RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Moga Hari Esok Cerah Ceria


__ADS_3

Naura shock hingga kesadarannya hilang dan ia jatuh pingsan. Hanya Affandi yang ikut menangis memeluk tubuh lemah Naura.


Dokter mengatakan kalau kondisi Naura hanya lemah jiwa dan mentalnya. Juga lemah akibat pendarahan yang cukup serius dan hampir mengambil nyawanya.


Dokter menceritakan kalau kronologis pendarahan yang Naura alami itu tidak terlalu banyak efeknya. Kondisi rahim dan juga keseluruhan daleman fisik Naura baik-baik saja. Semuanya sudah dokter periksa.


Hanya kekurangan darah akibat pendarahan yang banyak dan tiba-tiba. Tapi kini kondisinya sudah stabil juga pendarahannya tiba-tiba berhenti begitu saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Hingga dokter sendiri bingung menginterprestasikannya dari segi medisnya.


Affandi dengan serius mendengarkan penjelasan Dokter tentang kondisi Naura. Kini dirinya menjadi lebih tenang karena Naura bukan hendak bunuh diri seperti yang Ayuni lakukan.


Wajah Affandi terlihat sangat lelah. Seharian ini ia hilir mudik dari kampung Naura lalu kembali ke Ibukota dan kini duduk disamping ranjang rawat inap Naura.


Perlahan direbahkannya kepalanya keranjang Naura. Ia memandangi wajah Naura dari posisinya yang menyamping.


Wajah wanita itu begitu manis. Sayangnya kisah hidupnya tak 'semanis' wajahnya. Affandi mengusap sisa-sisa airmata yang ada diwajah Naura.


Sungguh sangat inginnya ia berbagi kebahagiaannya pada wanita yang tengah terlelap itu. Sampai doanya selalu ia panjatkan untuk Naura disela sujud sahwinya disetiap lima waktunya.


Affandi bangun dan duduk. Ia melihat jam dipergelangan tangan kirinya. Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam.


Ia bangkit berjalan keluar. Tujuannya adalah kantin Rumah Sakit.


Affandi membeli dua porsi batagor dan juga dua cup juice alpukat kesukaan Naura. Ia juga membeli sponge cake pandan seloyang serta beberapa buah naga.


Ketika masuk ruangan Naura, terlihat wanita itu telah terbangun dari tidurnya.


"Mas!"


"Naura sudah bangun? Aku tadi membeli ini. Kayaknya enak deh! Yuk, makan bareng aku!" ajak Affandi sambil membuka tutup sterefoam dari batagor yang tadi dibelinya.


Tercium aroma bumbu kacang yang langsung menyergap indera penciuman Naura hingga membuatnya tersenyum tanpa sadar.

__ADS_1


Saking senangnya melihat Naura tersenyum, Affandi langsung mencium kening Naura pelan. Sudah pasti wanita berusia 31 mau 32 tahun itu tersipu malu.


Affandi menyodorkan satu cup jus alpukat pada Naura berusaha menyembunyikan debaran jantungnya menyadari tindakannya yang semakin lepas kontrol itu.


Keduanya makan tanpa banyak bicara. Hanya sesekali mata keduanya saling berpandangan dan saling mengalihkan. Terlihat seperti dua pasangan yang malu-malu kucing.


"Mas!"


"Ya?"


"Bagaimana keadaan ibukku dan Lyora ya?... Mereka berdua pasti sedih sekali!" gumam Naura disela-sela suapan batagornya. Hingga akhirnya ia berhenti mengunyah dan kembali termangu memikirkan nasib orang-orang yang dicintainya.


Affandi segera menggenggam kedua jemari Naura.


"Ibu dan Lyora memang sedih juga sempat shock seperti dirimu, Naura! Tapi...kini keadaan mereka telah jauh lebih baik! Kumohon, kuatkan dirimu untuk mereka Naura! Mereka menunggu kepulanganmu. Semoga masalah ini cepat terselesaikan. Dan aku sedang berusaha mengurusnya secepatnya! Bantu aku dengan doa, Naura! Ya?"


Naura menatap dua bola mata Affandi yang bening bercahaya. Ada sinar harapan terlihat disana.


Affandi tersenyum. Begitu manis menawan. Senyuman yang menguatkan jiwa dan raga Naura seketika.


"Kenapa? Wajahmu merah sekali, Nau! Demamkah?"


Affandi memeriksa suhu tubuh Naura dengan menempelkan telapak tangannya didahi Naura. Ia khawatir melihat wajah Naura yang tiba-tiba matang memerah pipinya.


Padahal, senyuman Affandilah yang membuat Naura jadi seperti itu. Membuat Naura terbatuk-batuk tersenyum dalam hati. Malu sendiri.


"Kita bisa melalui semua ini, dengan doa yang tak putus-putus tentunya! Percaya pada kekuatan doa pada Allah, Nau! Mari kita satukan kekuatan kita bersama-sama. Bergandengan tangan jangan sampai terlepas. Ingat, ibumu juga Lyora membutuhkan dirimu! Mereka mendoakan perjuanganmu!"


"Perjuangan kita!"


"Hehehe...iya! Perjuangan cinta kita."

__ADS_1


Naura menunduk. Tersipu malu bagaikan gadis remaja yang baru mengenal cinta.


"Eh tunggu! Kamu belum menjawab 'iya'. Jangan-jangan.....aku ditolak!?!"


Naura menyembunyikan senyumannya dibalik telapak tangannya.


"Aku baru menjadi janda dua bulan lebih, mas! Tidak pantas rasanya bagiku berfikir cinta-cintaan seperti anak gadis yang baru megar! Kumohon pengertianmu untuk tidak selalu mendesak jawaban dariku! Aku malu, aku takut pandangan orang yang buruk padaku."


"Iya. Aku mengerti! Maafkan aku!"


Affandi menunduk. Baru tersadar ia pada posisi Naura sebagai janda yang baru 2 bulan.


Ia baru engeuh, kalau tindakannya yang terkesan memojokkan Naura untuk meminta jawaban segera adalah tindakan bodoh bagaikan tindakan bocah remaja yang begitu sembrono karena takut kehilangan cinta.


Affandi lalu tersenyum lebar menertawai dirinya sendiri.



Tangannya mengetuk-ketuk kepalanya menyadari kebodohannya hingga berbunyi dan terdengar Naura.


Kini Nauralah yang tersipu melihat kelakuan lucu Affandi.


"Maafkan perkataanku tadi ya, mas Affan!?" katanya pelan tapi jelas terdengar ditelinga Affandi.



Keduanya hanya saling berpandangan. Lalu tersenyum lebar menyadari kebodohan mereka masing-masing.


Semoga kabut kesedihan ini berubah menjadi sinaran kebahagiaan. Harapan mereka begitu besar menyongsong masa depan.


Meskipun masih terlihat gelap gulita cuaca sekitarnya, tapi baik Naura maupun Affandi...berharap matahari esok bersinar cerah untuk kebahagiaan mereka. Aamiin....

__ADS_1


...........BERSAMBUNG............


__ADS_2