
Naura membuat bingung Affandi. Satu sisi dia bilang, dia membunuh Fendy karena memang ingin membunuh. Tapi sisi lainnya berkata, ia ingin 'melepaskan' Fendy hingga bahagia bersama wanita lain yang kini hadir diantara mereka.
"Naura!"
"Biarlah aku dihukum sesuai aturan yang selayaknya! Aku tidak ingin membebani kakak dan juga ibuku lagi. Biarlah, aku ikhlas ridho menjalani nasib ini! Terima kasih, pak Pengacara!"
Naura bangkit dari duduknya. Menyiratkan kalau ia mempersilahkan Affandi untuk segera pergi meninggalkannya sendirian.
"Naura! Aku akan selalu ada kapanpun kamu butuh! Aku bisa jadi teman curhatmu. Aku bisa jadi tempatmu berkeluh kesah dari beratnya beban dipundakmu, Naura!"
"Aku tidak punya beban kini! Kak Fendy telah tiada. Aku juga telah lega, mas! Ibuku juga sudah aman tak perlu ku khawatirkan karena mbak Ayuni pasti akan mengurus beliau!"
"Kamu harus segera bebas, itu yang ibumu inginkan! Kamu menjalani hukuman yang ringan, itu doa dan harapan beliau! Tidakkah kamu ingin membahagiakan orangtuamu yang tinggal seorang kini? Kasihan ibumu, Naura! Beliau butuh anak-anaknya disisinya, merawatnya dihari tuanya! Bangkitlah, semangatlah! Jangan lakukan hal-hal yang justru akan membuat kedua orangtuamu bersedih! Apalagi nekat hendak bunuh diri. Jangan pernah berfikir pendek seperti orang yang tak punya iman, Naura!
Ada aku,....aku akan membelamu! Percayakan padaku!"
Naura kembali menangis.
__ADS_1
Antara sedih, senang juga bingung. Bercampur semua rasa dihati dan jiwanya yang kalut.
Kalut antara takut pada kenyataan hukuman berat didepan mata. Tapi juga takut kalau-kalau sang pengacaranya yang tampan rupawan mampu menyingkap tabir gelap rahasianya dibalik jeruji penjara selama ini.
Tidak. Affandi tidak boleh mengetahui kalau mbak Ayuni lah yang telah menikam suaminya sebanyak 8 kali. Dan sisanya satu tikaman kematian adalah baru dari tangan kanannya.
Affandi tidak boleh mendapatkan kebenaran itu. Semakin ia selidiki, semakin takut Naura akan terbongkarnya rahasia itu.
Biarlah, ia yang bertanggung jawab sepenuhnya. Bahkan kemarin siang mbaknya datang mengunjunginya. Kembali menekannya untuk tetap berkomitmen pada janjinya mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan seorang diri.
Karena jika Ayuni sampai terlibat juga, dia takut ibuknya juga terlantar. Belum lagi mbaknya itu juga memiliki suami yang sedang dalam kondisi sakit stroke. Juga seorang putri cantiknya, Lyora yang sedang tumbuh remaja.
Hingga akal sehatnya menerima dirinya menjadi 'korban' terdakwa pembunuhan Fendy Martin, suaminya.
Tok tok tok.....
Seorang sipir wanita mengetuk pintu ruangan tempat Naura dirawat dibilik pengobatan LAPAS.
__ADS_1
"Permisi, pak pengacara....jadwal kunjungan sudah limit! Mohon pengertiannya!" katanya tegas agak jutek.
"Aku pulang dulu, ya Naura! Kemungkinan besok atau lusa aku datang lagi. Kumohon, percayalah padaku! Aku akan membantumu sekuat tenaga untuk mengurangi masa hukumanmu! Bahkan kalau perlu, aku ingin kamu bebas hukuman!"
Affandi pergi setelsh mengucapkan kata pamit. Sementara Naura sendiri kembali dibawa ke sel tahanannya.
Kelima temannya menatapnya lembut. Mereka lalu memeluk tubuh Naura bergiliran satu persatu.
"Semangatlah nona Tangguh! Kamu wanita yang kuat dan hebat! Kami semua mendukungmu! Kamu tidak sendirian disini!"
Nona Rambut Mie memberikan kalimat penghiburan pada Naura.
Ya. Sejak kejadian terakhir ia meng-KO nya dengan telak, wanita berumur sekitar 40 tahunan itu berubah 180 derajat.
Ia dan pasukannya seolah lupa pada kejadian itu. Kini mereka berbaik-baik pada Naura. Bahkan tak jarang mereka membawakan Naura makanan kecil serta jajanan ringan, yang sengaja mereka beli dikantin penjara.
Naura senang dengan perubahan itu. Setidaknya, ia bisa merasa aman untuk jangka waktu yang lama. Selama ia menjadi penghuni hotel prodeo ini.
__ADS_1
Hhhhh.....
...........BERSAMBUNG...........