
Affandi menatap sesosok tubuh tinggi langsing yang baru saja keluar dari balik pintu.
Naura. Wanita dewasa yang kini sering muncul dikepalanya. Menari-nari difikirannya. Kini duduk kaku dihadapannya, seperti diawal jumpa.
Matanya terlihat sangat lelah. Wajahnya semakin dingin dan tatapannya juga kosong. Membuat Affandi semakin iba menatapnya.
Penjara memang kejam, Naura! Luapkanlah semua keluh kesahmu padaku! Juga ceritakan sedetilnya kenapa kamu membunuh suamimu, Naura! Jujurlah! Kamu harus lakukan itu, Naura. Agar hukuman berat tidak membelitmu.
"Apa kabar Naura?" tanyanya setelah bergumam dalam hati.
"Baik!"
Suara serak itu membuat Affandi semakin mengasihani Naura. Jemarinya langsung memegang tangan Naura yang dingin.
"Naura! Jujurlah padaku, apa benar kamu membunuh suamimu? Kenapa? Pasti ada alasannya! Percayalah padaku, Naura! Ceritakanlah semuanya. Semua keluh kesahmu!"
Mata Naura mengerjap. Berkaca-kaca seketika mendapatkan perhatian yang dianggapnya berlebihan dari seorang pengacara.
"Aku yang bunuh suamiku! Tangan ini yang membunuhnya! Aku yang telah menikam jantungnya sebanyak 9 kali! Kau puas? Kau puas setelah mendengar kejujuranku?"
Entah mengapa, Naura begitu naik pitam hingga histeris. Sangat tidak Affandi prediksi sebelumnya. Jika Naura akan meresponnya dengan emosi meledak-ledak seperti itu.
__ADS_1
Beberapa sipir wanita berusaha menenangkan Naura yang berteriak-teriak hingga meronta dan berontak.
"Jangan bela aku! Biarkan aku membusuk dipenjara ini! Jangan bela aku! Jangan hiraukan akuuuuuu!!! Biarkan aku mati karena kesalahanku yang sangat jahat ini! Aku tak perlu pengacaraaaaa!!!!!"
Akhirnya pertemuan Affandi hanya sebatas itu saja. Naura seolah mendapatkan tekanan batin yang cukup berat hingga ia depresi seperti itu.
Bagaimana tidak. Semalaman ia tidur didalam kamar mandi berukuran 2x2 meter. Dengan lampu yang temaram, dinding dingin yang suram. Belum lagi aroma-aroma melenghir dari dalam lubang WC yang entah sudah berapa ratus kali lobang itu 'menelan' kotoran-kotoran para pelanggannya.
Hhhhh.....
Naura kembali dibawa kedalam selnya. Kembali keteman-temannya yang 'membullynya' karena selalu bungkam ketika ditanya apakah ia membunuh suami hanya karena ingin bersenang-senang dan bersama selingkuhannya.
Biarlah ia mengorbankan dirinya sendiri. Demi untuk kebaikan orang-orang yang sangat ia cintai. Begitu pendapatnya.
"Apa kalian lihat-lihat? Cari mati, hah?!?" bentak Naura pada para penghuni selnya.
"Huh, sombongnya! Padahal baru semalam dihukum di'bilik berc*nta', seolah kau sudah berkali-kali masuk kesana! Dasar pelac*r!!" cibir nona Rambut Mie. Seolah memancing emosi Naura lagi.
Bruak! Bug!!!! Plak!
Hilang kesabaran Naura. Ia menarik kerah baju wanita yang usianya kemungkinan 5-7 tahun lebih tua darinya itu. Dihantamnya perutnya dan dilayangkan tamparan mautnya juga.
__ADS_1
Semua terkesima melihat keganasan Naura.
"Jangan kau pikir aku takut pada kalian.Terutama padamu! Aku diam bukan berarti aku mengiyakan perkataanmu! Aku bukan pelacur!!! Tapi aku tidak akan pernah merendahkan pekerjaan wanita yang melacur! Kenapa? Karena ia juga wanita yang sama punya hati sepertiku! Bukan seperti kalian, yang sok suci dan putih bersih tapi busuk hati kalian! Busuk, dan penuh ulat beracun karena kebusukan itu tidak pernah kalian bersihkan lukanya!"
Semua diam mendengar ucapan Naura. Tak ada yang berani melerai apalagi membantu.
"Kalian mencaci pelacur! Tapi kalian tidak pernah peduli, kenapa dia melacur! Kenapa? Kenapa kalian semua sesama sampah tapi sok bilang bau sampah!? Kalian sesama pendosa, tapi sok bilang dia pendosa yang tak pantas ada diantara kalian. Dasar munafik kalian semua!"
"Kalau Allah memberi kalian cobaan masuk penjara demi mempertahankan harga diri kalian sebagai wanita suci, tapi kalian menghina wanita yang kalian anggap murahan. Sama saja kalian juga melakukan pembunuhan karakter dari orang yang kalian anggap hina! Toh tempat kalian sama seperti aku juga, berakhir dipenjara! Kalian juga tetap akan menghuni neraka. Bukan syurga! Bahkan wanginya pun tak sudi Allah berikan pada kalian semua!!!!"
Bruk!!!
Sekali lagi tangan Naura meninju wajah nona Rambut Mie hingga wanita itu mimisan dan pingsan seketika.
Puas ia seketika. Tubuhnya segera bangkit dari atas tubuh nona rambut mie.
Tangannya yang sempat sakit, berkali-kali ia tinjukan kearah yang kosong.
Sejak saat itu, ia resmi menjadi ketua didalam sel kelamnya.
............BERSAMBUNG..............
__ADS_1