Rembulan

Rembulan
Collaboration Buddies


__ADS_3

Hari ini suasana di kantor terasa mencekam, Marissa marah pada Anjar karena tidak bisa menyiapkan dokumen kerjasama yang sudah diminta untuk disiapkan sejak awal bulan.


“Kalau sekiranya lu gak bisa beresin ngomong dari kemarin!”


“Jangan pas mau disajikan besok lu bilang dokumen belum siap”


“Ngerjain apa sih lu! Perasaan dari kemarin gak ada yang penting banget buat dikerjain”.


Marissa melemparkan kertas dokumen yang diserahkan Anjar, perasaan Bulan langsung tidak enak, ia mencoba untuk tidak terlihat dengan menyembunyikan diri di belakang layar komputer.


“Kalau cuma masalah cewe lu jadi kacau kaya gini, bener banget si Bulan gak milih elu..!” teriak Marisssa lagi, Bulan terhenyak kenapa dia jadi ikut terbawa pada masalah kerjaan Anjar.


“Cemen banget lu ditinggal kawin cewe trus jadi kacau”.


“Mau jadi apa lu!”


“Baca dulu dong Mbak dokumennya, jangan asal marah aja, gw udah berusaha masukin data yang gw punya”


“Masalahnya pihak mitranya memang tidak punya kelengkapan data income yang tetap”


“Dan mereka kan perusahaan baru jadi banyak pemasukan dan pengeluaran yang sifatnya kredit jadi sistem akuntansinya akrual, belum ditambah dengan ekuitas mereka yang tidak jelas. Sulit untuk menetapkan yang mana aset perusahaan dan yang mana yang pribadi”


Anjar tidak terima saat Marissa menyudutkannya.


“Kalau lu lebih fokus trus lebih banyak ketemu sama mereka buat menghitung aset dan diskusi sama mereka, kita bakalan lebih pasti dalam menghitung income mereka”


“Mereka cuma gak beres menghitung laporan laba ruginya aja”


“Kalau lu gak bisa ngitungnya ngomong dong, nanti dibantu sama si Bulan”


“Breng sek… gw mesti minta pengunduran waktu kalau gini”


Marissa terlihat marah besar, napasnya tampak tersengal-sengal karena menahan marah yang amat sangat. Bulan melihat dengan sedih, biasanya Anjar selalu meminta bantuannya untuk mengecek laporan keuangan perusahaan untuk bisa dibuatkan resume laporan investasinya. Tapi karena hubungan pertemanan yang memburuk menjadikan komunikasi di antara mereka seperti terputus.


“Ada yang bisa aku bantu Mbak?.pekerjaanku sudah selesai kok sama Pak Kevin” lambat-lambat Bulan mendekat ke meja rapat, tidak tega melihat Anjar terus dicecar oleh amarah Marissa.


“Gw gak tahu apakah masih bisa diberesin. Bulan lu periksa semua dokumen keuangan mereka trus lu hitung ulang laporan laba ruginya. Supaya bisa dihitung dengan pasti berapa income dari perusahaan ini”.


“Besok kita ada rapat sama investor, mereka sudah confirm”


“Kalau siang ini kita gak bisa buat laporan yang credible, aku mau batalin meeting besok”


“Tapi itu artinya kita sudah memalukan perusahaan… lu udah mencoreng nama gw tau gak lu?!”


Marissa menunjuk-nunjuk Anjar dengan kesal.


“Ok Mbak… saya kerja cepat sekarang… Mbak Icha istirahat dulu aja.. Minum yang dingin biar cooling down” Bulan mengambil dokumen yang dilemparkan di meja, tanpa menoleh pada Anjar yang menunduk dengan muka muram.


Berpikir dan menghitung dengan cepat adalah hal yang harus ia lakukan sekarang. Mematikan suara handphone supaya tidak terganggu dan tergoda untuk melihat pesan yang masuk. Sejak tadi malam Juno tidak berhenti mengganggunya, dimulai dari pesan yang bernada mesum hingga keluh kesah keinginan untuk segera pulang ke Jakarta. Membaca dokumen laporan dari Anjar ia langsung bisa melihat kekurangannya


“Fi aku butuh bantuan segera,urgent! Penting banget”


“Nanti kamu boleh mengajukan satu permintaan sama Peri Bulan kalau kamu bisa selesaikan dalam sebelum jam duabelas”


“Ok… gw bantuin tapi beliin gw bawahan di toko yang dulu beli” dasar…. Afiantiiii


“Iya boleh ntar dibeliin lah apapun maunya kamu” Bulan menyerah, meskipun harus mengurangi jatah makan siang yang penting huru hara selesai.


