RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Dua Pria Berbeda Yang Patah Hatinya


__ADS_3

"Ibuk mau kemana?"


Ismail berdiri didepan teras depan rumah ibunya Naura.


Matanya menatap nanar kearah Kemal juga ibu Naura. Ia menyelidik dengan ekor matanya. Banyak tas dan kantung kresek besar. Sepertinya ibunya Naura akan pergi untuk jangka waktu yang lama.


"Kenapa? Ada masalah apa denganmu?"


Kemal bertanya dengan suara ketus. Pria itu memang sudah tak tahan melihat tingkah teman kecil Naura itu.


Banyak jampi-jampi dan bubuk kemenyan bertebaran disekitar rumah ibunya Naura yang Ismail letakkan disetiap pojokan teras.


Kemal bisa melihat dan merasakan aura tidak sedap dimata batinnya.


"Sebagai seorang tetangga, wajar toh aku bertanya?"


"Iya. Ibuk akan ikut dengan kami! Kenapa?"


"Lalu bagaimana dengan rumah ini, buk? Kalau Naura pulang nanti, bagaimana?"


Ismail mengalihkan pandangannya pada ibu Naura. Percuma ia meladeni pria bujang lapuk itu, pikirnya. Ismail tak cukup keberanian karena Kemal memiliki ilmu diatas dia.


"Ibuk mau pindah kerumahnya almarhumah Ayuni, Il! Kasihan Lyora sendirian disana! Kalau Naura pulang, mungkin ibuk kembali kesini atau bagaimana nanti terserah Naura!"


"Boleh Ilmail minta alamat Nau yang di Jakarta?"


"Ibuk juga tak tahu Il! Nau sudah pindah dari rumah suaminya. Sekarang kerja di toko bunga katanya! Alhamdulillah, kini Nau sudah terbebas dari penjara!"


"Syukurlah!"


Ismail hanya menatap mobil Kemal yang membawa ibu dari wanita pujaannya itu dengan tatapan kesal.


Pantas saja, ternyata aku salah sasaran mengirimkan ke alamat rumahnya yang lalu! gumamnya dalam hati.


Segala cara telah ia tempuh. Tapi Naura masih belum bisa ia miliki. Airmatanya mengalir lagi. Bahkan lebih deras kini.


Hatinya begitu nyeri. Mengapa cinta tidak kunjung mendatanginya dengan suka cita?


Mengapa cinta Naura begitu susah ia dapatkan?


Mengapa Tuhan tidak ingin menjodohkan dirinya dan Naura?


Apa salah dan dosanya hingga begitu susah untuk mendapatkan Naura?

__ADS_1


Ia hanya ingin Naura. Butuh Naura dalam hidupnya. Tidak butuh yang lain. Tidak ingin yang lain.


Sejak kecil ia bersama Naura. Ia tahu betul watak dan kepribadian gadis itu.


Kesederhanaan dan keceriaan Naura telah menawannya. Bahkan sampai hari ini. Meski Naura jauh dari jangkauannya, jauh dari penglihatannya. Tapi hatinya selalu tertuju pada Naura.


Ia meminta Naura pada Tuhan, tidak ingin yang lain. Cukup Naura saja.


Ismail menangis pulang kerumahnya. Seperti bocah umur belasan yang patah hati diputus cinta. Airmatanya meleleh tiada henti dan isakannya terdengar lirih sekali.


Anak pertamanya mendekatinya yang duduk lesehan diteras rumahnya.


"Bapak kenapa? Bapak sakit?" tanyanya dengan suara pelan karena takut juga jika Bapaknya marah.


Ismail terus menangis. Tiada menghiraukan anak perempuannya itu yang sudah berumur 6 tahun kini.


"Pak! Ibu bilang, Naura akan masuk PAUD tahun ini. Ibu mau bawa Naura sama Cinta, boleh ya pak?" kata gadis kecil itu lagi, bertanya memberanikan diri.


"Ya ya, sama kalian ikuti ibu kalian! Bapak sudah tidak sanggup mengurus kalian!" hardiknya membuat Naura kecil berlari menjauh karena ketakutan.


Solihati yang memperhatikan suaminya itu dibalik kerimbunan dedaunan pohon pagar rumah mertuanya itu hanya mengucap butiran airmata dipipinya.


"Mas! Sadarlah mas! Aku akan menerimamu kembali jika kamu sadar, mas! Mas! Maafkan aku, aku terpaksa membawa dua buah hati kita demi kebahagiaan dan masa depan mereka! Hik hik hiks....!"


..............


Sementara Affan semakin memepet Naura demi mempersunting wanita itu secepatnya.


