RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Lamunan Affandi


__ADS_3

Makan malam bersama keluarga Affandi yang menyenangkan membuat Naura mendapatkan suntikan semangat untuk kekuatannya menjalani hidup kedepannya.


Malam itu, mereka nampak seperti keluarga yang begitu bahagia. Ada canda tawa, juga guyonan lucu diantara mereka.


Papa dan Mama Affandi pamit masuk kamar dipukul 9 malam. Mereka memang terbiasa tidur cepat. Tapi, mungkin juga mereka memang sengaja memberikan Affan dan Naura waktu untuk mengobrol bersama.


Karena sebelum adzan Isya, Kemal lebih dulu memberitahu kedua orangtua angkatnya itu kalau statusnya dengan Naura masih menggantung alias belum mendapat jawaban pasti dari wanita yang dibawanya itu.


"Gadis ini, .....klienmu, Fan?"


"Iya Ma!"


"Orang berpunya sepertinya. Sampai bisa menyewa pengacara untuk bisnisnya. Iya khan?" selidik Mamanya.


Affan menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Bukan, Ma! Naura justru tidak mampu membayar jasa Affan. Dia sedang terkena kasus. Dan Affan sedang berjuang membelanya agar Naura bisa bebas dari hukum yang menjeratnya."


"Ya Allah! Semoga gadis itu tabah menjalani hidupnya!"


"Untuk itu, Affan mohon... Mama Papa tidak menyelidiknya dengan berbagai pertanyaan. Affan khawatir Naura sedih, juga tidak nyaman bersama kita."


"Kamu.... Kamu benar-benar menyintainya!"


"Hehehe....! Affan sedang berusaha menarik perhatian juga hatinya. Dia perempuan sederhana yang baik. Sangat baik, Ma! Affan ingin sekali bisa menikahinya! Naura sangat berbeda dari perempuan lain diluar sana. Dia punya....'sesuatu' yang membuat Affan ingin bersamanya!"


"Naura manis, cantik. Juga sepertinya ga neko-neko ya orangnya!"


"Itulah, Ma! Dia itu....misterius! Agak susah kadang menebak dirinya. Tapi selama dua bulan Affan kenal Naura,... Naura semakin terlihat begitu indah dimata Affan!"


"Uhhuy....hahaha... Ya Allah ya Tuhaaaan!! Papaaa tingali iyeu si Affan kasepna Mama! Jatuh cinta papaaaa, hahaha...! Mama baru pertamakali denger anak kita jujur soal hatinya! Hahaha Alhamdulillaaah...!"


"Ish Mama mah!!! Jujur salah, gak jujur lebih salah!"


"Hahahaha....!"


Affandi senang, respon Mamanya begitu wellcome. Hanya Papanya yang lebih kalem, dan hanya senyum-senyum melihat putra kebanggaannya itu telah menunjukkan sisi kedewasaannya dalam hal cinta.


Papanya hanya mengangguk, seolah mengerti isi hatinya. Bahwa cinta sedang menjerat hatinya yang haus kasih sayang dari seorang wanita.


"Papa mendukung setiap langkahmu, Fan! Kamu sudah dewasa. Sudah mau 32 tahun. Papa yakin, setiap apapun itu pilihanmu,...pasti sudah kamu fikirkan dan pertimbangkan masak-masak!"


"Iya, Pa! Terima kasih banyak, Pa!"


...............


Naura duduk manis disofa ruang keluarga rumah Affandi.


Setelah tadi ikut membantu bi Tuti dan Mamanya Affan cuci piring serta bersih-bersih meja makan sehabis makan malam, Naura kini duduk bersebelahan dengan Affan saja.


Affan menatap wajahnya dengan lembut juga senyuman yang manis. Membuat Naura kembali gugup dan takut pada kelemahan hatinya.


__ADS_1


"Maaf ya.... Mama Papaku itu orangtua yang ramai. Hehehe.... Mereka itu pasangan yang sangat solid. Sampai-sampai aku begitu mengidolakan mereka dalam segala hal!"


"Hehehe....! Aku senang sekali bisa kenal Mama Papa mas Affan! Mereka berdua luar biasa. Benar-benar menginspirasi!"


"Iya khan? Hehehe... Seneng aku, ternyata kita punya pemikiran yang sama!"


"Mas Affan beruntung sekali. Memiliki orangtua seperti Mama dan Papa. Mereka sangat menyayangi mas Affan! Semoga mas Affan bisa membalas kasih sayang dan kebahagiaan pada Mama Papa!"


"Aamiin.... Aku selalu berdoa seperti itu. Melihat mereka bahagia adalah harapanku, Nau! Untuk itu,... hari ini kulihat Mama Papa lebih bahagia ketika bersama kamu."


