RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA

RAHASIA NAURA DIBALIK JERUJI PENJARA
Semua Bergelut Dengan Diri Masing-Masing


__ADS_3

Affandi hanya termangu mendengarkan kabar berita sedih dari Kemal tentang Naura dipukul 8 pagi.


Perihal bunuh dirinya Ayuni dirumahnya dikampung semalam cukup membuatnya shock juga.


Apalagi, ia dan Naura sudah merencanakan skenario kedua agar Naura bisa diperingan hukumannya tanpa harus 'menyentuh' Ayuni masuk ke jalur hukum.


Tapi,... ternyata Takdir Tuhan berbeda untuk Ayuni. Affandi hanya bisa melamun sendiri.


Tapi Kemal memberinya kabar, agar segera mendatangi kampung kelahirannya. Karena ternyata, kasus kematian Ayuni menjadi berkesinambungan dengan kasus Naura.


Polisi pihak setempat sampai menghubungi Polisi wilayah Jakarta yang sedang mengurus kasusnya Naura.


Tentu saja semua itu berkat dari surat wasiat yang Ayuni tulis sebelum menggantung dirinya dikusen pintu kamar Datuk Irhamsyah.


Surat itu bisa dijadikan bukti kuat atas pengakuan Ayuni soal kematian Fendy yang sampai saat ini kasusnya masih gantung dan belum sidang.


Affandi segera bergegas meluncur ke TKP. Ini sangat penting guna melengkapi berkas-berkas kasus kliennya.


Sebagai kuasa hukum Naura, ia merasa sangat berkepentingan untuk menyelusuri semua fakta yang ada tentang Ayuni.


Hingga tanpa sadar, Affandi lupa memberitahukan kabar penting ini pada Naura.


............


Kemal menangis sesegukan dihadapan Affandi. Seorang aparat kepolisian juga hadir diantara mereka sebagai pembawa surat wasiat dari Ayuni yang begitu besar pengaruhnya untuk perkembangan kasus Naura.


Naura sampai saat ini masih belum diberitahu perihal 'bunuh diri' nya Ayuni.


Baik Kemal, juga Affandi, masih menunggu waktu yang tepat untuk mengabarkan kabar sedih itu pada adik kandungnya Ayuni itu.


Mereka masih terus mengusut dan berusaha mengkaitkan keputusan Ayuni bunuh diri adalah karena beban batinnya yang kelewat berat yang ditanggungnya akibat perbuatannya menusuk dada Fendy Martin.


Sementara Naura di sel tahanan, seperti biasa. Hanya lesehan diruangannya. Sendirian di siang hingga sore menjelang.


Angannya melayang keseluruh masa lalunya. Entah memang kontak batin yang begitu kuat pada Ayuni kakaknya, hari ini Naura seperti lemas sekali tanpa tenaga.


Padahal cuaca diluar tidak begitu panas, juga tidak dingin. Tapi Naura merasakan hawa dingin serta panas disekujur tubuhnya. Bukan meriang. Karena Naura sehat wal'afiat.


Naura seperti merasakan berat disekujur tubuhnya. Juga pening kepalanya, hingga sedikit agak mual rasanya.



Ia mencoba bersenandung karena entah tiba-tiba rasanya ingin menyanyi. Naura teringat lagu yang dulu sering ia nyanyikan bersama Ayuni ketika ia masih tinggal menumpang dirumah besar kakaknya itu.


Bahkan lagu itu masih sering mereka nyanyikan jika kebetulan mereka berdua pulang berbarengan kerumah orangtuanya.


Meskipun Ayuni jarang sekali menginap jika kerumah ibuk bapak, tapi dari siang hingga sore itu mereka memiliki quality time yang cukup bagus sampai mengobrol, bernyanyi dan bercanda bersama.


Kucoba ungkap tabir ini


Kisah antara kau dan aku


Terpisahkan oleh ruang dan waktu


Menyudutkanmu meninggalkanku


Kumerasa telah kehilangan


Cintamu yang tlah lama hilang


Kau pergi jauh karena salahku


Yang tak pernah menganggap kamu ada


Asmara mengisahkan kita


Mengingatkanku pada dirimu


Gelora mengingatkanku

__ADS_1


Bahwa cintamu tlah merasuk jantungku


Reff.


