
"Jodohmu adalah cerminan dirimu"
Begitu kata pepatah kuno. Benarkah? Entah... Tapi dalam hal ini, percaya Tuhan telah menjodohkan satu sama lain dengan adanya kecocokan masing-masing.
Seperti Affandi dan Naura, keduanya kini sedang bahagia.
Membangun biduk rumah tangga, berlayar dilautan mengarungi bahtera. Berharap semoga gelombang dan riaknya tak sampai besar dan menerjang mahligainya.
Mereka berusaha saling mengerti. Saling memberi yang terbaik satu sama lain tanpa meminta imbalan.
Karena hakekatnya, siapa yang 'memberi' pasti juga akan 'menerima'. Itu sudah jadi hukum alam.
Siapa bilang setelah menikah, maka semua itu akan menjadi happy ending tanpa kita cari si happy itu.
Banyak sekali hal-hal yang mengejutkan diawal pernikahan tentunya.
Seperti Naura yang shock, ternyata Affan adalah pria yang sangat cinta olahraga.
Suka sekali nge-gym. Affan bisa seminggu tiga kali pergi ketempat kebugaran itu. Tentu saja dengan mengajak Naura serta.
Berbeda dengan Naura.
Bagi Naura, melakukan aktifitas rumah tangga seperti menyapu, mengepel lantai dan bebenah rumah sudah dianggapnya olahraga.
"Ayo, Nau.... semangat, semangat!"
"Maaas,.... aku males maaas! Kita dirumah saja ya?"
"Come on, baby! Kita harus rajin olahraga. Biar fit terus, juga cepat dikasih momongan! Hehehe...!"
"Jujur aku suka dirumah saja, mas! Ketimbang ditempat fitnessmu itu! Banyak mata memperhatikan kita!"
"Siapa? Siapa yang berani macam-macam sama istriku tercinta? Bilang...! Bilang Nau! Biar kucolok itu matanya yang jelalatan!"
"Ish, maaas! Bukan begitu juga. Lebih baik kita olahraga dirumah saja! Ya? Ya sayang?"
"Olahraga dirumah?... Hm...mauuuu!"
"Hahaha, dasar, omes!"
"Apaan tuh omes? Omesh, Ananda Omesh? apa....Omeswati?"
"Omaswati...bukan Omeswati mas, hahaha...!"
"Hahahaha....!"
Begitulah.
Dalam rumah tangga selalu ada perdebatan-perdebatan kecil yang akan membuat kita tersenyum malu. Kadang mangkel jengkel, kadang tertawa ceria.
"Nau,... sini! Duduk dipunggungku! Kira-kira apa aku masih bisa push up dengan membawa beban dipunggungku gak ya?" kata Affan pada Naura sehabis gym sendirian dengan alat bantu olahraga dirumah mereka.
__ADS_1
"Ya ampuuun, mas! Jadi aku ini kau anggap beban?"
"Bukan begitu sayang, jangan salfah! Maksudku aku push up dengan kamu duduk dipunggungku kira-kira masih sanggup apa tidak. Secara usiaku sudah tidak muda lagi, Nau!"
"Hehehe....! Kamu masih muda mas! Masih sanggup melakukan sehari tiga kali itu pertanda masih kuat jiwa raga."
"Tolong perjelas istriku sayang, melalukan sehari tiga kali itu melakukan apa?"
"Aaaah... jangan memancing mas! Hahaha.... Emoooh! Ish, ish.... malu didengar ibuk lho! Hihihi..."
"Ayo perjelas, yang! Apa itu? Dalam sidang pengadilan semua itu harus jelas lho!"
"Iya, iya... Tapi aku khan bukan terdakwa yang ada diruang sidang!"
"Stttt!!!! Jangan ngomong itu! Tak boleh!"
Affan mendekap bibir istrinya rapat. Lalu mengganti jemarinya dengan lum*tan bibirnya yang mampu mendebarkan jiwa Naura.
"Mandi dulu, mas! Tubuhmu basah penuh keringat!"
"Mandiin dong!"
"Idiiih, koq pak pengacara sekarang kolokan banget kayak bayi?"
"Sebelum kita beneran punya bayi, tak ada salahnya dong berlagak jadi bayi. Hehehe....! Habis mau manja sama Mama, gak bisa Nau! Mereka malahan lagi asyik berduaan di pantai Kuta! Hhh...!"
"Iya betul, Nau! Mereka adalah panutanku. Dalam segala hal. Mama dan Papa adalah idolaku setelah nabi Muhammad tentunya!"
