RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Kesepian Yang Menjerat Ayuni


__ADS_3

Mengapa cinta indah bisa begitu menyakitkan? Cinta yang datang tiba-tiba, tanpa tahu kapan dan juga apakah sudah pasti kita miliki. Semua hanya samar bayangan.


Seperti cinta Ismail pada Naura. Begitu besar dan kuatnya. Terpatri sejak lama. Sejak masih kanak-kanak.


Masih bersemayam bahkan semakin Ismail pupuk lagi agar tumbuh subur.


Sayangnya, masalahnya cinta kadang datang tidak pada tempatnya. Atau pada tempat yang salah lebih tepatnya.


Dan si korban jatuh cinta itu kadang lama sekali menyadari. Bahwa cinta yang sangat ia harapkan itu bukan untuknya.


Kalaupun ada yang cepat sadar, tapi selalu mengatasnamakan CINTA hingga tidak menggunakan AKAL LOGIKA.


Semua karena cinta.


Semua demi cinta.


Bahkan melakukan perjanjian dengan setanpun dibabat demi untuk mendapatkan cinta yang memang sudah Tuhan gariskan bukan untuknya.


Nyatanya, apakah CINTA yang dengan PAKSAAN itu akan mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan untuknya?


Jawabannya, hanya Tuhan sajalah Yang Maha Tahu dan Maha Membolak-balikkan hati manusia.


Juga Ayuni. Yang sebenarnya bukan kesalahannya 100% juga mencintai Kemal secara perlahan.


Cinta memang buta.


Cinta tidak bermata.


Apakah cinta sejati itu ada? Semua insan makhluk hidup didunia ini mencari yang namanya CINTA SEJATI. Hingga lupa, bahwa cinta Tuhan-lah Yang Sejati.


"Kemal....! Apa yang harus Mbak lakukan melihat bapak seperti ini terus?"


Kemal menarik kursi yang ada disamping ranjang bapaknya. Menghela nafas panjang saja.


Matanya menatap penuh ke arah Datuk Irhamsyah. Tak dihiraukannya Ayuni yang menangis sesegukan disampingnya.


Kemal kini membuka Kitab Al-Qur'annya. Perlahan membaca ayat demi ayat surat Ar-Rahmaan.


Berdoa dalam hati untuk yang terbaik yang Tuhan tentukan pada bapaknya.

__ADS_1


Ayuni turun dari ranjang. Menggelosor dilantai, masih dengan tangisan memilukan namun volume suaranya lebih diperkecil.


Kini yang terdengar hanyalah lantunan ayat-ayat suci dari bibir Kemal.


Hujan diluar masih betah mengucur. Meski tak lagi sederas tadi, tapi suara gemericiknya masih terdengar jelas dari dalam rumah Ayuni.


Satu surat selesai, Kemal melanjutkannya lagi membaca surat Yasin. Suaranya semakin cepat seiring semakin lancar bacaannya karena sering mengaji surat itu.


Datuk terlihat menggeliat. Lalu agak tersengal-sengal nafasnya. Membuat Kemal menghentikan bacaannya dan mengusapkan wajah Datuk dengan air putih yang ada digelas samping mejanya.


"Bapak, istighfar pak! Sebut nama Allah, minta pertolongannya pak!"


Datuk kembali terlihat tenang. Seperti orang yang tertidur pulas. Suara ngoroknya terdengar jelas.


Kemal kembali melanjutkan bacaannya. Hingga selesai dan ia menutup Kitab Suci itu lalu mencium sampulnya.


Ayuni terlihat tergeletak dilantai. Kemal memandanginya dengan tatapan iba. Tak tega juga ia pada nasib dan kehidupan ibu tirinya itu.


Diluar sana, wanita seumuran Ayuni terlihat masih segar dan gagah wara-wiri dengan pakaian trendy juga dandanan masa kini.


Umur 39 belum terlalu tua. Apalagi dimasa sekarang.


Ayuni cantik. Meskipun tidak lagi seindah masa mudanya dulu. Walaupun tak sesegar masa remajanya yang lalu.


Tapi bila dia merubah pemikiran dan juga dirinya dengan fikiran-fikiran sehat juga positif, pasti inner beautynya akan kembali terpancar.


Apalagi jika Ayuni memperbesar lagi tubuhnya yang kurus menjadi lebih padat berisi, pasti akan tampil menawan lagi.


Bukankah semakin matang usia seseorang, akan semakin cantik dan juga menarik kepribadiannya?


Kemal menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha membuang semua fikirannya tentang ibu tirinya itu.


Sejujurnya Kemal hanya kasihan saja pada Ayuni. Kemal tidak jatuh cinta meskipun Ayuni lebih cantik dari Naura.


Kecocokan itu tidak ia dapatkan dari Ayuni. Meskipun pernah ia seharian menemani Ayuni dan Lyora pergi jalan-jalan sewaktu dulu. Kemal tak merasakan adanya chemistry saat dirinya berbincang dengan Ayuni.


Mungkin karena Lyora lah ia bertahan menuruti ajakan dan keinginan ibu tirinya itu. Juga rasa sayang sebagai seorang saudara dan anak meskipun sekedar anak tiri, membuatnya selalu ada untuk menjadi tiang penyangga bagi mereka berdua.


"Mbak, mbak Yun! Bangun mbak! Pindah ke atas ranjang. Jangan tidur dilantai, dingin! Nanti masuk angin!"

__ADS_1


Ayuni tak bergeming. Tidurnya terlihat pulas.


"Mbak! Mbak Ayuni! Mbak, bangun mbak!" Kemal mengguncang-guncangkan bahu Ayuni pelan.


Ayuni masih tak bangun juga.


Kemal hanya menarik nafasnya, panjang.


Tangannya dengan sigap menarik satu tungkai lengan Ayuni, dan perlahan mengangkat tubuh mungil ibu tirinya itu.


Sangat ringan bagi Kemal.


Ia lalu menaruh Ayuni diatas ranjang lain yang tersedia dikamar bapaknya itu.


Ketika Kemal hendak bangkit, tiba-tiba jemari Ayuni menarik lengan atasnya sambil berbisik,


"Tolong peluk aku sebentar! Aku butuh dukungan dan juga support dalam menghadapi kenyataan ini!"


Kemal tersentak kaget. Tapi iba juga ia mendengar permintaan Ayuni yang memang telah begitu banyak mengorbankan dirinya.


Kemal merangkul bahu ibu tirinya. Mendekatkan tubuhnya sedikit condong ke Ayuni. Lalu kaget seketika karena Ayuni langsung menyergap tubuhnya dan memeluk erat hingga tubuh keduanya saling menempel.


"Mbak!?!"


"Maaf Kemal! Tolong biarkan aku begini sejenak! Hik hik hiks....!"


Kemal menahan nafasnya sebentar. Agak sedikit dilonggarkannya pelukan Ayuni. Perlahan ia bisa melepaskan diri dengan bangun dari tubuh Ayuni dan Ayuni juga duduk mengikutinya.


Ayuni merebahkan kepalanya didada bidang Kemal yang tak bisa berkutik.


Ayuni menangis lagi. Bahkan kali ini suaranya terdengar lebih merintih memilukan. Membuat Kemal diam tak berani berkata apa-apa. Hanya tangannya pelan menepuk-nepuk pundak ibu tirinya itu agar senantiasa sabar dengan semua cobaan hidupnya.


"Kemal?!"


"Ya? Tidurlah! Aku temani mbak disini!"


"Kemal! Bolehkah, bolehkah...... aku.... mencintaimu?"


............BERSAMBUNG.............

__ADS_1


__ADS_2