
Maaas! Mas Affandiiiiii.....!!!"
Affandi kaget, dibelakangnya seorang gadis tengah berlari sambil berteriak memanggil namanya.
Lyora. Putrinya mbak Ayuni, kakaknya Naura.
"Maaas....tungguuuu...!!!"
Affandi yang jengah mendengar teriakan Lyora padahal jarak diantara mereka hanya beberapa meter saja. Segera mengangkat jari telunjuknya kearah bibirnya agar Lyora diam tak berteriak.
Tapi gadis belasan itu justru tertawa manja sambil berlari menghambur kepelukannya.
Sontak Affandi melonjak kaget, lalu mundur beberapa langkah.
"Mas dari kota ya? Naik apa kesini? Pasti bawa kendaraan sendiri. Iya khan? Lyora ikut ya? Pleaseeee....!!!"
Affandi menatap wajah gadis ingusan dihadapannya itu. Cantik sebenarnya.
Tak perlu berdandan dengan menor dan bedak tebalpun sebenarnya Naura sudah sangat cantik. Malah justru aneh melihat gadis usia 15 tahun itu berdandan terlalu berlebihan.
"Mas!"
"Iya, adik! Maaf.... saya tidak bisa membawa adik ikut serta. Maaf ya?!?"
"Ish, mas nih! Aku bisa turun koq di terminal Kampung Rambutan. Karena dari situ aku bisa naik kendaraan umum untuk kerumah kami di Perumahan XXX."
"Rumah kamu? Artinya kalian punya rumah juga dikota?" tanya Affandi pura-pura santai.
"Iya lah! Papaku itu orang terpandang dikampung ini. Beliau itu banyak uangnya! Sudah pasti mampu membeli rumah bagus juga dikota Jakarta!"
"Memang Lyora rumahnya dimana? DiJakarta Pusatkah? Atau Jakarta Timur? Soalnya perumahan XXX ada dikedua wilayah itu." Tanya Affandi lagi. Kali ini sedikit lebih manis, guna mengorek keterangan lebih lanjut.
"Jakarta Timur!"
"Dekat rumah tante Naura?"
"Mmmmmh..... Tak terlalu dekat sih! Kalau bibi Naura rumahnya sekitar beberapa kilometer lagi dari perumahan aku!"
"Lyora berarti sering kerumah bibi Naura?"
"Cu cuma......mmmmmh.... baru satu kali! Ah sudahlah! Mas mau ajak Lyora ikut tidak?"
"Lyora tanya dulu mamanya! Nanti kalau belum dapat izin, mas disangka bawa kabur Lyora!"
"Hhhh.... Terlalu ribet! Jangan kuatir mas! Aku khan sering bolak-balik Jakarta-Cilacap. Jadi mas ga perlu seheboh itu juga!"
"Memang rumah yang di Jakarta ditempati siapa?"
__ADS_1
"Mas Kemal!"
"Mas Kemal itu siapa?"
"Mas ku lah! Anak pertama papa!"
Affandi memicingkan matanya. Berusaha menyelidik Lyora tentang ucapannya.
"Mas yang menempati rumah di Jakarta. Sebenarnya itu rumah mas Kemal dari almarhumah ibunya. Mamaku khan istri papa yang ke..... mmmm.... berapa ya? Lupa. Hehehe...! Maklumlah, bapakku doyan kawin mas!"
Affandi tersenyum tipis. Menanggapi candaan Lyora yang sebenarnya kurang sopan itu. Tapi, Affan faham bahasa gaulnya para remaja. Yang sangat cuek ketika mencandai aib keluarganya sendiri.
"Jadi ga nih, aku ikut mas?"
"Alamat lengkap rumahnya dimana Lyora?"
"Di perumahan XXX kapling Diamond nomor 79, mas! Masa' mas ga tahu perumahan itu? Khan bisa ikuti petunjuk goggle map?"
"Maaf Lyora! Mas tak bisa bawa kamu! Rumah mas di Jakarta Selatan. Jauh dari tempat Lyora dan ini mas harus pulang ke Cirebon dulu, karena masih ada kerjaan!"
Affandi sengaja berputar-putar mencari alasan. Berbohong pastinya.
Yang penting, ia sudah menemukan clue baru. Alamat rumah Datuk Irhamsyah di Jakarta. Ini adalah satu petunjuk yang sangat bagus untuk penyelidikannya.
"Jadi sekarang mas bukannya mau ke Jakarta?"
Lyora terlihat kesal dengan perkataan Affandi. Ia sudah mengkhayalkan duduk manis menemani perjalanan pulang pria tampan yang mapan disampingnya itu ke Jakarta.