Naura tersenyum mengangguk. Memberikan dua jempolnya kepada suaminya tercinta.
Hatinya berdoa, semoga rumah tangganya kali ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Bisa bertahan sampai kakek nenek, seperti mama dan papa mertuanya.
Bahkan harapannya, hingga maut yang memisahkan mereka nanti. Aamiin.
............
Kemal menghilang selama 7 hari. HP nya pun seperti sulit dihubungi.
Entah karena signal yang kurang bagus dikampung Kemal, entah memang pria tampan itu hanyalah PHP in Witha. Begitu pikir hatinya Witha.
Sejak masih remaja, Witha memang tak terlalu menyukai cowok-cowok tampan.
Ya seperti inilah. Khawatir mereka hanya tebar pesona saja. Setelah itu menghilang entah kemana bak ditelan bumi.
Istilah lainnya yang lagi booming saat ini adalah meng-ghosting.
Witha kadung kecewa dengan janji palsu Kemal. Apalagi Kemal benar-benar hilang dari peredaran.
Ini sudah pukul 8 malam. Dirinya juga sudah pulang kerumah orangtuanya setelah seharian bekerja ditoko bunga milik keluarga Affandi Rajata.
Mama Papanya sedang asyik diruang keluarga. Menonton televisi dengan keempat adik-adiknya. Itu sudah rutinitas sehari-hari keluarganya.
__ADS_1
Hanya Witha yang jarang ikut nimbrung karena malas selalu dibahas mereka soal kejombloannya.
Ditanya kapan nikah? Itu tentu saja pertanyaan tersusah saat ini yang paling ia benci.
Bagaimana tidak,... ditanya 'kapan nikah', sedang ia sendiri tak tahu jawabannya.
Hanya Tuhan yang Maha Tahu.
Lalu, harus dijawab apalagi.... Witha tak mau jawabannya menjadi awal kedurhakaannya pada orangtua.
Witha faham, orangtua mana yang tak stres memikirkan jodoh anak gadisnya yang tak kunjung datang.
Usia 34 tahun bukanlah usia yang bisa ia sikapi dengan santai karena belum juga mendapatkan pasangan diusia segitu.
Teman-teman sepantarannya sudah menikah semuanya. Bahkan ada yang sudah memiliki 4 anak.
Ada yang telah memiliki putra putri yang sudah beranjak remaja.
Sedangkan dia,....
Hhhh.... Witha hanya bisa menghela nafas saja.
Kepasrahannya pada Allah Ta'ala sudah berada dititik nadir. Bukan tak mencari, tapi memang jodoh belum menghampiri. Mau berkata apalagi.... Hanya diam seribu bahasa jika pihak keluarga sudah menggebu-gebu ingin segera menikahkan dirinya.
Dijodohkan sana-sini, dikenalkan sama si ini sama si itu. Semua telah Witha lakukan dan Witha turuti. Tapi nyatanya, hingga saat ini masih belum ada yang nyantol dihati.
Mau bagaimana lagi!?!
Makanya Witha lebih memilih kamar sebagai tempat ternyaman baginya.
Meskipun ukurannya hanyalah 4x4 meter saja. Walaupun ruangan kamarnya agak sedikit pengap karena flavonnya yang rendah.
Baginya tak mengapa.
Daripada harus dicecar papa mamanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah bosan ia dengar dan ujung-ujungnya bullyan adik-adiknya yang meledeknya.
Seperti biasa, novel-novel online menjadi temannya berbagi cerita. Ia suka sekali membaca.
Banyak cerita novel yang kadang bisa membuatnya menangis jika menyelaminya masuk kedalam alurnya yang menariknya pada sebuah penderitaan.
Kadang mampu membuatnya tertawa jika sang penulisnya bisa melawak dengan gayanya menceritakan isi tulisannya yang jenaka dan ceria.
Witha mendengar suara tawa cekikikan mamanya beserta adik-adiknya.
Mungkin seru tontonan yang mereka lihat ditelevisi! begitu fikirnya.
Hingga ia keluar kamar karena kerongkongannya yang kering kehausan dan membuatnya ingin mengambil segelas air putih untuk dibawa ke kamar.
Tapi, ketika ia membuka pintu kamarnya yang langsung keruang tengah keluarga,... ia melihat sesosok pria yang tak asing lagi dimatanya.
"Mas Kemal???? Sedang apa disini?"
.............BERSAMBUNG..............
__ADS_1