
Kemal melepaskan cekikan tangannya dengan beristighfar segera. Hampir saja ia mengakhiri nyawa ibu tirinya kalau tak segera sadar.
Ayuni tersengal-sengal mengambil udara dari lubang hidung dan pernafasannya setelah tadi cukup lama tersendat akibat cekikan Kemal.
Pria itu berjalan keluar kamar bapaknya dengan langkah tergesa-gesa.
"Ke Kemal! Tu nggu!"
Tak dihiraukannya panggilan Ayuni yang begitu serak karena suaranya yang tersekat.
Kemal kembali kekamarnya. Mengganti sarung dengan celana jeansnya dan kaos putih oblong. Ia berjalan keluar rumah meski diluar hujan masih cukup deras.
Pusing kepalanya mengetahui peristiwa berdarah yang membelit Naura ternyata juga melibatkan Ayuni, ibu tirinya sendiri.
Kemal masuk kedalam mobilnya, setelah membuka pintu pagar yang juga rumah bapaknya itu.
Duduk dibalik kemudi dengan emosi tingkat tinggi. Lalu menyalakan mesin mobil dan menggasnya hingga melesat dengan kecepatan tinggi.
Entah kemana kini tujuannya.
Waktu menunjukkan pukul 22.53 saat itu. Dan suasana kampung yang sunyi senyap gelap gulita membuat Kemal kembali tersadar.
Akhirnya ia menghentikan mobilnya tepat didepan warung kopi remang-remang yang ternyata cukup banyak juga para pria setengah baya yang duduk minum kopi disitu.
Ada sekitar 5-6 orang sedang duduk dikursi kayu bersama-sama. Mungkin karena hujan pun telah reda.
"Pesen opo, mas?"
"Kopi hitam, mbak!"
"Tunggu sebentar yo, mas! Ta' buat dulu!" kata si mbaknya dengan suara khas medoknya.
Matanya sipelayan warung mengerjap berkedip melihat wajah tampan Kemal. Tapi kemudian ia seolah tersadar dan langsung mengangguk tersenyum malu-malu.
"Mas Kemal!? Kapan datang dari kota? Sudah lama saya tidak lihat mas dikampung ini!"
Kemal hanya mengangguk tak menjawab. Bibirnya pun datar agak ketus juga tanpa senyuman.
Masalah dia ribut dengan Ayuni barusan masih terasa membekas dijiwanya. Bagaimana tidak, Kemal sangat kesal pada pengakuan Ayuni tadi.
Dan ini bukanlah masalah main-main. Tapi masalah menghilangkan nyawa orang. Sedangkan orang yang menanggung akibatnya justru adik kandungnya sendiri.
Bagaimana mungkin Kemal tidak stres dan hampir hilang kendali mendengar penuturan Ayuni sendiri yang membuka kedok tabir kejahatannya itu.
__ADS_1
Kemal teringat pada Affandi Rajata. Sang Pengacara dari Naura Salsabila.
"Hallo, Affan.... ini aku Kemal! Affan.... aku, ada yang ingin aku bicarakan denganmu! Tapi sayangnya saat ini aku masih dikampungku! Aku tahu siapa pembunuh Fendy yang sesungguhnya, Fan! Aku....Aku mendengar sendiri dari bibir si pembunuh itu!"
Diseberang sana suara Affandi terdengar menjawab Kemal. Kata Affan, Kemal harus tenang dan bisa menguasai diri serta emosinya.
"Iya. Aku justru segera keluar rumah setelah hampir mati kucekik ia dengan tangan ini. Aku sedang berusaha menenangkan diri ini. Sebenarnya aku ada urusan dengan pengacara bapakku yang memintaku mengurus surat menyurat dan dokumen-dokumen penting yang wajib kutandatangani."
"Oke. Aku mungkin pulang ke Jakarta besok sore. Setelah bertemu Kuasa Hukum bapak dan selesai urusanku disini! Hhhh.... Iya. Aku ingin berdiskusi denganmu segera!"
Klik.
Kemal menutup percakapannya via telepon dengan Affandi. Ia menghirup pelan kopi hitamnya yang sedari tadi telah dihidangkan sang pelayan.
Kopi masih mengepulkan asap panasnya. Membuat Kemal perlahan meniup-niupkan udara dari mulutnya supaya kopi yang dipesannya itu cepat dingin.
