RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Uhhhfff.....Untung Ada Kemal Pasha


__ADS_3

"Ismail?"


Naura terkejut melihat Ismail sedang tiduran didepan teras rumah Ibuknya tanpa alas ataupun bantalan dikepalanya.


"Naura, Ibuk Gina! Kenapa kalian baru pulang sekarang? Aku kuatir sekali pada kalian!"


Tutur kata Ismail membuat luluh hati Naura.


"Maaf, kami kemarin mengurus acara tahlilan mbak Ayuni, Il! Jadi selama dua hari kurang, menginap disana menemani Lyora juga!"


Ismail meneteskan airmatanya.


"Kenapa menangis Il?"


"Aku sedih sekali. Aku merasa seperti terkena kutukan nenek sihir yang menginginkan aku hidup seorang diri!"


"Hehehe..... Ngomong apa kamu Il!" kekeh Ibuk Naura sambil menepuk-nepuk pundak Ismail seraya berjalan masuk kedalam rumah.


"Sebentar ya, aku masuk dulu. Nanti kubuatkan teh manis hangat untukmu!"


Ismail tersenyum sumringah. Gadis pujaannya ingin menjamunya dengan minuman spesial, teh manis.


"Jangan manis-manis, Nau! Karena dengan memandang wajahmu saja teh itu sudah manis!"


"Hilih, gombal!"


Ismail tertawa. Bahagia rasa hatinya. Apalagi kini kembali bisa menatap puas wajah Naura dan mendengar suara lembut wanita impiannya itu.


Sekitar dua puluh menit kemudian Naura keluar. Kini telah berganti pakaian lebih santai sembari membawa baki berisi dua gelas teh manis panas.


"Terima kasih cantik!"


"Uhuk uhuk...!" Naura pura-pura batuk mendengar Ismail memujinya 'cantik'.


"Hehehe... maaf ya kalau aku terkesan seperti pria hidung belang bagimu! Aku begini hanya sama kamu. Tidak dengan perempuan lain, Nau!"


"Ah...semua lelaki sama saja! Tak boleh lihat perempuan berbeda sedikit, pasti penasaran ingin menggoda!"


"Aku tidak! Boleh tanya istriku. Maksudku, mantan istriku!"


"Kenapa kamu tidak berusaha untuk membuka komunikasi kembali dengan istrimu, Il? Kasihan kedua putrimu yang masih kecil-kecil! Kalian pasti bisa melewati cobaan rumah tangga ini Il!"


"Hhhhh.... Ibunya anak-anak itu keras kepala. Tabiatnya ya....seperti itu. Agak binal dan masih suka keluyuran!" kata Ismail, drama.


"Iya kah? Tapi...kalau kamu bisa mengambil hatinya perlahan, pasti dia bisa mengerti ucapanmu. Kalian sudah sama-sama dewasa khan! Ada dua orang anak diantara kalian! Dan aku yakin, istrimu itu orang yang baik Il!"


"Sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Nau! Aku justru berharap, kamu mau menjadi biyung bagi kedua anakku! Mereka setiap malam selalu memintaku bercerita tentang persahabatan kita dimasa kecil!"


Naura tersipu. Bibirnya menyunggingkan senyuman setengah bulan sabitnya. Manis sekali. Membuat Ismail semakin terpesona.



"Aku tidak berfikir untuk menikah lagi, Il! Entahlah! Saat ini aku hanya fokus pada kasusku dulu, juga Ibuk dan Lyora!"

__ADS_1


Ismail menatap kedua bola mata Naura yang legam berbinar redup itu.


Hatinya kembali mendawamkan kalimah asihan yang mengaitkan nama Naura disana.


"Kau...akan kembali ke kota Nau?" tanyanya menyelidik.


"Iya. Lusa aku harus wajib lapor ke Lapas. Aku masih dalam tuntutan hukum, Il!"


"Wajib lapor?"


"Iya. Setiap minggu selama satu bulan penuh."


"Lalu, kapan kamu akan tinggal dikampung selamanya?"


"Entahlah! Aku belum punya rencana pasti. Tadinya aku ingin membawa ibuk untuk tinggal bersamaku dikota! Tapi..... Ibuk sepertinya sangat berat meninggalkan kampung ini! Sementara aku, untuk jangka waktu pendek belum bisa tinggal disini! Karena masih bolak-balik Lembaga Pemasyarakatan!"


Ismail diam. Hanya menyeruput teh manisnya yang mulai dingin. Sedingin hatinya karena akan ditinggalkan lagi Naura.


"Aku akan ikut denganmu!"


"Maksudmu?"


"Aku ikut denganmu ke kota!"


"Hah?! Kapan? Besok? Lalu,.... kamu akan tinggal dimana nanti?"


"Aku bisa tinggal bersamamu sementara waktu. Tidak boleh ya?"


"Bukannya kamu butuh teman dikota? Aku ini, temanmu. Aku juga bisa melindungimu! Bahkan kalau kamu mau, aku bisa menikahimu!"


"Uhuk. Ismail?!? Hehehe.... kamu ini ya!?"


