
Tiga hari setelah pulang dari Bandung, semua orang disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Semua orang seakan lupa dengan hingar bingar rencana pernikahan kembali Mama Nisa dan Papa Bhanu. Baru saat makan malam tiba-tiba saja Papa Bhanu datang berkunjung, tampak lelah tapi terlihat bahagia.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap Bhanu, semua mata langsung menatap ke pintu masuk dari ruang tamu.
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” jawab semuanya kompak.
“Waaah Papa tahu aja kalau masakan udah siap santap langsung datang”
“Aku curiga kalau Papa pasang CCTV di rumah ini, memantau kapan meja makan siap” Afi tertawa lebar melihat kedatangan Bhanu.
“Hati Papa yang jadi CCTV disini, kalau kalian senang pasti terasa di hati, soalnya kan kalian kesayangan Papa semua” ucap Bhanu dengan nada gembira.
“Ahaay” celetuk Emil sambil menunduk.
“Kamu tuh muka kaya yang lugu tapi suka ledekin Papa” gerutu Bhanu. Emil langsung tertawa nyengir.
“Papa datang untuk menyampaikan kabar gembira” Bhanu duduk di kursi yang selama ini selalu ia tempati.
“Mana suamimu?” tanya Bhanu pada Bulan.
“Baru datang barusan Pa… sedang mandi tampaknya”
“Saya panggilkan dulu sebentar”
Bulan bergegas ke kamar, benar saja Juno baru selesai mandi, tubuhnya terlihat segar dengan kaos putih dan celana pendek. Mengeringkan rambut sambil membaca pesan di hape.
“A ditunggu sama Papa di ruang makan”
“Kayaknya mau bikin pengumuman penting” Bulan mengambil handuk kecil yang dipakai suaminya dan membantu mengeringkan rambut Juno.
“Palingan ngomongin soal pernikahan” ucapnya santai.
“Kalau nanti Mama menikah lagi sama Papa pasti akan ada pesta pernikahan, kamu mau ikut dipestakan juga gak? kan kita belum bikin pesta pernikahan” tanya Juno.
“Hmmmm nggak… ngapain juga bikin pesta udah basi…heheheh”
“Perutnya udah gede gini… ntar aku disangka hamil duluan lagi hehehehhe” Bulan tertawa terkekeh.
“Uang buat pesta udah aku masukin ke investasi perusahaan pula… udah lah gak usah merasa iri sama orang lain”
“Semua orang sudah punya jalan hidupnya masing-masing”
“Kita syukuri saja kebersamaan kita sekarang”
“Banyak kok orang yang pestanya sampai habis milyaran rupiah tapi berujung perceraian”
“Ada juga yang nikah sampai di tanah suci tapi tetap aja cerai”
“Kita akad nikah di rumah sakit, pesta makan-makan sama perawat tapi insya allah akan bahagia hidup sejahtera sampai maut memisahkan” ucap Bulan bijak.
“Aamiin ya rabbal alamin” ucap Juno sambil tersenyum.
“Muneey… kita pindah ke Bandung kamu senang?” tanya Juno tangannya melingkar pada pinggang istrinya.
“Ya seneng atuh… kaya mimpi jadi kenyataan... punya keluarga dan tinggal dekat Bapak”
“Mimpi terus mimpi lagi dikasih bonus soalnya suaminya Aa…hehehe” Bulan terkekeh seneng.
“Hmmm pinter kamu yah mengambil hati suami”
“Yah terserah Aa lah… mana yang terbaik kalau soal kerjaan mah”
“Yah tapi kaya omongan aku kemarin, segala keputusan yang kita ambil harus punya dasar kemanfaatan”
“Bukan soal materi… mengelola perusahaan keluarga artinya dapat uang lebih besar dan banyak…no..no..no”
“Harus diluruskan niatnya untuk kebaikan umat”
“Satu… kerja di Bandung artinya kita meneruskan cita-cita dan harapan keluarga.. ok check” tangan Bulan membuat simulasi check list dengan tangannya
“Dua… kerja di Bandung artinya kita mendekatkan kembali tali silaturahmi keluarga yang sudah renggang… ok check”
“Tiga… kerja di Bandung artinya aku bisa lebih dekat sama Bapak dan Benny, bisa ngurus orang tua… ok check”
“Empat… kerja di Bandung artinya Mama sama Papa bisa nikah lagi dan mereka akan saling menjaga lagi…ok check”
“Lima… kerja di Bandung artinya pengalaman Aa akan lebih hebat lagi bisa mengelola perusahaan yang besar… ok check”
“Uahhh… banyak banget manfaatnya kerja di Bandung yahhh” ucap Bulan dengan mata berbinar, Juno tersenyum melihatnya.
