RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Penyelidikan Affandi Di Kampung Halaman Naura


__ADS_3


Affandi berdiri didepan rumah masa kecil Naura. Dengan mata menerawang, seolah membayangkan. Bagaimana kehidupan Naura kecil dan remaja.


Rumah yang sangat sederhana. Semi permanen bahkan bangunannya. Bagian bawahnya bata merah. Itupun belum diplester separuhnya. Sementara bagian atasnya separuh triplek separuh bilik.


Meski sangat sederhana, tapi terlihat rapi, bersih dan tertata apik sekali. Begitu nyaman dengan teras yang hanya dipelur semen dan tempelan batu-batu alami menambah gaya ciri khas pedesaannya.


Affandi kembali membayangkan wajah Naura. Lalu mencoba mengkhayalkan Naura ketika nasih muda.


Naura yang cantik jelita, ceria dan sedikit manja. Mungkin, fikirnya. Seperti pada umumnya gadis-gadis remaja.


Seorang wanita setengah baya kira-kira berumur 50 tahunan tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Matanya beradu tatap dengan Affandi yang langsung mengangguk tersenyum.


"Ibunya mbak Naura?"


"I iya mas! Mas siapa ya?"


"Perkenalkan, saya Affandi Rajata. Saya pengacaranya Naura Salsabila. Boleh saya mengobrol dengan ibu?"


"Mas dari Jakarta?"


"Iya."


"Mari masuk, mas!"


Affandi mengikuti sang pemilik rumah. Masuk kedalam yang ternyata cukup luas karena tidak ada sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga. Ditambah lagi ruangan itu kosong tanpa furniture dan juga alat elektronik seperti televisi. Benar-benar kosong melompong. Seperti lapangan futsal jadinya.


"Maaf, rumah kami seperti ini!"


"Tidak apa bu! Sama seperti rumah orangtua saya juga!"


"Mas memang aslinya mana?"


"Saya dari kota Bunga, bu! Termasuk tinggal didaerah pedalamannya, bukan daerah kota!" tutur Affandi dengan mengulum senyum.


Ia duduk lesehan dilantai beralaskan tikar anyaman yang unik dan jarang sekali ia lihat di ibukota.


Ibunya Naura menyuguhkan segelas air putih dan sepiring kecil berisi beberapa kue clorot.


"Kami hanya punya ini, mas! Silakan dicicipi!"


"Kue apa ini, bu?"


"Clorot, mas! Hehehe.... baru lihat ya?"


"Hehehe, iya!"


Affandi mengambil satu buah. Membuka perlahan cangkang daun mudanya pohon kelapa.


"Saya kira rasanya asin seperti lepeut. Ternyata legit manis ya, bu?"


"Hehehe... iya, mas! Semoga masnya suka!"


"Enak bu! Saya suka. Terima kasih!"


"Sama-sama, mas! Maaf, kopi dan teh habis. Jadi hanya menyuguhi air putih saja."


"Tidak apa-apa, koq! Ini sudah lebih dari cukup, bu! Maaf, saya kemari tidak bersama Naura putri ibu!"


Ibu Naura menunduk. Airmatanya satu persatu meluncur kebawah. Kesedihan segera saja meliputinya.


"Ibu?!? Maaf, kalau kedatangan saya mengganggu dan membuat ibu sedih!"


"Mas ini polisi kah?"


"Bukan. Saya pengacaranya Naura!"


"Pengacara itu apa?"


"Sayalah kuasa hukum Naura Salsabila, putri ibu. Saya yang bertugas membantu kasusnya hingga persidangan dan ketok palu putusan hakim."

__ADS_1


Ibu Naura langsung memegang kedua belah tangan Affandi.


"Jadi mas bisa membantu Naura?"


"InshaaAllah, bu! Untuk itu saya kemari. Saya ingin mencari bukti yang bisa meringankan hukuman Naura. Saya mohon bantuan ibu!"


"Iya, mas! Tolong bantu anak saya ya mas!"


Affandi mengangguk, mengiyakan. Ia mengeluarkan alat rekam otomatisnya. Menekan tombol on nya, lalu membetulkan posisi duduk bersilanya menghadap ibunya Naura.


"Ibu, Naura itu putri ibu nomor 2 dan bungsu juga?"


"Iya, mas!"