“Oki doki… segera kirimkan dokumennya” jawab Afi.


Zeep pikir Bulan, ia menoleh pada Anjar yang masih duduk terpekur.


“Dokumen laporan keuangan yang perusahaannya kirim ke email aku semua. Cepat!” Anjar menoleh malas, masih belum bergerak.


“Cepat!” melihat Anjar tidak bergerak membuatnya kesal. Anjar tersentak, ia langsung beranjak menuju mejanya, dan duduk mengetik di depan komputer.

__ADS_1


“Dokumen yang lainnya mana, aku mau skimming, kali ada yang bisa aku masukan buat analisa”.


“Nanti setelah aku analisa datanya kamu bikin penyesuaian untuk rencana investasi dari data yang diambil”.


“Aku lihat disini ada beberapa analisa yang belum kamu kasih rasional kenapa investasi perusahaan itu aman dan perhitungan kemungkinan income dalam 5 tahun ke depan”.


“Jangan lupa masukan analisa kelemahan akibat faktor internal dan eksternal, supaya investor bisa memperkirakan”.


Anjar masih diam termenung di depan meja komputer.


“Njar… ayo semangat!, kita masih punya waktu” Bulan mencoba memberikan semangat, ungkapan marah Marissa baru ia lihat selama bekerja di divisi ini.


“Ya!” hanya itu jawaban Anjar tanpa menoleh sedikitpun kepada Bulan.


Bulan tidak peduli, saat ini yang menjadi taruhan adalah divisi dan ia tidak ingin suasana kantor yang mencekam. Begitu Anjar mengirimkan data laporan keuangan ia meneruskannya ke Afi, tidak lupa di pengantar email ia menuliskan “Buruan … Urgent”.


Dalam waktu dua jam ia mencoba mengeluarkan semua kemampuan yang dimiliki,  dimulai dengan membuat analisa dari cash flow, aset, beban perusahaan, dan semua data keuangan yang ada dalam dokumen hard file dan soft file. Jam dua belas tapi Afi belum mengirimkan laporan analisa.


“Beres gak? Gw mau eksekusi sekarang bisa atau gak meeting besok” Marissa tiba-tiba muncul di pintu.


“Hampir, sabar jangan bikin panik… tambahan waktu time out mbak… jam 1 nanti boleh ditanya lagi” jelas Bulan dengan wajah yang disabar-sabarkan. Anjar tidak banyak bicara masih melanjutkan pekerjaan yang diminta Bulan padanya. Marissa melengos kembali keluar, Bulan tidak ambil peduli mau pergi kemana, yang penting jangan bikin panik malah gak bikin gak bisa mikir.


“Fi udah beres belum?” akhirnya Bulan tidak sabar, tambahan waktu satu jam sebetulnya kurang, tapi paling tidak kalau nanti jam satu bisa memberikan laporan draft yang akurat ia berharap Marissa bisa memberikan tambahan waktu untuk menyempurnakan.


“Cussssss gw kirim…. Helo new dress come to Mama” Bulan tersenyum, temannya ini benar-benar cewek matre.


Begitu email dari Afi ia buka, dia langsung tersenyum senang, Afi ternyata sudah mengirimkan juga analisa dari laporan keuangannya sehingga ia tinggal meng-copy paste dari laporan Afi dan memberikan simpulan. Seepsss… Afi I love you …. Bulan tersenyum senang, sebelum jam satu bisa selesai.


“Njar ini aku sudah selesai bikin analisanya, kamu kompilasi aja”


“Kamu yang jadi penanggung jawabnya kan?” Bulan tidak ingin mendahului Anjar, walaupun ia yang banyak melakukan perbaikan, tapi tetap saja Anjar penanggung jawabnya.


Anjar hanya mengangguk, tidak menjawab atau pun memberikan komentar.


“Aku bikin cover sama daftar isinya biar keliatan beda dari yang awal” Bulan segera beranjak kembali ke meja kerjanya, membuat cover laporan dari template di internet. Saat ini segalanya mudah kalau kita mau mencari bahan, kemudian membuat daftar isi. Orang kadang terlalu fokus pada isi laporan padahal saat pertama kali seseorang melihat ajuan proposal atau laporan adalah cover.