Entah kenapa memang. Lyora lebih menyukai pria-pria yang usia dewasa. Tampan dan mapan, adalah idamannya. Padahal usianya masih 15 tahun.
Biasanya remaja usia Lyora lebih menyukai cowok-cowok tanggung yang keren dan manis dibanding pria dewasa seumuran Affandi. Tspi berbeda dengan Lyora.
Affandi pulang ke Jakarta setelah melipir sebentar ke masjid dipinggir jalan raya untuk menunaikan sholat Maghribnya.
Dengan fikiran yang bermacam-macam, ia masih perlu banyak melakukan investigasi lagi dalam menangani kasus Naura.
...............
Brak!!!
Naura kaget sekali ketika nona Rambut Mie tiba-tiba menggebrak lantai keramik tak jauh dari kepalanya.
Tidurnya yang baru seperempat jam terganggu akibat ulah teman se-selnya yang agak sentimen itu.
Rupanya ia telah selesai melakukan tugas hariannya sebagai seorang koki didapur umum tahanan.
Disini memang ada jadwal piket untuk masing-masing membantu dapur umum. Seperti halnya sekolah. Ada jadwal setiap minggunya.
Naura kembali membalikkan tubuhnya kearah tembok. Tak bergeming dan tak mengindahkan nona Rambut Mie. Ia masa bodoh, tak ingin cari ribut.
__ADS_1
"Pelac*r tetaplah seorang pelac*r! Tidak punya malu dan tidak tahu diri! Disindir, dihina sekalipun tetap masa bodoh!"
Naura mendengarkan perkataan nona Rambut Mie dengan seksama. Semakin lama semakin tajam lidah si rambut mie baginya.
Ternyata memang tak boleh ia diamkan saja. Padahal kemarin kemarin nona itu sempat mendapatkan pukulan telak dari Naura. Tapi tetap saja wanita itu seperti sengaja memancing emosinya.
"Nona! Siapa yang kau maksud pelac*r?" Naura bangkit dan bertanya pada Warni, nama asli nona rambut mie.
"Yang merasa saja!"
"Aku tidak merasa!"
"Ya kalau tidak merasa, ya jangan tersinggung!"
"Tapi diruangan ini saat ini hanya ada kau dan aku!"
"Hohoho.... kau tersinggung kah?"
"Tentu. Karena kamu sejak kemarin selalu berkata seperti itu seolah sedang menyindirku!"
"Pelac*r rupanya tersindir!"
Plak.
Naura lepas kontrol. Ditamparnya nona rambut palsu dengan tenaga supernya. Dan akhirnya terjadilah perkelahian hebat diantara keduanya. Mereka bergumul hebat dilantai. Saling pukul dan jambak rambut. Juga saling teriak keras membuat kegaduhan.
Apesnya lagi disaat seperti itu kepala sipir datang dengan ketiga teman se-sel lainnya. Langsung melerai dan memisahkan keduanya.
Nona Rambut Mie terluka cukup parah. Wajahnya habis kena cakaran Naura. Juga tubuhnya, tak luput dari gebogan bogem mentah dirinya.
Sedang Naura terluka dibibirnya saja. Luka sobek kena kuku nona rambut mie. Walaupun rambut panjangnya sempat menjadi mainan tarik sang lawan.
"Kalian ini.... Bisa-bisanya bikin keonaran ketika yang lain sibuk mengabdikan diri berbuat kebaikan!!!!!"
Kepala sipir wanita itu lalu membawa Naura keluar dari ruangan itu dengan kasar.
"Kamu!!! Penghuni baru yang masih dalam penyelidikan berani-beraninya ribut mengganggu penghuni lama! Kamu harus mendapatkan hukuman!!!"
Naura hanya menatap wajah-wajah para rekannya dengan tatapan sinis nan apatis. Sedang mereka tersenyum menyeringai. Seolah merasa menang.
Malam itu Naura harus tidur diatas WC duduk didalam kamar mandi kusam berukuran 2x2 meter, diruangan lain. Aroma-aroma bau pembuangan membuatnya mual dan sempat muntah beberapa kali.
Ternyata beginilah hidup dipenjara jika memang tak bisa beradaptasi seperti dirinya dalam pergaulan.
Dulu Naura pernah menonton film layar lebar soal suka duka hidup dipenjara. Tak disangka kini ia harus merasakan sendiri semua itu dengan nyata dan bukan mimpi.
Airmata kesedihan kembali menguasai jiwanya yang makin merapuh.
...........BERSAMBUNG............
__ADS_1