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"


"Tidak. Tidak ada yang salah! Hanya aku.... aku fikir candamu terlalu berat!"


"Aku tidak bercanda! Aku serius, Naura! Menikahlah denganku! Aku akan setia menemanimu dimanapun kamu mau. Kemanapun kami ingin melangkah, aku siap berada disampingmu!"


"Ismail!"


"Kamu khan tahu,... cintaku sudah sejak lama terpatri dihatimu. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu! Tolong, jangan sia-siakan lagi rasaku ini! Karena kamu itu sudah Tuhan Takdirkan untukku! Meskipun kamu menikah dengan lelaki lain, tapi takdirmu tetap untukku Naura! Kamu adalah jodohku, Naura!"


Dug dug dug


Jantung Naura berdegub bagaikan bedug ditabuh.


Kata-kata Ismail seperti ribuan bintang-bintang mengelilingi kepalanya. Seolah merasakan digigit ribuan semut, tubuh Naura menggeliat bergelinjal.


Apakah benar, aku ini jodohnya Ismail? Apakah benar pula, meskipun aku menikahi pria lain....tapi ujung-ujungnya tetap hanya Ismail lah yang paling mencintaiku? Apakah itu benar?


Ismail semakin gencar merapalkan jampi peletnya yang ia gumamkan dalam hati.


Bibirnya semakin intens berkomat-kamit seiring perlahan mengeluarkan hembusan nafasnya agak mendekat kewajah Naura.

__ADS_1


"Kamu.... kamu punya istri dan anak, Il! Kamu...sudah memiliki jodohmu!" kata Naura tergagap gugup.


Entah kenapa jantungnya berdegub makin kencang. Wajah Ismail terlihat begitu bersinar dimatanya. Bahkan sangat bersinar sampai-sampai Naura tak ingin berkedip demi melihat 'ketampanan' Ismail.


"Aku...selalu mencintaimu Naura! Sejak kecil, bahkan sampai kini. Kaulah yang selalu dihati ini!"


Ismail menarik jemari Naura. Lalu membawanya tepat kedada yang ada 'jantung'nya. Teraba oleh Naura dada Ismail lengkap dengan detak jantungnya yang berdebur keras.


Naura menelan salivanya. Jatuh airmatanya.


"Apa....apa kau benar-benar jatuh cinta padaku Ismail? Sungguh-sungguh cinta?"


"Kamu meragukan cintaku, Naura? Kamu meragukan aku sampai sejauh ini? Teganya kau padaku Nau! Hik hik hiks..... Aku jatuh cinta padamu Naura! Aku cinta kamuuuuuuuu!"


Naura dan Ismail menangis bersama. Tangan Ismail merengkuh pundak Naura. Berusaha memeluk wanita pujaannya itu kedalam dadanya.


"Aku ini wanita bernasib buruk, Ismail!"


"Tidak, jika kau bersamaku Nau!"


Naura kembali menangis tersedu, meratapi kesedihan hidupnya selama ini.


Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti mendadak tepat dihalaman rumah Ibuknya Naura.


Pria itu berjalan cepat dan....


Cetak. Cetak!!!!


Jentikan jemarinya ke kepala Naura dan Ismail membuat Naura tersadar hingga melepaskan rangkulan tangan Ismail padanya.


"Mas Kemal?"


"Ayo, pulang ke Jakarta sekarang! Pengacaramu sudah menelponku, katanya pihak kepolisian ingin menginterogasimu lagi mengenai kasusmu yang masih mengambang!"


"I iya mas!" Naura pucat pasi wajahnya. Langsung masuk kedalam rumah untuk mengabari Ibuknya.


"Hei! Kamu ingin apa dari Naura?" tanya Ismail pada Kemal dengan suara lantang.


"Kau sendiri? Kau fikir aku tidak tahu keinginan bejadmu itu? Jangan memanfaatkan kelemahan Naura! Kasihan dia! Kalau kau memang cinta, jadilah pria jantan bukan jadi pria bangs*t yang pecundang! Gayamu gaya jadul, bro! Satu lawan satu di ring denganku, kalau kau mau!"


Lemas lutut Ismail. Ternyata pria dihadapannya ini bukanlah lawan yang sebanding.


Ismail hanya punya taji dari sisa-sisa peninggalan Mbah Kliwon saja. Tapi soal ilmu mistis, Kemal jauh lebih berpengalaman darinya.


Bahkan kemungkinan guru besar Kemal jauh lebih banyak ketimbang dirinya yang hanya punya ilmu titipan dari Mbah Kliwon yang sudah meninggal dunia.


Hhhh.....


Tapi Ismail percaya, cintanya bisa menarik hati Naura. Andai wanita itu selalu berada didekatnya. Dan Kemal Pasha tidak selalu mengganggu hubungan mereka.


Kendalanya kini hanyalah kasus Naura yang belum juga usai. Karena Penjara masih menjadi bayang-bayang bagi cintanya pada Naura.


............BERSAMBUNG..............

__ADS_1


__ADS_2