"Tapi mereka belum tahu jati diriku, mas!"


"Aku akan memberitahu mereka secara perlahan, Naura!"


"Kenapa harus perlahan? Bukankah kejujuran itu lebih baik meskipun pahit daripada menutupinya terus dan terus?"


"Aku mengerti maksudmu! Tapi aku lebih kenal kedua orangtuaku. Aku faham sekali watak dan juga karakter Mama Papa! Mereka bukan orang yang suka menjudge orang lain secara tidak rasional apalagi frontal."


"Tapi sebagai orangtua, Mama Papa pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya!"


"Pastinya."


"Pasti ingin anaknya bahagia bersama orang yang tepat juga."


"Hehehe... orang yang tepat ya?!?"


"Iya. Yang sepadan yang bisa mendampingi anak tercintanya sepanjang hidupnya."


"Berarti.... Kamu menolakku, Naura?"


Hati Naura serasa terpukul palu. Sakit sekali rasanya mendengar pertanyaan Affandi.


Bagaimana tidak,... apakah cinta Affandi yang begitu indah, begitu menakjubkan.... benar-benar akan berlabuh pada dirinya yang seperti ini?


"Aku.... Aku ini narapidana, mas!"


"Kenapa memangnya?"


"Aku juga.... pembunuh suamiku!"


"Lalu?"


"M mas!?!..... Kamu ini Pengacara Muda. Masih muda, bujangan pula. Kamu bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih segala-galanya dari aku!"


"Kalau aku maunya kamu bagaimana?"


"Mas!"


"Apa aku salah jika mencintaimu? Apa aku berdosa jika ingin memilikimu?"


Naura menutup mulutnya. Ia kikuk karena Affan mendekat dan merapat duduknya hingga kedua paha mereka bersentuhan.


"Kamu hanya terobsesi saja! Kamu hanya punya rasa penasaran ingin menakhlukan hatiku. Setelah kamu dapatkan, kamu pasti akan pergi meninggalkanku. Iya khan?"

__ADS_1


Kini Affan yang terdiam menatap wajah Naura.


Tak sangka kalau Naura bisa mengucapkan kalimat seperti itu.


"Jadi aku seperti itu dipandanganmu?"


"Kamu belum pernah berumah tangga."


"Memang iya. Aku belum pernah mengucapkan janji suci didepan penghulu dan wali nikah!"


"Kamu belum tahu cinta dan bahtera rumah tangga itu berbeda."


"Iya kah? Dan apakah kamu sudah hatam mengetahuinya, Naura?"


"Maksud mas apa?"


"Hehehe.... Udah ah! Aku koq jadi kayak lagi didepan Hakim!"


Naura tersipu malu. Iya juga. Dirinya selalu menimpali setiap omongan Affan. Ingin terus dan terus menjawab juga bertanya. Jadi berimbas mereka seperti sedang debat disuatu persidangan.


"Naura mau kubikinkan minuman coklat ga?"


Naura berdiri sigap. Ia jadi tak enak hati pada Affandi.


"Biar Naura yang buat. Dimana mas aku bisa buatnya?"


"Yuk!"


Affan mendahului langkah Naura menuju meja dapur.


Pria itu mengambil dua cangkir berwarna putih lalu mengambil sesuatu diatas lemari kitchen set.


"Sini biar Naura yang buat!"


"Boleh!"


Affan dan Naura saling berpandangan. Hingga akhirnya senyum mereka berkembang.


"Seru ya, kalau mengerjakan sesuatu itu bersama-sama!" kata Affan setelah melihat Naura mengocek dua gelas coklat panas yang terlihat nikmat itu.


Ia memang yang mengucurkan air panasnya dari dispenser setelah Naura menaruh tiga sendok coklat bubuk dan tiga sendok creamer juga susu kental manis.


Kini Affandi sigap membawa dua cangkir panas itu kearah meja ruang tengah.


Kerjasama yang apik.


Ia membayangkan andai Naura bisa menjadi istrinya, dan ia ingin setiap malamnya seperti ini. Bekerja sama dalam segala hal bersama pasangan halalnya. Tentu sesuatu yang sangat menyenangkan.


Bercanda, mengobrol, bermesraan. Pastinya mengasyikan. Mungkin kadang keributan kecil itu perlu. Seperti salah faham atau kecemburuan yang menyeruak karena istri lebih akrab dengan tukang sayur keliling jika sedang rebut tawar belanja sayuran untuk dimasak hari itu.


Affan tersenyum-senyum sendiri mengkhayalkan.


"Mas?"

__ADS_1


"Hm? Ah... Hahahaha..., maaf aku melamun!"


.............BERSAMBUNG..............


__ADS_2