RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Siapa Tersangka Sebenarnya Itu.....


__ADS_3

Ayuni tersentak kaget. Dia tiada makaud melakukan itu pada adiknya. Hanya mencoba menakut-nakutinya saja. Tapi..... Kenapa tiba-tiba Fendy yang baru datang langsung maju kearahnya, sehingga pisau itu dengan mudahnya menancap di dada kiri suami adiknya itu.


"Ya Allah!!!!" pekiknya takut. Ayuni mundur kebelakang masih memegang pisau itu.


Naura langsung memeluk tubuh suaminya dengan deraian airmata.


"Kakaaaak!"


"Ayuni, tega kamu hendak membunuh adikmu sendiri!"


Fendy masih berdiri tegak masih segar seperti biasa. Hanya tangan kanannya yang memegangi dadanya yang terluka.


"Aku...ak aku tidak bermaksud seperti itu! Sumpah!!! Ini kesalahfahaman! Ayo, ayo kita kerumah sakit, Naura! Bawa suamimu!"


"Aku akan menelpon polisi dulu! Setidaknya, aku baru puas kalau kau masuk penjara!" kata Fendy bagaikan petir didengar Ayuni.


"Jangan!!!!" teriaknya.


Fendy lalu berjalan kearah ruang dapur, entah apa yang dicarinya. Yang pasti Ayuni mengikuti langkah suami adiknya itu dengan tergesa-gesa pula.


Dan....


Jleb. Jleb. Jleb.


Tiga kali tusukan Ayuni persis ditempat yang sama, didada kiri Fendy membuat Naura menjerit histeris.


Sore pukul 4.28 di hari Rabu itu menjadi hari yang bersejarah kelam bagi Naura.


"Kamu beneran ingin aku mati, Ayuni?"


Fendy masih terlihat tegak berdiri meskipun 4 kali Ayuni menghujamkan pucuk pisau dapur milik adiknya itu.


"A aku.... aku tidak mau masuk penjara! Kamu hanya salah faham Fendy! Seharusnya kita kerumah sakit, bukan berdebat seperti ini!!!!"


Ayuni juga kalap histeris. Sama seperti Naura yang gemetar menangis keras melihat tubuh bagian atas suaminya bersimbah darah semakin banyak.

__ADS_1


Fendy mengambil handphone disaku celananya. Seperti hendak menelpon seseorang. Dan....lagi-lagi,....


Jleb. Jleb. Jleb. Jleb


Kali ini empat lagi tusukan pisau dapur yang Ayuni hunuskan sambil berteriak semakin lepas kontrol.


"Mbaaaak!!!! Ya Allah ya Tuhaaaan!!!!"


Pisau itu dilemparkan Ayuni hingga nyaris terkena pelipis Naura juga.


Naura mengambilnya. Membuat Ayuni menutup mulutnya. Tak tahu lagi akan seperti apa tindakan adiknya itu padanya. Akankah Naura membalasnya dengan menusuk balik tubuhnya, atau....


"Kakak, maafkan aku!!!!!"


Jleb.


Fendy langsung jatuh terjelembab kelantai dengan tubuh terlentang. Matanya melotot kearah Naura yang hiteris menangis sesegukan.


"Naura!!!! Kamu....."


Naura memeluk tubuh suaminya.


"Aku juga....minta.....maaf, Naura!!.... A a aku....te lah..men du a kanmu! Ak ku....telah menik kah lag gi!"


Fendy melotot merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya berguncang beberapa kali, dan.......


Naura menangis disamping suaminya yang baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kakak! Kakak, maafkan aku!!!! Maaf, aku telah membunuhmu!"


"Naura...Naura!!! Fendy, Fendy sudah meninggal? Terus... bagaimana, ini??"


Ayuni mendekati adiknya.


Naura lalu mengangkat tubuh kakaknya.

__ADS_1


"Pergilah! Cepat! Pergi, mbak!" Ia menyuruh Ayuni segera angkat kaki.


Ayuni menggeleng pelan. Dengan wajah pucat pias ketakutan. Ia benar-benar tidak menyangka akan terjadi peristiwa tragis ini. Digigitnya kuat-kuat bibir bawahnya. Tangannya dingin dan basah karena gugup yang luar biasa.


"Pergi kubilang!!! Aku akan mempertanggungjawabkan ini semua! Dan kau tidak akan mendapatkan hukuman apa-apa!"


"Naura! Cimplung adikku! Aku minta maaf! Aku ga bermaksud seperti ini! Aku hanya menakutimu saja, seperti dulu ketika kita kecil dan main polisi-polisian!"


"Aku tahu. Aku kenal kamu mbak! Pergilah! Jangan buka suara tentang apapun. Pergi dan lupakan kejadian ini! Pergi sebelum orang tahu kalau kak Fendy telah menjadi mayat!"


"Naura....."


"Pergi! Cepat!!!!"


Ayuni melesat pergi. Dia benar-benar ketakutan. Dan sore itu begitu tenangnya kompleks perumahan sekitar rumah Fendy dan Naura. Hingga tiada seorangpun saksi yang mengetahui adanya sesosok tubuh kurus tinggi baru saja melakukan tindakan kriminal pada adik iparnya sendiri.


Naura segera bangkit mengambil pisau dapur tadi.


Ia mencuci gagangnya berkali-kali di wastafel. Berusaha menghilangkan jejak sidik jari kakaknya. Lalu kembali ketubuh Fendy dan menorehkan lagi sedikit kedada suaminya yang telah menjadi mayat.


Naura sengaja menekan tangannya kegagang pisau. Sehingga jejaknya benar-benar terjiplak disana.


Setelah itu, ia lalu menaruhnya diatas meja dapur dengan berlumur darah segar milik Fendy.


"Kakak..... Semoga kakak tenang dialam sana! Aku akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanku! Aku mencintaimu dan memaafkanmu meskipun aku sudah tahu kalau kau telah 'menduakan'ku!"


Naura melantunkan ayat Kursi dengan bibir bergetar. Ia ingin mengantarkan suaminya ketempat peristirahatan suaminya agar tenang dan damai.


Ia akan menutupi semuanya demi nama baik kakaknya. Karena Naura tahu sekali, begitu besar pengorbanannya Ayuni untuk dirinya dan juga ibuk bapaknya.


Biarlah, ia yang pasang badan menanggung semua hukuman ini. Ia rela dipenjara. Bahkan ikhlas meskipun hukuman mati menanti.


Itu saja fikirnya saat ini.


...........BERSAMBUNG............

__ADS_1


__ADS_2