Sejujurnya (sejujurnya)


Kutak bisa (kutak bisa)


Hidup tanpa ada kamu aku gila (aku gila)


Seandainya (seandainya)


Kamu bisa (kamu bisa)


Mengulang kembali lagi cinta kita (cinta kita)


Takkan kusia-siakan kamu lagi


Naura meleleh airmatanya. Teringat kembali masa-masa senangnya jika bersama kakaknya itu.


Mereka sering sekali bersahut-sahutan bernyanyi lagunya Firman Idol yang judulnya 'Kehilangan'. Lagu yang mendayu-dayu. Tapi kadang mereka suka jadikan guyonan.


Saling rangkul sambil tertawa terbahak-bahak bersama. Sampai kadang-kadang bapak yang baru pulang dari ladang memarahi mereka karena suara tawa mereka menggema hingga terdengar kedepan jalan raya.


Mbak Ayuni. Aku mengerti sekali kesakitanmu menahan cinta. Aku faham sekali, rasanya menderita karena cinta.


Aku sendiri....., merasakan manisnya cinta hanya 3-4 tahun saja. Tapi aku tak berani menceritakan kesedihan hatiku padamu, Mbak!


Karena aku hanya ingin menceritakan yang indah-indah saja padamu. Aku tidak ingin menceritakan kegundahan hatiku karena cinta yang terbagi. Itu saja.


Hhhh........


Naura merasakan tubuhnya menggigil setelah itu. Hawa dingin merasuk kedalam sumsum tulangnya bahkan sampai sanubarinya.


Entah kenapa. Tiba-tiba perutnya begitu sakit sekali.


Naura menegangkan tubuhnya yang terbaring dilantai. Berusaha mengendurkan otot-otot perutnya yang sakit seperti ditarik-tarik sel-sel syarafnya.


Naura tersentak kaget. Bagaikan kran air yang diputar dibuka dengan fullnya.


Ia merasakan 'sesuatu' keluar deras dari alat vitalnya. Begitu deras dan tak tertahankan.


Naura pucat pasi. Ini bukan menstruasi. Hati kecilnya kembali bergumam. Ini seperti kejadian disaat-saat setiap kali dulu Fendy dan ia ingin berhubungan intim.


Naura menjerit keras meminta pertolongan sipir.


Darah segar membanjiri celana panjang hitamnya hingga basah bahkan sampai kelantai.


"Toloooong...! Toloooong!!!!"


Tak lama kemudian seorang sipir wanita datang dan terkejut melihatnya penuh bermandikan darah segar.


Sipir itu kembali berlari bermaksud memanggil teman sipir yang lainnya.


"Terdakwa Naura sepertinya melakukan tindakan bundir lagi!!!!" teriak salah satu dari sipir perempuan yang datang bersama 2 temannya.


"Hadeeeh, kau ini Naura! Menyusahkan sekali hidupmu!" gerutunya setelah membukakan pintu sel tahanan Naura.


"Harusnya biarkan saja nyawanya melayang! Tak perlulah kita tolong!" kata yang lainnya.


"Saya tidak berniat bunuh diri! Saya pendarahan mbak!" Naura berusaha menerangkan perihal darah yang membanjiri tubuh dan juga lantai sel ruangannya.


"Uhuk.... Ya ampun! Darahnya makin deras! Ini...ini dari selangkanganmu? Naura?"


"I iya."


Mereka kaget melihat darah terus mengucur dari bagian tengah tubuh Naura. Bahkan salah seorang dari mereka mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya tak percaya.


"Kamu bisa jalan sendiri ke klinik? Atau... apa perlu kita tandu?"

__ADS_1


Seseorang dari mereka berjalan cepat keluar mengambil tandu.


"Saya bisa jalan. Tapi,.... ini.... terus mengalir deras!" ucap Naura. Berusaha mengempit kedua belah pahanya agar sedikit tersumbat aliran darah yang terus menerus keluar dari alat vitalnya itu.


Tandu datang, ketiga sipir itu langsung membawa Naura keruang perawatan.


"Ini pendarahan serius! Harus segera dibawa ke rumah sakit! Kalau tidak, terdakwa ini bisa kehabisan darah!" Dokter jaga di ruang perawatan terkejut melihat kondisi Naura.


"Kamu tidak mengkonsumsi apa-apa khan?"


"Tidak dok! Saya hanya makan pagi saja tadi."


"Tapi kamu kuat juga ya? Tidak sampai pingsan!"


"Tapi....sebenarnya saya dulu sering mengalami pendarahan seperti ini, Dok!"


"Iyakah? Kenapa bisa seperti ini? Apa kata dokter spesialis?"


