
Naura muda hanya ternganga melihat Fendy yang berdiri didepan rolling door toko tempatnya bekerja.
Untungnya pemuda tampan itu datang disaat malam. Karena jika siang hari, ia tak kan bisa meladeni. Sebab kesibukannya melayani para pembeli melebihi kesibukan para bisnis woman dikantor.
Fendy benar-benar menyambanginya malam hari itu juga.
Hanya selang 2 jam dari percakapan mereka ditelepon milik Mirna. Fendy mendatangi Naura malam itu juga.
"Kakak?!?"
"Hai Naura! Apa kabar?"
"Ba baik. Tapi,.... koq tiba-tiba kak Fendy datang tanpa bilang-bilang!"
"Hehehe.... Mau bilang bagaimana? Naura khan tidak punya hape!" kata Fendy seraya memamerkan senyum manisnya.
Seketika dua bola mata Naura bagaikan menangkap cahaya warna-warni dari senyuman indah itu. Ia terpesona pada keindahan gigi putih milik Fendy yang begitu sempurna dimatanya.
"Ini. Untukmu!"
"A apa ini?"
"Bukalah!"
Naura gugup membuka bungkusan yang Fendy sodorkan padanya. Sebuah kotak. Isinya,.... handphone SAMS*NG A20.
Matanya langsung tertuju pada Fendy. Menatap seolah tak mengerti apa maksudnya.
"Untuk Naura. Maaf, bukan hape baru!Tapi itu masih berfungsi buat sekedar menelpon dan mengirim SMS. What'App juga bisa. Sudah saya beri kartu SIM nya juga! Jadi Naura tinggal pakai!"
Naura terkejut, mendengar suara nada dering dari handphone yang dipegangnya.
"Hehehe.... itu nomor saya! Sudah di save!"
Ternyata Fendy sendiri yang mengetesnya dengan menekan nomor kontak Naura hingga hape yang Naura pegang langsung berdering.
Alangkah bahagia hatinya. Mendapatkan perhatian dari seorang lelaki tampan nan baik hatinya. Gadis mana yang tak kan meleleh diperlakukan secara spesial oleh seorang pemuda.
Naura bagaikan terbang ke nirwana. Hatinya amatlah senang.
Fendy menjadi dewa penolong setelah malam itu hingga malam-malam selanjutnya.
Keduanya perlahan semakin dekat dan semakin intim hubungan pertemanannya. Terlebih ketika pasar tempat toko makanan Naura bekerja terkena musibah kebakaran. Dan boss pemilik toko memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halamannya di Pontianak.
Naura yang bingung hendak pergi kemana, kembali dibantu Fendy. Dengan meminjami Naura sejumlah uang dan membantunya mencari kostan baru.
Alhamdulillah ternyata justru dekat dengan kostannya juga. Dan yang lebih melegakan hati Naura, disekitar kostannya ada toko pakaian dan aksesoris yang sedang membuka lowongan karena karyawan lamanya berhenti karena akan menikah.
__ADS_1
Sudah tentu menjadi suatu keberkahan bagi Naura. Hingga ia akhirnya bisa kembali bekerja dan melanjutkan hidupnya dengan hati tenang dan tenteram.
Sepertinya Allah memang memudahkan jalannya dan Fendy untuk bersama.
Sejak saat itu, mereka semakin dekat. Bahkan.... cinta tumbuh subur dihati mereka meski tanpa adanya kata-kata cinta yang terucap.
Hingga suatu ketika, seorang tetangga Naura dikampung mengenalinya dan menyambangi kostannya memberitahukan kalau Bapaknya sakit keras sudah cukup lama.
Bahkan katanya Bapak sudah tiga bulan terbaring lemah. Makan dan minum serta mandi dikasur.
Naura shock mendengarnya. Meski hati kecilnya membenci bapaknya yang lemah iman karena harta, yang pada akhirnya tega memberikan anak-anaknya sebagai jaminan. Toh tetap saja, ia adalah darah dagingnya Bapak. Tak kan pernah berubah.
Naura menangis berhari-hari. Dilanda kegalauan yang teramat parah. Harus pulang atau terpaksa menahan keinginannya untuk pulang ke kampung menengok Bapak.
Ia khawatir. Jika pulang nanti bertemu lagi Datuk Irhamsyah, suami mbaknya yang begitu geragas padanya.
Tapi ia juga cemas. Takut menjadi anak durhaka yang tidak berbakti bahkan disaat bapak sedang sakit. Ia juga tak ingin menyesal dikemudian hari.
Hingga akhirnya wajah murungnya beberapa hari diperhatikan Fendy disetiap pertemuan mereka di pukul 8 malam.
"Pulanglah, Nau! Bapakmu pasti kangen sama kamu!" tutur Fendy saat itu setelah mendengar cerita penuturan Naura.
"Aku takut, Kak!"
