
Affandi akhirnya memberanikan diri merengkuh bahu Naura. Berusaha menyalurkan energi positifnya pada wanita yang sangat ia dambakan itu.
"Sudahlah, Nau! Jangan dipikirkan omongan ngawur perempuan itu! Lewat jalur hukum pun dia tetap tak kan bisa mendapatkan rumah ini!" tutur Affan memberinya kata penghiburan.
Naura masih menangis pilu. Down seketika dirinya mendapati perlakuan istri siri Fendy tadi.
Bagaimana tidak, ditusuk dengan kata-kata yang sangat tajam itu lebih menyakitkan daripada hunusan belati yang habis diasah sekalipun.
Nyeri rasanya, bagaikan ribuan sayatan sembilu menghujam tepat ke jantung.
Bahkan lebih pedih serasa ditusuk seribu jarum.
Naura lemah karena perkataan Tita yang tepat pada sasaran.
"Semua ucapan Tita benar. Tak salah sama sekali, mas! Hik hik hiks..."
"Tapi bukan berarti dia bisa menghancurkan hidupmu, Nau! Justru seharusnya kamu yang lebih berkuasa disini, bukan dia. Dia yang merebut suamimu, tapi kenapa dia yang marah seperti anjing yang terinjak ekornya!"
"Tita memang berhak memintanya dari aku!"
"Minta apa? Minta dilaporkan ke Polisi dengan pasal 335 ayat 1 perlakuan tidak menyenangkan dan pasal 284 KUHP merebut suami orang!"
"Hik hik hiks.... Dalam hal ini, akulah yang bersalah mas! Aku lalai. Aku membiarkan suamiku terjebak cintanya Tita. Karena memang suamiku juga butuh pelampiasan biologisnya yang masih normal. Dan itu wajar!"
"Wajar bagaimana? Wajar untuk menikah lagi tanpa izin dan sepengetahuan istri? Itu bisa dilaporkan ke pihak kepolisian setempat Naura!"
"Aku yang salah, mas! Bukan kak Fendy! Dan kamu tidak berhak menyalahkan tindakannya padaku. Justru seharusnya kamu sebagai seorang pengacara bisa menempatkan diri andaikan jadi dia itu bagaimana tindakanmu! Mungkin, akan lebih brutal!
Bahkan kemungkinan besar kau akan menceraikanku tanpa mengucapkan sepatah katapun! Atau mungkin mengusirku mentah-mentah dari rumah yang ia beli dari hasil keringatnya sendiri. Kak Fendy itu lelaki yang baik yang tidak pernah ingin menyakiti hatiku!"
"Masya Allah! Kata siapa keringat sendiri? Kamu juga ikut berjuang bukan? Kamu juga menempelkan uang gajimu yang tak sedikit dirumah ini. Kamu juga berjasa membuat dia menjadi pria yang sempurna! Dia punya rumah, kendaraan bermotor yang kini ditarik adik kandungnya dibawa ke kampungnya! Kau terlalu baik, Naura!"
Kesal Affan dibuat Naura. Betapa polos mendekati bodohnya wanita yang ia puja itu.
Entah terbuat dari apa hatinya yang bersih itu! Hingga justru ia menyalahkan dirinya sendiri yang lalai menjaga suami.
Naura tetap menangis. Kini tubuhnya bergeser membelakangi Affandi. Mungkin hatinya sedikit tersakiti akan kata-kata pengacaranya itu.
Affan hanya menghela nafasnya saja. Kemudian naik keatas kursi dan duduk dengan mata tetap kearah Naura.
Ia hanya diam mengamati.
Berusaha memahami Naura dengan menyederhanakan fikiran ruwetnya.
"Kita makan es krim yuk?"
Entah mengapa, kalimat itu meluncur dari bibir Affandi setelah agak lama ia biarkan Naura tenggelam dalam tangisannya.
Naura juga terlihat cukup tertarik. Karena matanya langsung menatap Affan meski tanpa suara.
"Kamu.... seperti Ismail jaman sekolah dulu. Tapi bukan es krim, es lilin!"
Affan termangu mendengar perkataan Naura. Ia tersenyum seraya mengulurkan tangan kuatnya untuk membantu Naura berdiri.
__ADS_1
Sayangnya, niat baiknya tak disambut Naura balik. Wanita itu berdiri sendiri tanpa bantuannya. Sedih terasa hatinya Affan yang hanya bisa menelan saliva.
Hhhhh.....
Hanya hembusan nafas kekecewaan yang bisa Affan ambil.
"Maaf mas, kalau aku terlalu sering mengecewakanmu! Secara tidak langsung, kamu pasti akan berfikir ulang untuk memintaku menjadi istrimu karena sifatku yang seperti ini!"
Deg.
Affan kini menyadari, kalau sebenarnya mungkin saja Naura bertingkah 'menyebalkan' ini berbuat begitu demi membuatnya illfeel.
