
Bertemu Lyora sudah. Kini saatnya mencari Tita.
Affandi sudah menginvestigasi beberapa orang teman dekat Fendy dipabrik keramik tempatnya bekerja. Dan juga beberapa teman kerja Kemal, PT Material tempat Tita bekerja.
Kata mereka, Tita sudah resign 4 bulan lalu.
Mmmmh...!! Kemungkinan Tita berhenti karena hamil dan dilarang Fendy juga. Mungkin! fikir Affandi.
Dan ada sebuah alamat yang berhasil dia dapat dari teman sekantor Tita. Sebuah kontrakan cukup besar dibilangan Selatan Ibukota.
Nampak seorang gadis berdaster corak bunga-bunga besar berwarna merah muda.
"Mbak Tita ya?"
Gadis itu terkejut. Ia mengangguk mengiyakan. Wajahnya terlihat agak pias. Perutnya belum terlalu buncit. Atau memang karena badannya yang mungil sehingga kehamilan 6 bulannya tak terlalu kentara.
Usianya sekitar 25-26 tahun, memang manis. Tapi bagi Affandi Naura lebih manis dan cantik dibanding istri kedua Fendy itu.
"Boleh saya berbincang-bincang sebentar?"
"Maaf, mas dari mana ya? Ada keperluan apa dengan saya?" tanyanya terlihat nervous.
"Saya dari pihak Kejaksaan Kota, bermaksud menanyakan perihal almarhum mas Fendy Martin, korban pembunuhan mbak Naura istrinya."
"Saya, saya tidak tahu apa-apa! Sebaiknya mas tanyai mbak Naura dan keluarganya. Saya tidak ada sangkutan dengan mereka."
Jawabannya yang terbata-bata justru membuat Affandi semakin semangat untuk mengobrol dengan perempuan ini.
"Jangan takut, mbak! Saya cuma mau ngobrol sebentar sama mbak. Boleh ya?"
Tita terlihat menelan saliva. Mengangguk pelan dengan kegugupan tingkat sedang. Jemarinya saling meremas. Seolah menanti pertanyaan yang dikiranya akan begitu sulit dan bisa menariknya kedalam pusaran kasus terbunuhnya 'suami' nya.
"Mbak Tita, sudah menikah berapa lama dengan almarhum Fendy Martin?"
Pertanyaan Affandi, langsung mengarah kearah jantungnya. Tita membulatkan bola matanya.
"Sa su mmm...sudah setahun lebih, mas! Mas tahu dari siapa, kalau kami....sudah menikah?" tanyanya gemetar.
"Dari tersangka sendiri. Mbak Naura Salsabila."
__ADS_1
"Jadi,.... mbak Naur udah.....udah tau....kalau,"
"Iya."
Affandi tersenyum tipis segaris. Tapi tetap saja wajahnya terlihat manis.
"Saya, saya tidak bermaksud merebut....mas Fendy dari mbak Naur! Tapi.... tiba-tiba cinta datang tanpa bisa saya duga dan hindari," tutur Tita dengan wajah menunduk.
Airmatanya jatuh perlahan. Menetes dipipinya yang mulus. Dan tangan kirinya mengusap-usap perutnya yang terlihat besar.
"Mbak Tita sedang hamil? Berapa bulan?"
"Baru mau 7 bulan."
"Kalian menikah setahun lebih, apa Naura pernah mendatangi kalian? Atau Naura kenal Tita secara pribadi?"
"Tidak, mas! Saya sama sekali tak mengenal mbak Naur. Bahkan belum pernah ketemu! Saya pikir, mbak Naur belum tahu hubungan kami sampai saat ini!"
"Dia tahu, Tita! Bahkan dia juga tahu kalau kamu sedang mengandung anak dari suami sahnya!"
Deg.
"Saya sendiri sekarang bingung mas,....! Mas Fendy sudah tidak ada. Sedang perut saya semakin membesar! Saya juga tidak bisa mencairkan dana kematian mas Fendy karena hanyalah istri siri. Saya tidak punya uang sama sekali untuk biaya persalinan! Saya faham, mbak Naura terluka hatinya karena mas Fendy mendua! Tapi kenapa harus membunuhnya? Kenapa? Justru akhirnya mbak Naura yang dipenjara, dan saya juga...terlunta-lunta!"
Affandi diam mematung.
Tak sangka wanita muda dihadapannya ini berkata demikian. Ternyata Tita menyimpan kekesalan mendalam pada Naura. Padahal, dialah seharusnya yang ditunjuk Naura sebagai istri muda dan menjadi 'biang' semuanya ini.
Lagi-lagi Affan hanya bisa menghela nafas. Wanita bila sudah 'merasa benar', kesalahannya pun yang begitu besar dikelopak mata tak nampak rupanya. Gajah dipelupuk mata tak nampak, semut disebrang lautan tampak.
