RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Pertemuan Ismail dan Naura


__ADS_3

Kemal tertawa puas menerima telepon dari Affan. Pria yang lebih muda darinya itu menceritakan kalau dirinya ditolak Naura beberapa bulan lalu.


Ya. Affan baru berani menceritakan perihal patah hatinya pada sahabat barunya itu setelah dua bulan lamanya.


Ia butuh waktu dulu untuk mengobati luka hatinya yang ditolak. Kini sedikit lebih baik, meski masih terasa jika melihat wajah Naura ditoko bunga mamanya.


Naura memang masih bekerja disana. Dan dia masih berkunjung kesana meskipun tidak lagi setiap kali.


Mamanya memohon Naura untuk tetap bekerja walau pada kenyataannya Naura tidak menerima cinta putra semata wayangnya.


Mama menerima argumen Naura. Dalam hal ini, beliau meminta Naura untuk tidak mencampur adukkan antara pekerjaan dan perasaan.


Naura senang sekali karena mama Affandi begitu mengerti. Walau ia tak jadi kekasih anaknya, mama tetap memperlakukan Naura dengan manis seperti biasa.


Mamanya Affan kata, Naura sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Membuat Nau begitu terharu.


Naura juga sudah dua kali pulang dengan bus angkutan umum menemui ibuknya diakhir bulan. Libur dua hari cuti demi melihat kondisi ibunda dan ponakannya tersayang.


Kemal tetap di Jakarta. Ia bekerja seperti biasa di perusahaan material milik keluarga besar Datuk Irhamsyah.


Datuk sendiri keadaannya tetap seperti itu. Disebut hidup tapi seperti mati. Dikata mati tapi masih bernafas setiap hari.


Itulah, ilmu-ilmu hitam dan ilmu pengasihan rupanya telah mendarah-daging ditubuhnya hingga terus menggerogoti diri dan jiwanya.


Setiap ilmu seperti itu tentu ada efek sampingnya. Janganlah sembarangan menggunakan apalagi menyalahgunakan. Fatal akibatnya untuk orang lain juga diri sendiri.


Seperti Ismail kini. Pria itu juga kini luntang-lantung hidupnya. Setelah menjual sebagian sawah orangtuanya Ismail bertekad ke Jakarta untuk menjemput Naura.


Karena setiap kali Naura pulang ke kampung menemui ibuknya, Tuhan selalu tidak memberinya kesempatan untuk bertemu.

__ADS_1


Hari ini Ismail juga masih mencari-cari toko bunga setelah berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya sampai ia mengontrak sebuah kamar kost diwilayah Selatan Ibukota.


Ismail memasuki sebuah toko bunga yang begitu apik. Berharap ada Naura disana melayaninya.


Dan......


"Naura!"


Wanita yang disebut namanya menoleh.


"Ismail?"


"Naura!!!"


"Kamu, ada di Jakarta?"


"Iya, Nau! Sudah hampir 3 minggu disini."


"Aku seperti Rudy Chysara khan? Kamu suka lihat aku yang seperti ini, bukan Nau? Kamu bilang aku mirip rocker itu waktu kita kecil kalau rambutku gondrong!"


Naura tertawa. Terkenang kembali pada masa lalu yang indah. Masa kanak-kanaknya.


"Tapi kau sama sekali tak mirip Rudy Chysara, Il! Hehehe.... Kau lebih ganteng sedikit, dia gantengnya banyak! Hahaha..."


"Jahatnya kau Nau, hahahaha...!"


"Maaf Il! Aku cuma bercanda! Maaf ya?! Ngomong-ngomong kau tinggal dimana? Kerja apa?"


"Ayo, ikut ke kontrakanku!"

__ADS_1


"Maaf Il! Aku tidak bisa sembarangan pergi. Nanti kapan-kapan aku mampir menengok tempat tinggalmu. Masih sekitar sini juga?"


"Ya. Hanya sekali naik mikrolet, kamu sudah tiba disana!"


"O iya. Nanti inshaaAllah aku sambangi, Il! Ya sudah, aku sedang kerja ini! Kalau kamu tidak beli bunga, sebaiknya jangan lama-lama disini. Tak enak aku sama pemilik tokonya yang baik hati!"


"Ya sudah. Selamat bekerja Naura!"


"Terima kasih Il!"


Ismail sangat bahagia, akhirnya Tuhan mempertemukannya lagi dengan Naura. Wajah Naura semakin cantik dimatanya. Usia dewasa membuatnya terlihat lebih matang dan berkepribadian.


Seperti biasa, Ismail masih mendawamkan jampi-jampi peletnya guna menaklukan hati Naura.


^^^



(Gambar Rudy Chysara)^^^


Pria yang seumuran dengan Naura itu hanya mengamati Naura dari kejauhan. Tapi tetap dengan buhul-buhul dari dalam hati dan bibirnya untuk Naura.


Hhhhh.......


Qur'an Surat Al-A'raf ayat 117-119


"Dan Kami wahyukan kepada Musa. Lemparkanlah tongkatmu! Maka sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan."(117)


"Karena itu, nyatalah yang benar dan batal lah yang mereka selalu kerjakan."(118)

__ADS_1


"Maka mereka kalah ditempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina."(119)


............BERSAMBUNG............


__ADS_2