RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Surprise Kebahagiaan Untuk Sang PengacaraTampan


__ADS_3

🎶


Aku sudah mulai lupa saat pertama rasakan lara


Oleh harapan yang pupus hingga hati cedera serius


Terima kasih kalian, barisan para mantan


Dan semua yang pergi tanpa sempat aku miliki


Tak satupun yang aku sesali


Hanya membuatku smakin terlatih, oh


Ter latih patah hati


(Hadapi getirnya) Terlatih disakiti


Bertepuk sebelah tangan (sudah biasa)


Ditinggal tanpa alasan (sudah biasa)


Penuh luka itu pasti, tapi aku tetap bernyanyi


🎶


Cetrek.


Naura tersipu melihat wajah Kemal merah kesal mendengar lirik syair lagunya The Rain "Terlatih Patah Hati" yang mengalun indah di radio mobilnya.


"Lagunya bagus mas!"


"Bagus untukmu, tapi malu untukku! Soalnya sangat pas saat ini meledek hatiku! Huh, terlatih patah hati, sudah biasa!"


Naura tertawa kecil. Tapi cepat-cepat menutup mulutnya. Khawatir Kemal makin tersinggung akan tingkahnya yang menertawainya itu.


"Maaf mas!"


"Ya ya ya! Tertawalah Nau! Aku gak akan marah! Teruslah bahagia, itu harapanku!"


"Terima kasih mas!"


Treet..treet..treet......


Handphone Kemal yang ada di dashboard mobil berdering dan bergetar.


"Tolong angkat Nau, aku sedang menyetir!" pinta Kemal pada Naura.


"Lyora, mas!"


[Maaaas, kapan pulaaaaang! Aku kangeeeen!]

__ADS_1


Suara cempreng Lyora langsung menggelegar seiring HP Kemal di loadspeaker kan.


"Besok, Yo! Mas pulang! Sabar adex! Kenapa? Ga ada masalah besar khan?"


[Lusa aku ambil raport, harus mas yang ambil kata bu Rini wali kelasku. Yo juga mau izin ikut acara camping lintas alam dari GPA sekolah Yo]


"Yo! Ini bibi Naura! Apa kabar sayang?"


[Bibi Nauuuu!! Yo kangeeen! Kapan pulang?]


"Ya Lyora! Bibi akan pulang akhir bulan nanti ya sayang! Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa jaga kesehatan ya Yo?"


[Ya bi! Simbah akan tinggal dengan Yo. Simbah sudah mau ikut Lyora!]


"Iya. Bibi sudah diceritakan mas Kemal mu ini!"


[Iya. Bibi juga jaga kesehatan ya? Yo sayang bibi Nau! Juga sayang mas Kemal!]


"Terima kasih Yo, bibi juga sangat mencintai Lyora! Doakan bibi, agar bisa secepatnya kita tinggal bersama!"


[Aamiin]


"Mas pulang nanti malam deh! Kamu jangan keluyuran malam-malam ya?"


[Idiiih, Yo sekarang gak pernah keluar malam kecuali belajar kelompok sama teman! Khan Yo sudah janji sama mas! Yo mau kuliah di Jakarta, makanya nilai Yo harus diatas rata-rata]


"Bagus! Adexnya mas Kemal top markotop! Ya udah, mas lagi dijalan ini! Ntar malem mas pulang!"


[Iya. Yo tunggu! Assalamualaikum]


Naura dan Kemal menjawab salam Lyora berbarengan. Hingga keduanya menghela nafas pun, bersamaan. Akhirnya tawa ceria lah yang mereka umbar seiring mobil telah masuk kearah perumahan mamanya Affan.



............


🎶


Selamat ulang tahun, kami ucapkan...


Selamat panjang umur, kita 'kan doakan....


Selamat sejahtera, sehat sentosa.....


Selamat panjang umur, dan bahagia.


🎶


Affan terkejut sekali ketika membuka pintu kamarnya yang diketuk mamanya.


Ya. Sore tadi mamanya menelponnya. Menyuruhnya pulang kerumah orangtuanya karena mama merasa agak kurang enak badan.

__ADS_1


Sebagai seorang anak tunggal, tentu saja Affan merasakan ketakutan luar biasa mendengar mamanya kurang sehat.


Affan tersenyum melihat mamanya segar bugar. Kekhawatirannya hilang seiring wajah sumringah mamanya menyambut kepulangannya kerumah.


"Jangan bilang mama kurang enak badan untuk buat Affan cemas, ma!"


"Habisnya kamu lama tak pulang-pulang kerumah ini! Mama khan kangen!"


"Hehehe.... Affan juga kangen, ma! Affan bersyukur mama dan papa sehat semuanya!"


"Iya. Papa sedang keluar sebentar! Nanti maghrib juga pulang!"


Affandi tersenyum haru. Melihat wajah mama, papa, juga ada Naura dan Kemal didepan pintu kamarnya.


Naura membawa kue tart dengan angka 32 diatasnya. Wajahnya bercahaya dengan senyuman menawan hatinya.


Meskipun karena effek cahaya api yang menyala diatas lilin angka, tetap saja wajah Naura baginya sangat sempurna.


"Make a wish dulu Fan! Doa apa sama Tuhan? Minta segera dapat jodoh!" celetuk Kemal membuat mama dan papanya Affan mengacungkan kedua ibu jari mereka sambil tertawa setuju.


Affan tersipu. Bola matanya melirik Naura seolah memberi isyarat.


Naura yang juga tertawa jadi grogi dan berusaha menghindar tatapan pria yang jemarinya ikut memegang bawah wadah kue tart yang dibawanya.


Otomatis jemari mereka saling bersentuhan. Ada getar-getar asmara yang tak bisa mereka hindari.


Naura sendiri ingin melepaskan tangan Affan, tapi takut kue yang dipegangnya terjatuh. Alhasil, jantungnya berdebar kencang karena tak bisa berbuat apa-apa selain merasakan sensasi getaran jemari Affan yang bagaikan setruman aliran listrik tingkat rendah.


Kedua matanya diam-diam menatap wajah tampan pria dihadapannya. Malu-malu Naura mengakui, ketampanan Affandi.


"Potong kuenya Fan, jangan dipegangin aja, napa!?"


Kemal memang benar-benar suka meledeknya. Padahal ini wilayah kekuasaan Affan. Tapi kenapa pria dewasa itu berani meledeknya. Bahkan kedua orangtuanya sendiri malah lebih nge-pro pada Kemal.


"Biasa mah, anak muda kalau baru mengenal cinta yang sesungguhnya itu ya begini! Malu-malu ta*i kucing!"


"Mas Kemal! Maafkan saudara Nau ya ma, pa! Bahasanya agak kasar!"


"Hahaha.... tenang Nau! Kami ini gak menilai Kemal kurang ajar koq! Biasalah anak muda!" jawab papa Affan dengan tawa lepasnya. Mama juga mengangguk mengiyakan.


"Soalnya mas Kemal ini bukan anak muda lagi, pa! Dia bahkan mungkin lebih tua usianya dari papa!"


"Ya. Aku sudah sepuh! Puas kamu, Fan!?!"


Semua tertawa melihat Kemal yang marah merajuk.


Naura sangat senang melihat orang-orang yang disayanginya ternyata bahagia.


Bibirnya tak lepas-lepas dari sunggingan. Matanya sesekali melirik curi-curi pandang pada Affan.


Apalagi setelah kado dasinya langsung dipakai Affandi di kerah leher kemejanya.

__ADS_1


Terlihat makin tampan dan keren penampilan pengacaranya yang baik hati itu.


...........BERSAMBUNG............


__ADS_2