“Yaa aku pikir juga begitu… kemarin Om Rahmat telepon aku, rupanya Oma sudah bicara sama Om Rahmat… kaget juga ternyata dia gak semenyebalkan yang aku kira selama ini”
“Dia sepertinya sangat berharap aku mau kerja melanjutkan perusahaan keluarga ini”
“Waktu aku bilang soal perusahaan aku yang lagi berkembang dan punya banyak project dia malah antusias trus bilang dari dulu sudah mau mengembangkan bidang interior tapi gak ada yang bisa handle jadi dia minta ku tetap mengembangkan bidang ini, dia bilang nanti kita bisa rekrut staf yang bantu aku kerja, jadi aku bisa mulai mempelajari pekerjaan jasa konstruksi juga”
“Gak sadar ngobrolnya lama sampai satu jam lebih” ucap Juno dengan penuh antusias.
“Bersyukur banget yah… gak menyangka tiba-tiba saja kaya dikasih jalan kemudahan dalam segala hal”
__ADS_1
“Rejeki bayi A… sama Allah kan kan menjamin rezeki setiap makhluknya…tidak akan ada yang kelaparan karena Allah sebaik-baiknya penolong” ucap Bulan sambil menunjuk perutnya.
“Iya alhamdulillah… aku bersyukur banget nikah sama kamu” Juno memeluk Bulan erat menyandarkan kepalanya di dada istrinya sambil mengusap bayi di dalam perut Bulan yang sudah mulai menonjol.
“Dada kamu kok makin besar yah… lebih bumpy gitu” ucapnya nakal sambil membentur-benturkan kepalanya pelan ke dada.
“Aiiishhh pasti aja beloknya ke sana, udah ah itu Papa nungguin… gimana sih teu kaop nempel” Bulan mendorong Juno menjauh. Suaminya tertawa terbahak melihat sikap kesalnya, segala hal terasa lucu kalau bersama Bulan.
“Lama banget sih nyusulin si Kakak… keburu basi nih cerita Papanya” komentar Afi saat Bulan keluar.
“Ngeringin rambut A Juno dulu kasian bisi masuk angin”
“Alaaah ngeringin rambut segala, ajak aja ke blower ac ntar juga kering…hemat energi” jawab Afi santai. Langsung Mama Nisa melotot marah.
“Afi… harus mulai mengurangi bicara yang yang tidak perlu, ucapan itu memperlihatkan siapa kita”
“Bakti pada suami itu sikap yang baik, jangan bersikap seenaknya seperti itu”
“Gak mah… aku gak pernah dibawa ke blower AC kok… dia suka ngeringin rambut aku pakai hair dryer atau catokan rambut… biar gak terlalu keriting katanya mesti dicatok sedikit” bela Emil. Bulan langsung tertawa ditahan. Ia sudah hafal kalau Afi seringkali bicara asal karena meledek dia sebagai teman.
“Tetap saja, mulai sekarang bicara seperlunya, kalau mau berkomentar seperti itu hanya kalau berdua sama Bulan, gimana nanti kalau depan Oma kamu bicara seperti itu dianggap gak dididik sama Mama” Mama tampak kesal.
“Iya Ma” Afi merengut kesal menatap Bulan sambil berbisik.
“Seneng ya lu dibela sama Mama”
“Seneng liat kamu dimarahin…wkwkwkkw” jawab Bulan sambil sedikit mengeluarkan lidah.
“Awas lu bilangan sama Oma mantu durjana”
“Lebih durjana lagi cucunya…wkwkwk” balas Bulan.
“Ehhh kalian malah ledek-ledekan kaya anak kecil” Mama kembali melotot. Afi dan Bulan langsung diam. Juno yang baru datang tersenyum melihat Mama yang memarahi istri dan adiknya, hanya mengusap kepala Bulan sambil duduk di meja makan.
“Maaf menunggu, tadi mengeringkan rambut dulu, agak capek seharian tadi badan terasa lengket” ucapnya. Yang lain sudah mulai makan terlebih dahulu.
“Papa mau ngasih tahu sama kalian semua”
“Tadi siang Papa sudah bertemu dengan Om Rahmat dan dia sudah memberikan izin pada Papa untuk menikah kembali dengan Mama” Bhanu menatap seluruh anggota keluarga dan berakhir di Mama Nisa yang hanya menunduk seakan sibuk dengan makanannya. Rupanya Mama sudah tahu karena tidak terlihat kaget.
“Tingga persetujuan Oma yang terakhir, kalau Juno setuju untuk bekerja di Perusahaan Rahmadi maka rencana pernikahan Papa dan Mama akan segera terlaksana”
“Waaaahhhh… gimana caranya Papa dapat persetujuan Om Rahmat?”