"Jangan berfikir yang buruk-buruk dulu. Bapak sakit. Mudah-mudahan menantunya itu berubah sifat dan perangainya! Kita tidak boleh men-judge seseorang terus menjadi jahat, Naura! Kadang orang baik bisa jadi jahat, dan orang jahat pun tak selamanya jahat bukan?"
Naura hanya menghela nafas. Teringat kembali pada masa suramnya yang nyaris dinikah paksa oleh Datuk Irhamsyah.
"Kakak mau ikut kekampungku?"
"Kalau Nau izinkan."
Bahagia hati Naura. Fendy benar-benar ikut mendampinginya pulang ke kampung halaman.
Usia menjelang 21 tahun, setelah pelariannya yang hampir 3 tahun.... Naura pulang kerumah dengan membawa seorang pria tampan disampingnya.
Sudah pasti membuat kedua orangtuanya memiliki fikiran buruk. Berfikir Naura telah menjadi 'perempuan nakal'. Bergaul dengan sembarang orang, dan kumpul kebo bersama tanpa adanya ikatan sah suami istri.
"Naura! Menikahlah, Nak! Menikahlah sebelum bapak meninggal dunia."
Bagaikan mendengar suara petir menggelegar disiang hari buta. Bapak mengatakan hal demikian.
Sebulan lagi usianya 21 tahun. Sejujurnya Naura bahagia sedang merasakan masa mudanya yang kini indah. Hidup dikota, punya pekerjaan, juga teman pria yang baik hati dan selalu melindunginya walaupun tak berstatus pacaran.
"Ba bapak?"
"Menikahlah kalian! Jangan hidup terus-terusan seperti itu! Dosa, Nak!"
__ADS_1
"Kami.... kami....," Naura kaget ketika tangan Fendy menarik jemarinya. Memberi kode agar tidak melanjutkan ucapannya pada bapak.
"Saya telepon keluarga saya dulu, pak!"
"Memang nak Fendy berasal dari kampung mana?"
"Saya dari Ogan Ilir pak!"
"Dimana itu?"
"Indralaya, Palembang."
"Apa keluarga kamu belum kenal anak saya?"
"Saya sudah tiga tahun tak pulang kampung, pak! Tapi keluarga saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan."
"Lalu bagaimana dengan Naura, anak saya?"
"Saya akan menikahi Naura, seperti permintaan Bapak!"
"Nikahi putri saya besok! Mumpung saya masih bisa menjadi walinya. Biarlah nikah siri dulu! Yang penting saya tenang, jika malaikat Izroil datang memanggil!"
Naura tercekat. Ada perasaan malu bercampur haru ketika Fendy mengangguk tanda setuju.
Dan pria gagah itu benar-benar menuruti perintah bapaknya dikeesokan harinya.
Entah bagaimana caranya, setelah pamit siang itu... Fendy kembali dikeesokan hari dengan beberapa orang mungkin kerabat ataupun sahabatnya. Membawa beberapa seserahan alakadarnya seperti seperangkat alat sholat dan juga sebuah cincin sebagai mas kawin.
Bagaikan mimpi rasanya. Siang itu pukul 10 Fendy mengucap janji suci dihadapan penghulu desa dan bapak sebagai wali.
Sementara dibelakang terlihat Ismail berurai airmata. Menyaksikan gadis pujaan hatinya, teman semasa kecil hingga remaja yang selalu ada bersamanya melakukan ijab kabul dengan orang lain. Bukan dengan dirinya.
Naura resmi secara agama, menjadi iatri dari Fendy Martin. Usia mereka ternyata hanya terpaut satu tahun saja. Dan baru hari itu Naura tahu kalau umurnya dan umur Fendy tidak terlalu jauh jedanya.
Nikah secara mendadak dan tanpa persiapan membuat semua orang dikampung kaget dengan pernikahan Naura. Termasuk mbaknya sendiri, Ayuni Kartika.
Dia dan Datuk suaminya, kini tak bisa apa-apa. Hanya mendengar kabar dari mulut kemulut para tetangga.
Bapak sebenarnya sengaja melakukan itu, demi kebahagiaan Naura. Karena jika Datuk tahu, anak bungsunya itu telah pulang kerumah pastilah menantunya itu akan kembali mengejar-ngejar Naura. Melakukan tindakan apapun meskipun jahat, demi bisa mempersunting putri bungsunya.
Tak mikir ia kalau kakaknya sendiri telah ia miliki sejak lama. Tapi tetap bersikukuh ingin menikahi adiknya juga.
Meski itu termasuk aib, tapi karena Datuk orang terpandang dan berpunya, semua orang dikampung tak berani bicara apalagi menegurnya.
Semua bahkan bak penjilat yang berlomba-lomba mengambil hatinya demi sedikit laba. Entah bagaimana fikiran orang-orang kampung ini bagi Naura.
Ataukah memang kemiskinan mampu membuat orang yang lugu pun bisa berbuat nista demi sejumput uang dan kebahagiaan.
__ADS_1
Hhhhh.......
............BERSAMBUNG............