"Anak ibu yang pertama namanya siapa? Berapa beda usianya dengan Naura?"


"Namanya Ayuni Kartika. Beda umur 8 tahun dengan Naura."


"Oiya, maaf...saya belum tanya bapak. Kemana bapaknya Ayuni dan Naura sekarang, bu? Masih dikebunkah?"


"Bapak sudah meninggal dunia, mas! Setahun setelah Naura menikah."


"Oh! Maaf,... saya tidak tahu bu! Saya turut berduka cita."


Ibu Naura tersenyum, meski dua bola matanya nampak berkaca-kaca. Sepertinya ia mengenang kembali kesedihannya. Sekilas sangat mirip dengan Naura ketika hendak menangis.


"Ayuni sudah menikah dan punya satu anak. Dia tinggal dikampung sebelah dengan suaminya. Naura juga telah menikah di Ibukota bersama suaminya.


Sampai.... sampai ada polisi pamong praja yang datang kesini, memberitahu kalau.... hhhh.... kalau Naura masuk penjara karena membunuh suaminya."


Pecah tangisnya seketika. Air matanya bercucuran diiringi raungan tangisan kepiluannya.


Affandi membiarkan ibunya Naura menangis agar bisa lega setelah menumpahkan semua kesedihan dan duka laranya.


"Naura baik-baik saja, bu!" kata Affandi setelah melihat tangis wanita setengah baya itu mereda.


"Hhhhh.....! Ibuk tak bisa membayangkan, putri ibu ada di dalam penjara. Pasti sangat menderita ya mas!"


"Hehehe.... Bapak yang kasih nama itu! Bapak pernah kerja dikota waktu masih bujangan mas! Beliau terobsesi dengan nama-nama artis-artis ibukota."


Keduanya tersenyum.


"Apa, Naura pernah punya pacar selain suaminya?"


Ibunya hanya menggeleng.


"Naura tidak pernah pacaran. Kalaupun teman dekat pria, ada satu orang saja... Ismail namanya. Ismail sudah menikah dan punya dua orang anak. Dia anak tetangga kami. Itu rumahnya disamping kanan."


"Mereka dekat sekali hubungannya? Maksud saya dulu!"


"Ya Naura dan Ismail itu seusia mas! Teman satu sekolah dan madrasah sejak SD, SMP dan SMA.


Hampir tiap hari selalu bersama pergi berangkat sekolah. Bahkan mengerjakan PR juga bersama. Seperti saudara walaupun kadang sering bertengkar bagaikan anjing dan kucing!"


Ibu Naura menyusut airmatanya. Kenangan manis itu terasa menyesakkan dadanya.


"Setelah tamat SMU, Naura pergi merantaukah?"


"Naura, sempat ikut kakaknya dulu. Tapi.... karena..... mmmm..... Naura dibawa kabur anak Datuk Irhamsyah disaat ia hendak dinikahkan."


"Maksudnya Ibu bagaimana?"


"Iya,.... Kakak iparnya jatuh cinta sama Naura. Datuk ingin menikahi Naura. Ayuni juga sudah menyetujuinya waktu itu. Tapi,.... ada anak pertamanya Datuk datang....dan membawa kabur Naura, mas!"


"Maksud ibu, Datuk Irhamsyah itu suami Ayuni? Ibu menyaksikan langsung kejadian itu? Dan tidak melakukan tindakan ataupun pelarangan pernikahan Datuk-Naura?"


"Ibu tidak boleh datang. Hanya bapak saja yang wajib datang untuk jadi walinya, saat itu!"


"Saya lihat, ibu dan bapak sepertinya sangat menurut pada menantu kalian itu. Tapi lebih tepatnya takut. Kenapa?"


Ibu Naura terdiam menunduk. Jarinya memilin-milin ujung kain yang ia kenakan.

__ADS_1


"Bapak punya banyak hutang sama Datuk, mas!" katanya pelan. Kembali terisak.


Affandi ikut menarik nafasnya. Panjang. Matanya memandang kearah luar. Mengamati pemandangan sekitar yang sunyi sepi seolah tanpa kehidupan.


"Semua penduduk disini rata-rata bertani ya, bu?"


"Iya. Anak-anak muda rata-rata pergi merantau mencari nafkah dikota. Jadinya sepi sekali kampung, mas!"