Suara musik dangdut koplo terdengar sember membuat telinganya menjadi sakit. Tapi anehnya para pelanggan yang lain terlihat cuek bebek saja alias tak bereaksi apa-apa.
Mungkinkah mereka semua telah terbiasa mendengar salon sang pemilik warung yang sudah usang itu dan pecah suara bassnya?
Kemal hanya bisa bergumam dalam hati.
Untung saja fikirannya sedang kalut dan tidak ada tempat lain lagi yang bisa ia tuju. Kalau tidak, sudah sedari tadi Kemal hengkang dari tempat yang sungguh remang-remang lampunya itu.
Setelah menghabiskan secangkir kopi hitam sambil mengscroll app IG dihapenya, Kemal melirik angka yang tertera dilayar hapenya.
Pukul 23.20 malam.
Ia sudah cukup lelah juga penat ingin beristirahat. Akhirnya, Kemal memutuskan kembali pulang kerumah bapak dan ibu tirinya lagi.
Sebenarnya Kemal memiliki rumah almarhumah ibu kandungnya sendiri dari Datuk Irhamsyah. Tapi letaknya lebih jauh dari kampung ini. Dan Kemal juga malas mengganggu penghuni rumah sana yang notebene adalah adik-adik kandungnya sendiri yang telah menikah dan masih berkumpul satu rumah.
Terkejut Kemal, melihat pintu pagar rumah besar itu masih terbuka lebar.
Seorang pria setengah baya tergopoh-gopoh berlari menghampiri kendaraannya.
"Den Bagus, Den!"
"Pak Juned? Ada apa?"
"Ibu, Den! Ibu....."
"Ada apa dengan ibu?"
__ADS_1
"Maaaaas....!!!!!!" Kemal kaget, Lyora menghambur kedalam pelukannya.
"Lyora?"
"Mama, maaaas! Mamaaaaa.... Hik hik hiks!"
"Mama kenapa?"
Jantung Kemal berdebar kencang sekali. Hanya selang satu jam kurang rumah ini ia tinggalkan. Mungkinkah terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan?
Lyora menarik tangan Kemal dan mengajaknya setengah berlari menuju kedalam rumah.
"Maaaas!!!! Mamaaaaaa......"
Kemal tersekat. Dadanya langsung sesak melihat sesosok tubuh kurus menjuntai kaku dengan lidah terjulur keluar.
Pecah kembali tangis Lyora. Wajah gadis muda itu basah serta dingin kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar hebat memeluk tubuh kakak tirinya itu.
Kemal lebih shock lagi melihat kondisi Ayuni yang mengenaskan itu.
Sumpah demi Tuhan, sungguh ia tak pernah menyangka jika Ayuni akan senekad itu mengambil tindakan.
Lemas lututnya gemetar. Hingga tubuhnya langsung jatuh tersungkur dilantai sambil menangis meraung-raung memeluk Lyora dengan perasaan menyesal meninggalkan rumah ini.
"Mbaaaaaaaaak!!!!!! Huaaaaaa....Kenapa kamu melakukan tindakan yang dilaknat Tuhan, mbaaaaaaak!!!!!!"
Kemal berteriak kesal melampiaskan amarahnya pada Ayuni juga pada dirinya sendiri.
Malam itu, malam penuh duka dan lara bagi Kemal dan Lyora.
Ayuni menggantung lehernya dengan tali rafia diatas kusen pintu kamar bapaknya. Dimana terbaring tubuh Datuk Irhamsyah tak berdaya di ranjang sana.
Bahkan mungkin saja Datuk menyaksikan sendiri bagaimana istrinya itu melakukan perbuatan yang sangat dibenci Allah Ta'ala.
Pukul 1 dinihari, rumah mereka dipenuhi aparat Polisi setempat. Mengurus jenazah Ayuni yang mati bunuh diri.
Sementara Kemal dan Lyora masih seolah tak percaya. Terlebih Kemal yang hanya meninggalkan Ayuni dengan jeda waktu kurang dari satu jam saja.
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa' ayat 29)
"Barangsiapa yang berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya kedalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. An-Nisa' ayat 30)
...........BERSAMBUNG.............
__ADS_1