"Dokter bilang tidak ada apa-apa dirahim saya. Juga sudah beberapa kali USG pun, semuanya bersih. Tidak ada benjolan juga!"


Dokter terlihat serius sekali wajahnya. Ia masih menunggu sambungan teleponnya diangkat pihak ambulance yang akan membawa Naura ke Rumah Sakit besar.


Selang beberapa puluh menit kemudian, Naura pun dibawa ke RSKL Rumah Sakit Khusus Lapas.


Ia segera ditangani diruang IGD dengan tindakan transfusi darah langsung.


Sementara ditempat yang berbeda, Ismail telah selesaikan puasa ni'isnya. Ia mendawamkan jampi-jampi jangjawokan yang pernah diberikan Mbah Kliwon padanya.


Ismail telah mendengar kabar kematian Ayuni yang telah mengakui dirinyalah yang telah membunuh Fendy, suami Naura.


Ia menduga, Naura akan segera terbebas dari sel tahanan secepatnya. Bila Affandi Sang Pengacara itu bisa mengurus dan melepaskan Naura dari jerat hukuman penjara.


Untuk itu Ismail begitu bersemangat 'membuka' pintu-pintu kiriman ghaib mbah Kliwon pada Naura beberapa tahun yang lalu, sehingga ia bisa mendapatkan Naura seperti keinginannya.


Semalam ia sudah mentalak istrinya, Solihati. Bahkan Ismail menyuruh wanita polos itu untuk kembali pulang kerumah orangtuanya di kampung seberang tanpa membawa kedua putrinya.


Ismail sudah bertekad ingin bercerai dari Solihati. Lalu menikahi Naura dan hidup bahagia mengurus Naura-Naura darah dagingnya.


Otak cerdasnya menjadi tumpul karena cinta. Cinta yang membuatnya GILA dan GELAP MATA.


"Hik hik hiks.... Apa salahku mas? Kenapa kamu menceraikanku tanpa sebab? Apa kesalahanku? Hik hik hiks.... Bahkan kamu juga menyuruhku pergi tanpa membawa putri-putriku sendiri!?! Teganya kamu mas! Putri-putri kita masih kecil-kecil!"


Ismail tak tolih. Tak pedulikan rintihan istrinya yang mempertanyakan kenapa ia ditalak cerai.


"Surat cerai akan aku kirimkan segera kerumah orangtuamu! Pulanglah Solihati! Pulang kerumah orangtuamu!! Soal anak-anak, tak perlu kau pusingkan! Biar aku yang mengurusnya!"


"Kamu pasti punya rencana lain! Kamu pasti mau menikah lagi khan?!?"


"Kamu harusnya bersyukur. Aku menceraikanmu tanpa tanggungan apa-apa! Anak-anak biar aku yang bawa! Kau bisa nikah lagi tanpa pusingkan urusan anak-anak!"


Solihati hanya bisa menangis sesegukan. Ia jatuh di telapak kaki suaminya yang baru saja mentalaknya.


"Mas, jangan ceraikan aku mas! Aku rela kamu menikah lagi. Asal jangan ceraikan aku! Aku mohon, mas Mail!"


"Pulanglah! Kubilang pulang ya pulang! Sebelum aku berbuat kasar dan menampar pipimu berkali-kali!"


"Cinta anak bungsu kita baru 3 tahun umurnya mas! Bagaimana kalau dia nangis tengah malam? Apa kamu bisa mendiamkannya? Naura juga masih 5 tahun. Aku tak yakin kamu dan istri barumu bisa mengurus Naura dan Cinta!"


"Banyak omong kau!!!"


Plak plak plak....


Tiga tamparan Ismail mendarat di pipi kiri dan kanan Solihati.


Malam itu juga, wanita muda beranak dua itu menangis meninggalkan rumah mertuanya dengan diantar tukang ojeg yang sengaja Ismail panggil dan beli jasanya.


"Lusa aku kerumah orangtuamu! Menjelaskan semuanya kalau aku telah menceraikanmu!"


Solihati hanya menangis. Memandangi pintu kamar mereka. Dimana terbaring lelap dua buah hatinya yang cantik polos tak mengetahui kisah rumah tangga kedua orangtuanya yang diforce.

__ADS_1


Solihati hanya bisa berjalan gontai menuju motor ojeg yang akan membawanya pergi kembali kerumah orangtuanya dengan airmata bercucuran. Berharap suatu saat suaminya sadar dan berfikir normal.


............BERSAMBUNG .............


__ADS_2