Seperti halnya kita melihat seseorang, sebelum mereka mengenal kepribadian kita dengan berbagai sifat dan kebiasaan. Hal pertama yang akan dinilai adalah cara kita berpakaian, the way you look is the way you are. Cara kita berpakaian akan menunjukkan siapa kita sebenarnya.


Begitu juga dengan laporan atau proposal yang diajukan, sebelum mereka menilai isinya bagus atau tidak, cover depan akan mempengaruhi pemikiran seseorang. Apakah akan melanjutkan untuk membaca isinya atau hanya sekedar menjadi bahan formalitas semata.


Bulan mencetak cover dan daftar isi, tidak usah memakai halaman, toh bukan makalah yang akan dinilai dosen, yang penting ada urutan isi dari laporan. Disimpannya di meja Anjar, ternyata dia juga sudah mulai mencetak laporan.


“Beres gak?” kembali Marissa ke ruangan, membawa dua kotak dalam kantong plastik.


“Sudah mbak… sedang dicetak. Mbak Icha tinggal baca aja, itu sama Anjar lagi digabungkan” jelas Bulan… hufftt tiga setengah jam yang berlalu sangat cepat.


Anjar merapihkan laporan hasil kerja kebutan kepada Marissa, terdengar lirih dia berkata


“Maafin kerjaan aku gak bener Mbak” Bulan bisa mendengarnya karena ada di belakang Anjar.


“Ya sudah sana makan jangan diulangi lagi!”


“Gw mau baca dulu”.


“Bulan lu makan dulu, tadi gak sempat makan siang kan?”


“Gw beliin gado-gado sama ikan kakap”.


Bulan tersenyum senang, semarah-marahnya Mbak Icha masih memperhatikan anak buahnya. Hufftt.. lega tinggal menunggu hasil bacaannya apakah disetujui atau masih harus diperbaiki.


Ia tengah makan dengan lahap di meja kerja saat Kevin datang ke ruangan, tampak tergesa dan mukanya terlihat keruh.


“Kamu baru makan?” sudah jam satu lewat ini”


“Nanti sakit lambung kamu kumat”

__ADS_1


Bulan hanya tersenyum, bukan maksud melupakan jadwal makan siang tapi, angin ****** beliung harus segera dipecah agar tidak membawa kerusakan lebih banyak lagi.


“Gilee… bagus banget analisisnya…” terdengar pujian dari Marissa


“Ini laporan analisa paling lengkap yang pernah gw baca”


“Makanya kalian berdua jangan cerai… repot nih gw kalau berpisah gini!” jarinya menunjukkan ke arah Anjar.


“Lu terima nasib lu Njar… jangan banyak berharap… masih banyak cewe di luar sana yang pengen lu kawinin kalau modal lu udah banyak tapinya… hahahahahha” Marissa sudah kembali bisa tertawa, Bulan menarik nafas lega.


Setelah merapikan bekas makan, Bulan meraih handphone nya untuk mengecek pesan.


“Bulan kamu bersiap untuk ikut rapat dengan saya jam setengah dua, masih ada waktu 10 menit kalau kamu mau shalat dulu” suara Kevin membuatnya mengurungkan diri untuk membuka hp. Ia langsung beranjak pamit, tidak mungkin untuk shalat di mushola yang membuatnya harus ke belakang gedung lebih baik ia sholat di ruangan kantor.


“Iya Pak… segera” dengan kecepatan penuh segera ke toilet, sholat kemudian touch up. Pergi rapat dengan  Kevin membuatnya harus memperhatikan penampilan jangan sampai terlihat kucel. Selama ini Kevin selalu bersama dengan Marissa yang penampilannya terjaga selalu dirawat oleh klinik kecantikan dan salon.


“Ready Pak…” hampir tidak sempat bernafas untuk menyiapkan diri, untung saja Marissa tadi membawakannya makanan, sehingga ia sudah memiliki energi sebagai pengganti saat tadi kerja rodi dengan kecepatan tinggi. Saking paniknya ia melupakan handphone yang dicharge di meja, karena berada dalam mode senyap.


