
"Apa mbak yakin, ibu Naura memiliki selingkuhan?"
"Saya tidak tahu juga, pak!"
"Mbak hati-hati kalau memberikan keterangan atau statement! Salah-salah bicara dan kasih informasi, mbak bisa terancam masuk penjara juga lho!" Affandi pura-pura mengancam.
Otomatis ART tetangga Naura itu menggigil ketakutan. Wajahnya seketika pucat pias.
"Ba bapak Polisi? Sa saya cuma bicara yang saya ketahui pak!" kilahnya gugup.
"Apa yang mbak ketahui?"
"Tapi saya, jangan bawa saya ke kantor Polisi ya pak! Saya tidak terlibat dalam kasus bu Naura! Sumpah pak!"
"Kalau mbak mau bercerita sejujurnya, saya jamin mbak akan aman. Tapi dengan catatan, cerita mbak bukan karangan dan bisa dimintai pertanggung-jawabannya.
Nah sekarang saya tanya, kenapa mbak bisa menuduh ibu Naura memiliki selingkuhan?"
"Saya pernah melihat pria yang datang beberapa kali menemui ibu Naura, pak!"
"Apa tidak salah nuduh? Bisa saja itu saudaranya bu Naura atau saudara suaminya!"
"Bukan. Saya pernah tanya pria itu, waktu dia pertama kali berkunjung. Bahkan pria itu menanyakan alamat rumah ibu Naura sama saya. Dan dia jawab, kalau dia adalah teman lama bu Naura."
"Teman jawabnya?"
"I iya. Tapi, setelah itu....saya sering lihat pria itu berkunjung kerumah bu Naura!"
__ADS_1
"Sering? Sesering apa? Tiap minggu? Atau bahkan tiap hari?"
"Maksud saya, ada beberapa kali saya lihat datang. Sekitar 5 kali lah!"
"Datangnya biasanya jam berapa?"
"Siang. Abis dzuhur, pak!"
"Apa pernah mbak lihat keduanya bermesraan? Atau agak aneh gitu obrolan atau candaan mereka?"
"Hmmm... kurang tahu pak! Cuma pernah sekali pria itu mau pulang, diantar bu Naura sampai pintu pagar."
"Berapa lama biasanya pria itu bertamu kerumah bu Naura?"
"Tidak sampai sore sih! Ya kemungkinan satu atau dua jam kurang!"
"Saya Narsih, pak! Tapi bapak janji ga akan libatkan saya khan pak ke kasusnya bu Naura?"
"Hehehe.... saya akan kemari lagi nanti, untuk bincang-bincang dengan mbak Narsih lagi!"
"Ah iya, pak!"
Mbak Narsih yang kini lebih rileks menyalami tangan Affandi yang izin pamit. Matanya hanya memandang Affandi hingga makin jauh dari penglihatannya.
Affandi masih menelusuri jalanan sekitar rumah Naura.
Kali ini tujuannya adalah warung sembako yang cukup besar yang letaknya tak jauh, ada diseberang jalan rumah Naura.
__ADS_1
Ia memesan segelas kopi hitam dan juga setengah bungkus rokok filter. Lalu menghenyakkan bok*ngnya dikursi kayu panjang yang terdapat diteras warung itu.
"Ibu kenal Naura?" tanyanya setelah si pemilik warung menyuguhkan kopi pesanannya.
"Naura yang membunuh suaminya itu, Mas?" tanyanya agak berbisik.
Affandi hanya mengangguk. Berusaha mengubah gestur tubuhnya agar tidak kentara sedang menginterogasi.
"Dia sudah dibawa polisi sejak kejadian itu! Hhh.... Kasihan sebenarnya saya mas! Disini ramai gosipnya Naura membunuh suaminya karena berselingkuh."
"Apa benar dia selingkuh?"
"Saya juga kurang tahu, mas! Tapi saya kurang percaya juga. Naura itu bukan perempuan yang seperti itu!
Saya cukup lama kenal dia. Bahkan sejak mereka baru pindah kerumah itu, sayalah tetangga pertama yang dikunjunginya.
Hehehe.... secara saya khan punya warung, mas!"
Affandi tersenyum menimpali ucapan ibu pemilik warung yang jenaka itu.
"Ga mungkin Naura membunuh Fendy demi untuk bisa menikah lagi dengan selingkuhannya. Sampai sekarang pun belum jelas kasusnya khan? Belum terbukti selingkuh dan siapa juga selingkuhannya! Katanya Naura mengakui membunuh sendiri suaminya, bahkan akan dituntut hukuman mati kabarnya."
Affandi hanya terpekur. Merenung seorang diri untuk membuka tabir kegelapan yang merundung kasus Naura.
Kini ia akan langsung meluncur ke kampung halaman Naura. Sekarang juga tentunya. Demi mendapatkan keterangan lain untuk membantu Naura dari masalah hukumnya.
...........BERSAMBUNG...........
__ADS_1