Atau memang sifatnya yang terlalu santai dan baik sekali.
"Mas!"
"Ya?"
"Kenapa mas kembali lagi kemari? Bukannya tadi sudah pergi?"
"Entah kenapa, perasaanku tidak enak! Aku ingin kembali kerumah ini. Aku belum bilang, kalau besok kita harus ke Lapas pukul 10 tepat."
"Iya. Terimakasih banyak mas!"
"Kamu masih klienku Nau! Jadi aku masih harus berada disampingmu. Membantumu sampai ketuk palu Hakim nanti!"
"Terima kasih banyak!"
Affandi bukan pria yang belum pernah mengenal wanita. Beberapa kali sempat memadu kasih dengan seorang gadis.
Bahkan sempat menjalani hubungan serius hingga berani melakukan hubungan bad*n bersama salah seorang diantaranya.
Namun kenyataannya, ia masih belum berjodoh juga.
Banyak tipikal wanita yang ia pacari. Dari yang ambisius dalam segala hal, sampai dengan wanita pemalas yang hanya menadahkan tangan meminta apapun dari dirinya.
Untuk tipe seperti Naura, baru kali ini saja ia temui. Walaupun kenyataannya Naura belum ia miliki. Karena Naura belum menjawab pernyataan cintanya secara gamblang.
Krucuuuuuk....
Affan menatap wajah Naura yang merah padam karena malu dengan suara perutnya.
Aish... Menggemaskan sekali wanita ini! Wajahnya benar-benar merah hanya karena suara perut laparnya yang menggema! Sungguh perempuan yang luar biasa!
"Temani aku makan malam yuk?"
"Ti tidak, terimakasih! Saya, saya mau istirahat saja mas!"
"Ayo!!!"
Naura kikuk tapi tak menolak ketika jemarinya diraih Affan dan dituntun keluar rumah tanpa persiapan apa-apa.
Dan Affan tersenyum puas, karena akhirnya berhasil bertindak semaunya pada wanita yang memiliki harga diri teramat tinggi itu.
__ADS_1
Keduanya kini duduk manis disebuah resto sederhana tempat favorit Affan.
Suasananya juga cozy, dengan sekat-sekat yang cukup menjaga privasy sang pelanggan restoran.
Naura hanya memandangi sekeliling yang begitu apik meskipun dipenuhi lukisan didindingnya.
Naura sebenarnya seorang penikmat seni. Ia bisa menggambar dengan sangat baik. Ia sangat tertarik ingin belajar melukis sejak dulu.
Sayang, semua niatnya hanya tersimpan dalam hati setelah beberapa kali sowan ke toko buku dan melihat harga canvas dan cat minyak sangatlah mahal bagi ukuran dirinya.
Affan membiarkan Naura asyik menikmati setiap figura lukisan didinding ruangan restoran.
"Keren-keren ya lukisannya?" tanya Affan akhirnya penasaran pada jawaban Naura.
"Iya. Sangat detail sekali! Ini pasti dilukis dengan perasaan yang penuh. Karena setiap lekukan kuasnya begitu berwarna. Kadang tajam, kadang samar!"
"Wah!... Kamu seorang komentator yang hebat Nau!"
"Hehehe... mas Affan bikin aku malu!"
Affan terpukau mendengar suara tawa kecil dari bibir Naura. Begitu manisnya terdengar ditelinganya.
Bahkan sampai matanya enggan berkedip menikmati ciptaan Tuhan Yang Dahsyat dihadapannya itu.
Seorang waitress datang dengan buku pesanan ditangannya.
"Saya ingin menu makan malam yang lengkap. 'Menu Masakan Mertua' ya mbak!"
"Baik pak! Mohon ditunggu ya pak, permisi!"
Naura memperhatikan Affan.
"Mas sering kesini ya?"
"Iya. Bersama Papa Mama!"
"Oh!"
Affan tersenyum manis. Ia membayangkan kedua orangtuanya. Berharap suatu saat bisa kemari bersama mereka dan Naura yang sudah menjadi 'istri'nya.
"Hhhh......!"
"Kenapa mas? Pasti capek ya, bekerja menjadi pengacara?"
"Ya, kadang seperti itulah Nau! Waktu kerja kami tak tentu. Kadang seperti seorang pengangguran. Nongkrong kesana kemari. Mengamati, menyelidiki. Kadang, sehari semalam kami harus berkutat didepan komputer dengan laporan-laporan yang kami kumpulkan!"
"Hhh.... Semoga semua kliennya orang yang baik dan bisa diajak kerjasama ya!? Tidak seperti aku, lebih banyak menyusahkannya ketimbang...."
"Sstttt...!!!"
Naura tertegun. Jemari telunjuk Affan tepat menyentuh bibir mungilnya yang berwarna merah jambu tanpa pemoles bibir itu.
.............BERSAMBUNG............
__ADS_1