Setiap hari pengacara itu bolak-balik menengok Naura ditoko bunga milik mamanya. Berharap Naura luluh padanya dan menerima cintanya.


Sayangnya Naura masih tidak bergeming. Meskipun cinta Affandi terlihat tulus dimatanya, Naura tidak juga membalas cinta itu.


Bukan karena tak suka. Bukan juga tiada cinta. Tapi karena takut mengecewakan dan akhirnya menyakiti Affandi secara langsung nanti.


"Nau! Tidakkah, kamu.... membuka hatimu untukku?"


Naura diam mendengar pertanyaan Affan disore itu.


Witha yang sedang merapikan bunga-bunga dagangan tersenyum sendiri menyaksikan keduanya yang sebenarnya ada rasa tapi malu-malu.


"Mas! Kumohon mas! Suamiku baru meninggal 3 bulan yang lalu. Jadi,...."


"Sudah lebih dari seratus hari Nau! Artinya kamu sudah lepas dari masa iddah menurut hukum agama! Jadi tak ada salahnya kamu memulai hidup baru lagi, Nau!"

__ADS_1


"Tiada yang salah mas! Tapi aku belum berani melangkah!"


"Kenapa? Apa...aku... terlihat tidak pantas untukmu, Nau?"


"Bukan mas yang tidak pantas untukku. Justru aku yang sangat tidak pantas untuk mas! Aku... wanita bodoh hanya tamatan SMU saja. Mas seorang Sarjana Hukum. Aku janda, mas bujangan! Aku ini, tidak cukup baik untuk mas!"


"Kata siapa?"


"Kata aku, mas!"


"Nau, dengarkan...."


"Mas yang dengarkan aku! Mas seorang pengacara. Sudah pasti relasi dan teman mas banyak sekali! Nau tidak percaya mas tidak memiliki teman wanita single yang cantik dan masih sendiri. Jadi mas, jangan terus melihat kearahku yang tidak punya apa-apa!"


"Nau! Apa kamu percaya kalau cinta itu buta? Cinta itu tidak memandang kasta dan tahta. Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam, Nau! Kamu masih tak percaya padaku, Nau?"


"Bukan tak percaya mas! Tapi.... aku ini tak sebanding dengan mas! Lagipula, mas belum mengenal luar dalamku. Kenapa sampai kak Fendy lari dariku, menikahi Tita karena suatu alasan mas! Aku tidak bisa melakukan itu!"


"Melakukan apa? Katakan padaku secara detil, Nau! Kamu bisa. Kamu pasti bisa melangkah bersamaku!"


"Tidak mas! Maaf! Aku tidak bisa melakukan hubungan. Daripada nantinya akan kembali terulang kejadian yang sama, seperti rumah tanggaku pada kak Fendy dan kita mengalami kehancuran yang lebih parah. Lebih baik, kita tidak memulai hubungan serius mas!"


"Mama dan papa setuju aku menikahimu meskipun kamu seorang janda! Apakah itu tidak menjadi pertimbangan bagimu? Mereka justru ingin aku lebih gigih mendapatkan dirimu juga hatimu, Nau!"


"Maaf mas! Aku tidak ingin menyakitimu. Juga Mama dan Papamu. Mereka adalah orang yang baik hati. Dan aku tidak ingin mengecewakan mereka dengan memanfaatkan kebaikan mereka."


"Nau!"


"Kumohon mengertilah mas! Kalau mas masih tidak mengerti, akhir bulan ini Nau akan berhenti kerja disini dan pulang kampung! Maaf mas!"


"Nau......!"


Hhhhh...... Pahitnya cinta. Bahkan seorang pengacara tampan sekelas Affandi lagi-lagi mengalami kegagalan cinta.


Berkali-kali merajut tali kasih. Tapi untaian itu tak cukup kuat hingga selalu putus ditengah jalan.


Kini pun, bahkan sebelum benang cinta itu terajut, Affan sudah merasakan sakitnya benang diputus.


Mau bagaimana lagi. Jika cinta tak menyambutnya. Hanya bertepuk sebelah tangan. Terasa sakit hatinya.


Affan pulang kerumahnya sendiri dengan wajah lesu dan jiwa lelah. Ia tak tahu lagi harus bagaimana agar Naura menerimanya.


Ia menyadari, dirinya terlalu cepat mendesak Naura. Mungkin secara psikis Naura masih terluka. Karena jedanya menjadi janda baru beberapa bulan saja. Meski sakit hatinya dibohongi suami sendiri telah bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


.............BERSAMBUNG..............


__ADS_2