarnya dengan gerakan secepat kilat.


Naura dengan tubuhnya yang mengkal menggoda berbaring dijok mobilnya.


"Maaas...! Mas Affaaaan,... hik hik hiks... tubuhku panas mas!" desah Naura membuat telinga Affan memerah.


Affandi menarik perlahan tubuh Naura hingga menempel dada mereka.

__ADS_1


"Kita kedalam, Nau!" ajak Affandi.


Naura berjalan agak sempoyongan. Affan segera memeluk erat pinggang wanita pujaannya itu dengan jantung berdebar.


"Maaas!!!"


Naura menggelayut dipundaknya. D*danya yang putih menyembul membusung dari balik penutupnya membuat jakunnya turun naik.


Sebagai seorang lelaki dewasa normal, tentu saja ia tidak cukup kuat untuk mendapat godaan dari wanita yang sangat ia idamkan itu.


Affan membawa Naura kekamar tamu. Tadinya hendak meninggalkannya sendirian saja hingga pulih kesadarannya.


Nyatanya Naura justru melakukan gerakan yang begitu menggoda matanya.


"Maaas,... tolong Nau mas! Kenapa terasa panas begini? Maas... mas Affaaaan!"


"Iya Nau!"


Naura tanpa diduga membuka kemejanya yang memang telah lepas seluruh kancingnya. Ia juga membuka kancing celana jeansnya dan menurunkannya hingga kedua pangkal pahanya yang putih mulus itu terlihat Affan. Juga....celana dal*mnya yang berwarna senada dengan br*nya.


"Nau!"


"Aku mau mandi mas!... Dimana kamar mandinya?"


Affan menelan salivanya. Naura membuka pengait br*nya didepan matanya. Pemandangan yang bagus itu membuat matanya enggan berkedip.


Naura juga menarik kedua celana jeansnya dan.... menurunkan penutup auratnya hingga....


"Naura!" Affan tadinya hanya berniat menutupi Naura. Tapi,... ternyata Naura malah memeluk tubuhnya erat.


Naura menangis setengah sadar.


"Maaas...hik hik hiks! Aku tersiksa mas!... Tolong aku, kenapa aku ini?..."


Affan memeluk tubuh Nau hingga ia tak melihat dua buah yang begitu indah membuat sesuatu berharga miliknya juga menegang.


Mereka berjalan beriringan sambil berpelukan menuju kamar mandi.


Affan masih terus memeluk tubuh sintal Naura. Ia tak berani melepas karena itu akan semakin membuatnya ingin melakukan lebih.


Affan menyalakan kran shower. Hingga mengucur air dari atasnya. Membuat basah tubuhnya juga tubuh Naura.

__ADS_1


"Baju mas basah karena aku!" ujar Naura terdengar lirih.


Antara rasa bersalah tapi rasa ingin menyalurkan gejolak jiwa hawa nafs* yang begitu menggelor* akibat dari reaksi cairan perangs*ng yang Ismail masukkan kedalam gelas minuman es teh manisnya sebelum dihidangkan oleh sipelayan.


Tentunya dengan menyogok beberapa lembar uang lima puluh ribuan pada si pelayan restoran.


"Maaaaas...!"


"Hmmmm...."


"Mas Affaaaan.... Tolong Nau! Maaaas!"


Suara des*han Naura membuat Affan luruh keimanannya.


Dic*uminya bibir merah Naura. Dilum*tnya dengan penuh perasaan. Semakin membuat Naura hanyut menggelepar mendapatkan sambutan Affan.


Tetesan air shower jadi saksi pelampiasan nafs* keduanya. Affan yang memang mencintai Naura dari dalam hati. Sedang Naura dalam keadaan setengah sadar akibat pengaruh obat.


"Naura...! Apakah kamu mencintaiku Nau?" bisik Affan seraya menggigit pelan daun telinga Naura.


"Aku....juga mencintaimu mas! Tapi aku malu mengakuinya!" bisik Naura mesra.


Matanya terpejam merasakan kenikmatan yang mendalam karena sentuhan lembut Affan ditubuhnya.


Tubuh Affan yang ikut basah meski masih berpakaian lengkap terbangkitkan juga gairah kelelakiannya.


Naura juga semakin agresif tingkahnya. Meliuk-liuk menaikkan hasr*t jiwa Affan yang bergejolak panas membara.


Buah dada Naura menempel didada bidang Affan. Jemari lentik itu membuka satu persatu kancing kemeja sang pengacara. Hingga kini terlihatlah bulu-bulu halus nan tipis diarea dadanya.


Naura mengelus-elus dada itu sambil terus mendes*h. Berbisik memancing emosi jiwa Affandi yang semakin tak tertahankan.


Affan dengan cepat membuka celana katunnya yang lepek basah. Kini keduanya terlihat bagaikan bocah polos tanpa sehelai benangpun. Bug*l.


Siang itu pukul 1.43 WIB Naura memberikan harta paling berharganya pada Affan. Mereka melampiaskan semua hasr*t jiwa tanpa lagi memikirkan hal lain.


Nafs* duniawi begitu indahnya terasa. Des*han nafas mereka saling memburu satu sama lain. Saling lum*t bibir dan saling menerjang semua yang menghalang.


Affan sampai membawa Naura keluar kamar mandi dan menidurkannya diranjang bersprai berbahan saten berwarna merah hati.


Mereka melakukannya lagi dan lagi. Terasa begitu nikmat dan menyenangkan hati.

__ADS_1


Dunia terlihat indah berwarna-warni. Meski jalan yang salah yang akhirnya mereka lalui. Tapi apa daya, semua telah jadi jalan yang mereka lalui.


...........BERSAMBUNG...........


__ADS_2