Tita menyusut airmatanya. Affandi cuek sedikit sebal. Biasanya ia akan menyodorkan pocket tissue dikantong jas seminya pada siapapun yang menjadi narasumber investigasinya ketika mereka menangis dan merebak airmatanya.
Tapi pada Tita, ternyata ada pengecualian. Entah. Apakah ia terlalu 'main rasa' dalam menangani kasusnya kali ini? Atau memang, ia sedikit berharap clientnya bisa menjadi seseorang baginya dimasa depan?
Affandi tersenyum kecut. Mengingat kata-kata Kemal tempo hari, yang menyudutkannya dan membuka matanya kalau orangtuanya susah payah menyekolahkannya hingga menjadi seorang Sarjana Hukum, dan ternyata jodohnya adalah seorang janda, mantan narapidana pula.
Hhhh.... Ia hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa pening.
Affandi teringat pada Papa dan Mama angkatnya. Ya. Dia adalah anak panti asuhan yang diadopsi ketika umurnya 4 tahun oleh pasutri yang tidak memiliki anak.
__ADS_1
Meskipun 'anak angkat', tapi Papa dan Mamanya memberinya banyak cinta serta kasih sayang. Affandi bahkan nyaris lupa, kalau dia adalah anak adopsi saja statusnya.
Karena kedua orangtuanya telah melimpahkan semuanya termasuk pendidikan yang tinggi.
Bahkan harta pun masih mereka beri pada Affan meskipun sudah tinggal pisah dengan mereka karena lokasi kantornya yang cukup jauh letaknya.
Seperti tadi pagi, sebelum ia melipir menuju kontrakan Tita....
Sang Mama menjaprinya, "Sayang, sore pulang kerumah ya? Mama Papa kangen😍Mama sudah buatkan abon ayam kesukaan Affan😘"
Pesan yang manis dari sang Mama. Affandi selalu tersenyum setiap membaca pesan dan chattan wanita berusia 54 tahun yang paling dicintainya itu.
Affandi kembali tersadar. Ia sedang mengorek informasi pada Tita, istri sirinya korban.
"Bagaimana Fendy bisa meyakinkan Tita untuk mau menikah dengannya? Sedangkan dia sudah memiliki istri? Apa dengan iming-iming harta atau uang?"
"Saya.... saya menyukainya. Kami sering bertemu setiap hari senin. Mas Fendy pasti mendatangi kantor karena dia bagian penagihan dipabrik tempatnya kerja! Dari obrolan-obrolan ringan, sampai berakhir guyonan. Saya merasa..... kami ada chemistry! Dia juga sering curhat tentang istrinya yang....mmmm......tidak mau melayaninya!"
"Hehehe.... Itulah! Kenapa pria atau wanita yang sudah menikah dilarang curhat-curhatan soal rumah tangga kepada teman lawan jenis, ya seperti ini!!" kata-kata Affandi membuat Tita merah padam wajahnya.
"Mbak meresponnya?"
"Saya.....saya kasihan sama mas Fendy! Saya.....jatuh cinta karena kebaikannya setiap saat pada saya! Mas Fendy bukan pria yang mudah mengumbar kata rayuan! Apalagi pada gadis-gadis! Dia itu teguh koq pendiriannya!"
Hmmmm..... Satu lagi betina yang memuja Fendy Martin dan terhipnotis sampai bilang pria itu baik dan bukan pria hidung belang! Salah wanita atau salah si prianya sih ini?
Affandi mendengus. Karena pada dasarnya semua pria sama saja. Termasuk dirinya. Suka pada perempuan-perempuan cantik, manis dan molek tubuhnya.
Berkhayal dan berhalusinasi bercinta dengan dahsyatnya. Meski dikehidupan nyata, tak semua pria punya keberanian mengukuhkan dirinya 'Don Yuan'.
Bahkan kadang, mereka menutupi kehebatan berangan-angannya dengan dalih 'cinta' dan 'setia' pada pasangan. Tapi dibelakang, masih sering bolak-balik kepoin foto mantan. Atau bahkan yang lebih ekstrim lagi. (Tahu sendirilah! Tehnologi canggih, lewat hape. Browsing-browsing link terlarang)
Dan para pria menyukai sensasi itu. Alasannya, untuk 'meningkatkan' rasa kasih dan sayang pada pasangan.
(Maaf, para wanita juga kadang sama juga✌😅. Malahan mungkin lebih pintar wanita 😂😍😘)
Hai pembaca yang baik hati, pemurah dan tidak sombong🤗mohon dukungannya please🙏like, komen, dan votenya please😊supaya author semangat dalam menghalunya😁🙏😍😘💕
Terima kasih buat semua support dan dukungannya🙏🙏🙏Tuhan Yang Maha Esa yang akan membalas kebaikan kalian😍😘💕
__ADS_1
..........BERSAMBUNG...........