“Tadi aku gak lihat ada perubahan aset di perusahaan” tanya Afi heran.
“Sudahlah kamu tidak usah tahu detailnya, yang penting persetujuan dari Om mu sudah Papa dapatkan, sekarang bagaimana kamu Jun… mau kerja di Bandung di perusahaan Rahmadi, Bandung hanya kantornya saja Kak… proyeknya ada banyak di wilayah se Indonesia” tanya Bhanu
“Kalau aku berpikir picik, sebetulnya agak aneh kenapa kesalahan yang Papa buat harus aku yang menanggung” ucap Juno datar.
“Tapi semua kejadian yang terjadi dalam keluarga ini memang sudah menjadi takdir yang digariskan oleh yang Maha Kuasa”
“Aku dilahirkan jadi anak Papa mungkin memang untuk menjadi pihak yang harus menebus kesalahan yang diperbuat Papa”
“Yah tapi kembali sebagai manusia kita harus selalu berpikir positif, dibalik kejadian buruk pasti ada hikmah yang bisa diambil”
“Keluarga kita menjadi semakin erat, Papa menjadi orang yang lebih baik lagi, dan aku juga akan punya pengalaman lebih dalam pekerjaan”
“Dan sudah tugas aku sebagai anak untuk berbakti pada orangtua dan keluarga”
“Jadi aku putuskan untuk menerima tawaran Oma”
“Maafkan Papa kalau pada akhirnya kesalahan Papa membuat kamu jadi harus melalui ini”
“Tapi Papa berjanji ke depan lebih baik lagi dalam keluarga” ucap Bhanu mantap, Juno hanya mengacungkan jempol saja.
“Kaya cerita drama korea di era Joseon, putra mahkota menebus kesalahan yang diperbuat Kaisar” bisik Afi pada Bulan yang langsung terkikik perlahan. Keduanya langsung berhenti tertawa saat Papa Bhanu menatap mereka dengan kesal. Afi langsung berlagak serius
“Jadi kesimpulan akadnya mau dimana ini?” ucap Afi dengan muka serius
“Bandung atau Jakarta?”
“Terus yang tidak kalah pentiiiiing…. mas kawinnya mau apa?”
“Mas kawin pernikahan yang kedua kali itu gak bisa kaleng-kaleng dong”
“Apalagi kaleng Khong Guan… isi dan kemasan beda” sambung Emil sambil tersenyum, tapi langsung hilang senyuman saat Papa menatapnya kesal.
“Papa sudah tanya belum sama Mama mau mas kawin apa?” tanya Bulan ikut menggoda. Ternyata menyenangkan menggoda pasangan yang akan menikah itu.
“Mau mas kawin apa Nis?” tanya Bhanu pelan
“Tapi jangan yang mahal-mahal ya soalnya aku udah miskin sekarang?” sambungnya.
“Whahahahahha serius? gimana Pa caranya kok gak bilang-bilang sih… besok aku tanya ah sama Om Andi yang ngurusin legal formal di perusahaan” ucap Afi penasaran. Bhanu hanya menggelengkan kepala seakan tidak ingin membahas masalah itu lagi.
“Gimana Nis?” tanya Bhanu.
“Hmmm perhiasan emas saja, tapi uangnya jangan dari perusahaan Mas Bhanu, atau simpanan Mas Bhanu dari perusahaan”
__ADS_1
“Pasti ada turunan uang perempuan itu walaupun sudah dia gelapkan juga”
“Aku mau murni Mas Bhanu yang cari sendiri sekarang”
‘Terserah mau kerja apa, yang penting halal dan dari keringat Mas Bhanu sendiri” jawab Mama Nisa dengan tegas.
“Daebaaak Mama memang keren”
“Warrbiazaaaa uang murni… kirain susu aja yang murni, ternyata uang juga ada yang murninya juga…. hahahahahha” Afi tertawa senang,
Bhanu tersenyum kecut, membayangkan mencari uang murni, seperti apa bentuk dan caranya dia langsung pusing sendiri.
“Oma meminta acaranya diadakan di Bandung, sekalian tujuh bulanan Afi”
“Jadi pengajian Afi dulu kemudian baru acara akad nikah”
“Mama gak bisa menolak, sekarang Oma kalian ingin terlibat dalam keluarga ini, kita berikan kesempatan untuk Oma membuat acara sesuai keinginannya. Mama merasa bersalah karena dulu Oma tidak pernah Mama libatkan”
Semua orang mengangguk setuju, pertemuan kemarin membuat semuanya merasa terharu dengan keberadaan Oma yang dalam usia tuanya masih berusaha merekatkan kembali keluarga yang sempat tercerai berai.