"Boleh saya bertanya lagi soal bapak dan Datuk, bu?" Ibu Naura mengangguk menatap Affandi.


"Kenapa bapak bisa punya hutang banyak pada Datuk?"


"Semua bermula dari kemarau yang panjang. Kebun kami kekeringan. Hasil sawah juga gagal total, sedangkan kami membeli bibit dengan cara mengambil kredit dikas lumbung desa mas!


Kepala desa kami saat itu sampai marah sama bapak, karena bapak tidak bisa bayar hutang.


Lalu..... Entah kenapa, Datuk yang kepala desa kampung sebelah justru memberi bapak banyak pinjaman. Katanya kasihan melihat bapak yang sedang apes!"


"Bapak sering mendapatkan pinjaman lagi. Walaupun kadang belum bisa bayar hutang yang dulu sekalipun. Dan akhirnya, Datuk Irhamsyah meminta Ayuni pada bapak untuk dinikahkan dengannya sebagai jaminan hutang."


"Jadi, Ayuni menikah dengan Datuk itu bukan karena saling cinta? Tapi karena paksaankah?"


"Iya. Ayuni awalnya marah ndak mau terima. Tapi...., mau bagaimana lagi? Kalau bapak tidak sanggup membayar hutang, bapak akan dilaporkan ke pamong praja dan dijebloskan ke penjara desa. Sawah dan kebun kami juga akan disita."


"Mereka pun menikah sampai sekarang?"


"Iya. Walaupun Datuk suka sekali menikah dengan wanita lain, tapi Ayuni bertahan sampai sekarang. Ayuni kini jadi istri yang pertama posisinya. Yang lain ada yang sudah meninggal, ada yang diceraikan."


"Hhhhh......"


Speechless Affandi mendengar cerita ibundanya Naura. Ia kembali mengingat wajah duka Naura. Wajah cantik tapi beraura kelam itu ternyata menyimpan begitu banyak kesedihan.


Affandi pamit pada ibu Naura setelah hampir 3 jam berbincang-bincang. Tujuannya kini adalah Ismail, teman dekat Naura.


Seorang pria berwajah keras penuh guratan dan lekukan menyambut Affandi dengan baik ketika mengucapkan salam dan mengenalkan diri . Ia memangku bocah kecil perempuan manis sekitar berumur 2 tahun.


"Mas bernama Ismail khan ya?"


"Ya, saya sendiri mas!"


"Saya, pengacaranya Naura Salsabila!"


Ismail langsung berubah raut wajahnya. Dipanggilnya sebuah nama, yang ternyata adalah istrinya. Agar membawa masuk anak bungsunya dan menyediakan minuman untuk tamu, katanya.


"Bagaimana keadaan Naura sekarang, mas?" tanyanya penasaran setelah istrinya pergi kedalam.


"Hhhh.... Sekarang Naura baik-baik saja! Kasusnya masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Belum disidangkan mas!"


"Seminggu yang lalu juga ada beberapa polisi yang menyambangi rumah Naura. Dan sempat juga menanyai saya! Tapi saya memang teman kecilnya. Tidak pernah bertemu Naura lagi sejak ia menikah di ibukota!"


"Apa betul itu?"


"Mmmh maksud saya, kami sama-sama sudah putus hubungan. Mmmm maksudnya, tidak pernah lagi bertegur sapa sejak Naura menikah!"


"Mas mencintai Naura?" Pucat seketika Ismail mendapat pertanyaan seperti itu dari Affandi.


"Apa Naura yang bercerita?" tanyanya balik.


Affandi menatap legam kedua bola mata Ismail. Gugup melanda dirinya begitu kentara bagi Affandi.


"Mas mencintainya tapi bertepuk sebelah tangan bukan?"


"Bukan. Bukan bertepuk sebelah tangan. Tapi takdir tak berpihak kepada kami." Ismail diam ketika istrinya keluar dengan nampan ditangan.


Istri Ismail menyuguhkan Affandi dan Ismail masing-masing segelas kopi hitam dan sepiring roti sumbu yang masih panas mengebul.


"Silahkan diminum kopinya mas!"


"Terima kasih, mbak!"


Kedua pria sepantaran itu lalu anteng dengan kopi dan singkong rebus yang memang pasangan mantul untuk teman ngobrol.

__ADS_1


............BERSAMBUNG.............


__ADS_2