Selama rapat Bulan tidak sempat mengingat apapun tentang Juno, kalau ia sudah fokus, semua perhatian jiwa dan raganya tercurah pada pekerjaan. Hingga akhirnya rapat berakhir jam lima lebih, Bulan menarik nafas lega, tadi ia tidak menjama sholat karena berpikir akan selesai sebelum jam lima sore tapi ternyata banyak agenda yang dibahas menjadikan rapat molor hingga melewati waktu kerja.


“Pak saya mau ke mushola dulu, Bapak duluan aja” ucap Bulan, waktu sudah menunjukkan lima dua puluh, sudah sangat terlambat.


“Hmmm .. ok. Dokumen itu saya bawa saja, kamu sudah bawa laptop dan agenda” Kevin memang tidak membawa laptop hanya agenda saja, karena pada saat paparan tadi memakai laptop Bulan.


“Gak usah Pak gak apa-apa” Bulan menolak, tidak mungkin atasannya dibebani membawa dokumen.


“Its fine… kamu kan harus sholat” diambilnya tas dokumen dengan cepat, Bulan termenung melihatnya, luar biasa, dulu Pak David atasannya di pajak mana mau membawa tas dokumen, malah kalau bisa dia cukup membawa telapak kaki saja.


“Sibuk banget yah sampai gak menjawab telepon?”


“Ternyata kalau rapat sama Bos sampai gak mau angkat telepon?” mata Bulan membulat, tidak mungkin… ini hari Kamis… tidak mungkin dia sudah pulang. Ia langsung membalikkan tubuhnya. Juno.


“Aa… sudah pulang? Whahahahahha katanya mau pulang Sabtu malam… kok bisa Kamis sudah ada di Jakarta?” Bulan tertawa, ia tidak menyangka kalau Juno sudah ada lobby kantor.


“KENAPA KAMU GAK ANGKAT TELEPON?”


“KAMU TAU SUDAH SATU JAM AKU NUNGGUIN KAMU DISINI!!”


Suara Juno cukup keras terdengar, Bulan terlonjak, beberapa orang melihat ke arah mereka. Bulan menyimpan telunjuk di mulutnya, tanda meminta Juno untuk tidak ribut. Juno mendengus kesal.


“Stttttt…. Jangan marah dulu… aku hp-nya ketinggalan”


“Udah tenang…. Ditunda dulu marahnya aku belum sholat… nanti setelah sholat baru dilanjutkan”.


"Ditunda-ditunda... memangnya beker" Juno bersungut-sungut kesal.


Segera meraih tangan Juno untuk salim, dan menariknya ke arah Mushola di belakang gedung. Juno menatap perempuan yang berjalan di depannya dengan kesal. Setelah menunggu  satu jam di lobby tanpa adanya kepastian ia harus melihat Bulan dan Kevin berjalan berdua dengan akrab dan berakhir dengan Kevin membawakan tas dokumen Bulan, ia langsung naik darah melihatnya.


“Lepas…” Juno berusaha melepaskan genggaman tangan Bulan.


“Udah jangan ribut… sholat dulu, nanti setelah wudhu pasti agak tenang” tanpa memedulikan kemarahan Juno, Bulan terus menyeretnya pergi menuju Mushola.


“Udah jangan ribut, belum sholat ashar kan karena nungguin, sekarang sholat dulu!”


“Hape aku tadi ketinggalan jadi gak bisa jawab telepon”


“Jangan marah, nanti kalau sampai rumah aku kasih Vitamin K”


Juno mendengus kesal, ia sudah tidak tertarik lagi pada vitamin yang ditawarkan Bulan setelah gagal mendapatkan vitamin B yang diinginkannya karena Bulan terlalu malu untuk memperlihatkannya.


"Apalagi vitamin K? bohong terus kamu… kemarin saja tidak dilakukan!” jawabnya kesal sambil membuka sepatu. Bulan hanya nyengir.


“Daripada liat di layar mendingan liat pertunjukan live A...hehehehe” ucapnya sambil masuk ke tempat wudhu. Juno hanya bisa menggelengkan kepala, hasratnya sudah diubun-ubun tapi banyak yang harus diselesaikan hari ini, itu sebabnya ia pulang lebih cepat,  Tapi tawaran untuk menonton pertunjukkan live membuatnya berpikir dua kali. Apakah harus pulang ke rumah sekarang atau ditunda untuk menyelesaikan rencananya itu. Otaknya benar-benar pusing.


Vitamin K apaan yah 🙄 tetap aja bikin penasaran tapinya. 😁

__ADS_1


__ADS_2