“Papa kenapa seperti bingung?”
“Bukankah keinginan Papa sudah terpenuhi?” tanya Juno menahan senyum.
“Papa bingung mau kerja apa? Papa cuma tahu memimpin perusahaan sekarang”
“Nis uang yang aku dapatkan dari perusahaan halal kok, itu upah kerja aku setiap bulan karena ngantor” bujuk Bhanu.
“Tidak mau, ada uang perempuan itu dulu pernah masuk sebagai investor”
“Tapi kan sudah ia bawa dalam penggelapan uang jadi sudah hilang Niss” suara Papa terdengar memelas.
“Ya sudah kalau tidak mau belikan Mas Kawin, gak usah menikah. Mas Kawin itu kan hak aku sebagai calon istri” balas Mama tidak mau kalah.
“Iya…iya aku mau bekerja, kamu tuh sekarang sukanya mengancam terus” keluh Papa.
“Papa dulu jagoan apa sebelum memimpin perusahaan?”tanya Bulan.
“Apa yah… menggambar mesin, kemudian membuat rencana investasi, apa lagi yah?” ucapnya bingung.
“Memeriksa keuangan” sambung Mama Nisa
“Ingat gak dulu pasti bisa menemukan kesalahan dalam penghitungan”
“Waaah ternyata kecerdasan Afi dalam keuangan turun dari Papa yah” ucap Bulan kagum.
“Aku gak tau Papa bisa bikin gambar mesin, kaya gimana tuh speknya pasti detail?” ucap Juno.
“Kalau dipikir-pikir keterampilan kalian berdua semua turun dari Papa semua yaah” ucap Bhanu gembira menatap kedua anaknya.
“Iyaaa… untung aja yang turunnya kepintaran akademik kalau yang turunnya jiwa playboy dan suka berbohong nya bakalan rugi kalian” sanggah Mama kesal. Bhanu langsung meringis malu, kesalahannya masih saja diungkit-ungkit istrinya.
“Udah dong Nisa jangan diingatkan terus… nanti kalau sudah menikah lagi jangan disebut-sebut lagi yah kesalahan aku… ditutup yaah memorinya” menatapnya sambil memelas. Mama Nisa kemudian mengangguk pelan.
“Iya… maaf aku suka lupa kalau lagi kesal” jawabnya.
‘Cieee marahan terus baikan… hihihi malu gw liatnya” ucap Afi sambil menjulurkan lidahnya tapi langsung dipelototi Mama.
“Papa kalau mau bisa bantu aku mengerjakan laporan pemeriksaan keuangan untuk UMKM”
“Tidak besar sih upahnya hanya satu juta setengah soalnya mereka kan perusahaan kecil”
“Terus sekarang aku lagi ngembangin layanan pembuatan web buat perusahaan kecil. Itu juga lumayan sekitar satu sampai dua juta tergantung rumit enggaknya web nya”
“Papa bisa bantu dalam membuat company profile yang bagus kaya gimana, soalnya Papa kan sudah berpengalaman membuat perusahaan jadi pasti tahu apa yang harus ditonjolkan dalam suatu company profile” jelas Bulan.
Bhanu langsung tersenyum senang. Ia seperti mendapatkan peluang diantara kebuntuan.
“Wah boleh-boleh, kalau itu Papa bisa”
“Pemeriksaan keuangan Papa masih bisa gak yah, udah lama banget soalnya sudah lupa lagi standar biaya umum yang berlaku sekarang. Tapi Papa coba deh”
“Atau kalau mau Papa bisa membuat gambar mesin, tapi dibuat dalam sketch, itu bisa jadi lukisan untuk detail interior” ucap Juno menyemangati.
“Waah Papa memang suka menggambar mesin sampai sekarang, kayaknya Papa bisa coba”
“Ok Nis… jangan khawatir mas kawinnya aku siapkan, kamu siapkan saja acaranya supaya bisa segera terlaksana”
“Kapan minggu depan?” tanya Bhanu.
“Seenaknya saja minggu depan memangnya gampang bikin acara nikahan, perlihatkan dulu mas kawinnya baru nanti kita siapkan acaranya” jawab Mama kesal.
“Harus ada target lah Nisa jangan mengambang seperti ini”
“Bulan depan yaaa…” ucapnya penuh semangat. Mama Nisa hanya mendengus kesal.
“Terserah deh”
“Buset deh si Afi ternyata turunan dari Papa kalau urusan kawin paling ngebet” ucap Emil pelan.
__ADS_1
“Papa dengar itu Emil!”
Wkwkwkwkwkkwkwkwkwkwk Emilio Kiting apes lu.